
Di saat Ani terlelap, Naya bangun dari tidurnya.
Naya berjalan ke kamar bunda memastikan bunda dan ayah nya sudah tertidur lelap.
Alhamdulillah, aman. batin Naya yang buru buru langsung berjalan ke kulkas dan mengambil kaca kecil, mengarahkan kaca ke arah ceruk leher Naya.
"Apa ini ya, yang Surya bilang hasil cupangan?" Naya menatap tanda kemerahan yang ada pada ceruk leher nya yang putih.
Mudah-mudahan aja ayah sama bunda gak tau, bisa kena omel aku... yang ada langsung di kawinin sama Surya. Cari masalah aja si ini Surya, tapi enak si hehehe. Naya membatin namum terkekeh tanpa suara, mengingat rasa geli saat Surya menyesappp nya.
Yah si Naya, labil ini... tadi nya aja gak mau di apa apain, eeeh udah kena ****** aja bilang enak... dalam hatinya mah malah nagih itu 🤣🤣
Cium juga gitu, Naya Naya gak mau, sekali aja... eeh bekali kali diem aja di cium ama Surya 🤣🤣🤣
Bibir boleh bilang tidak, tapi hati mu menginginkan nya Naya 🤣🤣.
Selama satu tahun Naya dan Surya menjalin hubungan pacaran, meski kedua nya lebih banyak menjalin komunikasi dengan hape, kadang telpon dan kadang saling berkirim pesan... Di saat ada waktu untuk bertemu, Surya pun seperti biasa akan datang ke rumah Naya untuk apel.
Jalan jalan pun hanya sesekali, dengan berjalan kaki dan naek angkot untuk sampai di Bintaro Plaza.
Kadang ada ribut nya, ada putus nyambung nya, tapi tetep balik lagi jadian.
Sabtu jam 10 pagi sebelum Surya berangkat kerja, ia singgah ke rumah Naya dengan kaos kerja dan juga celana bahan hitam beralaskan sepatu.
"Assalamualaikum, bun." Surya mencium punggung tangan kanan bunda Imah yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah.
"Waalaikum salam, masuk pagi lu tong?"
"Iya, bun."
"Udah situ, duduk dulu.. Naya lagi bunda suruh beli kerupuk." ujar bunda dengan tangan yang masih sibuk dengan pakaian yang sedang ia jemur.
"Buat apaan bun kerupuk?"
"Buat madang, bunda lagi pengen madang pake kerupuk, kaya nya enak gitu."
"Oh iya bun, besok Surya minta izin ya mao ajak Naya keragunan." Naya duduk di pinggiran teras.
"Bunda ora di ajak, Surya?"
"Ayo bun, kalo mao ikut."
"Naek apaan Surya? pergi nya sama siapa bae?" cecar bunda yang sudah rapih dengan pakaiannya yang basah, bunda duduk di samping Surya dengan berjarak.
"Naek kopaja bun... nanti pergi nya sama Sani, Nusi, Anti, Surya, sama Naya itu juga kalo di bolehin sama bunda." ujar Surya menyebutkan nama nama yang akan ikut besok ke taman marga satwa ragunan.
Gw tes ini si Surya. batin bunda Imah.
"Tapi bunda lagi gak punya duit, Surya buat Naya ongkos." ujar bunda.
"Bunda mah tenang aja, kan Surya yang ngajak Naya... semua keperluan Naya pasti Surya tanggung." ujar Surya.
Bunda menghela nafas lega. Lolos uji ini bocah, kita liet besok tanggal maen nya.
Naya pulang ke rumah dengan tangan kanan menenteng plastik putih berisi kan kerupuk bulat dan tangan kirinya memegang minuman kemasan yang sedang di seruput nya.
__ADS_1
"Bunda, ini." Naya menyerahkan plastik berisi kerupuk pada bunda.
Naya mendudukkan dirinya di tengah tengah, antara Surya dan bunda.
"Kamu udah lama?" tanya Naya mengarah pada Surya.
"Engga ko, baru juga nyampe." ujar Surya.
Bunda menyambar gelas minuman yang sedang di pegang Naya, "Haah, seger." ucap bunda saat sudah selesai menyeruput nya.
"Nay, lu mao ikut besok ama Surya?" tanya bunda langsung sama Naya.
"Ikut kemana? jam berapa?"
Bunda berdiri di depan Naya dan juga Surya.
"Belom lu omongin, Sur?" bunda menatap Surya.
"Belom, bun... kalo udah dapet izin dari bunda... baru Surya omongin ke Naya." jelas Surya.
"Emmmm." tampak bunda berfikir sejenak.
Naya bertanya pada Surya dengan mengangkat dagunya.
"Tunggu jawaban dari bunda." Surya menggenggam jemari Naya.
"Ehem, ada bunda ini Surya... maen pegang pegang tangan bae lu." ledek bunda.
Surya terkekeh, melepas kan kembali genggaman tangan nya.
"Bunda tanya ini ya sama Naya, Naya besok Surya mao ngajak Naya jalan jalan ke ragunan... Naya mao ikut gak?" ucap bunda sambil mengusap punggung Naya.
Naya menoleh ke Surya.
Kini giliran Surya yang bertanya ke Naya, "Mao ikut gak?"
"Maoooo." Naya bersorak senang.
"Masalah nya, kamu alesan apa Nay sama orang resto?" tanya bunda, yang sudah tahu jika resto tidak memberi izin libur untuk hari sabtu dan juga minggu.
"Emmm, apa ya bun... yang kira kira pasti di bolehin." Naya tampak berfikir menatap indah nya awan.
"Au, udah lu pikiran dah berdua... bunda mao madang.. Madang yuk Sur ama bunda." ajak bunda yang langsung berjalan ke dalam rumah.
"Iya bun, Surya udah makan tadi di rumah." tolak Surya.
"Aaaha, aku tahu alesan apa." Naya mengacungkan jarinya.
"Apa?" tanya Surya.
"Aku bilang aja, kake aku yang di Tanjung lagi sakit, pengen ketemu sama cucu kesayangan nya, hahaha bisa kan tu!"
"Atur kamu aja deh, honey." Surya mengacak pucuk kepala Naya.
Surya melirik jam yang ada di hape nya, "Aku jalan ya!"
__ADS_1
"Udah mao masuk kerja ya? baru juga bentaran ngobrol nya." Naya merajuk.
"Iya setengah jam lagi masuk, besok juga kita bakal puas ngobrol, kan besok kamu dari pagi sama aku." Surya menaik turunkan alis nya.
"Apaan si." cubitan melayang di pinggang Surya.
"A- a- ah, sakit tau."
"Biarin."
Bunda ke luar rumah lagi dengan tangan kiri membawa piring yang berisi nasi dan lauk, "Madang, Sur." bunda mendudukkan dirinya di lantai.
"Iya, bun... Surya pamit bun, mao berangkat." Surya mendekat ke arah bunda.
Saat Surya ingin menyalami tangan bunda, "Eet tangan bunda kotor, Surya."
Akhirnya Surya tidak jadi menyalami tangan bunda.
"Hati hati lu, Sur." ujar bunda.
"Kamu ati ati ya, kalo udah nyampe... jangan lupa kabarin aku." ujar Naya.
"Iya."
💖💖💖
Malam hari nya di rumah Naya.
Kamar Naya di penuhi tawa Apri dan juga ledekan yang ke luar dari celetukan Ani.
Naya masuk ke dalam kamar setelah mengelap badannya yang berkeringat.
"Ciyeee, yang besok mao halan halan." ledek Ani saat Naya mendudukkan dirinya di atas kasur.
"Apaan si." sungut Naya.
"Emang besok jadi, Nay?" tanya ayah Adi yang ikut duduk di kasur.
Ayah Adi sudah di beri tahu bunda, jika besok Naya akan ikut jalan jalan dengan Surya ke taman marga satwa.
"Jadi dong, yah... masa kaga jadi si." ujar Naya.
"Apri ikut." Apri langsung memeluk ayah Adi.
"Yang pergi itu bukan ayah, tapi kaka Nay sama om Surya." jelas ayah Adi dengan mengusap punggung Apri yang kini berada dalam pangkuannya.
"Apri mah tinggal bae." Ani menggelitik pinggang Apri, "Kaka aja gak di ajak, masa Apri di ajak, curang itu namanya."
"Ahahaha, kaka geli, aaah ahaha." tawa Apri.
bersambung...
Jangan lupa dukung karya receh author 😊
no komen julid nyelekit 😀
__ADS_1
...💖💖💖💖💖💖...