Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 141


__ADS_3

Seminggu setelahnya.


☀️☀️☀️


Jam 10 pagi di rumah Naya.


Setia dengan celana kolor nya, Naya duduk di saung bersama dengan bunda, Naya duduk di belakang bunda sambil mencari ketombe yang ada di kepala bunda.


"Eeet ya, lu mah... Nay, cabutin uban nenek apa!" keluh nenek Fatimah yang lagi menyapu halaman rumah yang berserakan daun mangga di tanah.


"Emak mah, ngintil bae ya jadi orang." celetuk bunda.


"Ngalah apa luh Imah ama yang tuaan, pala gua nih gatel." oceh nenek Fatimah.


"Nenek nyapu bae apa, noh nek masih banyak daonnya." ujar Naya yang menunjuk ke arah daun mangga yang berserakan di tanah.


"Tua duluan luh Nay, pake nyuruh gua lagi luh." omel nenek Fatimah.


"Udah emak nyapu dulu, tar aya cariin ubannya." ucap bunda merayu nenek Fatimah, meredam emosi jiwa nenek Fatimah.


Ngeeeng.


Suara motor dari gang rumah Naya.


"Siapa lagi tuh!" ucap nenek Fatimah yang mendengar suara motor.


"Au, ora kenal Nay suara motor nya." ucap Naya.


Dari gang terlihat Muay yang tengah membawa motor nya menuju rumah nenek Fatimah.


Motor berhenti di halaman rumah nenek Fatimah. Turun Surya dan Muay dari motor menyalami nenek Fatimah yang lagi memegang sapu lidih.


Di mata Naya, Surya terlihat gagah hanya dengan kaos berbalut switer dengan bawahan celana jins biru.


Kalah dengan penampilan Muay yang hanya mengenakan kaos tangan panjang dengan bawahan jins hitam.


"Lah eluh tong?" ucap nenek Fatimah yang mengenali Surya.


"Iya, nek." jawab Surya dengan senyum merekah.


"Aiiih senyumnya, udah kaya es ini hati gua ngeleleh." batin Naya.


Lalu Surya dan Muay berjalan ke saung untuk menghampiri bunda.


Deg deg deg.


"Waduh, jantung gua ngapa berdegup kencang amat ini? pada hal kan cuma ke datengan Surya doang.. apa karena udah lama gak ketemu kali ya? lagi ngapain si dia pake dateng... ngacawin hati gua bae dah, udah adem kaga liet luh juga." batin Naya yang di buat tak karuan hanya karena melihat sosok Surya, orang yang pernah mengisi harinya.


Naya menghentikan aktivitas nya dari mencari ke tombe.


Surya dan Muay bergantian mencium punggung tangan kanan bunda.


"Bun, Muay dateng nih." ucap Muay.


"Iya, kita ngobrol nya di rumah bae yuk." bunda mengajak Surya dan Muay berjalan ke rumah bunda.


"Mao kemana luh, Imah?" tanya nenek Fatimah yang melihat bunda, Surya dan Muay berjalan meninggalkan saung.


"Mao ada urusan." ucap bunda.


Naya yang ingin tahu ada urusan apa antara bunda dengan Surya atau pun Muay, memilih untuk ikut pulang ke rumah.


Saat Naya sampai di rumah, terlihat bunda, Surya dan Muay tengah mengobrol sambil duduk di lantai luar rumah Naya.


"Nay, ambilin aer gih buat Muay ama Surya." perintah bunda saat melihat Naya mau duduk.


"Baru juga mao duduk, bun." ucap Naya.


"Gak usah repot-repot napa, bun." ucap Muay.


"Cuma aer doang, ngapain repot... ada apaan nih kemari?" tanya bunda.


"Ini bun, Muay mao ganti duit bunda." Muay mengeluarkan uang seratus ribu dari dalam dompetnya yang berda di saku celana jins yang ia kenakan.


"Emang luh udah ada, tong?" bunda mengambil uang yang di sodorkan oleh Muay.


"Udah ada bun, makanya bisa ganti duit bunda... makasih ya bun, udah di tolongin." ucap Muay.

__ADS_1


"Iya sama-sama, kalo ada mah bunda tolongin bae, ini duit luh bunda ambil ya!" ujar bunda.


"Iya bun, ambil... kan Muay mah bayar utang." ujar Muay.


"Minum dulu nih." ucap Naya sambil meletakkan gelas berisi es teh manis di depan Surya dan juga Muay.


"Nay, ambilin hape Muay gih, di lemari box urutan ke dua dari atas." perintah bunda lagi.


"Iye." Naya langsung masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambilkan hape Muay.


"Muay minum nih ya, bun." ucap Muay saat tangannya sudah menyentuh gelas yang ada di hadapannya.


"Minum, kan emang buat di minum." ucap bunda.


Surya langsung mengambil gelas yang ada di depan nya dan meminumnya.


Muay menaruh lagi gelasnya di lantai.


"Bun." panggil Muay.


"Ngapa?"


"Selama Surya gak dateng ke rumah bunda, ada kaga yang ngapelin Naya?" tanya Muay yang membuat Surya dengan seketika tersendak.


"Uhuk uhuk." Surya.


"Ah luh, gimana si Sur, udah tua masih keselek... minum doang juga." ledek Muay.


"Pertanyaan lu tuh, aneh." ujar Surya yang langsung menaruh gelas di lantai.


"Kaga ada yang dateng, Naya juga di rumah bae, ke luar ya kalo kerja doang." ujar bunda.


Senyum mengembang di bibir Surya yang mendengar penuturan bunda.


Hal itu pun di lihat oleh Muay, "Biasa aja dong respon nya?" ledek Muay.


"Apaan si luh." elak Surya.


"Ketemu ora Nay? ngambil doang lama amat." ucap bunda setengah berteriak.


"Kaga ketemu, bunda." suara teriakan Naya dari dalam kamarnya.


"Kamar Naya." jawab Naya.


"Di kamar bunda, Nay." ucap bunda.


"Ngomong kek dari tadi." gerutu Naya yang sudah mencari lama di lemari box yang berada di kamarnya tapi tidak ketemu, malah ada di lemari box yang ada di kamar bunda.


"Lah ya kan kamu ora nanya, Nay." elak bunda yang takut di salahkan Naya.


"Nih hape nya." Naya menyerahkan hape Muay pada bunda.


Bunda menerima hape yang di berikan Naya.


"Malah di kasih ke bunda." bunda langsung menyerahkan hape itu ke Muay, pemilik aslinya, Naya duduk di dekat bunda.


"Nay, udah punya pacar belum?" tanya Muay di depan Surya dan juga bunda.


"Ngomong apaan si luh!" oceh Naya.


"Yeee, si Naya." ucap Muay.


"Bunda tinggal ke saung ya, biar luh pada ngobrol dah tuh bertiga." ucap bunda yang meninggal kan ketiganya, bunda ke saung.


"Ngomong apaan si luh!" kini Surya yang angkat suara.


"Nay, luh pilih gua apa Surya?" tanya Muay.


"Eeet, gak ada yang laen apa ya, yang bisa di bahas?" elak Naya menjawab pertanyaan dari Muay.


"Kalo di tanya ya pasti pilih Surya, tapi kan Surya diem bae... bearti dia yang udah punya cewek lagi." batin Naya mencuri pandang pada Surya.


"Jangan pilih Muay, pilih gua bae." batin Surya, yang tidak sengaja melihat Naya yang kini menatapnya, akhirnya Naya dan Surya saling menatap lekat, merindukan kebersamaan yang pernah terjalin di antara keduanya.


"Pasti ini anak mao pilih Surya, tapi Suryanya diem bae... ngomong dong luh, jangan diem bae Surya." batin Muay yang menatap Naya dan Surya secara bergantian.


"Ehem ehem ehem." ledek Muay memecah keheningan yang ada di antara ketiga nya.

__ADS_1


Surya dan Naya saling membuang pandangan.


"Gimana, Nay?" tanya Muay lagi.


"Gak usah di jawab, besok masuk apa yank?" dengan refleks Surya menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


"Gila, apaan sih nih mulut... gua keceplosan manggil dia yank." batin Surya.


"Ahahahaha, dasar luh." umpat Muay yang senang melihat Surya salah tingkah.


"Masuk pagi." jawab Naya dingin, pura-pura acuh tapi dalam hati ngarep Surya dateng buat ngapel.


"Ya udah, besok gua yang anter luh ke sini." ucap Muay.


"Siapa juga yang mao kesini!" elak Surya.


"Sial, Muay tau bae kalo gua besok mao kesini!" umpat batin Surya.


"Siapa juga yang ngarepin luh dateng." umpat Naya.


"Aiiih, emang gua ngarepin luh dateng." batin Naya.


"Ya udah, ayo pulang... urusan luh udah selesai kan?" Surya langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke arah saung.


"Bego, udah tau Naya kaga ngarepin luh." batin Surya.


"Nay, Surya masih demen ama luh... jangan di ambil hati omongannya." ucap Muay sebelum meninggal kan rumah Naya.


Mendengar ucapan Muay membawa angin segar dalam hati Naya dan tanpa terasa seuntas senyum tersungging di bibir Naya.


"Eh bocah, tunggu napa." ucap Muay yang berusaha menyusul langkah Surya.


Dengan cepatnya Surya sampai di saung dan mencium punggung tangan kanan bunda dan juga nenek Fatimah.


"Surya pulang bun, nek." pamit Surya dengan nada dingin.


"Lah, tuh bocah ngapa?" tanya nenek Fatimah yang melihat aneh pada diri Surya.


Surya berdiri di samping motor Muay.


"Muay pamit ya bun, nek." pamit Muay yang mencium punggung tangan kanan bunda dan nenek Fatimah secara bergantian.


"Temen luh, ngapa?" tanya bunda setengah berbisik pada Muay.


"Biasa, hati belom nyampe ama anaknya bunda." ledek Muay.


Membuat bunda mesem- mesem.


"Muay pamit bun." ucapnya lagi.


"Iya, ati ati luh... jinakin noh temen luh." ledek bunda.


"Ahahaha, pawangnya kan anaknya bunda." Muay membalas banyolan bunda.


Muay dan Surya pulang dari rumah Naya dengan seribu tanya di kepala Surya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


Aiiiih Surya bakal dateng ke rumah Naya gak ya besok malam?


🙄🙄


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...favorit'in novel ane...


...🌹 yang di nanti...

__ADS_1


...☕ yang di tunggu...


...🌺🌺🌺salam manis🌺🌺🌺...


__ADS_2