
...🌷🌷🌷🌷...
"Laen kali jangan kaya gitu ya! Aku gak suka!" Seru ku, aku gak suka kalo hati ku jadi terikat sama kamu, apa lagi hubungan kita masih ngambang dan belum jelas, aku takut hati aku gak bisa kehilangan mu.
Aku pun melanjutkan makan bakso ku lagi.
Kayanya Naya masih marah banget sama gw, cincin yang gw kasih aja gak di perhatiin, kan dari pada gw ngelakuin sama cewek laen... mending gw ngelakuin sama pacar gw sendiri, udah jelas gw sama dia mau nikah. Surya membenarkan tindakannya, apa yang sudah ia lakukan pada Naya sudah di anggapnya benar.
Kini Surya menemani ku di luar hingga keluarga ku pulang.
Surya menatap ku yang sedari tadi memilih bermain game di hape, "Nay, kamu mau kan jadi pagerayu di rumah ku? Saat pernikahan Sani nanti!"
"Sebenarnya mau, tapi aku juga gak mau bantah bunda... kamu aja yang omongin ke bunda lagi." Ujar ku yang tidak memberikan solusi bagi Surya.
"Aku harap bunda ngijinin kamu, Nay... kan sekalian biar kamu bisa mengenal lebih jauh keluarga aku." Terang Surya.
"Iya udah tar kamu omongin lagi aja ke bunda, tar aku bantuin ngomong dikit mah."
Dua hari kemudian, hari bersejarah bagi Sani dan Nusi yang kini duduk di bangku pelaminan, menjadi ratu dan raja dalam sehari, berjanji dengan ikrar ijab qobul.
Setelah mendapatkan izin dari bunda dan ayah, aku di perbolehkan untuk menjadi pagerayu, di tambah lagi izin tidak masuk kerja juga sudah aku kantongi, hingga tidak ada yang menghalangi ku untuk menjadi pagerayu di rumah Surya, di hari bersejarah untuk kakanya Sani dan Nusi.
Surya juga izin untuk tidak masuk kerja, aku datang ke rumah Surya dengan di antar ayah.
Aku di minta Sani untuk membangunkan Surya yang masih tertidur di kamarnya.
Ku tatap kamar Surya yang terdapat tumpukan pakaian di pinggiran tempat tidurnya.
Astaga ini bocah kaga sempet beresin baju apa gimana sih? Berantakan banget.
Dari pinggiran kasur ku tatap wajah Surya yang damai saat tidur, ku tepuk lengannya untuk membuatnya terbangun dan tersadar dari mimpi indahnya.
"Bangun, yank... yank, bangun!" Seru ku namun tangan ku malah di tepisnya.
Ku guncang lengan Surya, "Bangun woy! Woy bangun, bocah!" Tidak ada perubahan pada Surya.
__ADS_1
Akhirnya aku mencondongkan tubuh ku dan berbisik di telinganya, "Yaaaank! Sayanggg, bangun udah pagi ini!" Seru ku dengan suara mendayu dayu.
Dalam keadaan mata tertutup, Surya membatin, kok itu kaya ada suara Naya ya? Apa ia Naya bisa ada disini? Apa kuping gw aja yang salah dengar?"
Surya mengerjapkan ke dua matanya untuk memastikan telinganya salah mendengar atau tidak, maka ia pun harus membuktikan nya sendiri dengan mata nya.
Surya membuka matanya dengan perlahan dan saat ke dua matanya berhasil terbuka ia pun mendapati ku yang tengah menatapnya dengan tubuh yang membungkuk.
"Kamu kapan datangnya, honey?" Tanya Surya.
Melihat Naya yang hendak membenarkan posisi dirinya, Surya langsung mengulurkan tangan kanannya dan menahan punggung ku agar tetap membungkuk.
"Lepas, yank!" Tangan ku menyingkirkan tangan kanan Surya yang menekan punggung ku.
"Beri aku ciumann dulu!" Seru Surya.
"Jangan ngeledek deh, nanti kalo ada orang laen tahu, gimana! Bisa berabe kan!" Tolak ku.
Bukan Surya namanya jika ia menyerah, tangan kiri Surya kini terulur dan dengan ke dua tangannya Surya menahan wajah ku yang kini tanpa jarak dari wajah bantalnya.
Surya melepas pagutannya, menyapu bibir ku yang basahhh dengan jari telunjuknya, "Aku pingin lebih dari ini, yank!" Seru Surya dengan sorot mata penuh naffsuuu.
"Jangan aneh aneh, kamu!" Ku dorong dada Surya dan aku tinggalkan ia sendiri di kamarnya.
Ku tinggalkan Surya, bodo amat mau Surya marah sama gw juga, asal gw masih bisa jaga apa yang seharusnya di jaga sampai saat itu tiba akan ada rasa puas tersendiri buat gw.
Aku, Yati dan Anti bersiap di dandani dan di berikan pakaian untuk seorang pagerayu.
Semua keluarga Surya sangat baik pada ku, mereka juga tidak ada hentinya untuk menyuruh ku makan bersama.
Malam pun semakin larut, aku sudah berganti baju dengan baju yang tadi aku kenakan saat datang ke rumah Surya.
Surya mengantarkan aku pulang sampai ke rumah. "Hari ini kamu cantik banget sih honey?" Pujian ke luar begitu saja dari bibir Surya.
"Bohong banget kamu, yank!" Seru ku dengan Surya yang menggenggam jemari ku sementara tangan satunya fokus pada setir motor.
__ADS_1
"Aku serius, honey! Kamu itu ibarat air di kala aku lagi haus, makanan di saat perut ku laper." Ledek Surya.
Aku mengerutkan kening dengan mata menatap tajam, "Jadi di mata kamu itu, selama ini kamu anggap aku air? Aku makanan ikan gitu.?" Ujar ku dengan ketus.
"Itu kan ibarat, honey! Kamu itu wanita terpenting dalam hidup ku, semua mah lewat.
Sampai di rumah, aku langsung melambaikan tangan kanan ku pada Surya, Surya memilih untuk langsung pulang, karena hari sudah larut dan aku juga sudah lelah.
"Assalamualaikum, bunda!" Seru ku yang masuk dengan pintu rumah yang tidak di kunci sebelumnya.
Aku mendudukkan diri ku di antara bunda dan ayah di pinggiran kasur yang ada di kamar bunda.
Kepala ku menyandar pada lengan bunda.
"Anak ayah cape banget ini!" Tangan ayah terukur dan mengusap punggung ku dengan sayang.
"Kaga yah, cuma cape dikit." Seru ku lalu menatap ayah sekilas dan melihat wajah lelah ayah yang seharian bekerja.
Bunda mengusap kepala ku, "Tadi di perluin gak sama keluarganya, Surya? Di suruh makan gak? Kamu di suruh ngapain aja tadi di sana?" Bunda menghujani ku dengan pertanyaan, itu semua bunda laku kan karena bunda sayang pada ku.
"Pada baik ko, Naya di suruh makan mulu, udah kaya nenek kalo lagi nyuruh buat makan, ora ada berhentinya kalo Naya belum makan."
"Kwlo bapaknya Surya sendiri kaya gimana ke kamu, Nay?"
"Baik ko bunda... bunda tenang aja, mereka semua pada baik ke Naya, mereka pada sayang ke Naya."
Bersambung....
...🌷🌷🌷🌷...
Terima kasih udah mampir 😊 salam manis dan love love love sekebon
Jangan lupa 👍
Komen ya 😊😊😊 barang cuma 10 huruuuuuf bae dah
__ADS_1