
"Aku berangkat kerja ya honey, jemput rezeki buat masa depan kita nantinya." pesan kedua dari Surya yang sukses membuat hati Naya berbunga bunga lagi.
Bunda melihat Naya yang sedang menatap layar hapenya sambil senyum senyum sendiri.
Bunda membatin, 'Anak jaman sekarang, bangun tidur bukannya bantuin emak apa sholat malah maen hape.' dengan kepala geleng geleng.
Bugh.
"Maen hape bae luh... sholat dulu sonoh.. terus bantuin bunda." bunda Imah melempar bantal ke arah Naya.
"Tar dulu bun, ngumpulin angan angan dulu ini." kilah Naya.
"Apa bae luh, cepet sonoh ngambil wudhu, mandi kek kalo perlu... biar bersih tuh otak luh, maen hape bae sih." dumel bunda Imah yang lantas ke kamarnya untuk pakai baju dan menjalankan sholat subuh nya.
Sambil memakai mukena, bunda Imah masih membatin, 'Bocah kalo udah idep pacaran, gitu tuh... kalo di suruh... kupingnya ora denger.'
Siang hari yang terik, tidak menyurutkan semangat Naya saat berangkat ke resto.
Berjalan kaki melewati kompleks perumahan dengan sesekali menyapa orang yang di kenalnya saat bertemu di jalan.
Ting.
"Kamu lagi ngapain honey?" pesan dari Surya.
"Lagi jalan mao ke resto... kamu lagi apa?" tanya Naya membalas pesan dari Surya.
"Berangkat sama siapa kamu? kok berangkat kerja gak bilang sama aku sih?" pesan balasan dari Surya.
"Berangkat sendiri, lupa."
"Hati hati jalannya, jangan ngelirik cowok ya! inget udah punya cowok luh!" balas Surya.
"Busrak dah, baru juga balikan... ada juga luh Surya yang kudu di ingetin... udah punya cewek woy!" sorak Naya dalam hatinya.
"Iya wel." balas Naya singkat.
"Siapa itu, wel?"
"Wel itu singkatan dari bawel." pesan dari Naya.
'Udah lah, fokus ke jalan... udah tau lagi rawan rampok hape, taro bae lah dulu ini hape dalam tas.' dumel Naya.
Dari kejauhan Naya melihat pak Pangesta tengah duduk di bangku keramat di temani bu Lani.
"Assalamualaikum, Rion." ucap Naya saat sampai di tempat asap dengan wajah berbinar.
"Waalaikum salam, wih semangat banget nih." ucap Rion.
"Hehehe, biasa ajah." ujar Naya.
"Udah dapet pacar baru ya?" ledek Rion.
"Hahaha, mao tau bae luh Rion."
Emang beda ya kalo lagi kasmaran dan patah hati.
Naya menyalami bos besarnya, pak Pangesta dan juga bu Lani.
"Baru datang, Nay?" tanya bu Lani.
"Iya, bu." ucap Naya.
"Yang semangat kerja nya!" ujar pak Pangesta sambil menyesap puntung rokok kesukaannya.
__ADS_1
"Iya, pak." Naya langsung menyimpan tas nya di kardus kosong bekas botol minum plastik.
"Nov, Ayu belom dateng?" tanya Naya saat Novi kembali ke kasir dengan gelas minum di tangannya.
"Belum, paling lagi di jalan." ujar Novi.
"Ka, mao priper ya? nyapu aja ka, ngeres bener tuh lantai, daonnya pada rontok." ujar Eka dari arah depan kasir.
"Beres deh."
Beberapa saat resto mulai rame customer, Angga dan Ipul yang masuk siang juga sudah sampai di resto. Hanya tinggal Ayu yang batang hidungnya pun belum kelihatan.
"Nov, Nov." Suara berat pak Pangesta terdengar di telinga Naya, Novi dan Eka yang sedang berada di depan resto sambil mengawasi para customer.
"Di panggil luh, ka Novi." ujar Eka sambil menepuk bahu Novi.
"Iya, gua juga denger tadi." Novi jalan menghampiri pak Pangesta.
"Iya, pak... ada apaan ya pak?" tanya Novi saat berdiri di samping pak Pangesta dengan jemari meremasss ujung baju.
Wajah Novi tampak tegang, kalo ada yang di panggil pak Pangesta, kemungkinan besar ada yang ngelakuin kesalahan, ada yang di minta pak Pangesta, ada yang akan di komplen, atau ada yang ingin di tanyakan.
"Hari ini Ayu libur, Nov?" bu Lani yang bertanya.
"Harusnya mah masuk, bu." jawab Novi.
"Apa gak ngasih kabar ke kamu, Nov?" pak Pangesta yang bertanya.
"Gak ada, pak."
"Ayu tuh biasanya datang jam berapa kalo masuk siang?" tanya bu Lani.
"Jam setengah 3 kurang biasanya Ayu udah dateng, bu."
Pak Pangesta geleng geleng kepala, "Gak bener ini anak, gak butuh kerjaan kali nih." oceh pak Pangesta.
"Iya, bu."
'Huh, lega gua... kirain mau ngapain.' batin Navi saat melangkah menjauh dari meja pak Pangesta, singa dapur bebek.
"Nov, Nov." suara pak Pangesta lagi yang menghentikan langkah Novi.
Novi memutar badannya malas, "Iya, pak."
"Bikin bil ya!" perintah pak Pangesta.
"Siap, pak." ucap Novi dengan semangat.
Novi langsung membuatkan bil untuk meja pak Pangesta.
"Pak Pangesta nanya apaan, ka?" tanya Eka ingin tahu.
"Nanyain, Ayu." jawab Novi dengan tangan tetep mengetikkan tombol angka pada mesin kasir.
"Pak Pangesta mau pulang ya, Nov?" tanya Naya.
"Mudah mudahan ya!" ucap Novi ragu.
"Anterin nih, ke meja pak Pangesta ya." Novi menyodorkan nampan bil ke arah Naya.
"Oke lah." Naya menghampiri meja pak Pangesta.
"Bil nya, pak." Naya meletak kan nampan bil di atas meja depan pak Pangesta duduk.
__ADS_1
Bu Lani melirik sepintas angka yang tertera pada kertas bil, lalu menyerahkan uang lima puluh ribu pada Naya.
"Di tunggu kembaliannya ya, bu." ucap Naya yang lantas berjalan ke meja kasir.
"Ini, Nov." Naya menyerahkan uang lima puluh ribu pada Novi.
"Bil yang tadi, mana Nay?" tanya Novi saat mengambil uang nya.
"Di meja pak Pangesta."
"Eet dah, ambil lagi gih." perintah Novi.
"Liet di copy nya, ka." usul Eka.
"Gua lupa buat copyan nya, Eka." keluh Novi.
"Iya udah, aku ambil dulu bil nya di meja pak Pangesta." Naya meninggalkan Novi dan Eka.
"Kembaliannya, mana Nay?" tanya pak Pangesta.
"Hehe, belum pak.. Naya pinjem dulu bil nya ya pak." ucap Naya canggung, takut kena semprot pak Pangesta.
"Maboook ini kasir nya, suruh buat copy." ujar pak Pangesta dengan mengurut dada.
"Iya, pak." cukup iya aja dah kalo kata Naya mag, cari aman ngadepin bos.
Bu Lani mengeluarkan kertas bil dari dalam dompet nya, "Ini, Nay." bu Lani menyodorkan kertas bil.
"Pinjem dulu ya, bu." Naya meninggalkan meja keramat.
"Nih, Nov... luh di katain maboook ama pak Pangesta." Naya mengadukan ocehan big bos nya pak Pangesta pada Novi.
"Bodo lah, yang penting ora kena semprot." oceh Novi.
Bu Lani dan pak Pangesta berjalan beriringan ke depan kasir.
"Melek melek, jangan tidur aja kerjanya. Awas kalian, ikut mabok kaya kasir." ujar pak Pangesta menyindir Novi.
"Iya pak." jawab Naya dan Eka.
"Nanti kalo Ayu gak dateng juga, kamu lembur ya Nov." ucap bu Lani sambil mengambil uang kembalian dari Novi.
"Novi bu yang lembur?" tanya Novi.
"Iya, kamu... apa kamu aja yang lembur?" pak Pangesta menunjuk Eka.
"Jangan pak, biar ka Novi aja yang lembur... Eka mao ada perlu pak." jelas Eka.
"Wis wis, bapak pulang yo... ati ati... jangan pada maboook." pak Pangesta berjalan mendahului bu Lani.
"Jangan di dengerin, bapak mah emang gitu." ujar bu Lani pada anak buahnya.
"Iya, bu." ucap Naya, Eka dan Novi berbarengan.
"Nov, kamu jangan lupa tanya ke Ayu... kenapa dia gak masuk... ibu pulang ya, anak belakang bilangin jangan pada tidur." ucap bu Lani sebelum akhirnya ikut meninggalkan resto.
Di tempat lain.
'Kayanya gua lebih nyaman kerja di sini... gajinya lebih gede, ini tempat ada ac nya pula, gak cape ngepel kalo ujan dateng, dapat makan juga, anak anak nya juga asik asik.' batin Ayu saat mengantarkan makanan ke meja pemesan nya.
Bersambung...
Kira kira Ayu gimana ya?
__ADS_1
Mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊
No koment julid.