
"Perkiraan Surya nyampe rumah jam setengah dua belas lewat, hati hati di jalan ya, sampe di rumah dengan selamat." batin Naya.
Udah di buat jengkel, masih aja perduli sama Surya, aduuuh Naya. Pikiran luh dimana?
Tanpa terasa mata Naya terpejam dengan tangan masih memegang hape.
Bunda yang merasa terusik dengan suara televisi yang masih menyala, langsung bangun menghampiri kamar di mana anaknya berada.
Dilihat nya Ani dan Naya sudah tertidur dengan televisi menyala.
"Kebiasaan nih bocah, udah tau tidur, tivi bukannya di matiin dulu." omel Imah seraya tangannya menyambar remot televisi yang berada dekat dengan tubuh Ani.
Ini bukan kali pertama Imah mendapati televisi menyala di saat anak- anak gadisnya sudah tertidur pulas.
"Kalo tivi udah rusak bae dah luh, apa yang mao di tonton! kaya tivi murah bae luh pada." sambil ngedumel Imah meletak'kan remot televisi di dekat televisi.
Mata Imah tertuju pada Naya yang tertidur dengan hape masih dalam genggamannya.
"Ini lagi, tidur pake bawa- bawa hape." Imah menyambar hape yang berada dalam genggaman tangan Naya, melihat pesan yang masuk dan membacanya.
"Dasar bocah, labil... cari bae duit dulu yang bener... lagi gua mah boro- boro ada pacaran, pulang dari rumah empok langsung di kawinin." batin Imah yang teringat kembali saat kenangan bersama dengan pujaan hati berubah menjadi sedih saat nenek Fatimah memaksanya untuk menikah dengan Adi yang kini menjadi suami sekaligus teman hidupnya.
Setelah menyimpan hape Naya di dekat kipas angin, Imah hendak melanjutkan tidurnya yang sempat terusik.
Imah merebahkan tubuhnya di dekat Apri yang masih tertidur dengan pulas.
"Emmmmh." Adi mengulet, saat kasur yang di tidurinya ada pergerakan.
"Dari mana luh, Mah?" tanya Adi sambil mengucek kedua matanya, melihat raut wajah Imah yang kesal.
"Abis dari kamar anak luh noh, kebiasaan banget dah.. tidur bukannya tivi di matiin dulu." Imah melanjutkan ocehannya.
"Mumpung udah malam, bocah juga udah pada pules, mending ajakin Imah buat adonan lah, udah lama juga kaga buat adonan." batin Adi menatap Imah dengan senyum yang sulit di artikan.
"Ngapa luh? ngelietin gua kaya gitu bang?" tanya Imah yang mendapat tatapan serta senyum dari Adi.
"Hehehe." Adi hanya menjawab pertanyaan Imah dengan cengengesan.
Adi beranjak dari tempat tidurnya, beralih merebahkan tubuhnya di dekat Imah.
"Udah gak usah ngoceh- ngoceh, mending buat adek yuk buat Apri!" Adi merebahkan tubuhnya di belakang tubuh Imah dengan tangan melingkar di pinggang Imah, memberikan kecupan di ceruk leher Imah.
"Apaan si bang, udah malam... tidur lagi mendingan." Imah bergidik geli dengan pergerakan benda kenyal di lehernya, saat bibir Adi mengecup dan sesekali menggigit nya, memberi tanda kepemilikan.
__ADS_1
Peringatan, buat yang bocil langsung skip aja ya. π
Warning!
Adegan 21+ ke atas.
"Justru karena udah malam Imah, kan bocah udah pada tidur..." Adi tidak lagi melanjutkan kata- katanya, tangannya menyusup masuk ke dalam baju Imah, bermain dengan kedua gunung kembar Imah dan meremasss nya.
"Ngantuk, bang." tolak Imah.
"Gua ora ngantuk, Imah... bentaran doang." bujuk Adi yang langsung melumaaat bibir Imah, lidahnya menari- nari di dalam mulut Imah.
Adi merubah posisi nya, dengan cepat Adi mengungkung tubuh Imah yang berada di bawahnya, menopang badan nya sendiri dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya langsung melepaskan celana dan segitiga pengan istrinya.
Tangan Adi menyibak baju yang di kenakan Imah ke atas, lalu tangan kanan Adi beralih ke pengait atasan Imah dan dengan perlahan membuka pengait gunung kembar milik istrinya.
Matanya berbinar melihat gundukan gunung kembar yang seolah memintanya untuk menjamahnya, Adi memberikan kecupan di salah satu gunung kembar Imah dan perlahan kecupan itu berubah menjadi isapaaan, Adi menyesapnyaaa dan Imah mengelu dengan suara erangan yang membuatnya semakin bernafsuuu untuk menuntuskan rasa yang sudah lama di pendam.
Adik kembar Adi juga sudah mengeras meminta untuk pelepasan, dengan cepat Adi melorotkan celana kolornya dan membiarkan adik kembarnya memasuki goa sang istri yang sudah mulai kelimpungan dengan permainan Adi.
Adi menghentakkan pinggulnya beberapa kali hingga cairan hangat di keluarkan nya di dalam goa Imah, sementara itu Adi mendarat kan bibirnya di salah satu gunung kembar Imah dan mulai menyesap puncaknya sesekali ia memilin puncak gunung kembar Imah.
Imah meremas punggung suaminya, membiarkan Adi menguasai permainan, "Eeemh, aaah." suara erangan dan lenguan keluar dari mulut Imah.
"Tahan ya, sedikit lagi." ucap Adi di sela-sela hentakannya.
"Aaaah, cepet bang... aya udah lemes ini." ucap Imah.
Adi mendorong pinggulnya hingga adik kembarnya masuk ke dalam gua Imah dan membiarkan cairan hangat nya keluar lagi di dalam gua milik istrinya.
Adi menyesaaap lagi puncak gunung kembar sang istri, memiliiin dan lidahnya memainkan ****** kembar itu di dalam mulutnya, tangan yang satunya di daratkan pada salah satu gunung kembar sang istri dan meresss remasssnya.
Imah hanya mengerang dan menikmati setiap permainan yang di lakukan suaminya.
Adi mengeluarkan adik kembarnya dari dalam gua Imah, "Aaaah, pelan-pelan." rintih Imah yang merasa perih di bagian intinya.
"Iya, makasih ya." Adi mengecup kening, pipi, hidung Imah bergantian.
Adi merebahkan tubuhnya di samping tubuh Imah.
"Buat apa?" tanya Imah menatap Adi.
"Buat goa nya."
__ADS_1
"Ya au bang, luh lagi." Imah bangkit dari tidurnya dan duduk dengan menurunkan bajunya lagi.
Imah berdiri dengan membenarkan posisi bawahannya.
"Mao kemana luh?" tanya Adi yang melihat Imah berdiri.
"Mao ke sumur... luh mao ikut bang?"
"Ngapain ke sumur?"
"Gua mao bersihin vanila luh nih." jawab Imah sambil melangkah kan kakinya meninggalkan kamarnya.
"Eeet orang mah jadiin bae napa, kan enak ada suara tangisannya bayi lagi." gumam Adi.
Adi beranjak dari tidurnya, "Gua juga mao bersih- bersih dah."
Apri mengerjakan matanya dan perlahan kedua matanya terbuka.
"Ayah sama bunda kemana ya? ko tadi kaya ada gempa ya? Apri mimpi kali ya?" gumam Apri yang mendapati dirinya hanya seorang diri di atas tempat tidur.
Rasa ngantuk di matanya mengalah kan rasa penasaran Apri dengan gempa, Apri pun memejamkan matanya lagi.
...πΉπΉπΉπΉπΉ...
Bersambung...
Terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ππ
Mohon ππ»ππ» dukung karya receh author ππ dengan cara β©οΈ
...βββββ...
...Like...
...Komen...
...Vote...
...πΉ yang di nanti...
...β yang di tunggu...
...πΊπΊπΊ salam manis πΊπΊπΊ...
__ADS_1