Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 132


__ADS_3

πŸŒ›πŸŒ›πŸŒ›


Tiba di rumah.


"Assalamualaikum, bunda." ucap Naya sambil membuka pintu.


"Waalaikum salam, anak bunda udah pulang?" Naya mencium punggung tangan kanan bunda.


"Iya, udah." Naya langsung menyimpan tasnya di atas kasur, hape di simpan di atas lemari box, membuka lemari dah mengambil celana kolor dan juga kaos lengan pendek, membawanya ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Naya masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang lebih segar.


Duduk di atas kasur menonton televisi bersama dengan Ani.


"Ka, tar ka Surya mao kesini ya?" tanya Ani.


Aku pun langsung menoleh ke arah Ani.


"Ko Ani tau... aku kan belom ngomong apa-apa." batin Naya bertanya tanya.


"Gak usah heran gitu ah." ucap Ani sambil menunjuk jari telunjuk kanannya ke arah hape Naya.


Naya pun mengikuti arah telunjuk Ani.


"Bunda tadi yang liet hape kaka.. hahaha." ledek Ani.


Naya pun langsung menyambar hapenya sambil memonyongkan bibirnya.


"Ngapa, Nay?" bunda langsung duduk di atas kasur.


"Bunda, baca ya?" tanya Naya sambil mengecek pesen di hape nya.


"Baca dikit doang, tau deh yang mao d apelin." bunda ikut meledek Naya.


"Mao dong apel, bun!" ucap Apri yang kini ikut duduk di atas kasur.


"Siapa yang beli apel?" tanya bunda mencubit gemes pipi Apri.


"Kaka Nay, ya?" tadi mao apel... apri mao." ucap Apri lagi.


"Orang gak ada yang beli apel, cuma nanti ada om Surya yang mao dateng." ucap bunda memberi pengertian pada Apri.


"Yaaah, Apri kan mao apel." keluh Apri mendengar tidak ada apel.


"Suuut." bunda meminta Apri diam dengan meletakkan jari telunjuk bunda di depan bibir Apri.


"Tadi di resto, gimana Nay?" tanya bunda.


"Wiiiih, seru bun... tadi di kasih kue ulang tahun sama bu bos." ujar Naya penuh semangat.


"Ko gak di bawa pulang si ka? kan Ani juga mao." keluh Ani.


"Lah kaga di suruh bawa pulang, Ni." jawan Naya.


"Bos kamu, bae amat Nay." ujar bunda.


"Lagi bae, bun hehehe." ucap Naya.


"Kalo kaga di suruh bawa pulang, jangan di bawa pulang ya Nay!" ujar bunda.


"Iya, bun."


Naya, bunda dan Ani pun mengisi waktu malam dengan mengobrol di kamar, layar televisi di abaikan.


Apri hanya mendengarkan percakapan 3 wanita beda usia, beda generasi.


"Assalamualaikum." suara dari depan pintu.


Tok tok tok.


"Iya, waalaikum salam." jawab ayah yang mendengar suara dari luar.

__ADS_1


Ayah langsung keluar dari dalam kamar, lalu membuka pintu.


Di luar sudah ada Surya dan juga teman laki-laki nya yang ayah sendiri belum kenal.


"Ehehehe, Surya... kirain siapa." ucap ayah saat tahu tamu yang datang saat itu.


"Iya, yah." Surya langsung mencium punggung tangan kanan ayah di ikuti temannya yang ikut menyalami ayah.


"Nyari Naya ya?" tebak ayah.


"Iya, yah... Naya udah pulang yah?" tanya Surya, sedangkan temannya langsung duduk lagi di lantai.


"Ada-ada, duduk dulu dah... tar ayah panggilin ya!" ayah mempersilahkan tamunya untuk duduk, lalu masuk ke dalam rumah untuk memanggil Naya, pintu di biarkan terbuka oleh ayah.


Ayah berdiri di depan pintu kamar Naya.


"Emang ada tamu, bang?" tanya bunda yang samar-samar tadi mendengar suara ayah yang sedang berbicara.


"Ada." ayah penjawab pertanyaan bunda.


"Nay... Surya noh di depan." ucap ayah memberi tahu Naya.


"Beneran, yah?" tanya Naya dengan wajah berbinar yang tidak dapat di sembunyikan.


"Lah ya, bener lah." jawab ayah.


Naya langsung ke luar untuk menemui Surya.


Di depan pintu rumah, Naya melihat Surya lagi duduk di lantai berdekatan dengan seorang laki-laki.


"Itu siapa ya? kalo Heru kayanya mah kaga dah, Heru kan pendek... itu tingginya hampir sama kaya Surya." batin Naya yang bertanya dengan sosok yang sedang duduk dan ngobrol sama Surya.


"Yank?" panggil Naya pada akhirnya.


Surya dan temannya menoleh ke arah Naya bersama- sama.


"Sini yank, biar aku kenalin ke temen aku!" Surya meminta Naya untuk duduk di sebelah nya.


"Ini namanya, Kamal." ucap Surya memperkenalkan nama teman nya ke Naya.


"Kamal, temennya Surya." ucap Kamal memperkenalkan dirinya sendiri dengan mengulurkan tangannya.


"Naya." ucap Naya yang membalas uluran tangan dari Kamal.


"Pacar, gue!" potong Surya yang melepas jabatan tangan keduanya.


"Iya, gue tau." ucap Kamal.


"Ko, lo mau si Nay ama Surya?" tanya Kamal.


"Apa ya, udah cinta." celetuk Naya.


"Aku ambil minum dulu, yank." pamit Naya yang langsung berdiri dari duduknya hendak masuk ke dalam rumah.


Grep.


Surya menggenggam tangan kanan Naya, menghentikan langkah kaki Naya.


"Apa?" tanya Naya.


"Hape kamu, mana?" tanya Surya balik.


"Ada di kamar." jawab Naya.


"Ambil gih, aku mau liet." perintah Surya untuk mengambil hape Naya.


"Iya dulu." ucap Naya.


Surya langsung melepaskan genggaman nya dan membiarkan Naya masuk ke dalam rumah.


Sementara di dalam rumah, bunda lagi mengintrogasi ayah.

__ADS_1


"Surya di luar ama siapa, bang?" tanya bunda.


Ayah duduk di atas kasur dengan mata fokus ke layar televisi.


"Ada temennya." jawab ayah.


"Cewek apa cowok, temennya?" tanya bunda lagi.


"Cowok." jawab ayah.


"Nama temennya, siapa bang?" tanya bunda lagi.


"Gua ora tau, Imah." omel bunda.


"Eeet luh mah bang, emang ora nanya tadi namanya siapa?" keluh bunda.


"Kaga, jangan kepo dah luh Imah.. urusan anak muda." omel ayah lagi.


"Eeet lu mah, bang!" keluh bunda.


"Ko temennya di tinggal, Nay?" tanya ayah yang melihat Naya masuk ke dapur.


"Ngambil minum, yah." jawab Naya.


Naya ke dapur untuk mengambil dua gelas kosong lalu berjalan ke ruang depan dan mengambil botol berisi air dingin, membawa serta ke depan rumah untuk di berikan pada tamunya di luar.


"Cuma ada minum, ya!" ucap Naya sambil meletakkan gelas dan botol minum di antara Surya dan juga Kamal.


"Minum juga udah enak, Nay." ucap Kamal yang langsung menuangkan minum dari botol ke dalam gelas.


"Hape kamu, yank!" pinta Surya dengan mengadah tangan kanannya ke arah Surya.


"Oh iya, lupa aku." ucap Naya yang langsung masuk lagi ke dalam rumah.


"Ngapa, Nay?" tanya bunda yang melihat Naya berdiri di depan lemari box seperti sedang mencari sesuatu.


"Naya lagi nyari hape, bun... hape Naya ko gak ada ya?" ucap Naya yang tidak menemukan hapenya di atas lemari box.


"Coba telpon yah, nomor hape kaka." usul Ani.


Ayah yang memang lagi ngantongin hapenya pun langsung mengeluarkan hape dari saku celana kolornya dan mendil nomor telepon Naya.


Tulalit tulalit.


Seketika itu ayah merasa ada getaran di bagian yang ayah duduki.


"Ko suaranya dari pan*** ayah?" celetuk Ani.


Ayah bangun dari duduknya, menampilkan layar hape Naya yang menyala dan bergetar.


"Hape Naya, angeeeet." ucap Naya saat hape sudah berada di tangan kanannya.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...favorit'in novel ane...


...🌹 yang di nanti...


...β˜• yang di tunggu...

__ADS_1


...🌺🌺🌺salam manis🌺🌺...


__ADS_2