Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 21


__ADS_3

Pukul 14.25 WIB


Cuaca yang terik, seperti biasa aku berjalan menyusuri jalan untuk sampai di Cikini dan menunggu angkot jurusan Sektor 9 atau biasa orang menyebutnya dengan 9 walk kala itu.


Beruntungnya diriku,, tidak menunggu waktu lama, akhirnya yang aku tunggu datang juga, siapa lagi kalo bukan angkot berwarna putih C09.


Ciiiiit,,,


Angkot langsung berhenti tepat di depan ku. Dan aku pun langsung menaiki angkot yang ku tumpangi.


Ada bapak-bapak yang duduk di pojok sambil menghadap ke belakang. Sedangkan di depannya, ada anak berseragam sekolah putih abu-abu yang asik main ponsel.


Aku duduk berhadapan dengan ibu-ibu yang memakai setelan serba pendek, kaos pendek dan celana pendek dengan motif bunga-bunga, serta sendal jepit yang bermerk swallow putih.


Di sebelah ibu itu ada anak kecil perempuan dengan rambut di kuncir dua, yang sedang menggelayut manja pada sang ibu, sambil mulut mungilnya tidak berhenti bertanya pada sang ibu.


Anak kecil itu memandang ke arah ku penuh tanda tanya,, seperti ada yang di pikirkan olehnya.


"Ibu, coba lihat itu ada bebek.."


Kata anak kecil itu sambil menunjukkan jari telunjuk kanannya ke arah ku.


"Eehhh, Sifa tidak boleh seperti itu sayang." Kata sang ibu sambil meraih tangan anaknya yang tadi menunjuk ke arah ku.


Lalu menggenggam jemari mungil Sifa ke paha sang ibu.


"Itu namanya tidak sopan sayang.!" kata ibunya lagi.


"Gak apa-apa ibu, namanya juga anak kecil. Serba pingin tahu." Jawab ku sambil tersenyum ramah.


"Adek mau kemana?" Tanya sang ibu sambil merapihkan kuncir rambut Sifa, anaknya.


"Mau ke sektor 9 bu."


"Kalo ibu sendiri, mau kemana?" Ucapku sambil menowel pipi gembul Sifa.


"Ibu mau ke pasar modern, dek." kata si ibu.


"Oooh, belanja bu.?"


"Gak, lagi jadwalnya aja buat ngecek toko." kata si ibu ramah.


"Ibu punya toko di pasar modern? Toko apa bu?" Tanya ku antusias.


"Iya, kebetulan baru bulan kemarin dapet ruko kosong buat di sewa. Lumayan bisa buat tambahan dapur ibu biar tambah ngebul."


"Waah hebat ya ibu, bisa punya usaha sendiri. Kalo saya mah kuli bu, kerja sama orang."


"Gak apa dek, ikut kerja sama orang. Siapa tahu nanti ada rezeki dari mana-mana, adek bisa punya usaha sendiri. Dulu juga ibu itu ikut kerja sama orang ko."


"Ibu, minum." Kata Sifa sambil menunjuk mulutnya.


Si ibu langsung membuka tutup botol minum yang ia simpan di dalam tas mini mouse Sifa.


"Sifa haus ya?" Tanya ku sambil melihat ke arah samping.


"Iya kaka.." jawab Sifa yang sudah selesai dengan minumnya.


"Waah ibu udah mau nyampe nih.." Kata ku.


"Pasar modern ya bang.." Kata si ibu pada sopir angkot.


"Beres bu.." Kata sopir angkot.


Sopir angkot itu pun langsung meminggirkan mobilnya dan menghentikan mobilnya tepat di depan pasar modern Bintaro.


"Ini bang, sekalian sama si adek." Si ibu menyerahkan uang 15ribu rupiah kepada sopir sambil menunjuk ke arah ku.


"Gak usah repot-repot ibu." ucapku tidak enak hati.

__ADS_1


"Ga ngerepotin ko..


Masih kulihat Sifa tengah menarik tangan kanan sang ibu, berusaha mengajak ibunya untuk berjalan memasuki pasar modern.


"Makasih ya bu.. Yang di balas senyum sama si ibu.


Sopir pun kembali melanjutkan perjalanan, menyatu kembali ke jalan raya dengan kendaraan lainnya..


Dreet,, dreet,,


Pasti Surya yang kirim pesan,,


πŸ’Œ Surya


Kamu udah dimana yank?


πŸ’Œ Naya


Di angkot 😊


πŸ’Œ Surya


Kebiasaan banget si lu, ga ngabarin. Lagi sama cowok lu ya?


πŸ’Œ Naya


Tadi di ajakin ngobrol sama ibu-ibu, aku di bayarin naek angkot sama si ibunya. Baikkan?


πŸ’Œ Surya


Itu namanya rezeki.


πŸ’Œ Naya


Kamu lagi ngapain yank?


πŸ’Œ Surya


πŸ’Œ Naya


Besok kamu mau kemana?


"Sektor 9 neng?" Tanya sang sopir.


Hampir aja bablas, kelewatan. Gara-gara fokus sama ponsel jadi lupa perhatiin jalan.


"Eeeh,, iya bang." Ucap ku.


Sopir pun langsung meminggirkan dan menghentikan mobil yang di kendarainya.


"Udah di bayar neng.." kata sopir yang melihat ku hendak menyerahkan uang 10ribu.


"Makasih ya bang..


Sopir angkot pun kembali melajukan mobilnya.


Aduuuuh Surya, gara-gara kamu nih. Tadi mau kelewatan kalo bukan si abang sopir inget, aku turun di sektor 9.


Terus tadi mau aku bayar lagi ongkos angkotnya, padahal kan udah di bayarin sama ibunya Sifa..! Surya Surya, dirimu mengalihkan dunia ku.


"Po.." Sapa ku pada si empok penjaga pos parkiran masuk.


"Oh iya, baru nyampe?"


"Iya po..


Aku pun langsung duduk di bangku yang berada di depan meja panjang. Sambil menunggu bu Rani dateng untuk menbuka rolling door restoran.


Si empok penjaga pos parkir berjalan menghampiri ku dan ikut duduk di bangku yang berada di depan ku.

__ADS_1


"Ko gak di anterin neng?" Tanya si empo.


"Di anter po,, tadi sama sopir angkot.." kata ku sambil mengirim pesan pada Surya.


πŸ’Œ Naya


Aku udah di restoran ya yank.


πŸ’Œ Surya


Iya. kerja yang bener.


πŸ’ŒNaya


πŸ‘πŸ‘


"Namanya siapa neng?" Tanya si empok.


"Naya po. Kalo empok siapa?" Kata ku sambil menyimpan ponsel ke dalam saku baju.


"Bikang..


"Hayooo, lagi ngomongin apa,,?" Tanya Ipul yang baru saja datang.


"Lagi ngomongin saya ya pok?" Dengan pede'nya si Ipul berkata sambil duduk di bawah pohon beringin yang berada deket dengan restoran.


"Ahahahaha,, pede amat si luh Pul.." Si empok tertawa mendengar perkataan dari Ipul.


Tidak berapa lama Fifi datang dan ikut duduk serta mengobrol dengan mpo Bikang,


Pok Bikang pun langsung berdiri dari duduknya, ketika melihat bu Rani datang.


Bu Rani dateng dengan di bonceng oleh a Awan, dan ka Tika di bonceng dengan cowok, entah siapa namanya yang pasti anak dapur bebek juga karena ia memakai baju yang sama dengan kami, dan yang pasti bukan Danu.


"Duluan ya Nay, Fi.." Kata mpo Bikang sambil berlalu dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibir mungilnya, tubuhnya juga mungil, hehehe.


Seperti biasa bu Rani dateng dan langsung membuka rolling door restoran.


******


"Oke,, ibu langsung aja yah. Yang duduk di sebelah ibu ini namanya pak Aziz, untuk sementara waktu akan membantu kita disini." Kata bu Rani sambil mengarahkan tangannya pada pak Aziz.


"Jika di rumah ada yang mempunyai teman yang ingin kerja, boleh ya nanti di ajak temen nya sekalian bawa surat lamaran." ucap bu Rani lagi.


"Ijazahnya apa bu?" Tanya Ipul.


"SMA atau SMK boleh Pul,," jawab bu Rani,, "Ada lagi yang mau di tanyain,,?"


"Cewek apa cowok bu?" tanya ku menimpali.


"Cewek dan cowok, boleh Nay." kata bu Rani.


"Pak Aziz, ada yang mau si tambahin?" Tanya bu Rani.


"Saya harap, kita bisa bekerja sama untuk kemajuan resto ini." Ucap pak Aziz.


Brifing pun selesai,, kami kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Pada posisi masing-masing.


bersambung.....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh saya 😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung author dengan


------> like πŸ‘


------ koment


-------> vote πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


-------> beri ⭐⭐⭐⭐⭐


jangan lupa tambahkan karya receh author ke dalam lis favorit ❀️ kamu 😊😊


__ADS_2