
...🍀🍀🍀...
Ega geleng geleng kepala melihat Tohir yang bersemangat, Ega membawa lap menyusul Tohir.
"Tapi kok, dia juga ninggalin konci ya?" Tohir meraih konci yang ada di atas meja dekat dengan nampan bil yang masih lengkap dengan uang kembalian.
"Nah, luuuh!" Seru ku.
"Kejer gih orang nya bang Tohir, kali bae masih deket sini!" Seru Ega mulai memindah kan piring dan gelas ke atas nampan.
"Paling..." belum selesai Tohir bicara, kaka yang tadi duduk di sini sudah kembali dengan berlari.
"Huh huh maaf mbak, ada kunci motor yang ketinggalan gak di sini?" Tanya kaka tampan dengan nafas yang ngos ngosan.
"Ini ka!" Ucap ku sambil menyodor kan konci motor nya dan juga uang kebalian yang ada di atas nampan, "Sekalian uang kembalian nya ka, ketinggalan!"
Wajah Tohir langsung di tekut melihat ku menyodor kan uang kemalian pada kaka tampan ini.
Hiks hiks uang tips melayang, batin Tohir.
Kaka tampan itu hanya mengambil konci motor yang ada di tangan ku, "Kembalian nya ambil aja, mbak... makasih ya kunci nya!" Ujar nya dengan menarik sudut bibir nya, lalu pergi.
Aiiiih makin cakep bae itu kalo lagi senyum, batin Ega.
Alhamdulillah duit tips ora jadi terbang, batin Tohir.
"Kembali kasih, ka." Ujar ku.
"Jangan lupa mampir lagi, ka!" Teriak Tohir dengan sumringah.
"Jahat lu, bang Tohir!" Ucap Ega dengan membawa serta nampan yang berisi piring dam gelas kotor ke dapur.
"Jahat ngapa?" Tanya Tohir sambil membawa tempat tisu, botol kecap dan nomor meja dari meja 15 lalu membawa nya ke meja yang ada di depan papan panjang.
"Kalo itu si kaka ngambil duit kembalian nya, pasti gak lu suruh dateng lagi kan, bang?" Ledek Ega.
"Hahaha tau bae lu, Ega!" Seru Tohir.
Aku mengelap meja nomor 15, "Sekalian priper aja, yuk!" Seru ku.
"Hayo lah cus!" Seru Ega dengan menata empat nampan di meja depan kasir.
Aku dan Ega mulai priper dari depan, sedang kan Tohir proper bagian belakang.
Tepat jam sebelas lewat lima menit kami selesai, lampu resto juga sudah padam.
__ADS_1
"Duluan, ka Nay!" Seru Ega menarik gas motor metik nya meninggal kan resto.
"Bener di jemput, Nay?" Tanya Tohir sebelum akhir nya meninggal kan resto.
"Iya udah, onoh di depan." Ujar ku sambil berjalan ke arah Surya menjemput ku.
"Duluan!" Seru seorang laki laki yang melewati ku dengan sepedah motor nya.
"Oh iya." Balas ku.
Dari tempat ku berada, aku melihat Tohir yang menunduk kan kepala nya sebentar, seolah menyaoa Surya yang sedang duduk di atas motor metik nya.
Saat aku sudah berdiri di depan Surya.
"Cowok tadi, siapa?" Tanya Surya dengan memicing kan mata nya dan menyimpan hape yang ia genggang ke dalam saku celana jins biru nya.
"Itu? Si Tohir anak dapur bebek juga." Jawab ku sambil duduk di atas motor.
"Bukan, cowok yang barusan nyapa kamu tadi!" Tanya Surya lagi.
"Itu, anak Peringga."
"Ko bisa kenal sama kamu?" Tanya Surya dengan nada suara yang tidak suka, sinis beeh.
"Cuma kenal doang, kan aku kadang nganterin pesenan bebek ke tempat nya, kadang juga anak peringga nganterin pesenan ibu Lani ke dabek." Terang ku.
"Jangan sok deket kamu sama cowok... modus itu dia, tar deketin kamu aja!"
Siapa juga yang mau deketin gw, orang gw jelek kaya begini beh. Batin ku.
"Ngerti gak?"
"Iya ngarti, yank ganteng, pacar nya Naya." Puji ku untuk Surya yang lagi mode ngambek.
"Kita mau langsung pulang apa muter dulu, honey?"
"Muter kemana?"
"Ya muter muter aja, cari angin malam."
"Nanti aku bilang sama bunda, apa pulang telat?"
"Alesan apa kek, yang penting kita jalan muter muter, bete aku pacaran di rumah kamu mulu, ora bisa ngapa ngapain." Ujar Surya.
Aku yang mendengar nya langsung aku hadiahi cubitan di pinggang kiri nya Surya.
__ADS_1
"A- a- ah, aaawh sakit, honey... udah lepas, aku lagi bawa motor ini!" Surya merintih dengan tangan kiri memegang tangan ku yang masih mencubit pinggang kiri nya.
Sukurin loh, kalo bacot mulut gak di rem. Batin ku.
"Maka nya jangan ngomong kaya tadi!" Sungut ku yang melepas kan cubitan tangan ku dari pinggang kiri nya.
Tangan kiri Surya masih mengelus elus bagian tubuh nya yang aku cubit.
"Itu tangan apa capit kepiting sih? Tajem amat!" Sungut Surya.
"Tangan lah, cuma kuku aku panjang, hehehe." Aku menatap jemari ku yang kuku nya panjang panjang karena belum aku potong.
"Kamu kalo di laporin, kena komnas anak loh!"
"Dih? Bisa gitu?"
"Bisa lah, kamu udah bertindak KDRT sama aku."
"Omongan lu gede, yank!"
Kami menyusuri jalan yang berteman kan angin malam, berhias kan bulan yang malu mulu untuk memperlihat kan diri nya.
"Pulang yuk, yank.. udah jam setengah dua belas kurang ini!" Aku mengajak Surya untuk pulang, waktu berjalan seolah sangat cepat.
"Iya, cepet banget ya udah mao setengah dua belas bae." Ujar Surya.
"Ya mau gimana lagi, coba kalo kita udah nikah, tinggal satu rumah, gak ada peraturan, mau ngapain aja bisa bebas, mau ketemu ampe malam juga udah gak ada yang larang." Oceh ku menghayal kan manis nya bila suatu saat aku dan Surya nikah, bukan lagi pacaran.
Aku gak tahu aja, kalo pernikahan itu gak semudah dengan apa yang di ucap kan bibir, namun amat sulit mempertahan kan dua hati untuk bersatu yang memiliki rasa, watak, sifat, tingkah laku yang berbeda.
Tidak seperti dengan pacaran, masih ada beberapa hal yang terkadang masih di tutup tutupi dengan pasangan.
Kata putus masih bisa terucap, tapi dalam pernikahan kalo bisa setiap orang tua pasti berharap pernikahan yang di jalani putra putri nya hanya sekali dalam seumur hidup nya, menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.
Bagaimana dengan ku?
"Nanti ya, honey... kalo motor aku udah lunas, kita bakal nikah!" Ujar surya menggenggam erat tangan ku yang melingkar di perutnya.
Bersambung...
...💖💖💖💖💖...
Jangan lupa dukung author dengan like dan komen 😊😊
Salam manis 😊
__ADS_1