
Sepanjang berjalan kaki menuju gang jaman, ada saja yang di bicarakan antara Naya dan juga bunda.
"Bun, Naya gak enak sama Fifi." ucap Naya yang masih merasa tidak enak hati pada Fifi.
"Mao gimana lagi Nay? kan keputusan ada sama bos kamu." ucap bunda.
"Pada hal Naya udah bilang risent aja bun biar Fifi tetep di resto, lah kaga bisa."
"Ya kamu, kaya ga butuh kerjaan aja Nay!" omel bunda atas ke putusan Naya.
"Ya kan tadi aku bilang bun, gak enak sama Fifi.. dia yang ngajak aku kerja malah dia yang di berentiin." elak Naya.
"Ayo bunda, lama nih." ucap Apri yang sudah tidak sabar ingin cepat sampai dengan tangannya menarik tangan bunda biar cepat jalannya.
"Ini kan lagi jalan, Apri." ucap bunda.
"Emang mao ngapain si Pri? buru-buru amat." ucap Naya.
"Apri mao naget ya bun, mao susu kotak, mao sosis." pinta Apri.
"Banyak amat, Pri?" tanya bunda.
"Biar sehat, bunda." jawab Apri.
"Siapa yang bayar, Pri?" tanya Naya.
"Ya kaka lah, kan kaka yang gajian." celetuk Apri.
"Dih, orang duitnya udah kaka kasih bunda semua... minta noh ama bunda... weeek." ucap Naya sambil meledek Apri dengan menjulurkan lidahnya ke luar.
"Iya, bun? duitnnya ama bunda? bunda duitnya banyak?" Apri bertanya tanpa henti.
"Iya." jawab bunda.
"Bagi es nya dong, Pri... kaka aus nih." Naya meminta minuman yang Apri beli tadi di warung.
"Beli sendiri, weeek." Apri menolak membagi minumannya pada Naya dan malah balas meledek Naya dengan menjulurkan lidahnya ke luar.
Bunda yang melihatnya pun tidak tinggal diam.
"Apri, anak pinter, anak gede, kaka bagi ya minumnya! kan kaka aus." bujuk bunda.
"Beli dewek bunda, kan kaka punya duit." elak Apri yang masih kekeh tidak mau membagi minumannya.
"Jangan pelit ya tong, kan kita ke harmoni di bayarin sama kaka Nay." bukuk bunda dengan sepelan mungkin tanpa nada tinggi.
"Kan duitnya bunda yang pegang." elak Apri.
"Iya bunda yang pegang, kan duitnya juga dari kaka Nay... kaka Nay kerja buat Apri juga loh biar bisa beli susu, bagi ya tong... ama soara gak boleh pelit." jurus nasehat bunda keluar dah.
"Nih, tapi jangan di abisin." ucap Apri yang luluh dengan nasehat bunda.
"Iya, orang minta dikit juga." ucap Naya sambil mengambil alih gelas es minuman Apri dan menyedotnya dengan sedotan.
"Aiiih segernya.. makasih ya Apri." ucap Naya sambil menyerahkan kembali minuman Apri.
__ADS_1
"Iya, kaka Nay... tapi nanti Apri boleh ya bun beli mobil mobilan." celetuk Apri.
"Mobilan udah banyak juga." omel Naya.
"Biarin, weeek." Apri memilih jalan duluan dan melepas genggaman tangannya dari tangan bunda.
"Jangan lari, tong ." ucap bunda yang melihat Anak berlari.
"Kalo kamu Nay, ada yang mao di beli gak?" tanya bunda.
"Belom tau, liet entar aja bun." ucap Naya.
Dreet... dreet... dreet.
Naya mengambil hapenya dari saku celana, lalu membaca pesan yang masuk.
"Udah nyampe mana?" Surya.
Membaca pesan dari Surya membuat Naya senyum-senyum sendiri.
"Bawel amat ya, nanya mulu.. belom juga nyampe... orang si lagi ngerja ngirim pesen mulu." gerutu Naya dalam hati.
"Kamu kenapa, Nay? pesen dari siapa si?" tanya bunda.
"Biasa, Surya." jawab Naya.
"Emang dia ora kerja? ngirim pesen mulu, nanti di omelin bos bae dah." omel bunda.
"Tar dulu bun, Naya bales pesennya dulu." Naya mencegah bunda bicara dulu, biar Naya bisa konsen dalam mengetik pesan yang akan di kirimnya ke Surya.
"Kamu bilang apa, Nay?" tanya bunda.
"Bilang kalo kerja jangan maen hape bae intinya mah.* ucap Naya memberi tahu bunda apa yang di ketiknya.
"Bosnya deket sama aku, jadi gak kungkin dong aku di marahin." isi pesan yang Surya kirim untuk Naya.
Bunda yang melihat Naya sudah mendapat balasan dari Surya pun mulai di buat kepo lagi.
"Katanya apa Nay?" tanya bunda.
"Kata Surya, bosnya deket ama dia, jadi gak bakal di omelin bagen ketawan maen hape juga." ujar Naya menyampaikan pesan jawaban dari Surya.
Bunda yang mendengar jawaban nya di buat geleng-geleng kepala.
"Bilang Surya, jangan ngegampangin orang... kalo lagi kerja, ya fokus kerja biar bisa selesai dengan tepat waktu.. nyari kerjaan susah." omel bunda lagi.
Udah kaya tukang pengantar pesan si Naya, nganter pesen antara Surya dan bunda.
"Kata bunda, kamu kerja yang bener." pesan yang di kirim Naya untuk Surya.
"Ya udah, aku kerja lagi... awas ya kamu ngelirik cowok laen, aku tahu loh kalo kamu lagi bohong." pesan yang Surya kirim untuk Naya.
Membaca pesan Surya membuat Naya esmosi jiwa lagi, di tuduh yang kaga kaga.
"Apaan si luh? ngaco bae ya." pesan yang Naya kirim buat Surya.
__ADS_1
Lalu menyimpan lagi hapenya ke dalam saku celana.
πΏπΏπΏ
Siang harinya di rumah Naya.
Ayah yang baru pulang melihat depan rumah sepi, dengan pintu yang terbuka, langsung masuk ke dalam.
"Naya mana, Im?" tanya ayah yang saat pulang istirahat tidak melihat anak pertamanya.
"Ada noh lagi ke warung, emang tadi ora ketemu?" tanya bunda yang lagi nonton televisi di kamarnya.
Ayah langsung mengecas daya batre hapenya lalu duduk di samping bunda.
"Ora ketemu, gua." ucap ayah.
"Eet bau asem, bang.. jauhan kek duduknya." omel bunda yang mencium aroma tidak sedap dari badan ayah.
"Lah ya wajar bau asem, kan cape gua abis kuli." oceh ayah.
"Iya kuli." timpal bunda dengan menutup hidungnya dengan tangan.
"Madang ada apanya, Im?" tanya ayah.
"Ada yang kaya tadi pagi, tadi pagi makan apa?" tanya bunda balik.
"Eeet ya."
"Eeet ya, orang mah kalo mao madang liet dewek noh lauk, jangan pake nanya ada apaan ya? sopan banget luh, Adiiii, Adi." omel bunda yang memilih ke luar karena merasa terganggu fokusnya saat sedang menonton televisi tapi di tanya-tanya mulu sama ayah.
"Eeet ya, bini." keluh ayah yang di tinggal pergi bunda.
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
bersambung...
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author πππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author π dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...βββββ...
...β...
...πΉ...
...β₯οΈ...
...πΈπΈπΈ salam manis πΈπΈπΈ...
__ADS_1