
Di resto, Naya dan tim dabek tengah bergulat dengan waktu untuk menunggu jam pulang.
Di tempat lain.
Kamal tengah memainkan handphone miliknya dengan duduk di bangku kayu yang ada di teras depan rumah Surya.
Kreeek... ( Pintu di buka oleh pemilik rumah dari dalam).
Keluar lah Surya dengan muka bantalnya, sambil kedua tangannya mengucek kedua matanya.
"Dih... jam segini udah molor luh." keluh Kamal. Saat Surya sudah ikut duduk di bangku kayu.
"Ngapa luh. Tumben jam segini nongol di rumah gue. Ganggu orang tidur bae luh." kata Surya.
"Et ya bocah, cuci muka sonoh. Kita ke rumah cewek gue, yuk?" ajak Kamal.
"Males ah, gue ngantuk."
"Ah payah lu. Baru juga jam segini."
"Gue cape, tadi kerja... emang lu, di rumah bae."
"Besok lu gawe jam berapa sih?" tanya Kamal.
"Midel gue, jam 10 pagi. Ngapa lu? Nanya-nanya jam kerja gue?" Surya mencecar pertanyaan pada Kamal.
"Et ya, otak lu mah eror. Kan lu besok masuk jam 10. Masih bisa lu bangun tidur siang." ujar Kamal.
"Terus apa hubungannya?"
"Udah sono cuci muka. Ikut gue ke tempat Rara. Ada yang mau ketemu sama lu juga di sonoh."
"Males ah..." tolak Surya.
"Gue beliin roko deh... sebungkus." Kamal yang tidak ingin di tolak ajakannya, mengimingi Surya dengan roko sebungkus.
Surya diam tidak langsung menjawab.
Gue ngantuk, bisa tidur tapi gak dapet roko. Mayan kan sebungkus. Tapi besok gimana?!
"Udah gak usah kebanyakan mikir."
Kamal bangun dari duduknya lalu berdiri. Kamal menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Lalu Kamal menarik tangan kanan Surya hingga Surya pun ikut bangun dari duduknya dan berdiri.
Kamal menyeret Surya sampai depan pintu rumah, dan mendorong tubuh Surya masuk ke dalam.
"Sonoh cuci muka. Gue tunggu. Gak pake lama." ucap Kamal yang tidak ingin di bantah.
Surya pun akhirnya mengalah dan mengikuti saran dari Kamal.
Surya berjalan ke kamar mandi dan mencuci mukanya, serta menggosok giginya biar nafasnya terasa segar.
Surya berjalan ke kamarnya dan meraih switer abu kotak-kotak yang ia gantung di dinding kamarnya.
Surya berjalan keluar sambil mengenakan switer abu kotak-kotak.
Baru sampai di depan pintu, langkah kaki Surya terhenti dengan suara Sani yang memanggilnya.
"Surya."
Surya membalikkan badannya ke arah suara yang ada di belakang tubuhnya.
__ADS_1
"Ngapa?" tanya Surya saat sudah melihat orang yang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana lu, udah malam juga." kata Sani, sambil melangkah ke arah ruangan yang terdapat televisi, tempat Surya berdiri.
"Mau ke tempat temen, bentar." jawab Surya.
"Ke rumah, Naya?"
"Ihs, sok tau lu. Tempat Rara tuh ceweknya Kamal."
"Jangan malem-malem lu, pulangnya!" kata Sani, lalu mendaratkan bokongnya di atas kursi kayu dan menyalakan televisi dengan remot yang sudah di genggaman tangan kanan Sani.
"Iya, bawel." jawab Surya dengan kesal dan cemberut.
"Dasar bocah." ucap Sani, yang geli melihat tingkah laku adiknya.
Surya pun ke luar rumah untuk menjumpai Kamal yang sudah menunggunya di luar sejak tadi.
"Ayo jalan." ajak Surya, saat sudah berdiri di depan Kamal yang masih asik dengan handphone di tangan.
Kamal melihat penampilan Surya, walau hanya mengenakan celana jeans biru belel panjang dan kaos hitam yang di balut dengan switer abu kotak, tidak mengurangi ketampanan Surya.
"Gitu dong, kan keren." Kamal memuji penampilan Surya.
"Udah bawel, bacot bae lu. Jadi gak nih?" jawab Surya, yang kesal dengan kelakuan temannya yang satu ini.
"Orang tuh Surya, kalo di puji. Harusnya seneng, bukan kaya lu. Marah dan jutek, nyeselin lu." Kamal yang nyerocos mendengar perkataan Surya.
Kamal pun akhirnya bangun dari tempat ia duduk dan menyimpan handphone miliknya ke dalam saku depan jeans yang tengah ia kenakan.
Akhirnya Surya dan Kamal sampai di rumah Rara dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
Rara berjalan menghampiri Kamal yang baru turun dari motornya bersama dengan Surya.
"Ko baru dateng sih, yank?" tanya Rara, dengan manjanya dan menggandeng tangan kanan Kamal.
"Ia tadi ada hambatan di jalan. Ada anak kucing nyasar, jadi nganterin dulu bentar." jawab Kamal, memberi alasan konyol.
*Buse* dah, gue di kata anak kucing, kutu kupret lu kamal. batin Surya*.
Wini pun ikut menghampiri Surya dan menggandeng tangan kanan Surya.
" Ka Surya, kok pesan aku yang tadi siang, gak di bales?" tanya Wini, sambil mengajak Surya masuk ke dalam rumah kontrakan Rara.
"Tadi lagi sibuk kerja."
"Ka Surya kenapa gak bawa motor sendiri sih? rengek Wini.
Rara dan Kamal pun duduk di dalam rumah Rara, di lantai dengan berlapiskan karpet yang lumayan tebal. Di ikuti Wini dan Surya yang ikut serta duduk namun lebih ke pojokan sisi ruang.
Jadi lah mereka berempat tengah menonton film barat di televisi yang sedari tadi memang di setel oleh Rara. Nonton televisi di temani kacang kulit serta kopi yang sudah di buat oleh Rara sebelum Kamal tiba di rumahnya.
"Kamu udah siap banget aih, yank. Pake ada kacang kulit dan kopi." ujar Kamal pada Rara.
Rara menyandarkan kepalanya di bahu Kamal. Di balas kamal dengan memeluk pinggang Rara yang padat dan berisi.
"Orang tua kamu, kemana yank?" tanya Kamal.
"Lagi nginep di rumah sodara, kebetulan lagi ada acara di sana." jawab Rara apa adanya.
Wini juga tak mau kalah mesra dengan Rara.
__ADS_1
Wini yang tadinya duduk bersebelahan dengan Surya, beralih memilih duduk di pangkuan Surya.
Surya tampak kaget dengan kelakuan Wini. Surya menatap tajam ke arah Kamal.
Gila, nih cewek mau ngapain sih? batin Surya.
"Udah ikutin aja maunya." jawab Kamal dengan entengnya.
Wini meraih kedua tangan Surya dan membuatnya melingkar sempurna di pinggang Wini. Wini menyandarkan badannya pada badan Surya.
"Kamu ngapain kaya gini?" tanya Surya.
Surya mendekatkan wajahnya ke telinga Wini.
"Pengen di manjain sama kamu." jawab Wini.
"Jangan nyesel ya, kamu yang mau." kata Surya.
Wini mengarahkan kedua tangan Surya di buah da** miliknya dan Surya pun mulai merem** kedua buah da** milik Wini.
Sedangkan Kamal sedang bermain dengan puncak gunung Rara dan menyesapnya. Dengan satu tangannya merema* gunung kembar yang lainnya.
Di tempat lain.
"Biar aku bantu, Nay." kata Danu sambil membawa nampan yang berisi tumpukan piring dan gelas yang kotor dari atas meja.
"Makasih, ya." ucap Naya, lalu Naya menyemprotkan air ke atas meja dan mulai mengelap meja dengan kain lap yang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Ka Tika, meja nomor 10 minta bill." ujar Nini sambil berdiri di depan kasir.
"Tunggu bentar ya." kata ka Tika. " Sambil lietin jari kaka ya Nin, biar kamu juga nanti bisa." ucap ka Tika lagi.
"Iya, ka."
Lalu ka Tika pun memencet tombol angka yang ada pada mesin kasir dengan tangan kanan, dan tangan kirinya memegang kertas berisi catatan pesenan.
Dreeet...dreeet.dreeet.
Suara mesin kasir mengeluarkan selembar kertas putih yang berisi catatan pesenan yang telah di ketik oleh ka Tika.
"Ini, Nini." ka Tika menyodorkan nampan bill yang di atasnya terdapat kertas bill tagihan yang di minta oleh customer meja nomor 10.
Nini meraih nampan bill, dan membawanya pada si customer.
bersambung......
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author đđ
mohon đđģđđģ dukung karya receh author đđ dengan cara âŠī¸
\=\=\=> đ like
\=\=\=> âī¸ komen
\=\=\=> âââââ
\=\=\=> đđš
\=\=\=> vote
\=\=\=> âĨī¸ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya đ
__ADS_1