
Setelah urusan perut terselesaikan dan bunda juga sudah membungkus nasi uduk dengan semur jengkol beserta bakwan yang akan bunda berikan pada nenek Fatimah.
Bunda, Naya dan juga Apri melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah, gak tahu deh ya ada lagi gak nih ntar yang menghambat perjalanan mereka.
"Gak di taekin Pri, sepedahnya?" tanya Naya yang meledek Apri. Secara gak mungkin juga itu sepedah bisa di kayuh sama Apri, jalannya menanjak.
"Kaka aja nih yang bawain sepedah Apri" pinta Apri dengan senyum merekah di bibirnya.
"Ogah amat.. siapa suruh bawa sepedah." ledek Naya yang membiarkan Apri menuntun sepedahnya, sedangkan tangan kirinya menenteng kantong plastik putih yang berisi sebungkus nasi uduk.
"Nay, dorong bunda dong Nay.. bunda g kuat jalan nih!" seru bunda yang memperlambat jalannya.
"Yaaah bunda, tadi kapan udah di isi itu perut bun!" seru Naya, tapi tetap mendorong tubuh bunda dari belakang dengan menggunakan ke dua telapak tangan yang menempel pada punggung bunda.
"Aduh, bunda cape nih Nay." ucap bunda lagi.
"Tanggung bun, ini gerah amat bun.. baju bunda yang belakangnya basah bener." ucap Naya yang bagian punggung baju bunda basah karena keringat.
"Berarti bunda sehat Nay." ucap bunda.
"Lah bun, Naya gak gerah kaya bunda.. Naya gak sehat gitu bun?" tanya Naya.
"Lah ya sehat Nay, kamu kan kurus Nay, gak kaya bunda gemuk.. wajar lah cepet cape." ujar bunda memberi alasan yang cukup masuk akal bagi Naya.
"Ooooooh gitu ya bun?" tanya Naya yang sempat ber oh riya.
"Nay, duduk di situ dulu yuk Nay." ucap bunda setelah melihat bangku kayu yang ada di pinggir jalan.
"Oke deh." ucap Naya.
Setelah melewati jalan yang menanjak, akhirnya bunda benar mengistirahatkan badannya dengan duduk di bangku kayu yang memang sengaja di buat oleh baba Dawih, yang merupakan masih adik dari nenek Fatimah, bangku kayu yang berada tepat di bawah pohon rambutan, membuat teduh suasana, terik matahari terhalang oleh dedaunan yang rimbun.
"Naya gak duduk?" tanya bunda yang melihat Naya masih berdiri.
"Pengen lah bun." ucap Naya yang ikut duduk di samping bunda.
"Apri mau kemana?" tanya bunda yang melihat Apri sudah duduk di atas jok sepedahnya.
"Apri mau pulang, mao maen ama abang Sandi." ucap Apri.
"Eh ini Pri, sekalian bawa pulang terus kasih nenek." ucap bunda sambil menunjukkan bungkusan nasi uduk yang berada dalam kantong plastik putih.
"Bunda ajah yang kasih.. Apri mao langsung maen.. dadah bunda!" seru Apri yang langsung mengayuhkan sepedahnya dengan cepat meningkatkan bunda dan Naya setelah sebelumnya sempat dadah pada bunda.
"Heeet ya, luh bocah.. susah amat di suruhnya." omel bunda yang melihat tingkah Apri.
Naya mengeluarkan ponselnya dari saku celana kolornya.
Melihat pesan yang di kirim oleh Surya.
"Katanya marah, masih aja sms mulu." batin Naya, sambil senyum-senyum sendiri melihat pesan dari Surya.
✉️ 0896222***
Kamu udah pulang belom sih? jangan bikin khawatir apa jadi orang.
✉️ 0896222***
Jangan lupa kabarin kalo udah dapet jadwal libur.
✉️ 0896222***
Yank, jangan lupa makan
✉️ 0896222***
Kalo udah nyampe rumah, jangan lupa kabarin aku ya yank. love you Naya.
__ADS_1
Akhirnya Naya membalas pesan Surya.
✉️ Naya
Aku masih di jalan sama bunda, lagi ngasoh.
✉️ Naya
Iya nanti aku kabarin kalo udah tau jadwal libur.
"Gak di bales, mana lagi nih bocah." batin Naya yang melihat layar ponselnya belum juga mendapatkan balasan dari Surya.
"Kamu lagi bales pesan siapa Nay?" tanya bunda yang melihat Naya tengah mengetikkan huruf-huruf pada kipet ponselnya.
"Ini bales pesan Surya, bun." jawab Naya.
"Kamu nyambung lagi sama Surya?" tanya bunda.
"Iya bun, baru ini juga.. Surya hapenya ilang jadi gak ngabarin aku." jelas Naya.
"Kamu serius sama Surya ya Nay?" tanya bunda.
"Di bawa santai aja bun, pacaran bukan berarti nikah sama dia juga kan?" tanya balik Naya.
"Kalo bisa, cari yang lebih dewasa pemikirannya Nay." ujar bunda.
"Iya bun." jawab Naya.
"Cari yang sama pendidikannya, biar kalo punya anak.. kamu sama laki kamu nantinya sejalan buat pendidikan anak Nay." ujar bunda lagi menasehati Naya.
"Ya elah bun, jauh amat mikirnya.. masih jauh itu mah bun." ucap Naya.
"Bagen masih jauh, harus udah ada plening Nay." kata bunda.
"Iya aja deh." gerutu Naya yang di nasehati bunda.
Bunda berdiri dari duduknya sambil berkata, "Ayo Nay, pulang." ajak bunda.
"Oh iya ayok." ucap Naya yang menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Naya dan bunda kini jalan beriringan dengan Naya yang membawa bungkusan plastik putih apa lagi kalo bukan berisi sebungkus nasi uduk buat nenek Fatimah.
"Bun, aus bun." ucap Naya saat akan melewati warung di depan.
"Beli es gih sana." ucap bunda dengan menyodorkan uang selembar berwarna abu-abu dengan nominal 2ribu rupiah.
"Bunda mao sekalian gak?" tanya Naya.
"Boleh deh." jawan bunda.
"Eh Imah, mana belanjaan luh?" tegur mak Ijah yang melihat bunda dan Naya saat melewati warung sayurannya.
"Itu di bawa sama Naya, pok." ujar bunda.
"Borong nih sayuran gua Imah." tawar mak Ijah.
"Iya gampang, ngambil duit dulu di rumah." alasan bunda.
Naya mampir ke warung yang berada persis di seberang jalan depan warung sayur mak Ijah, sedangkan bunda menunggu Naya di pinggir jalan sambil ngobrol ala emak-emak dengan mak Ijah.
"Bawa duit luh yang banyak ya dimari." kata mak Ijah.
"Gampang itu mah, nyari dulu di selipan baju pok!" seru bunda.
"Apa bae di kata luh, Imah." kata mak Ijah.
Naya menghampiri bunda dengan tangan kiri menenteng kantong plastik putih dan juga minuman kemasan gelas plastik di tangan kanannya, "Ini bun!" seru Naya sambil menyodorkan minuman teh gel** pada bunda.
__ADS_1
"Lah, buat kamu mana Nay?"
"Ada.." Naya merogoh saku celana kanannya, "Ini punya Naya." sambil menusukkan sedotan ke minuman kemasan gelas plastik yang Naya pegang.
Bunda juga sudah menyedot habis minuman kemasan gelasnya.. lalu membuang gelas kosongnya ke tempat sampah yang ada di dekat bunda berdiri.
"Aus amat bun?" tanya Naya yang melihat bunda membuang kemasan minumannya.
"Aus Nay." jawab bunda.
"Aye duluan pok." pamit bunda pada mak Ijah.
"Iye, bae-bae luh.. salam buat emak luh ya Imah." ujar mak Ijah.
"Gampang itu mah." ucap bunda dan berlalu bersama dengan Naya.
Baru sampai di depan saung terlihat nenek Fatimah yang sedang menyapu halaman pekarangan rumah.
"Heh Imah, lamat amat luh olahraganya!". seru nenek Fatimah yang sedang menyapu halaman.
"Ya elah si emak, namanya juga olahraga ya pasti lama." bunda mendudukkan bokongnya di atas saung dan berselonjor kaki.
"Nek, nyarap dulu nih." ujar Naya sambil menunjukkan tentengan kantongplastik putih.
"Apaan tuh Naya?" tanya nenek Fatimah yang melihat bungkusan yang di tunjukkan Naya.
Nenek Fatimah berjalan ke arah saung dan menyandarkan sapu yang tadi nenek Fatimah gunakan untuk menyapu halaman ke pohon mangga.
"Ini nasi uduk haji Mindil buat nenek." jawab Naya, mendudukkan dirinya di saung.
"Aiiih tau bae luh pan, kalo gua laper!" seru nenek Fatimah.
"Ya tau lah, aye gitu." ucap bunda bangga.
Nenek Fatimah membuka bungkusan plastik putih dan duduk di samping bunda.
"Nenek gak cuci tangan?" tanya Naya.
"Wah iya, gua lupa.. ambil gih sono Nay!" perintah nenek Fatimah.
"Air minum apa air sumur nek?" tanya Naya yang sudah berdiri kembali.
"Air minum lah.. cepet gih, gua aus nih." ucap nenek.
Naya berjalan ke rumah nenek Fatimah untuk membawakan segelas air putih yang di minta nenek Fatimah buat minum dan juga cuci tangan pastinya mah.
"Apri mana Imah? ora bareng luh pulangnya?" tanya nenek Fatimah yang belum melihat keberadaan Apri.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
bersambung...
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊
mohon 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️
••••> 👍 like
••••> ✍🏻 komen
••••> vote
•••> 🎁☕🌹
••••> ⭐⭐⭐⭐⭐
••••> ♥️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺