Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 116


__ADS_3

"Akhirnya tujuan utama ke Ciledug sudah tercapai. Hape sudah di tangan, sekarang giliran beli buah duku buat oleh-oleh." ucap bunda saat jalan keluar dari gedung yang di sebut Borobudur Ciledug.


"Bunda, kita jalan kaki nih?" tanya Apri di sela-sela saat berjalan kaki di pinggir jalan.


"Iya, Pri... nanti kita naek angkot di tempat yang pas tadi kita turun dari angkot, sebelum naek angkot nanti kita beli buah duku dulu buat nenek, Apri mau kan buah duku?" tanya bunda yang sekalian mengiming imingi Apri dengan buah duku.


"Mao bun, Apri suka duku." ucap Apri sambil bertepuk tangan riang.


"Mao beli duku dimana, bun?" tanya Naya.


"Itu yang tadi kita turun dari angkot, kan ada bapak-bapak yang jual buah pake gerobak, beli di situ bae Nay." terang bunda.


"Makasih ya, bun... Naya udah di beliin hape." ucap Naya.


"Itu kan kamu beli juga pake gaji kamu, Nay... ngapain pake makasih?"


"Iya karena udah di beliin hape, kan bunda yang atur duitnya, hehehe." ucap Naya senang.


"Jangan lupain hape lama ya Nay, hape lama kamu berkesan loh itu." ucap bunda mengingatkan Naya.


"Iya, bun."


"Kaka, nanti Apri foto ya!" seru Apri yang sudah minta di foto.


"Iya, tar ya... kalo udah di rumah." ucap Naya.


"Naaah tuh dia, bapak penjual buah duku." ucap bunda yang menunjuk ke arah bapak penjual buah duku yang sedang duduk di trotoar jalan.


"Berapa nih pak, sekilo?" tanya bunda saat sudah berdiri di depan gerobak penjual duku sambil meraih 1 kantong plastik berwarna hitam.


Sementara bunda menawar harga, Naya dan Apri menyimak aja, sambil memasukkan buah duku pilihannya ke dalam kantong plastik yang bunda ambil.


"Dua puluh ribu aja, bu." ucap bapak penjual.


"Ora bisa kurang, pak?" tanya bunda lagi yang berusaha menego harga.


"Mao beli berapa, bu?" tanya bapak penjual.


"3 kilo, pak." ucap bunda.


"Buat ibu, udah lima puluh ribu aja... mao pilih sendiri apa di pilihin bu?" tanya bapak penjual.


"Biar pilih sendiri aja, pak."


Jadi deh Naya, bunda dan Apri memilih sendiri buah duku yang akan di belinya.


"Udah kali ya, Nay?" tanya bunda yang merasa buah dukunya sudah cukup 3 kilo.


"Laaah, mana Naya tau bun." jawab Naya.


"Pak, udah kali ini ya pak?" tanya bunda sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi buah duku yang sudah di pilihnya.


"Biar saya timbang dulu ya, bu." ucap si bapak yang menaruh kantong plastik bunda ke atas timbangan yang sudah di sediakannya.


Terlihat si bapak menambahkan buah dukunya hingga garis di angka 3 kilo lebih, "Ini saya lebihin, bu." ucap si bapak penjual.


Bunda mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dalam dompet, "Ini pak, makasih ya pak." ucap bunda sambil menyerahkan uang pembayaran buah dukunya.

__ADS_1


"Iya bu... sama-sama!" ucap bapak penjual.


Naya, Apri dan bunda langsung naik angkot yang sudah ngetem di tempatnya tidak jauh dari gerobak bapak penjual buah duku.


Naya dan Apri duduk di bangku paling pojok, bunda duduk di samping Apri.


Sambil menunggu angkot jalan, bunda memilih membuka bungkusan plastik yang berisi buah duku lalu mulai memakannya.


"Emang boleh makan, bun?" tanya Apri.


"Ya boleh dong, Apri kalo mau, makan aja." ucap bunda.


Naya sudah lebih dulu memakan buah duku.


"Apri, ini bagi om supir ya." ucap bunda sambil menyerahkan beberapa buah duku agar di berikan pada supir angkot yang sedang di taekinya.


Apri pun berjalan menghampiri supir angkot, "Om, ini buat om." ucap Apri sambil menowel bahu sopir angkot.


"Oh iya dek, makasih ya!" ucap supir angkot.


"Makasih ya, bu." ucap supir angkot yang menengok ke arah bunda.


"Iya bang, sama-sama." ucap bunda.


🌿🌿🌿


Sampai di rumah, bunda langsung duduk berselonjor kaki di teras rumah di ikuti Apri.


"Kamu minta konci gih Nay sama nenek, sekalian nenek ajak kesini ya!" perintah bunda.


"Iya, bun." Naya langsung berjalan ke rumah nenek Fatimah untuk minta kunci rumah sekalian mengajak nenek Fatimah untuk ke rumah.


"Kapan luh pulang, Nay?" tanya nenek Fatimah sambil menyerahkan kunci rumah yang ada di tolet.


"Nenek, ikut yuk ke rumah." ajak Naya.


"Ada apaan emangnya? eluh jadi Naya beli hape?" tanya nenek Fatimah ingin tahu.


"Ayo nenek ikut Naya dulu." Naya menggandeng lengan kanan nenek Fatimah dan membawanya ke rumah.


Nenek melihat bunda dan Apri lagi makan buah duku sambil berselonjor kaki.


"Baru pulang luh, Imah?" tanya nenek Fatimah yang langsung ikut duduk di teras.


"Baru nyampe, emak... ini ada lebihnya, makanya aya beliin buah duku buat emak." ujar bunda.


"Luh beli banyak amat ini, Imah!" Nenek Fatimah kaget melihat buah duku yang terlihat banyak.


"Aya beli 3 kilo, emak." ucap bunda.


"Abis ini Imah?" tanya nenek Fatimah.


"Kan ada Naya, Apri, Ani yang bakal ngabisin nek." ujar Naya yang sudah ikut mencomot buah duku.


"Mana hape baru luh, Naya?" tanya nenek Fatimah.


"Ada nek, itu di kantong plastik." ucap Naya sambil menunjuk kantong plastik berisikan hape.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Jam 12 siang.


"Mumpung bunda lagi di saung, aku telpon Surya ah... kali aja di angkat." monolog Naya.


Naya langsung melakukan panggilan telepon ke nomor hape Surya, lalu menempelkan hapenya ke telinga kanannya.


"Ko belom di angkat si? apa lagi kerja kali ya?" monolog Naya lagi yang mulai resah karena panggilan teleponnya belum juga di angkat oleh Surya.


"Halo, yank? kamu lagi apa? kok pesen aku gak ada yang kamu bales?" tanya Naya yang langsung membom bardir Surya dengan serentetan pertanyaan.


🀣🀣🀣🀣


Kalo bawelnya angot, melebihi petasan banting tuh bacotnya Naya.


"Aku lagi kerja, ini lagi di gudang, aku lagi gak ada pulsa... mao beli ya belom sempet bae." jelas Surya di πŸ“±


"Kirain kamu kemana, kamu lagi gak bohong kan? bener gak ada pulsa kan?" tanya Naya yang sedang mengintrogasi Surya.


"Iya bener lah, masa aku bohongin kamu,sih yank?" Surya πŸ“±.


"Iya kali aja masih mao bohong lagi." jelas Naya yang kadar percayanya berkurang pada Surya.


"Kamu kalo telpon cuma ngajak ribut, mending matiin deh... aku kan lagi kerja... orang mah di semangetin gitu, bukan di omelin." jawab Surya πŸ“±.


"Ya udah, maaf kalo gitu, met kerja." ucap Naya yang langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Udah di telpon, bukannya seneng bisa dengerin suaranya ini malah ngoceh-ngoceh... apa aku salah juga ya? wajar dong, gak percaya, kan dia bohong mulu." monolog Naya.


"Beliin pulsa kali ya, biar bisa chat lewat SMS nantinya... kan bete kalo aku gak ada temen buat ngirim pesan.


Naya akhirnya memilih ke konter pulsa buat beliin Surya pulsa, alesan ke bunda apa ya? ngaku gak kira-kira kalo Naya mau beli pulsa?


...🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung....


Hemmmm Naya uah mulai bucin nih ama Surya. 🀣🀣


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...🌹...


...β˜•...


...β™₯️...

__ADS_1


...🌸🌸🌸 salam manis 🌸🌸🌸...


__ADS_2