
Sampai di halaman rumah, Naya turun dari motor. Lalu menggendong Apri yang tertidur pulas.
"Apri tidur, Nay?" tanya ayah.
"Iya nih, yah."
Naya berjalan sampai depan pintu, pintu masih tertutup rapat.
"Assalamualaikum, bun." ucap Naya.
"Waalaikum salam." ucap bunda dari dalam rumah.
Kreeeek ( pintu di buka oleh bunda)
"Lah Apri tidur, Nay?" tanya bunda yang melihat Apri di gendong oleh Naya.
"Iya bun." Naya berjalan ke kamar bunda, dan menidurkan Apri dengan hati-hati ke atas kasur.
"Kamu mau makan dulu, Nay?" tanya bunda saat Naya masuk ke dalam kamarnya, di lihatnya Ani sedang tidur pulas dengan televisi menyala.
"Itu tadi bunda yang nonton televisi di kamar kamu, Nay. Awalnya mah ngobrol sama Ani, gak taunya Ani tidur duluan. Saking capeknya kali itu bocah di sekolah." tutur bunda panjang lebar.
Ayah memasukkan motor ke dalam rumah, lalu pergi tidur ke kamar yang sudah ada Apri tidur pulas di atas kasur.
Naya ganti baju, mengelap badan yang lengket dengan keringat, lalu masuk ke dalam kamarnya. Di lihatnya bunda masih nonton televisi sambil duduk di atas kasur.
"Gimana tadi kamu di tempat kerja, Nay?" tanya bunda, saat Naya sudah duduk di atas kasur.
"Cape bun, kayanya bu Rani kurang suka sama Naya deh bun." keluh Naya.
"Ko gitu? Emang kamu buat salah apa, Nay?"
"Perasaan mah Naya biasa aja, bun."
"Pikiran kamu aja kali, Nay." kata bunda. "Kamu gak mau makan dulu, Nay?" tanya bunda.
"Gak deh bun, Naya mau langsung tidur aja." ucap Naya lesu.
Bunda mematikan televisi dan pindah ke kamar sebelah, tempat tidur bunda, Apri dan juga ayah.
"Yah, udah tidur belum?" tanya bunda saat sudah membaringkan dirinya ke atas kasur.
"Kenapa bun? Ayah ngantuk banget nih." ucap ayah dengan mata masih tertutup.
"Tadi Dava kesini, ngambil pohon cangkokan mangga. Udah di bayar belum yah?"
"Emmm, udah bun."
"Duitnya mana, yah?"
"Gak pake duit bun. Ayah minta di bayar pake roko sebungkus."
"Apa yah???" tanya bunda kaget.
Mendengar kata sebungkus rokok membuat bunda yang tadinya mengantuk jadi tegar kembali. Dari yang rebahan di atas kasur, langsung bangun dan duduk dengan wajah yang tidak bisa lagi di bayangkan, keselnya kaya apa coba itu bunda.
"Iya, waktu itu ayah pulang siang gak punya roko. Mau minta uang sama bunda, tapi bunda lagi ada pengajian dan belum pulang...-" ayah menggantungkan kata-katanya.
"Terus yah?" tanya bunda penasaran.
"Dava dateng, minta di cangkokin pohon mangga."
"Terus rokonya mana, yah?
"Ya udah gak ada, bun."
"Iiiih ayah mah gitu." bunda mencubit gemes pinggang ayah.
"Ayah ngantuk bun."
"Au ah gelap, yah."
Lalu bunda merebahkan kembali badannya ke atas kasur, dan ikut tertidur.
****
Ke esokan paginya di rumah Naya.
__ADS_1
Ayam berkokok membangunkan bunda dari tidurnya dan meninggalkan mimpi indahnya. Kembali ke dunia nyata, menjsi ibu rumah tangga.
Apri yang sedang duduk di atas tempat tidur tengah asik menonton acara kartun kesukaannya, ben 10.
"Apri udah bangun?" tanya bunda, saat sudah membuka matanya dari tidur nyenyaknya.
"Udah dong bun. Bunda, Apri mau mimi." ucap Apri dengan manjanya.
Bunda pun bangun dari tidurnya dan membuatkan susu di botol dot untuk Apri.
Setelah selesai dengan membuat susu, bunda memberikannya pada Apri.
"Ini, Pri. Mimi kamu." kata bunda sambil memberikan botol susu pada Apri.
Apri meraih botol susu dan kembali merebahkan tubuh mungil tapi montok ke atas kasur dengan mata tertuju pada layar televisi.
Bunda membangunkan ayah yang masih tertidur pulas.
"Bangun yah, udah pagi." kata bunda, sambil mengguncang bahu kanan ayah.
"Iya, bun ini ayah bangun." kata ayah dengan mata tertutup.
Bunda meninggalkan kamarnya dan berjalan ke kamar sebelah, tempat Naya dan Ani tidur.
"Kamu udah bangun, Nay? Baru aja bunda mau bangunin kamu." kata bunda.
"Iya bun, udah dari tadi bangunnya." kata Naya.
"Ade kamu, Ani gak di bangunin Nay?" tanya bunda, karena Ani masih tertidur pulas.
"Susah di banguninnya bun." keluh Nay.
"Ya udah biar bunda yang bangunin Ani. Kamu langsung mandi gih." kata bunda.
Naya meninggalkan kasur empuknya dan mengambil kaos lengan pendek serta celana kolor selutut dan tidak lupa membawa pakaian dalamnya.
Setelah itu Naya berjalan menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit selesei dengan ritual mandi, lalu Naya mengenakan pakaian yang sebelumnya sudah ia siapkan.
Naya menghampiri bunda yang tengah sibuk di dapur,
"Ani udah bangun, bun?" tanya Naya sambil berjongkok untuk mengulek bumbu yang sudah ada di atas batu pengulekan.
"Iya buuuuun. Ani udah bangun iniiiiii." di balas dengan suara teriakan Ani.
"Nay, kamu beli tomat dulu gih 2 ribu sama jengkol setengah kilo." ucap bunda sambil menyerahkan uang 50 ribu rupiah pada Naya.
"Beli dimana, bun?" tanya Naya.
"Di warung mak Ijah."
Naya bangun dari jongkoknya dan berjalan ke warung untuk membeli pesanan bunda.
***
"Mak,, beli tomat 2 biji, sama jengkol setengah kilo." ucap Naya pada ibu penjual sayur yang tidak lain adalah ibunya Dafa.
Dafa datang menghampiri sang ibu untuk membantu melayani para pembeli sayuran.
"Ini tomatnya ya, Nay." kata mak Ijah, memisahkan tomat pesanan Naya. Lalu mak Ijah memisahkan jengkol dari plastik besar ke ukuran setengah kilo pesanan Naya.
"Eh ada Naya, beli apa Nay?" tanya Dafa.
"Beli daging gak bertulang." ucap Naya."
"Apaan tuh? Daging tapi gak bertulang?" tanya Dafa sambil berfikir apa yang di maksud Naya. " Oncom ya Nay?" tebak Dafa.
"Sok tau kamu, Dafa." cela mak Ijah.
"Lah emang apaan mak?" tanya Dafa pada mak nya.
"Ini Dafa." ucap mak Ijah sambil mengangkat bungkusan jengkol ke arah wajah Dafa.
"Lah itu mah, jengkol mak." ucap Dafa.
"Jadi 12 ribu ya, Nay." mak Ijah memberikan pesanan Naya dan menyerahkan uang kembaliannya pada Naya.
"Makasih mak." ucap Naya.
__ADS_1
"Iya Nay, sama-sama." kata mak Ijah.
"Sama abang gak bilang makasih Nay?" tanya Dafa saat Naya akan berbalik badan membelakanginya.
Naya pun kembali menghadapkan diri nya ke arah Dafa.
"Iya, sama abang juga. Makasih ya." ucap Naya yang tidak mau ambil pusing.
"Nah gitu dong Nay. Terima kasih kembali Naya." ucap Dafa dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Naya duluan ya, udah di tunggu bunda." ucap Naya dan berlalu pergi meninggalkan Dafa dan mak Ijah.
Dreeet... dreeet...
Getaran di handphone Naya tanda pesan masuk.
Naya merogoh kantong celana yang ia kenakan dan melihat siapa yang mengiriminya pesan.
đ Surya
kamu lagi apa yank?
đ Naya
Jalan pulang abis beli jengkol di warung.
đ Surya
Mau masakin aku jengkol ya yank?
đ Naya
iiih ge'er banget kamu. Aku gak bisa masak. kenal bumbu juga gak.
đ Surya
Nanti aku yang masakin kamu ya yank.
đ Naya
Terserah
đ Surya
Kamu lagi kenapa si yank? kaya lagi marah gitu sama aku.
đ Naya
Biasa aja, siapa juga yang marah. Kamu gak kerja?
đ Surya
Aku lagi di gudang beresin barang, jadii aku sempetin buat sms kamu.
Sampai di rumah, Naya meletakkan handphonenya di atas lemari box, dan berjalan ke dapur untuk menyerahkan barang yang tadi di beli Naya kepada bunda.
****
bersambung......
.
.
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author đđ
mohon đđģ đđģđđģ dukung karya receh author đđđđ dengan cara âŠī¸
\=\=\=\=> đ like
\=\=\=\=> âī¸ komen
\=\=\=\=> vote
\=\=\=\=> đ
\=\=\=\=> âââââ
__ADS_1
\=\=\=\=> âĨī¸ tambah ke favorit biar gak ketinggalan cerita'nya đđđ