Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 71


__ADS_3

"Bunda, mana yah?" tanya Naya yang sudah terlihat segar setelah mengelap badanya yang lengket setelah beraktivitas di resto.


"Ada noh di kamar.. liet gih sonoh!" seru ayah.


Naya berjalan ke kamar bunda, terlihat bunda tengah mengambil uang dari dalam dompet.


"Ngapain bun?" sambil duduk di pinggiran kasur bunda.


"Kata ayah, tadi kamu mao baso?" tanya bunda, yang ikut duduk di samping ku.


"Hehehe, gak ada duit bun."


"Ya udah ayok." ajak bunda yang sudah berdiri lagi.


"Kemana?" tanya Naya yang masih bingung.


"Beli baso Naya." ujar bunda dan menuntun tangan Naya, udah kaya anak kecil kan? masih di tuntun jalan juga sama bunda.


Kreeeek.. bunda membuka pintu.


"Mao kemana luh, Imah?" tanya ayah yang melihat bunda dan Naya sudah berdiri di depan pintu.


"Beli baso buat anak luh." ucap bunda.


"Biasa aja dong, sekalian gua ya, kopi enak nih malam-malam.!"seru ayah yang melihat bunda masih juga ngambek.


"Beli dewek." ucap bunda sambil menutup pintu.


Jebreet..


Saking kencengnya tuh nutup pintu, bunda kaget sendiri 🤣🤣🤣


"Pelan-pelan bun, nutup pintunya!" seru Naya.


"Iya maaf, tangan bunda bablas narik pintunya." alesan bunda bae.


"Wadon kalo marah, awet amat ya?" batin ayah yang mulai pegel ngimbangin bunda yang lagi ngambek.


Naya dan bunda berjalan kaki untuk membeli bakso yang mangkal setiap malam di pertigaan jalan, lebih tepatnya mangkal di depan warung kelontong yang di sebrang jalan ada warung sayur Emak Ijah, orang tua Dafa.


"Apri, nginep di rumah nenek bun?" tanya Naya yang dari tadi pulang kerja belum melihat Apri.


"Iya, tadi di tawarin nginep sama nenek Fatimah, anaknya mau.. ya nginep deh." ujar bunda.


"Bulannya bagus deh bun, terang banget." ucap Naya saat melihat ke langit yang gelap menjadi terang dengan cahaya bulan.


"Itu namanya terang bulan, Nay."


"Di bulan ada apaan ya bun?" tanya Naya.


"Lah ya au Nay, ada apaan.. bunda juga gak tau!" seru bunda.


"Kira-kira tukang baksonya masih ada gak ya bun?"


"Mana bunda tau Nay."


"Eh tuh ada bun, tukang baksonya." ujar Naya yang melihat gerobak bakso masih mangkal.


"Kayanya rame Nay!" seru bunda.


"Tumben bun, biasanya gak rame gitu."


"Baksonya, masih ada bang?" tanya bunda, saat sudah berdiri di samping tukang bakso.


"Ada Pok, mao berapa porsi?" tanya kang bakso.


"2 porsi deh bang!" seru bunda.


"Makan di sini apa di bungkus, Pok?" tanya kang bakso.


"Di bungkus aja bang." jawab bunda.


"Beres pok, campur apa gimana nih?" tanya kang bakso.

__ADS_1


"Punya aku, gak pake mie kuning ya bang." ucap Naya.


"Yang satunya di campur aja bang." ujar bunda.


"Bakso, Pok." ujar bang Anis yang menawarkan bunda saat lagi makan bakso, bang Anis anaknya ustad sekaligus teman Dafa.


"Iya Nis, nih lagi mesen." ucap bunda.


"Beres neng.. tumben nih sama si empok, biasanya sama abang di anterinnya." ujar kang bakso sambil meracik bakso pesenan bunda.


"Ada lagi di rumah." jawab bunda.


"Ayah gak di beliin kopi, bun?" tanya Naya sambil menarik ujung baju bunda.


"Kamu inget aja, Nay!" seru bunda.


Bunda berjalan menghadap etalase sambil berkata, "Kopi dua ya bang." pinta bunda pada orang yang menjaga warung.


"Kopi apa, Pok?" tanya kang warung.


"Kopi kapal ap* yang pake gula." ucap bunda.


"Kopi doang, Pok?" tanya kang warung.


"Kamu mao apa, Nay?" tanya bunda menawarkan jajan pada Naya.


"Naya mau ini ya, bun!" seru Naya yang langsung membuka ciler dan mengambil minuman botol plastik yang berisi minuman bersoda.


"Ada lagi gak?" tawar bunda.


"Sama ini, boleh?" tanya Naya sambil menyentuh krupuk kulit yang di bungkus plastik.


"Ambil, Nay." Naya menarik bungkusan plastik bening yang berisi krupuk kulit.


"Berapa bang?" tanya bunda agar si abang warung menghitung jumlah belanjaan bunda.


"Kopi dua.. dua rebu, minuman soda tiga rebu lima ratus, kerupuk atu, jadi enam ribu lima ratus, Pok." ujara kang warung.


"Ini bang, duitnya." bunda menyerahkan selembar uang kertas.


"Udah bang?" tanya bunda pada kang bakso.


"Udah, ini pok." ujar kang bakso yang menyerahkan bungkusan bakso pada bunda.


"Ini pegang dulu Nay." pinta bumda agar Naya membawa bungkusan plastik berisi bakso.


Naya mengambil bungkusan bakso dan juga bungkusan dari warung.


Bunda membayar bakso, "Makasih ya bang!" seru bunda setelah selesai membayar bakso.


"Iya pok, sama-sama." ujar kang bakso.


"Duluan, Nis!" seru bunda yang berpamitan pada bang Anis.


"Iya, Pok" ucap Anis.


Naya dan bunda berjalan pulang dengan membawa 2 porsi bakso yang di bungkus dan juga kopi pesenan ayah.


Di jalan Naya mengambil minuman botol bersoda dari dalam plastik lalu membuka tutup botol dan menenggaknya.


"Uuuuh seger." ucap Naya saat sudah meminum minuman bersoda miliknya.


"Bagi bunda dong, Nay!" seru bunda yang meminta minuman Naya.


Naya memberikan botol minumannya pada bunda, sedangkan tutupnya Naya pegang.


Gantian bunda yang minum minuman bersoda Naya, "Kamu kuat banget sih sama sodanya?" tanya bunda.


"Lah ya enak bun, seger." ucap Naya.


Sampai di rumah, bunda yang membuka pintu, Naya masuk duluan ke rumah.


"Jangan lupa ambil mangkok, Nay!" perintah bunda yang lagi mengunci pintu rumah.

__ADS_1


"Iya." jawab Naya.


Naya meletakkan 2 kantong plastik di atas lantai, lalu berjalan menuju dapur dan mengambil 2 buah mangkok beserta 2 sendok dan 1 garpu.


"Asiiik makan bakso!" seru Naya.


"Pesenan ayah, di beliin Nay?" tanya ayah.


"Di beliin, yah.. itu di kantor plastik." jawab Naya.


Ayah langsung mngambil bungkusan kopi dan berjalan ke dapur untuk memasak air panas yang akan di gunakan untuk menyeduh kopi.


"Masak.. masak sendiri.. ngopi pun nyeduh sendiri.. sib nasib." suara ayah yang berdendang di dapur.


"Ade kamu bangunin Nay!?" perintah bunda, yang sedang berada di dalam kamarnya.


Naya langsung membangunkan Ani yang masih tertidur lelap.


"Ani, bangun Ni.. makan bakso dulu yuk!" seru Naya yang sedang membangunkan Ani dari tidurnya dengan mengguncangkan bahu Ani.


"Gak mau ah, kaka aja.. Ani ngantuk." ucap Ani yang sambil ngulet dan pules lagi.


"Enak loh Ni, bakso Ni.." bujuk Naya yang masih berusaha membangunkan Ani.


"Iiih kaka mah, Ani ngantuk." ucal Ani lagi sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Udah Nay, kalo Ani gak mau.. jangan di paksa!" seru bunda.


Naya membuka bungkusan bakso pesenannya, bunda juga membuka bungkusan baksonya dan menuangnya ke dalam mangkok.


"Bunda mau sambelnya gak?" tanya Naya.


"Gak deh, bunda saus aja."


Naya menuang sambelnya ke dalam mangkok bakso, "Jangan banyak-banyak makan sambel Nay!" omel bunda.


"Gak pedes bun, kalo dikit mah." jawab Naya.


"Sini yah, makan bakso." ujar Naya menawarkan ayah makan bakso.


"Udah makan kamu Nay, biar kenyang, biar gemuk, badan si kurus bener." ledek ayah.


"Nanti juga gemuk lagi yah." jawab Naya.


"Nih bang, ama aya.. abisin mienya." ujar bunda, yang ternyata baksonya sudah tandas di makan bunda 🤣🤣


"Iya gua tau kebiasaan luh, Imah.. baksonya doang yang di makan, mienya mah gua yang ngabisin." sindir ayah.


"Ini yah, baksonya sama Naya aja." ucap Naya sambil memindahkan 2 butir bakso miliknya ke mangkuk ayah.


"Oh iya Nay, tadi ada yang telpon tuh di ponsel kamu.. ayah angkat." ucap ayah sambil melahap bakso.


"Siapa yang telpon yah?" tanya Naya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


•••••> 👍 like


•••••> ✍🏻 komen


•••••> ⭐⭐⭐⭐⭐


•••••> 🎁🌹☕


•••••> vote


•••••> ♥️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺


__ADS_2