Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 32


__ADS_3

Sore harinya seperti biasa bila jam sudah menunjukkan pukul setengah 3 sore, Naya menyusuri jalan yang akan membawanya sampai ke perempatan cikini untuk menaiki angkot.


Baru sampai di kompleks cikini yang terlihat sepi namun cuaca panas, ada beberapa ibu-ibu yang sedang bertugas menyapu jalanan dan ada dua bapak petugas kebersihan yang sedang menebang pohon dengan gergaji mesin.


Naya mengenal beberapa ibu-ibu dan juga bapak-bapak yang menjadi petugas kebersihan di area kompleks, kebetulan yang sedang menyapanya adalah orang tua Novi. Orang yang di ajak kerja di resto sama Naya. Kebetulan bunda nya Naya berteman baik dengan ibunya Novi, dulu bunda juga pernah bekerja jadi pembersih jalan. Tapi itu dulu, sekarang tugas bunda hanya di rumah jadi ibu rumah tangga.


"Baru berangkat, Nay?" sapa bu Ecih, untuk sejenak menghentikan aktivitas nya menyapu bahu jalan.


"Iya bu."


Naya menghampiri bu Ecih yang tadi menyapanya, dan mencium punggung tangan kanan bu Ecih.


"Kamu gak di anter sama bapak kamu, Nay?"


"Ooooh gak bu, paling nanti pulangnya baru di jemput sama ayah."


"Novi mah, au noh udah jalan apa belom." seru si ibu.


"Mungkin udah bu. Maaf bu, Naya duluan ya." pamit Naya pada ibunya Novi untuk melanjutkan perjalanannya lagi.


"Iyah... hati-hati ya Nay. Salam buat bunda kamu." ucapnya lagi.


"Iya ibu." dengan senyum manis Naya menjawabnya.


Handphone Naya bergetar tanda pesan masuk di terima.


Dreeet... dreeet... dreet.


Naya meraih handphone yang ia simpan di saku baju kerja yang ia kenakan. Di lihatnya layar handphonenya terdapat pesan masuk dari Surya.


๐Ÿ’Œ Surya


Kamu lagi ngapain? Udah jalan kerja belom?


๐Ÿ’Œ Naya


Lagi di jalan ini ( โ•นโ–ฝโ•น )


๐Ÿ’Œ Surya


Gajian ini kamu gak ada niat beli handphone Nay?


๐Ÿ’Œ Naya


Liet nanti aja. Tadi kamu langsung pulang atau mampir ke tempat Fitri?


๐Ÿ’Œ Surya


Langsung pulang lah.


๐Ÿ’Œ Naya


Yakin nih,, langsung pulang?


๐Ÿ’Œ Surya


ia lah. masa bohong.


๐Ÿ’Œ Naya


Tadi ko gak ngabarin kalo udah nyampe rumah?


๐Ÿ’Œ Surya


Ya kan aku cape, jadi nyampe rumah langsung tidur.


๐Ÿ’Œ Naya


Yakin tidur?


"Wah gak beres nih anak, tadi aja di rumah ngaku mau bantu bapak benerin genteng yang bocor." gerutu Naya.

__ADS_1


๐Ÿ’Œ Surya


Yakin sayang.


๐Ÿ’Œ Naya


Gak jadi benerin genteng?


๐Ÿ’Œ Surya


Gak ada ujan, masa benerin genteng Nay. Kamu ini aneh deh.


๐Ÿ’Œ Naya


Yang aneh itu, ya kamu.


๐Ÿ’Œ Surya


Kenapa aama aku?????


๐Ÿ’Œ Naya


Au ah gelap


Naya menyimpan kembali handphonenya ke dalam saku baju, dan mulai menyebrang jalan di saat sudah sepi.


****


Jam 3 kurang 5 menit, Naya sudah sampai di lokasi. Naya pun duduk di bangku biasa, depan papan panjang.


Dan tidak lama Fifi dan Novi datang hampir besamaan. Novi dan Fifi sama-sama di anter oleh bapaknya, sedangkan Rion datang dengan membonceng Danu. Angga, Ipul dan Tohir datang dengan berjalan kaki, trio di resto karena setiap pulang mau pun pergi selalu bertiga.


Tidak lama setelah semuanya datang, pak Aziz dan bu Rani datang, serta a Awan dan juga ka Tika.


Kami semua pun sibuk dengan tugas masing-masing, di saat sedang memulai priper resto, datang seseorang yang aku kenal menghampiri ku yang sedang mengepel lantai.


"Naya.." suara perempuan memanggil Nama ku.


"Nini, kamu mau kemana?" tanya ku, saat tahu orang yang memanggil namaku adalah Nini teman Sekolah Menengah Pertama ku dulu.


Ku perhatikan Nini dari atas kebawah, sudah rapih dengan celana bahan dan kemeja putih pendek serta sepatu hitam dengan teman setia kaos kaki.


"Aku mau ngelamar kerja di sini." ucapnya antusias.


Untuk sesaat aku pun terdiam.


"Siapa yang kasih tau Nini ya, kalo di sini ada lowongan. Aku jadi gak enak nih sama Fifi." batin Naya.


Naya meninggalkan pelan dan ember yang berisi pewangi yang tadi sedang digunakan untuk mengepel lantai.


"Ayo aku anter kamu buat ketemu sama supervisor disini."


Nini mengikuti langkah kaki ku dari belakang dan aku berjalan di depannya. Berhubung bu Rani lagi memasak nasi di belakang, dan pak Aziz yang lagi mengecek laporan di bangku nomor 1.


"Pak, ada yang mau ngelamar kerja." ucapku saat sudah berdiri di depan pak Aziz.


Pak Aziz langsung menghentikan aktivitasnya, "Kamu lanjutkan lagi kerjaan kamu, Nay." perintah pak Aziz.


"Siiip deh." aku pun langsung berjalan meninggalkan Nini dan juga pak Aziz.


"Ayo silahkan duduk." perintah pak Aziz pada orang yang berdiri di depannya.


Nini pun langsung duduk di bangku yang berhadapan dengan pak Aziz.


"Saya lihat lamaran kerja kamu." pinta pak Aziz. Pasalnya Nini terus memeluk erat lamaran kerja yang ia bawa.


"Oh iya pak, maaf. Ini pak." sambil menyerahkan lamaran kerja pada pak Aziz.


Pak Aziz membuka map lamaran kerja yang di bawa oleh Nini.


"Jadi, nama kamu Nini Ningrum?" tanya pak Aziz.

__ADS_1


"Iya pak."


"Kamu siap kerja sampe malam? Gaji disini kecil. Apa kamu tidak keberatan?" tanya pak Aziz lagi.


"Saya siap pak, sekarang juga langsung kerja, saya siap pak." ucap Nini dengan mantap.


"Oke, disini kamu masih menjalani masa trening selama 3 bulan dari sekarang."


"Iya pak."


"Siapa ini?" tanya bu Rani yang melihat pak Aziz sedang menginterview Nini.


"Ini Nini, dia karyawan baru disini." pak Aziz mengenalkan Nini pada bu Rani, "Nini, ini adalah bu Rani, supervisor disini juga." kata pak Aziz pada Nini.


"Saya Nini, bu." Nini mengenalkan dirinya pada bu Rani.


"Udah selesaikan interviewnya? Langsung gih sana ambil lap dan semprotan, lap meja." perintah bu Rani dengan menatap Nini dalam.


"Iya bu."


Nini berjalan menghampiri Naya yang sedang memasukkan tissue pada tempatnya bersama dengan Fifi. Karena di situ orang yang di kenal Nini hanyalah Naya.


"Nay, aku di suruh lap meja sama bu Rani." ucap Nini.


"Iya, Ni."


Naya mengambil lap dan semprotan yang ada di meja panjang.


"Ini Ni." Naya menyerahkan lap dan semprotan air pada Nini.


****


Jam setengah 5 sore di resto.


Karena sudah pada selesei dengan tugas masing-masing, akhirnya pak Aziz memutuskan untuk brefing selagi belum ada pengunjung resto.


Kami semua duduk di meja yang sama, yaitu meja nomor 10, meja paling panjang di resto.


"Langsung aja ya, untuk yang baru bergabung di resto, semoga bisa cepat adaptasi dengan yang ada disini. Untuk anak depan, terutama waitres kalo bisa perhatiin Tika saat di kasir, biar kalian bisa. Nanti juga kalian harus bisa dengan kerjaan anak belakang, terutama jus dan tepung. Begitu juga sebaliknya, anak belakang harus bisa ke depan untuk membantu waitres jika keadaan resto ramai." kata pak Aziz.


"Lah buat asap gimana, pak? Gak ada yang belajar buat ngasep, pak?" tanya Tohir.


'Untuk asap, Rion dan ipul juga harus bisa. Terkecuali Angga, kalo ada pak Pangesta, kamu harus fokus di jus dan minuman." jawab pak Aziz.


"Alhamdulillah." ucap Angga lega.


" Dan untuk yang anak perempuan, ini ada masukan dari pak Pangesta dan ibu Leni. Harus pakai kerudung, seperti Tika contohnya. Jadi gak ada yang pake harnet lagi." kata pak Aziz menjelaskan keinginan dari pemilik resto.


****


.


.


bersambung.....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


mohon ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป dukung karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š dengan cara โ†ฉ๏ธ


\=\=\=\=> ๐Ÿ‘ like


\=\=\=\=> โœ๏ธ komen


\=\=\=\=> โญโญโญโญโญ


\=\=\=\=> vote


\=\=\=\=> ๐ŸŽ


\=\=\=\=> โ™ฅ๏ธ biar ga ketinggalan cerita'nya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2