
Setelah mengantar Naya pulang ke rumah dan Surya mengistirahatkan sebentar kedua kakinya yang pegel setelah berolah raga jalan sehat, tapi siang. Surya langsung pamit pulang dengan alasan bantu bapak untuk renovasi kontrakan yang atapnya bocor.
(percaya gak? đ percaya aja lah đ )
"Ciyeee anak bunda, gimana tadi jalan-jalannya?" tanya bunda setelah melihat Surya pulang.
Bunda ikut duduk di sebelah Naya, dengan antusias mendengarkan cerita Naya yang tadi abis jalan-jalan.
"Seru banget bun, tadi aku kelilingin Bintaro Plaza, terus mampir ke Gramedia buat baca novel." Naya bercerita panjang lebar pada bunda dengan antusias.
"Kamu kesana pulang pergi naek angkot, Nay?"
"Pengennya naek motor bun, kan Surya gak punya motor bun. Jadi deh naek mobil pribadi, alias angkot. Hehehe"
"Gak mungkin jugakan, kalo aku bilang sama bunda tadi pulangnya jalan kaki, bilang ajah naek angkot lah." Batin Naya.
"Di syukuri aja Nay, siapa tau aja sekarang kamu sama Surya naek angkot, besok naek motor sendiri." kata bunda.
"Amiiiin ya bun."
"Kamu di beliin apa Nay sama Surya?" tanya bunda.
Naya mengeluarkan kemasan sukro yang tadi di jadikan cemilan untuk menemaninya menyusuri jalan bersama dengan Surya, lalu menyodorkan kemasan yang berisikan sukro pada bunda.
"Beli ini, bun. Enak tau bun." kata Naya sambil menyodorkan kemasan sukro pada bunda.
"Bunda gak mau ah, itu pasti pedes banget. Yang manis gak ada Nay ?" tanya bunda.
Bunda memang tidak begitu suka yang rasa pedas, lebih suka yang rasa gurih atau pun manis.
"Yang manis, liet muka Naya bun. Hehehe."
"Ogah liet muka kamu, gak bikin bunda kenyang." kata bunda.
"Kamu beli jepit rambut, Nay?"
Bunda memperhatikan kepala Naya ada yang berbeda, jepit rambut ungu menghiasi kuncir kuda di rambut Naya.
"Hehehe, lucu kan bun?"
"Et bujuk, jauh-jauh beli jepit rambut sama sukro, Nay?"
"Kan jalan-jalan, bun. Sama ayang embeb, di kasih hadiah ini." ucap Naya sambil menunjuk jepit rambut ungu yang menengger di atas kepalanya.
"Mau tau gak, bun. Ini belinya berapa duit? Sepuluh ribu bun." kata Naya lagi memberi tahu harga jepit rambut yang di beli Surya tadi.
"Bujuk dah... mahal amat Nay? Di warung aja gak ampe segitu, bisa dapet 3 Nay kalo beli warung, tukang jepit di gerobak gak mahal gitu Nay." kata bunda yang nyerocos gak bisa di rem.
Mendengar pendapat bunda yang kaget mengetahui harga jepit rambut Naya, membuat Naya tertawa geli, di tambah lagi bunda membandingkan dengan harga yang ada di warung dan tukang jepit gerobak keliling.
"Hahaha bunda mah di samain sama warung, tukang jepit gerobak keliling. Pasti harganya beda bun." ucap Naya yang masih asik dengan sukro pedasnya.
"Lah kan sama-sama jepit rambut Nay, cuma beda tempat doang Nay." jelas bunda.
"Karena beda tempat bun. Kalo di moll, kan ada pajaknya juga bun, belum lagi buat bayar sewa tempat, bayar karyawan juga. Kalo warungkan yang jagain yang punya warung itu sendiri, gak pake pajak lagi bun." tutur Naya panjang lebar agar bunda mengerti perbedaan harga.
__ADS_1
"Ooooh gitu ya Nay." kata bunda yang ber oh ria.
"Kaka, bantuin dong." Suara teriakan Ani dari dalam rumah yang terdengar sedang berjalan keluar.
"Kenapa bun. Itu si Ani?" tanya Naya pada bunda.
"Ani dapet pr, tapi gak ngerti. Dari pulang sekolah nanyain kamu terus."
"Apri mana bun. Dari tadi gak keliatan."
"Apri lagi tidur."
Tidak lama Ani keluar dari dalam rumah dengan membawa buku tulis berukuran besar yang biasa di gunakan untuk mata pelajaran akuntansi dan buku paketnya serta alat tulis dalam kotak pensil.
"Mau kemana, Ni?" tanya ku yang melihat Ani dengan membawa buku di tangannya.
"Mau pulang kampung." kata Ani.
Lalu Ani ikut menjatuhkan bokongnya ke lantai di antara Naya dan bunda.
"Eet ya, ora nyadar badan gede apa ya. Maen serobot bae duduknya." keluh Naya, pasalnya badan Ani yang lebih besar dengan tenaga kuli saat duduk pun Ani lebih seperti orang yang siap mengajak perang.
"Kaka mah gitu. Makanya punya badan jangan kurus-kurus." cela Ani yang tidak suka di bilang badan gede.
"Apa sih, baru juga ketemu udah ribut ajah. Ani itu gak gemuk Nay. Cuma montok." ucap bunda.
"Ah bunda mah sama aja kaya kaka." ucap Ani sambil memonyongkan bibirnya 5 centimeter.
"Ini ceritanya mau ngapain Ni, bawa buku kaya gini?" tanya Naya yang pura-pura tidak mengerti maksud Ani.
"Hahaha, iya iya. Yuk gambar yuk." ajak Naya agar Ani melepas cubitan gemesnya dari pipi Naya.
Ani pun langsung melepaskan kedua tangannya dari pipi Naya. Sambil berkata, "Gitu dong, dari tadi aturan ka."
"Dih galakan yang minta di ajarin, dimana mana tuh galakan guru, bukan galakan murid."
"Udah kaka. Kalo kaka ngerti, bantuin adeknya ngerjain pr. Tapi kalo kaka gak ngerti, Ani jangan ngambek." ucap bunda menengahi perdebatan antara Naya dan juga Ani.
"Iya bun." kata Naya.
"Iya bunda cantik." kata Ani.
"Kalian harus akur ya, gak ada kata berantem. Kalian kan udah gede, kasih contoh yang baik buat Apri."
"Iya bunda sayangnya Naya." ujar Naya sambil memeluk bunda.
"Sayangnya Ani juga." Ani ikut memeluk bunda.
Untuk sesaat Ani dan Naya melupakan perdebatan dan sama-sama memeluk tubuh bunda.
"Mau dong ikut di peluk." suara laki-laki yang tidak asing di telinga ketiganya.
Kami bertiga pun menengok ke arah orang yang bicara tadi.
"Eh Dava, mau ambil pohon ya?" tanya bunda.
__ADS_1
Dava yang sedang berdiri di depan bunda, Naya dan Ani. Dengan setelan baju bola yang berwarna biru metalik yang melekat di badannya, sambil tersenyum melihat ke arah bunda.
"Iya pok. Kata abang udah bisa di ambil." ucap Dava sambil mencuri pandang pada Naya.
Sedangkan Naya sekarang sudah di buat sibuk dengan jawaban pr Ani. Hingga tidak memperhatikan Dava yang sedari tadi mencuri pandang pada Naya.
Bunda berdiri dari posisinya, dan mengajak Dava untuk ke tempat di mana pohon yang di maksud oleh Dava berada.
Bunda yang melihat Dava enggan beranjak dari posisinya pun mengulangi kata-kata nya.
"Ayo Dava... Kamu mau ambil pohon apa masih mau berdiam diri disana Dava?" tanya bunda, sambil mengembangkan senyum di bibirnya.
"Eh emm iya ayo, pok." ucap Dava tergagap.
"Gak nyangka, bocah yang dulunya ingusan, suka maen panas-panasan, maen belokan. Udah lama gak keliatan gak taunya sekarang udah gede jadi remaja, gak banyak omong pula, ampe gwe di depan mata juga di anggurin." batin Dava.
Dava pun kini mengikuti langkah bunda, berjalan menuju tanaman yang sudah ia pesan sebelumnya pada ayah Adi.
Dava itu termasuk salah 1 anak muda di kampung Naya yang lumayan bisa di bilang sukses. Saat ini usianya sudah 25 tahun dan menjabat sebagai kepala toko di salah 1 supermarket terkenal.
Dava juga termasuk mandiri, berdiri sendiri sambil kerja Dava mengikuti kuliah malam dan masih memikirkan orang tua tunggalnya, karena sedari kecil sudah di tinggal ayahnya yang meninggal karena sakit.
Dava juga terkenal sering membantu ibunya di warung sayur yang di buka di depan rumahnya. Sering memberikan sumbangan untuk kegiatan remaja di lingkungan ia tinggal.
đš
đš
đš
bersambung
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author đđ
ayo mohon đđģđđģđđģ dukung karya receh author đđ dengan cara âŠī¸
.
\=\=\=\=\=\=> đ like
.
\=\=\=\=\=> âī¸ koment
.
\=\=\=\=\=\=> âââââ
.
\=\=\=\=\=> vote
.
\=\=\=\=\=\=> âĨī¸ biar gak ketinggalan cerita'nya đđ
__ADS_1