Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
cinta tak terpisahkan 54


__ADS_3

Beberapa hari kemudian...


Naya yang sudah terbiasa kembali, tanpa kehadiran Surya yang mengisi hari-harinya pun kini lebih jarang menggunakan ponsel.


Waktu Naya lebih banyak di gunakan untuk nonton televisi, ngobrol dengan bunda dan nenek Fatimah di saung, kadang jagain Apri main seperti sekarang ini. Naya tengah menemani Apri yang sedang naik odong-odong yang berhenti di depan rumah Fifi.



Montok gak tuh Apri, yang kerjaannya tidur, maen, minum susu lewat botol dot.


"Ka Nay, ko om Surya gak maen-maen?" tanya Apri dengan suara cadelnya, sambil menikmati ayunan odong-odong dan musik anak-anak yang sengaja di putar mang odong.


"Om sibuk kerja, Pri." jawab Naya.


"Kerjanya jauh ya ka?" tanya Apri lagi yang semakin penasaran.


"Iya jauh." jawan Naya dengan malas.


"Di jelasin juga percuma, Apri belom ngerti apa-apa. Cari alesan yang pasti Apri ngerti bae dah." batin Naya.


Sambil menunggu Apri naek odong-odong, Naya melamun jauh mengingat kenangannya bersama Surya waktu malam tahun baru, itu adalah malam tahun baru pertama untuk Naya bersama Surya dengan status pacar. Karena tahun-tahun sebelumnya Naya hanya melewati malam tahun baru bersama dengan keluarga dengan status jomblo.


Fifi yang melihat Naya tengah menemani Apri naek odong-odong pun menghampiri Naya.


"Naya.. tar kita gajian ya? Lu masukkan entar?" tanya Fifi saat sudah berdiri di samping Naya.


Naya tidak merespon pertanyaan Fifi.


"Woy, ngelamun lagi nih bocah." ucap Fifi dengan suara tingginya sambil menepuk baru Naya dengan kencang.


"Kampret kamu Fi, ngagetin aku bae. Kalo jantung aku copot, gimana coba?" tanya Naya sambil mengusap-usap dadanya yang berdegup kencang karena kaget.


"Lah luh pake ngelamun, orang gua nanya juga. Kalo jantung luh copot mah gampang, tinggal gua pungut.. ribet amat, btw luh mikirin siapa dah, Nay?" tanya Fifi yang mulai kepo.


"Mao tau aja apa mao tau banget kamu Fi?" ledek Naya.


"Kaga mao tau gua.. Nay, kira-kira kita gajian berapa duit ya?" Fifi mengulang pertanyaannya.


"Coba aja kamu itung.. gaji pokok, di tambah uang transportasi, di tambah uang makan." ucap Naya.


Fifi pun menghitung dengan kedua tangannya dengan menggunakan jari, sambil memainkan jarinya, seolah sedang menghitung dengan mulut komat kamit sendiri.


"Eh tunggu dah.." ucap Fifi sambil menghentikan aksi menghitung dengan jari.


"Nunggu kemana?" tanya Naya dengan polosnya.


"Lah luh kata siapa Nay, cara ngitungnya begitu?" tanya Fifi.


"Aku tanya ka Tika." jawab Naya.


"Emang kamu waktu interview gak di kasih tau sama bu Rani masalah gaji?" tanya Naya.


"Di kasih tau sih, tapi gua ora ngerti maksudnya. Ngomongin bu Rani, kok ga nongol-nongol lagi ya di resto?" tanya Fifi heran.


"Bu Rani balik ke resto yang ada di Bandung, tempat asli bu Rani kerja." jawab Naya.


"Bu Rani, gak balik lagi ke sektor 9 gitu Nay?" tanya Fifi.

__ADS_1


"Kayanya mah kaga dah."


Apri yang sudah selesai naik odong-odongnya pun di turunin dari tempat duduknya oleh mang odong.


"Udah ya tong, udah abis." ucap mang odong.


"Makasih ya mang." ucap Naya sambil menggenggang tangan kanan Apri.


Berbarengan dengan itu seorang laki-laki yang di kenal Fifi dan Naya menghentikan motornya di depan halaman rumah Fifi.


Fifi pun menghampiri laki-laki itu dengan senyum merekah dan pipi yang merona.


"Aku duluan Fi." pamit Naya pada Fifi.


"Oke Nay." ucap Fifi saat sudah berdiri di samping laki-laki tersebut, yang tidak lain adalah anak yang bekerja di mie kocok.


*****


Di tempat kerja Naya yang sedang lengang dari pengunjung. Maklum masih sore, baru ada 1 meja yang di duduki oleh customer itu pun hanya seorang kaka cantik dengan celana panjang dan kaos biru polosnya.


Pelanggan setia bagi Naya, pasalnya setiap berkunjung pasti yang di pesan adalah bebek goreng dada dengan di goreng kering.


Pak Aziz duduk di meja keramat nomor 1 yang berada di balik papan putih panjang, tempat yang biasa di duduki pak Pangesta juga saat berkunjung ke resto.


"Tika.." pak Aziz memanggil ka Tika.


Ka Tika yang sedang berdiri di belakang mesin kasir pun berjalan dan menghampiri keberadaan pak Aziz.


"Ka Tika di panggil ngapain ya Nay?" tanya Nini yang berdiri di samping Naya, sedangkan Naya berdiri di samping kanan kasir.


"Gak tau aku tuh." jawab Naya.


"Bisa jadi tuh ka Novi." ujar Eka yang berdiri di samping Novi.


"Sekarangkan tanggal 1." ujar Novi.


"Tanggal gajian." jawab Fifi yang berdiri di depan westafel, sambil memandang wajahnya di depan cermin yang memang di sediakan oleh pak Pangesta.


Sedangkan Elsa yang berdiri di paling pojok resto, terlihat sedang berkomat kamit tanpa bisa di dengar suaranya.


Ka Tika pun kembali ke belakang kasir dengan wajah sumringah sambil berkata, "Fifi, kamu di panggil pak Aziz."


"Ngapain ya ka? takut nih aku." ujar Fifi, sambil berjalan hendak menghampiri pak Aziz.


"Mao di tabok, pake duit. hehehe." seru ka Tika.


"Et ya ka Tika mah bikim tegang bae." ujar Fifi.


Fifi pun langsung duduk di bangku yang ada di depan pak Aziz.


"Ka Tika, gajian gede ya?" tanya Naya.


"Yah layan lah Nay buat anak rantauan buat aku mah." ujar ka Tika.


"Ka Tika, biasa pegang uang sendiri?" tanya Naya lagi.


"Biasa Nay. Paling nanti ada yang aku transfer buat di kampung." ujar ka Tika.

__ADS_1


Pak Aziz pun bergantian memanggil nama kami untuk menghadap padanya. Setelah ka Tika, Fifi, a Awan, Rion, Ipul, Tohir, Angga, Heru, lalu tiba lah pak Aziz memanggil nama ku, Naya. Aduuuh udah pada dingin nih kedua telapak tangan ku.


"Bapak manggil saya?" tanya Naya sambil berdiri di depan pak Aziz, dengan kedua tangan memegang ujung baju.


"Duduk Nay."


Naya pun langsung duduk di bangku yang ada di depan pak Aziz.


"Ini selama kamu kerja di resto, terhitung dari tanggal 5 sampai tanggal 31, dan ini rinciannya. Setelah di akumulasi semuanya jadi segini ya setelah di tambah dengan gaji pokok kamu." tutur pak Aziz sambil mengarahkan Naya pada selembar kertas yang tertera angka-angka.


"Ini beneran pak?" tanya Naya.


"Iya benar lah Nay... dan ini slip gaji kamu beserta gaji kamu saat ini. Kamu bisa hitung lagi jumlah uangnya Nay." kata pak Aziz, sambil menyodorkan uang dalam amplop dan ada kertas selembar berisi rincian.


"Gak usah di itung pak, saya percaya." ucap Naya dengan polosnya.


"Di hitung dulu Nay, kalo kurang.. saya gak tanggung jawab loh ya.. kalo lebih ya kamu balikin ke saya lagi uangnya Nay." ujar pak Aziz.


Naya pun menghitung uang yang ada di dalam amplop, dengan muka terpercaya. Bisa pegang uang yang jumlahnya mendekati angka 1 juta. Bagi Naya itu jumlah yang besar bangat.


"Emmm be- be- bener pak jumlahnya." ucap Naya gugup.


"Ya udah kamu boleh balik, berkumpul bersama dengan teman yang lain." ujar pak Aziz yang meihat tingkah Naya beda dari yang lain.


Naya pun bangkit dari duduknya dan duduk lagi.


"Kenapa lagi Nay?" tanya pak Aziz heran.


"Bisa gak pak, gaji saya.. bapak pegang dulu. Tar pulangnya baru kasih lagi ke saya pak." ujar Naya dengan tampang bingung.


"Lah ko gitu? itu kan uang kamu, kamu pegang sendiri Nay. Sama kaya yang lain." ujar pak Aziz.


"Kayanya nih anak baru kali ini megang uang sebanyak itu." batin pak Aziz.


"Takut pak, baru kali ini Naya megang uang sebanyak ini." jawab Naya jujur.


"Gak apa Nay, itu hak kamu, hasil keringat kamu di resto, nanti juga kamu terbiasa." ujar pak Aziz memberi pengertian.


"Ya udah deh pak, makasih ya pak." ucap Naya dengan senyum yang di paksakan.


"Mimpi apa ya aku, bisa pegang uang sebanyak ini.. di pabrik aja aku gak pernah pegang uang sebanyak ini." batin Naya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸ‘ like


β€’β€’β€’β€’β€’> ✍️ komen


β€’β€’β€’β€’β€’>πŸŒΉπŸŽβ˜•


β€’β€’β€’β€’β€’β€’>⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


β€’β€’β€’β€’> β™₯️ biar gak ketinggalan cerita'nya 😊


🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺


__ADS_2