Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 48


__ADS_3

Pagi yang cerah mengajak insan di muka bumi memulai aktivitasnya. Dengan senyum merekah setelah perut yang kosong di isi dengan nasi goreng buatan bunda.


"Apri, maen ya bun?" pinta Apri pada bunda yang sedang membereskan piring kotor.


"Tar aja, Pri. Masih pagi ini. Nonton kartun aja gih dulu, ada ben 10 noh." bujuk bunda.


"Temenin bunda ya?" rengek Apri dengan mata memelas dan menarik-narik ujung baju bunda.


"Iya tar ya, Apri duluan gih. Tar abis loh ben 10nya." kata bunda, Apri pun langsung berjalan ke arah kamar bunda dan menonton kartun ben 10.


"Bun, Ani berangkat dulu." pamit Ani yang sudah rapih dengan seragam putih abu-abunya dan tas ranselnya di punggung.


"Kamu di anter ayah kan?" tanya bunda.


"Jalan kaki aja lah bun, masih pagi ini." Ani mencium punggung tangan kanan bunda.


"Lah itu ayah udah nungguin kamu... Ani." ujar bunda sambil memberikan lima ribu untuk uang jajan Ani.


"Gak apa bun, Ani jalan aja. Sehat tau bun jalan pagi tuh."


"Hati-hati kamu." kata bunda sambil berjalan mengikuti langkah Ani keluar rumah.


"Nay, piringnya itu tinggal di bawa ke kamar mandi jangan lupa di cuci sekalian." kata bunda dengan suara cemprengnya.


"Iya." jawab Naya dari dalam kamar.


Di luar rumah ayah sedang mengelap sepedanya dengan kanebo.


"Yah, Ani berangkat duluan." ucap Ani sambil mengulurkan tangan kanannya untuk salim pada ayah dengan senyum mengembang.


Ayah pun langsung memindahkan kanebo yang sedang di pegang beralih ke tangan kirinya, lalu menyambut tangan kanan Ani. Ani mencium punggung tangan kanan ayah.


"Lah tar dulu, bareng ayah aja napa!" kata ayah.


"Gak ah, Ani mau jalan kaki aja... sehat yah jalan pagi tuh." ujar Ani yang kekeh tidak mau di antar ayah.


"Kasian ayah nanti cape, udah jempat kaka Nay semalam pake sepedah, masa sekarang harus anter Ani juga. Ga deh, biar Ani jalan aja." batin Ani.


"Biar ayah anter aja Ni? takut kamu telat kalo jalan." bujuk ayah.


"Makanya Ani berangkat sekarang biar gak telat. Dah ayah, dah bunda, assalamualaikum." pamit Ani.


"Waalaikum salam, hati-hati." jawab ayah dan bunda berbarengan.


"Iya." jawab Ani sambil terus berjalan meninggalkan ayah dan bunda .


Ayah dan bunda melihat punggung Ani yang berjalan kaki untuk berangkat ke sekolah tanpa mau di antar ayah.


"Motor pagimana yah?" tanya bunda sambil duduk di teras rumah.


"Au itu, gak mau idup udah di starter juga." jawab ayah sambil melanjutkan mengelap sepedanya dengan kanebo.


"Apain ya yah?" tanya bunda.


"Bawa ke bengkel aja bun, ayah ora ngerti onoh." usul ayah.


"Ayah ke bengkel, sambil dorong motor yah?"


"Yah mau pagimana lagi bun."


"Ayah gak berangkat kerja?"


"Ini mau berangkat bun." jawab ayah sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Bunda ikut masuk ke dalam rumah dan menyusul ayah yang sedang berjalan ke dapur.


"Ayah ngapain?" tanya bunda yang sudah berdiri di belakang ayah.


"Naro ini." jawab ayah sambil menunjukkan kanebo yang di jemur di tiang dapur.


Ayah memakai tas selempang kecil yang berisi peralatan kerja yang biasa ayah bawa pulang, lalu memakai serta topi yang biasa ayah kenakan saat kerja.


"Ayah berangkat dulu, bun." pamit ayah.


"Hati-hati, yah." ucap bunda sambil mencium punggung tangan kanan ayah.


Ayah dan bunda melihat Naya yang sedang berjongkok sambil mencuci piring di kamar mandi.


"Nay, tar jemput jam sebelas? tanya ayah.


"Iya yah, kalo gak.. tunggu Naya telpon aja yah. Biar ayah gak nunggu lama." ujar Naya sambil mencuci tangan yang terdapat sabun cucian piring dan berdiri mencium punggung tangan kanan ayah.


"Ya udah, tar ayah jemput jam sebelas kurang ya?"


"Iya." jawab Naya dan melanjutkan mencuci piring.

__ADS_1


Ayah berjalan keluar di ikuti bunda.


"Hati-hati ya yah kerjanya."


"Iya bun." ayah pun menaiki sepedahnya dan meninggalkan bunda yang masih setia berdiri melihat kepergian bunda.


"Motor ayah masih ngambek bun?" tanya Naya sambil duduk di teras berselonjor kaki.


"Iya masih ngambek Nay."


Ding dong... (bunyi notifikasi pesan masuk)


Naya pun berdiri hendak mengambil ponselnya yang di letakkan di kamar.


"Mau kemana kamu, Nay?" tanya bunda yang baru saja duduk di teras rumah.


"Ngambil ponsel dulu, bun."


"Tar balik lagi kesini ya!" pinta bunda.


"Iya, bun."


Naya berjalan menuju kamarnya dan meraih ponselnya yang di letakkan di atas lemari box dekat kipas angin yang ada di kamarnya.


Naya membuka kunci di layar ponselnya dan melihat siapa yang ngirim pesan.


๐Ÿ’Œ Surya


Kamu lagi ngapain, yank? udah bangun belom?


๐Ÿ’Œ Naya


udah bangun dari tadi.


๐Ÿ’Œ Surya


Semalam nyampe rumah jam berapa? ko ga ngabarin aku yank?


Naya membalas pesan Surya sambil duduk di tepi ranjang, lupa tujuan awal yang hanya mengambil ponselnya.


๐Ÿ’Œ Naya


Lupa jam berapa, langsung makan baso terus tidur.


๐Ÿ’Œ Surya


๐Ÿ’Œ Naya


Di hati mu (โ€ขโ€ฟโ€ข)


๐Ÿ’Œ Surya


Aku serius nih nanya, kamu makan dimana? sama siapa?


Merasa kurang nyaman dengan posisi duduk, Naya beralih merebahkan badannya di atas kasur yang empuk dan tidak lupa menghidupkan kipas angin.


๐Ÿ’Œ Naya


Makan bakso di rumah. Makan bareng atah, bunda sama Ani juga.


๐Ÿ’Œ Surya


Kamu tar berangkat jam berapa?


๐Ÿ’Œ Naya


Kaya biasa, jam 2 palingan.


๐Ÿ’Œ Surya


Tar berangkat sama siapa?


๐Ÿ’Œ Naya


Ama sopir angkot noh di cikini.


๐Ÿ’Œ Surya


Kamu gak di anter sama cowok kan Nay?


๐Ÿ’Œ Naya


Kaya


๐Ÿ’Œ Surya

__ADS_1


Sumpah demi apa kamu?


๐Ÿ’Œ Naya


Demi kamu.


๐Ÿ’Œ Surya


Aku serius ih! di anter cowok bermotor lu ya?


๐Ÿ’Œ Naya


Kaga, jalan kaki dari rumah, terus di cikini naek angkot. PUASS.


"Lama-lama nyebelin juga nih orang, begini amat sih punya pacar." batin Naya yang di buat jengkel dengan pertanyaan Surya.


๐Ÿ’Œ Surya


Kalo selingkuh ngaku aja Nay, biar aku yang ngalah, aku mah gak punya motor.


๐Ÿ’Œ Naya


Terserah apa kata lu bae.


๐Ÿ’Œ Surya


ya udah, aku ga ganggu kamu lagi.


๐Ÿ’Œ Naya


Bodo.


๐Ÿ’Œ Surya


Kita putus nih Nay?


๐Ÿ’Œ Naya


Terserah lu bae.


๐Ÿ’Œ Surya


Ya udah kalo itu mau kamu. maaf aku udah nyusain kamu.


"Nayaaa, lama amat ngambil ponsel doang." suara teriakan bunda dari luar rumah.


"Waduh lupa, kan nietnya cuma ngambil ponsel doang, ngapa jadi bales lupa lagi sama bunda yang lagi nunggu di luar." gerutu Naya sambil menepuk jidatnya yang lebar udah kaya lapangan bola dengan tangan kanannya.


Naya pun berjalan keluar dan meninggalkan ponselnya di atas kasur.


"Ngerem kamu, Nay? lama banget di dalam. Ponsel kamu mana Nay?" tanya bunda saat melihat Naya duduk di belakang bunda.


"Ada di dalam kamar." ucap Naya sambil tangannya mencari-cari ketombe dan rambut keriting kecil yang ada di kepala bunda.


"Tumben kamu, Nay? bunda belom nyuruh kamu cariin tombe. tanya bunda heran dengan kelakuan Naya.


"Gak apa-apa, bun. Gak mau nih di cariin tombe sama Naya? Naya masuk lagi aja deh ketawan nonton televisi." ujar Naya yang hendak bangun dari duduknya.


"Lah ya jangan, Nay. Ayo cariin lagi ketombe bun. Yang sebelah sini nih Nay... gatel." kata bunda sambil menggaruk kepalanya yang gatel.


"Bun.." Naya menggantung perkataannya.


"Ngapa? lagi berantem ya sama ayang bebeb Surya?" tebak bunda sambil meledek Naya.


"Lah udah bener bae tebakan bunda, belom juga ngomong." batin Naya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


bersambung.....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


mohon ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป dukung karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š dengan cara โ†ฉ๏ธ


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> ๐Ÿ‘ like


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> โœ๏ธ komen


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> โญโญโญโญโญ


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> ๐ŸŽ๐ŸŒนโ˜•


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> vote


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> โ™ฅ๏ธ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

__ADS_1


๐ŸŒบ salam manis ๐ŸŒบ


__ADS_2