Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 130


__ADS_3

🌿🌿🌿


Waktu terus bergulir hingga tiba waktunya di jam setengah 3 sore, karyawan yang masuk sif sore mulai berdatangan satu persatu menambah rame suasana resto.


Mulai dari Novi yang langsung menyimpan tasnya di kolong meja dapur.


"Duh, gue ngapain ya?" monolog Novi yang bingung mau priper apa.


"Nyapu bae Nov, kalo ga ya lap meja." saran Naya yang lagi berdiri di sisi kiri kasir.


"Ngelap meja bae ah." ujar Novi yang mengambil semprotan air dan juga lap kain, mulai mengelap meja dan kursi.


Tidak lama Eka datang dengan tangan memegang minuman ringan.


Eka berniet menyimpan minumannya ke dalam ciler.


Eka melihat Tika yang sedang berdiri di belakang mesin kasir, meminta izin untuk menaruh minuman nya di dalam ciler.


"Numpang naro ya, ka!" sambil membuka pintu ciler dan menaruh minuman nya.


"Tinggal naro, ribet amat." ucap Tika yang hanya melirik Eka sebentar.


Eka menutup pintu ciler.


"Astaga, ke sambet setan mana ini orang?" batin Eka yang mendengar jawaban tidak enak dari Tika.


"Lu, abis makan sambel ya ka? jutek amat." celetuk Eka yang langsung meninggalkan Tika.


Tika langsung memonyongkan bibirnya.


Eka berjalan ke depan resto melihat Novi yang lagi mengelap meja.


"Heeet ya, getol amat lu ka Novi? udah datang bae!" ujar Eka yang berdiri di dekat Ayu yang berada di sisi kanan kasir.


"Heh montok, priper lu... baru dateng juga." celetuk Novi yang melihat Eka sudah berdiri santai di samping Ayu.


"Oh, gitu ya... selow dong lu ka Novi, dasar kopek lu.. hahaha" ujar Eka yang langsung nyelonong meninggalkan tempatnya berdiri tadi setelah meledek Novi.


"Dasar entog, lu." celetuk Novi yang tidak di dengar Eka.


Tidak lama Ipul dan Tohir datang ke resto berbarengan dengan berjalan kaki.


Di susul dengan pak Aziz dan juga a Awan yang datang dengan mengendarai sepedah motor milik pak Pangesta yang di peruntukan untuk keperluan karyawan resto.


Pak Aziz datang dengan wajar segarnya dan juga a Awan yang terkesan galak karena air liner di bawah matanya.


Resto mulai ramai lagi dengan customer yang mulai berdatangan ada yang mencatat orderan, ada yang minta di buatkan bill, ada pula yang mengantarkan pesenan.


Pak Aziz berdiri di samping Naya.


"Nay, dari tadi kasir siapa yang megang?" tanya pak Aziz.


"Ka Tika, pak." jawab Naya.


"Kamu, megang kasir gak?"


"Kaga." jawab Naya jujur.


"Dari tadi, Tika kerjaannya ngapain?" tanya pak Aziz.


"Ngapain ya, pak?" tanya Naya balik.


"Bingung mao jawab apa, lagi tumben amat pak Aziz nanyanya begonoh." batin Naya.

__ADS_1


Muncul Ayu sambil membawa orderan baru dan menyerahkannya ke Tika.


"Ayu, sini." panggil pak Aziz yang memerintah Ayu untuk berdiri di sisi kanannya.


"Kenapa, pak?" tanya Ayu bingung.


"Dari tadi, Tika kerjaannya ngapain aja?" tanya pak Aziz pada intinya.


"Di kasir bae pak, bantuin priper cuma bawain ke meja doang, nyusun juga kaga." celetuk Ayu.


"Dari tadi pagi yang kerja cuma kalian berdua di depan?" tanya pak Aziz.


"Lah ya iya, pak." jawab Ayu lagi.


Pak Aziz membuang kasar nafasnya.


Novi menyerahkan nampil bill beserta uangnya pada Tika.


Tika menghitung uangnya lalu memasukkan uangnya ke dalam mesin kasir.


"Kembaliannya nih, Nov!" ucap Tika menyodorkan nampan bill dengan beserta uang receh kembalian uang customer.


Novi langsung mengantarkan nampan bill ke meja customer.


Novi berdiri di sisi kiri kasir bersama dengan Eka.


"Tika, jam 4 langsung serah terima kasir ke Novi." ujar pak Aziz dingin.


"Iya, pak." jawab Tika.


Pak Aziz berjalan ke belakang dan duduk di bangku kayu panjang yang ada di tempat pengasapan.


Rion yang melihat pak Aziz duduk di bangku kayu panjang, langsung menghampiri pak Aziz dan ikut duduk di bangku kayu panjang.


Dreet dreeet.


Hape Naya bergetar dari dalam saku.


"Liet kaga ya? tapi takut... pak Aziz kayanya lagi marah gitu." batin Naya yang ragu untuk melihat siapa yang mengirim Naya pesan.


Naya sudah memasukkan tangan kanannya ke dalam saku baju, mulai membuka pesan yang masuk.


"Dari ayank, ngapa ya?" hati Naya bertanya- tanya makin penasaran dengan isi pesan yang di kirim Surya.


Ayu yang sudah selesai dengan minum pun kembali berdiri di depan, dari belakang Ayu melihat tingkah Naya yang sedang mengendap endap dalam bermain hape, mulai iseng menjaili Naya.


Ayu berjalan pelan dan berdiri tepat di belakang tubuh Naya.


Ayu mencondongkan wajahnya ke telinga Naya, "Ngapain, Nay!"


Naya yang kaget langsung berjingkat.


"Ngagetin bae, luh!" omel Naya yang mencubit lengan Ayu.


"Ya luh, curigain banget." celetuk Ayu.


"Pak Aziz, mana Yu?" tanya Naya yang harus memastikan dulu keberadaan supervisor nya ini sambil celingukan.


"Ada noh di belakang, kayanya lagi ngomong serius ama Rion." ucap Ayu.


"Sok tau luh!" ledek Naya.


"Gue gitu, apa si yang kaga tau." ucap Ayu bangga.

__ADS_1


"Lietin dulu ya, gua mao bales pesen dari Surya dulu nih." ucap Naya yang langsung merogoh saku baju dan mengeluarkan hapenya.


"Cowok lu, namanya Surya nih Nay?" tanya Ayu.


πŸ“¨ Ayank: "Kamu lagi apa?"


πŸ“¨ Ayank: "Jangan lupa makan."


πŸ“¨ Ayah: "Entar kalo mau pulang, jangan lupa kabarin ayah."


"Ayah sama Surya yang ngirim pesan ya." batin Naya.


Naya memilih untuk membalas pesan dari ayah terlebih dahulu.


πŸ“¨ Naya: "Jam 7 yah, iya tar Naya kabarin kalo mao pulang."


Baru lah Naya membalas pesan untuk Surya.


πŸ“¨ Naya: "Masih kerja, anak yang masuk siang udah mulai dateng... banyak lagi deh temennya."


πŸ“¨ Naya: "Kamu juga ya yank, jangan lupa makan."


Setelah selesai dengan membalas pesan ayah dan jyga Surya, Naya menyimpan kembali hapenya ke dalam saku bajunya


"Makasih ya, Yu!" ucap Naya.


"Makasih buat apaan?" tanya Ayu heran.


"Di bantu ngawasin, takut pak Aziz liet Nay lagi megang hape." celetuk Naya.


"Biasa bae, btw... lu ngetik pesen cepet amat Nay?" tanya Ayu penasaran yang tadi melihat jari Naya lincah dalam mengetik kata di hapenya.


"Karena keseringan maen hape kali mah, Yu." jawab Naya.


"Lu seneng banget ngetik pesen ya? ampe hafal banget tu letaknya." ucap Ayu lagi.


"Ahaha iya sih, enakan ngirimpesen dari pada telponan." ujar Naya.


"Dih, enakan juga telponan Nay... bisa denger suaranya yang merdu." ujar Ayu.


"Enakan ngirim pesen, bisa mikir dulu kalo mao jawab pertanyaan... kalo di telpon mah, suka ketawan dong kalo gugup... ora bisa mikir." ucap Naya yang lebih suka berbalas pesan dari pada telpon.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...favorit'in novel ane...


...🌹 yang di nanti...


...β˜• yang di tunggu...


...🌺🌺🌺salam manis🌺🌺🌺...

__ADS_1


__ADS_2