Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 41


__ADS_3

Setelah ujung celana bahan yang di jait tangan oleh Naya sudah selesai. Naya bergegas membereskan kembali perlengkapan jait baik itu gunting, jarum dan benang.


"Kamu, mau kemana?" tanya Surya, saat melihat Naya berdiri hendak meninggalkan teras.


"Kamu gak liet aku bawa ini?" sambil memperlihatkan jarum, benang dan gunting pada Surya.


"Hehehe aku lupa yank." yang di jawab Surya dengan cengengesan.


Naya masuk ke dalam rumah dan menyimpan kembali benang, jarum dan gunting pada tempatnya.


"Surya masih ada, Nay?" tanya bunda, saat melihat Naya.


"Masih, bun."


"Udah makan belum tuh bocah?"


"Lah ya au, bun." jawab Naya, yang memang tidak tahu.


"Ya udah, kamu tanya gih. Kan tadi bunda masak tumis toge, kali aja Surya mau." ujar bunda.


"Beres, bun." ucap Naya.


Naya pun kembali berjalan ke luar untuk menghampiri Surya dan menanyakan pesan bunda tadi buat makan.


"Tadi kamu di rumah udah makan apa belom, yank?" tanya Naya, saat sudah duduk di teras dekat Surya.


"Belum."


"Mau makan gak? Tadi bunda nyuruh kamu makan, kalo kamu belum makan. Kamu mau gak?" tawar Naya.


"Gak deh, nanti ngerepotin." tolak Surya.


"Lah... orang bunda udah nyuruh. Kalo gak mau. Nanti bunda marah looh."


"Iya udah. Kalo gak ngerepotin, aku mau."


"Oke, tunggu bentar."


Naya masuk lagi ke dalam rumah menuju dapur, mengambil sebuah piring dari rak piring dan sebuah sendok. Lalu menyendokkan nasi ke atas piring dengan lauk tumis toge masakan bunda.


"Bun, kira-kira makannya di teras apa ruang depan?" tanya Naya pada bunda yang sedang berada di kamar.


"Emmm, di ruang depan aja Nay. Gak enak kalo di teras nanti di lihat orang yang lewat." saran bunda.


"Oke deh bun."


Naya meletakkan piring yang ia bawa ke atas meja yang ada di ruang depan dekat dispensasi. Lalu Naya berjalan ke depan sambil meraih gelas dan botol minum yang tadi ia bawa untuk Surya.


"Loh mau di bawa kemana itu botol minum sama gelas, Nay?" tanya Surya.


"Kamu juga ikut aku ke dalam byuk. Bunda nyuruh makan di ruang depan." ucap Naya.


"Oh gitu ya." kata Surya, lalu Surya mengokor Naya untuk masuk ke dalam rumah dan duduk di atas lantai beralaskan karpet.


Naya pun menyerahkan piring yang berisi nasi dan lauk tumis toge yang tadi sudah di siapkan Naya sebelumnya.


"Kamu makan dulu. Kalo mau nambah, bilang aja ya." tawar Naya.


"Ini juga udah cukup kok." ucap Surya, lalu menikmati makan pagi yang di siapkan Naya.


"Makan yang banyak, Surya." ucap bunda dari depan pintu kamar bunda yang berada di depan ruang depan.


"Iya bunda." ucap Surya.


"Enak gak, tumis toge nya?" tanya bunda.


"Enak, bunda." jawab Surya.


"Loh bunda, mau kemana?" tanya Naya, saat melihat bunda berada di ambang pintu mau keluar rumah.


"Mau liet Apri di rumah Sandi. Dari tadi maen gak pulang- pulang." ujar bunda.


Lalu bunda menghilangkan dari balik pintu. Bunda menutup pintu depan membuka sedikit celah dan pintu pun tidak tertutup dengan rapat.


"Kamu gak ikut makan, yank?" tanya Surya.

__ADS_1


"Engga, udah duluan tadi."


Naya hanya menemani Surya makan dan mengemil sukun goreng.


"Kamu bisa masak, yank?" tanya Surya.


"Masak apa dulu?" tanya balik Naya.


"Masak lauk... gitu?"


"Aku bisanya masak air sama mie." ucap Naya.


"Lah lauknya ora?" tanya Surya.


"Ora bisa, cuma bisa ngulek bumbu. Itu juga bunda yang nyiapin ***** bengeknya." ucap Naya dengan jujur.


Bagi Naya, apa pun itu. Harus jujur di awal. Tanpa berniat menutupi atau menjaga imej. Naya ya Naya, itu lah dia, apa adanya.


"Ya udah, nanti kalo udah nikah. Aku yang masak." ujar Surya.


"Lah emang kamu bisa masak?" tanya Naya heran.


Surya pun sudah selesai dengan makannya dan menyodorkan piring yang sudah kosong itu, bersih tanpa sisa pada Naya.


(Lapar amat tong 😅😅) author usil đŸ¤ŖđŸ¤Ŗ


"Aku cuci piringnya dulu ya." kata Naya.


"Iya... ku duduk di teras lagi ya, yank?"


"Iya."


Naya berjalan ke kamar mandi untuk mencuci piring kotor bekas Surya makan. Sedangkan Surya berjalan dan memilih duduk di teras luar rumah sambil merogoh rokok yang ada di saku bajunya. Lalu mulai menyalakan korek api gas dan menyalakan rokoknya dengan api. Lalu Surya menghisap rokok yang tadi sudah ia nyalakan.


"Kalo kamu libur, kita ke rumah Maya. Mau kan?" ajak Naya, saat sudah duduk di luar teras depan Surya.


"Iya boleh. Nanti ya. Kamu libur kapan?"


"Aku belum satu bulan kerja, mana boleh libur." ujar Naya.


"Iya udah nunggu kamu libur." kata Surya.


"Itu kan dulu." jawab Surya, dengan entengnya.


"Terus di terima apa di tolak sama Maya?" tanya Naya lagi, mulai kepo nih Naya.


"Kalo di terima... aku gak jadi sama kamu, yank." ujar Surya.


"Heeet ya, Maya bukannya temennya Fitri ya?" tanya Naya.


"Iya."


"Terus kok Maya gak mau sama kamu?"


"Maya nyari cowok yang bermotor."


"Kalo kamu udah punya motor, Maya kau gitu sama kamu?"


"Kayanya, gak juga. Hehehe."


"Kenapa gak juga? Kan kata kamu tadi, Maya mau ama cowok yang punya motor."


"Aku bukan tipe Maya."


"Masak? Yakin bukan tipe Maya?"


"Aku tipenya, kamu." jawab Surya.


Blooos, semburat merah nongol di pipi Naya, Naya di buat tersipu malu akan jawaban Surya. Naya yang tadinya menghadap Surya pun beralih membuang muka dan memaikan jemarinya pada ujung kaos yang sedang Naya kenakan.


Akhirnya Naya dan Surya menghabiskan waktu dengan mengobrol ngalor ngidul di depan teras. Hingga waktu tidak terasa sampai pada pukul setengah 10 pagi. Surya pun berpamitan pada Naya untuk berangkat kerja.


Tidak lupa Surya pun pamit pada bundanya Naya, datang sopan pulang pun harus sopan.


"Udah jam setengah sepuluh, nih." keluh Surya.

__ADS_1


"Terus ngapa?" tanya Naya, yang lodingnya lagi lemot 😅😅


Surya mengenakan switer abu kotak-kotaknya dan tas selempang yang ia bawa tadi.


"Udah waktunya aku tempur sama sapu dan pelan di tempat kerja." ujar Surya.


Lalu Surya mengenakan kaos kaki dan sepatu hitamnya.


"Bunda mana, Nay?" tanya Surya.


"Ada noh di saung." tunjuk Naya ke arah saung yang memang ada bunda lagi duduk di saung.


"Ya udah, aku ke bunda dulu." ujar Surya dan berjalan menghampiri keberadaan bunda.


Naya pun berjalan mengekor di belakang Surya.


"Kamu tar naek angkot, yank?"


"Engga, aku jalan." ujar Surya.


"Dari cikini ke jayen, jalan kaki?" tanya Naya kaget.


"Iya lah."


"Kenapa gak naek angkot, biar ceoet nyampe?"


"Turun dari angkot juga, aku harus jalan kaki lagi mayan jauh kan? Mending aku beliin roko." jawab Surya.


"Heet, rokok mulu yang di pikirin. Gak cape apa?"


"Di nikmati, kan aku seneng jalan kaki. Bisa cuci mata."


"Au ah gelap."


"Ini terang, sayang."


"Ati luh yang gelap, adanya rokok mulu."


"Hati aku cuma ada kamu." gombal Surya.


Naya mencubit pinggang Surya.


"Auuuuw. Sakit kamu nih." ujar Surya sambil tertawa.


"Rasain."


"Mau kemana, tong?" tanya nenek Fatimah yang lagi duduk di saung bersama dengan bunda.


"Mau kesini, nek... Bunda, Surya pamit ya, mau berangkat kerja." ujar Surya, lalu mencium punggung tangan kanan bunda dan nenek Fatimah bergatian.


"Hati-hati ya, Surya." ujar bunda.


"Iya, bun." jawab Surya.


"Ama aku, gak salim?" ledek Naya.


"Apa sih, Nay? tanya bunda.


"Becanda, bun." jawab Naya.


"Surya, pamit ya bun." kata Surya lagi.


"Iya." Lalu Surya pun pamit dan pergi meninggalkan rumah Naya dengan perasaan senang, setelah berhari-hari tidak bertemu, akhirnya bisa bertemu dengan sang pemilik hati.


Terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon 🙏đŸģ🙏đŸģ dukung karya receh author 😊 dengan cara â†Šī¸


\=\=\=\=\=> 👍 like


\=\=\=\=\=> âœī¸ komen


\=\=\=\=\=> ⭐⭐⭐⭐⭐


\=\=\=\=\=> 🌹🎁

__ADS_1


\=\=\=\=\=> â™Ĩī¸ biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊


\=\=\=\=\=>


__ADS_2