
π
"Tadi tuh, Naya tanda tanya tau yah, ko itu orang pada berenti... ngomongin apa coba ama pak polisi, lah kapan mao nilang." ujar Naya.
"Iya, kita juga ikut di ajak ngomong ama pak polisi." ucap ayah.
"Pengalaman ini Nay, ora bisa tidur ini ayah." ucap ayah lagi.
"Emang ngapa yah? ko gak bisa tidur?"
"Ya itu, masih gemetaran ini ayah." jelas ayah.
"Ayah, kenapa yah?" tanya Apri yang ikut khawatir sama ayah.
"Kirain Apri tidur?" tanya ayah.
"Gak, Apri lietin orang tuh." Apri menunjuk orang yang ikut berlalu lalang.
"Tumben ya yah, biasanya di situ ora ada yang nilang, ini malah ada, banyak banget polisinya yah!" seru Naya yang masih takjub melihat polisi yang ikut menilang ternyata banyak.
"Ya namanya juga lagi patuh jaya, Nay."
Dari saung sudah terlihat ada emak Rati dan suaminya baba Hari, kakanya bunda yang tinggal di daerah tegarotan sedang duduk di lantai depan rumah nenek Fatimah, di temani juga dengan bunda, om Nata dan nenek Fatimah di sana yang sedang berbincang.
Tin
Ayah membunyikan klakson motornya saat melintas di halaman rumah nenek Fatimah.
Naya dan Apri turun dari motor saat motor sudah berhenti di depan rumah.
"Ayo, Pri." ajak Naya yang menuntun Apri untuk menghampiri bunda.
Naya membiarkan Apri berjalan duluan menghampiri bunda, sementara itu Naya melepaskan sepatu dan jyga kaos kakinya.
Saat Naya menghampiri bunda, Apri tengah tiduran dengan paha bunda yang di jadikan bantal untuk kepalanya.
Naya melihat ada 2 gelas kopi hitam, ada beberapa kopi instan juga yang belum di seduh, ada biskuit, kacang kulit, pasti emak Rati yang bawa, kan emak Rati buka warung kelontong di rumah nya. pikir Naya.
"Assalamualaikum." ucap Naya yang langsung mencium punggung tangan kanan bunda, om Nata, nenek Fatimah, baba Hari dan juga emak Rati secara bergantian.
"Lah lu baru pulang kerja, Neng?" tanya baba Hari yang memanggil Naya dengan sebutan Neng, panggilan sayang kalo kata baba mah.
"Iya, ba." jawab Naya yang langsung mendudukkan dirinya di samping bunda.
"Eet malam amat ya!" ucap emak Rati.
"Ita, emak.. malah kadang bisa lewat dari jam segini kalo lagi banyak customer belom lagi kalo di resto masih ada pak Pangesta." ujar Naya.
"Luh ora ngantuk itu, Neng?" tanya baba Hari.
"Kan siangnya Naya udah bekel, bang." bunda ikut menjawab pertanyaan dari abang iparnya.
"Bekel apaan?" tanya baba Hari.
__ADS_1
"Bekel tidur siang, ba." jawab Naya.
"Ayah kamu ngapain, Nay?" tanya bunda yang belum melihat ayah Adi di rumah nenek Fatimah.
"Paling masukin motor, bun." jawab Naya asal menebak.
"Oh iya bun, di depan gedung CIMB Niaga lagi ada razia patuh jaya tau bun." ucap Naya yang memberi tahu bunda namun dapat di dengar oleh mereka semua.
"Lah pok, abang Adi bukannya ora punya SIM ya?" tanya om Nata yang ingat jika abang iparnya tidak punya SIM.
"Lah iya itu, Ta." jawab bunda.
"Kamu ora kena tilang, Nay?" tanya om Nata yang pas banget ayah muncul di tengah-tengah baba Hari, emak Rati, Naya, bunda, om Nata dan juga nenek Fatimah.
"Tuh ayah, ayah aja yang kasih tau." ujar Naya yang minta ayah untuk menceritakan kejadian saat mau di tilang.
"Laki lu seduhin kopi, Neng!" ucap emak Rati sambil menepuk paha bunda yang satunya lagi.
"Wiiih, boleh.. boleh.. kopi ya Im!" ucap ayah sambil ikut mencium punggung tangan kanan Hari dan Rati.
"Empok ama abang, nginep?" tanya ayah yang langsung duduk di teras.
"Ora, maen doang gua, noh empok luh kangen ama nenek-nenek." jawab baba Hari.
Bunda memindahkan kepala Apri di paha Naya, lalu bunda bangun dan membuatkan kopi untuk ayah.
"Tadi kena tilang, bang?" tanya Nata saat ayah sudah duduk di teras.
"Ora, cuma hampir di tilang." jawab ayah.
"Polisi nya bae, bang." ucap ayah.
"Luh kasih apaan itu polisi jadi bae?" tanya Rati.
"Itu polisi ngeliet mukanya Apri, kesian kalih dia ngelietin Apri ikut jemput Naya pulang kerja." jelas ayah yang hanya menerka-nerka.
"Lah, bisa gitu ya!" om Nata heran mendengar jawaban ayah.
"Bener kaga di tilang, luh?" tanya baba Hari.
"Iya bener bang.. aya bilang bae motor masih kredit." jelas ayah.
"Eeet luh mah dek, pake ngomong-ngomong motor masih kredit!" timpal emak Ratih.
"Lah ya kapan emang masih kredit, pok." ucap ayah.
Sementara bunda menyeduh kopi untuk ayah, Apri yang mulai tertidur, yang lain asik ngobrol, Naya malah memilih untuk maen hape.
"Kamu lagi apa, yank?" tanya Naya lewat pesan singkatnya untuk Surya.
"Aku lagi ngobrol ini sama Muay." pesan yang di kirim Surya.
"Muay siapa? cewe mana lagi dah?" Naya yang sudah kalang kabut mengira Muay itu perempuan.
__ADS_1
"Muay itu temen aku, dulu aku pernah ikut ngenek angkot ama dia." balasan dari Surya.
"Muay itu cewek apa cowok!!!!" Naya dengan muka cemberut.
"Astaga, cowok lah... namanya aja Muay, gimana sih kamu yank." balas Surya.
"Yeeeee, mana aku tau itu Muay cewe apa cowo.. orang tadi kamu gak bilang." jelas Naya yang tidak mau di salahkan.
"Kamu jangan tidur malam-malam." Surya yang memilih untuk mengakhiri berbalas pesannya.
Naya yang membaca pesan terakhir dari Surya malas untuk membalasnya, moodnya jelek, memilih untuk meletakkan hape di lantai.
Akhirnya sampai jam 12 malam, Naya, bunda, ayah, nenek Fatimah, om Nata, emak Ratih, Apri dan juga baba Hari mengobrol di lantai depan rumah nenek Fatimah dengan beralaskan tikar pandan hasil anyaman tangan nenek Fatimah sendiri.
πΏπΏπΏπΏ
Ke esokan harinya di resto, tepat sore hari yang terik dengan sinar senja.
Setelah selesai priper resto, seperti biasa semua karyawan pun bisa bersantai sejenak, ada yang main hape sambil menunggu nasi matang untuk mulai terima order dari customer, ada pula yang jajan di warung belakang.
Ka Tika, Novi dan Naya di depan kasir sekalian belajar Plu pada kasir.
Elisa, Eka, Nini memilih duduk di meja yang berada tepat di depan kasir.
Fifi lagi enak ngobrol sama pacarnya yang anak mie kocok.
Pak Aziz duduk di meja keramat, dengan beberapa amplop di atas meja, mulai memanggil satu persatu nama bawahannya untuk mendapatkan gaji sekaligus untuk menyampaikan siapa saja yang akan di putus kontrak kerjanya dan siapa saja yang besok masih kerja di resto.
Tapi pengurangan karyawan tidak berlaku untuk a Awan dan juga ka Tika, jelas kan ya orang senior π€£π€£π€£.
Semuanya pun berharap bila ini bukan lah hari terakhir mereka bekerja si resto.
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
bersambung...
Kira-kira siapa yang bakal di putus kontrak kerjanya ya? ππ
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author πππ
mohon ππ»ππ» dukung karya receh author π dengan cara β©οΈ
...like...
...komen...
...vote...
...βββββ...
...πΉ...
...β...
__ADS_1
...β₯οΈ...
...πΈπΈπΈ salam manis πΈπΈ...