
Seperti biasa, jika menjelang malam resto akan ramai pengunjung. Apa lagi resto yang di sebelah sudah di buka, resto di sebelah menjual mie kocok dan ayam penyet.
Jam kali ini berputar agak lambat bagi Naya, bagaimana tidak. Dapat teguran dari bu Rani, sudah membuat moodnya berantakan.
Beruntung masih ada ka Tika, meski Naya tidak menceritakan habis kena tegur bu Rani, tetap saja ka Tika mengetahuinya.
Saat sedang membersihkan meja yang telah di tinggalkan customernya, Naya pun maju dengan membawa nampan beserta semprotan air dan juga lap.
Ka Tika yang melihat Naya akan membersihkan meja nomor 5 pun langsung ikut menyusul Naya.
"Jangan di ambil hati perkataan bu Rani ya, Nay?" pinta ka Tika. Sambil tangannya sibuk menaruh piring kotor ke atas nampan.
"Iya ka, kan salah aku juga, udah sok pintar." ucap Naya sambil memunguti tissue yang jatuh di bawah meja.
"Udah biar kaka aja yang lap meja, Nay." tawar ka Tika.
"Iya. Makasih ka." sambil membawa nampan berisi piring dan gelas kotor ke dapur.
Melihat piring yang menumpuk pun Naya langsung berinisiatif untuk mencucinya.
"Pul, nyuci piring di situ boleh ga sih?" tanya Naya sambil tangan mengarahkan pada keran air yang berada di luar.
"Coba tanya bu Rani, Nay?" kata Ipul.
"Ya udah aku cuci di sini aja lah." ucap Naya sambil menunjuk ke arah westafel yang ada di dapur.
"Terserah, asal lagi gak ada order cumi tepung." Rion yang menjawab.
"Beres." ucap Naya.
Naya pun langsung mencuci piring kotor besar dan mangkuk sambal yang berukuran kecil, ukuran mangkuk boleh kecil, tapi itu kan bekas naruh sambal. Pasti menyisakan hawa panas di tangan akibat sambal.
"Naya kemana, ka?" tanya Novi sambil tangannya menyerahkan kertas orderan baru.
"Ada tuh, di dapur lagi nyuci piring." ucap ka Tika dan meraih kertas yang di sodorkan padanya.
"Orderan baru ya, 2 bebek asap paha take away." ucap ka Tika.
"Beres." jawab Tohir.
Naya yang baru selesai mencuci piring langsung ikut bergabung lagi di depan dengan teman-teman yang lainnya sambil mata tetap fokus ke depan mengawasi customer jika di butuhkan.
"Ka, kalo ada customer yang makan disini. Terus mau pesen mie kocok, boleh gak?" tanya Naya saat sudah berdiri di samping kasir.
"Ya boleh lah, Nay. Masa gak boleh. Kan dia juga pesen jualan kita. Kecuali cuma numpang duduk. Tapi kalo lagi sepi, mau numpang duduk juga gak apa." jelas pak Aziz yang langsung berdiri di samping Naya dan di dengar pula oleh Novi.
"Gimana Novi, kamu kasir udah bisa?" tanya pak Aziz pada Novi.
"Belum pak, susah. Mesin kasir sama susahnya kaya pelajaran akuntansi pak." keluh Novi.
"Pelan-pelan Nov, nanti juga bisa." ucap pak Aziz.
"Yang lain, gimana kasirnya?" tanya pak Aziz sambil mengedarkan pandangannya ke arah Fifi, Nini, Naya, Elsa, Eka.
"Yang di ajarin cuma Novi doang, pak." lirih Fifi.
"Ya udah, sekarangkan lagi pada senggang. Customer juga lagi pada makan, cuma tinggal orderan Novi kan yang lagi di masak?" tanya pak Aziz.
"Iya, pak." jawab ka Tika.
"Ajarin mereka dasarnya dulu, Tika." ujar pak Aziz.
__ADS_1
"Oke, pak." jawab ka Tika.
"Ayo sini-sini semuanya, merapat ya. Jadi kalo tombol ini tuh buat --------." ka Tika menjelaskan seperti apa yang di minta pak Aziz ke pada Fifi, Nini, Novi, Eka, Elsa dan Naya.
Lagi seru-serunya belajar dasar mesin kasir, Pak Aziz pergi ke pengasapan. Dan bu Rani yang sejak tadi di pengasapan pun beralih ke depan untuk melihat situasi dan untuk menghindari pak Aziz.
"Ngapain coba, pake ke belakang tuh orang. Ganggu ajah." gerutu bu Rani.
Saat bu Rani ke depan, melihat kasir yang tengah di kerubungi dan membuat ia bertanya-tanya.
"Kalian ngapain disitu?" tanya bu Rani dengan suara dinginnya.
"Emm anu bu, lagi belajar dasar mesin kasir." ucap Fifi dengan suara bergetar.
"Balik ke tempat semula. Bukannya fokus ke depan. Malah lietin mesin kasir." omel bu Rani.
"Mereka di suruh pak Aziz, bu." jawab ka Tika.
Semua yang tadinya berkerumun di mesin kasir pun memilih berpencar dari pada kena omel. Naya memilih mengambil lap dan semprotan untuk mengelap meja dari debu.
"Kamu ngapain bawa itu?" tanya bu Rani yang melihat Naya membawa semprotan air dan lap.
"Lap meja bu, ada debu." ucap Naya dan meninggalkan bu Rani dengan wajah kesalnya.
"Rese kalo udah ada mak lampir." seru Fifi.
"Iya, yang di sayang cuma Novi sama anak cowok." sela Eka.
"Gak ko, buktinya aku juga kena semprot." elak Novi.
"Kapan sih pulang? kalo kaya gini mah. abis gajian juga aku ga mau lagi dah kerja disini. mending di pabrik ga ketemu bu bawel, cantik tapi kalo bawel. batin Naya.
Akhirnya waktu yang di tunggu pun datang. Jam sebelas lewat 10 menit resto baru bubar, karena tadi ada brifing sebentar sebelum pulang.
"Anak ayah, lesu amat? Belum makan ya?" tanya ayah saat Naya sudah berdiri di depan ayah.
"Cape, yah." ucap Naya.
"Ya udah. Yuk pulang." ajak ayah sambil memutar sepedah yang ayah akan kendarai.
"Motor kemana, beh?" tanya tukang ojek berkepala botak.
"Lagi minta jajan. Jadi bawa ini dulu dah." jawab ayah.
Ayah pun langsung naik dan mendaratkan bokongnya ke jok sepedah. Naya duduk di boncengan belakang dengan bantalan empuk, karena sebelum berangkat menjemput Naya, ayah dan bunda sudah menyiapkan bantalan buat jadi alas duduk Naya agar tidak sakit saat di dudukinya.
Ayah pun mengayuhkan sepedanya dengan sesekali mengajak Naya bicara. Dengan semilir angin malam, menemani perjalan ayah dan Naya menuju rumah.
"Emmm, yah."
"Apa, Nay?"
"Kalo Naya berhenti kerja, gimana yah?" tanya Naya saat dalam perjalanan pulang.
"Ya berenti aja, Nay. Emang kenapa? Naya gak betah?" tanya ayah santai sambil kakinya tidak berhenti mengayuh sepedah.
"Kayanya bu Rani gak suka sama Naya. Dari tadi Naya salah mulu di mata bu Rani." keluh Naya mengeluarkan uneg-uneg.
"Mau kamu kerja dimana aja Nay. Pasti bakal ketemu sama orang yang model gitu. Naya mah kerja ya kerja aja. Ngapain ribet sama orang kaya gitu, emang Naya kerja di gaji sama dia?"
"Bukan bu Rani yang gaji. Bu Rani juga kerja, yah." jawab Naya dengan polosnya.
__ADS_1
"Tuh kan, sama-sama kerja Nay. Kecuali bos Naya yang nyuruh berenti. Berarti bos Naya udah ga butuh tenaga Naya. Ini mah bos Naya nyuruh berenti gak?" tanya ayah.
"Bos belum datang lagi ke resto, yah. Bos mah ga ada masalah, yah."
"Ya udah, selama Naya ga di suruh berenti sama bos. Lanjut bae kerja Nay. Inget tujuan Naya kerja itu buat apa?"
"Buat nyenengin ayah sama bunda. Biar Naya bisa kasih duit gajian ke bunda." ujar Naya dengan semangat 45.
"Itu baru anak ayah."
Naya meraih ponselnya yang ada di saku baju dan mengetikkan pesan.
๐ Naya
Aku jalan pulang.
๐ Surya
Iya hati-hati. Sama ayah kan?
๐ Naya
Iya, tapi naek sepedah.
๐ Surya
Kamu gak kasian sama ayah? masa ayah yang bawa sepedahnya?
Naya menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku baju.
"Iya juga ya. ayah pasti cape, aku kan berat." batin Naya.
"Ayaaaah. Naya aja yang bawa sepedahnya ya yah!" pinta Naya.
"Hus, apaan sih kamu. Udah Naya duduk manis aja. Biar ayah yang bawa." ujar ayah.
"Emang Naya gak berat yah?"
"Kaga berat, makanya kalo makan yang banyak biar berat."
"Lah Naya kalo bunda masak jengkol, makannya banyak yah."
"Au amat Nay. Masa sama jengkol doang kamu baru nambah?"
"Jengkol masakan bunda enak yah."
bersambung....
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ๐๐๐
mohon ๐๐ป๐๐ป๐๐ป dukung karya receh author ๐๐๐ dengan cara โฉ๏ธ
โขโขโขโข> ๐ like
โขโขโขโข> โ๏ธ komen
โขโขโขโขโข> โญโญโญโญโญ
โขโขโขโขโข> vote
โขโขโขโขโขโข> ๐๐นโ
__ADS_1
โขโขโขโขโข> โฅ๏ธ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya