Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 89


__ADS_3

...⭐⭐⭐⭐⭐...


Malam harinya, Naya lalui dengan berkumpul dengan keluarga nya sambil menonton televisi yang ada di kamar Naya.


Naya yang duduk di kasur paling atas dengan Ani yang sedang membaca buku sambil senderan di dinding dan juga Apri yang tiduran sambil memainkan mobil-mobilan. Sedangkan bunda dan ayah duduk di kasur sorong yang biasa di buat tidur Naya.


"Ni, pijetin kaki kaka dong." ucap Naya.


"Pijet aja dewek." tolak Ani.


"Eeet ya." keluh Naya.


"Tadi belajar kelompok sama siapa aja, Ni?" tanya bunda sambil mata menatap layar televisi.


"Ada Dian, Nanda, Fitri sama Ani." jawab Ani.


"Cewek semua itu, Ni?" tanya Naya.


"Ya kagak lah, itu Nanda cowok ka." jawab Ani.


"Tadi anak ayah, jalan kemana aja nih? ayah pulang johor, kamu gak ada di rumah Nay?" cecar ayah ingin tahu.


"Johor masih di BP yah.. halan-halan sama Surya." jawab Naya.


"Wiiih tumben Surya, ayang embeb, yank.. ayank embeb, ayaaaank." ledek bunda sambil menghadap kan wajahnya ke ayah dengan kedipan mata genit.


Kedipan mata genit bunda, di balas dengan tanda tanya dalam benak ayah.


Dengan tatapan mata yang heran, ayah pun bertanya, "Luh ngapa, Im? sakit mata?" tanya ayah yang tidak mengerti jika bunda lagi meledek Naya.


"Eeeet ya, ora peka luh bang." ujar bunda sewot.


"Ahahaha, bunda lucu." ledek Naya saat sudah meredam tawanya.


"Ahahahaha, bunda.. bunda.. mao ngeledekin aku.. malah di buat kesel sama ayah." batin Naya tertawa geli melihat bunda yang dengan sengaja meledek nya.


"Itu loh yaaah, biasanya ka Nay panggil Surya itu yank, ini manggilnya nama.. ya bunda heran lah." cerocos Ani menjelaskan tanpa di minta.


"Bilang dong bun!" seru ayah sambil menatap bunda, "Lah ini mah bunda kamu matanya ngedip-ngedip, kirain ayah sakit mata kali mah." ujar ayah sambil menonton acara di televisi lagi.


"Ah rese luh, bang." bunda berdiri dari duduknya, "Awas, awas." bunda berlalu meninggalkan kamar Naya dengan melewati ayah yang duduk di dekat pintu.


"Dih ngambek." ucap ayah.


Apri yang dari tadi tidak banyak bicara, melihat bunda meninggalkan kamar pun bertanya.


"Bunda, mana?" tanya Apri yang lagi asik main mobil-mobilan dengan menjalankannya di atas perutnya.


"Paling ke dapur." jawab Naya.


"Siapa yang mao lempeng?" suara bunda yang teriak dari ruang depan.


Rupanya setelah meninggalkan kamar Naya, bunda berjalan ke arah kulkas untuk mengambil terigu yang di simpan di dalam kulkas.


"Maoooooo." ucap Ani.


"Nay, juga mao." ucap Naya.


"Apri juga mao, bun." ucap Apri.

__ADS_1


"Ayah, gak mao?" tanya bunda sambil berdiri di depan pintu kamar Naya dengan tangan kanan membawa bungkusan terigu.


"Kalo di buatin, ya mao bun!" seru ayah.


"Kirain, ayah gak mao." ucap bunda sambil berjalan menuju dapur.


Sementara bunda di dapur. Tinggal lah Naya, Ani, Apri dan juga ayah yang tetap berada di kamar.


Naya mengambil hapenya yang di letakkan tidak jauh dari nya duduk. Membuka hape mengecek pesan.


"Surya, kemana ya? ko dari tadi gak ngabarin kalo udah sampe rumah?" batin Naya bertanya-tanya.


"Kamu lagi ngapain, yank?" tanya Naya lewat pesan singkat yang di kirim nya ke nomor Surya.


"Tadi kamu jadi ke rumah temen kamu, Nay?" tanya ayah.


"Iya, jadi yah.. ternyata rumah nya lumayan jauh yah, dari gang yang waktu ayah nurunin Maya di jalan." ujar Naya.


"Lah kata temen kamu kan waktu itu bilangnya deket!" seru ayah.


"Iya dia bilang deket karena gak enak yah, takut tambah ngerepotin kalo di anterin nyampe rumah."


"Kamu ke rumah Maya, naek angkot Nay?" tanya ayah.


"Iya naek angkot yah." jawab Naya.


"Kamu sama siapa aja Nay, ke rumah Maya?"


"Cuma aku sama Surya, yah."


"Di sana, ngapain ka?" tanya Apri yang ikut nimbrung bicara.


"Tau gak yah, pulang nya Naya lewat kali taman mangu yah." ucap Naya antusias bercerita pada ayah.


"Ora takut ada guk-guk, kamu Nay? lewat kompleks taman mangu kan?" tanya ayah.


"Gak yah, kan berdua sama Surya.. kalo lewat Pondok Jati lagi, pulang nya ke jauhan jalannya yah." ujar Naya sambil memperhatikan layar hapenya yang belum mendapat balasan dari Surya. Lalu Naya mengetik pesan lagi untuk ia kirim kan lagi ke nomor hape Surya.


"Kamu udah di rumah apa lagi di rumah teman sih yank?" isi pesan yang Naya kirim lagi ke Surya.


"Jalan Nay? emang gak ada angkot?" ayah terkejut mendengar Naya jalan, dengan spontan langsung melihat ke arah Naya.


"Pantes ini bocah tadi minta kaki nya di pijet sama Ani, orang jalan.. pasti pada pegel tuh kaki nya." batin ayah sambil menatap kaki Naya.


"Ala maak, aku keceplosan lagi pake bilang jalan, ayah engeh gak ya?" batin Naya.


Ayah pun berinisiatif memijet kaki Naya dengan tangan nya sendiri. Ayah merubah posisi duduk nya dengan menghadap ke kasur atas sambil menekuk ke dua lutut nya lalu mulai memijat kaki Naya.


"Ayah, ngapain yah?" tanya Naya saat tangan ayah mulai memijat kaki nya.


"Katanya pegel, ini ayah pijetin." ucap ayah.


"Hehehe, ayah tau bae kaki Naya pegel." ucap Naya.


"Tau lah, ayah gitu."


"Yaaaah, Apri maooo." rengek Apri yang melihat ayah memijat kaki Naya.


"Mao apa, Pri?" tanya ayah pada Apri.

__ADS_1


"Mao pijet." ucap Apri.


"Tar ya, kaka dulu." ujar ayah.


Mantep da'ah pijetan ayah emang enak dah, gak kalah sama kang pijet. Kaki Naya yang tadinya pegel pun jadi berkurang pegelnya, berasa enteng dah kalo udah kena pijetan ayah. Pijetan ayah gak kalah enak sama pijetan tangan bunda.


"Besok pulang jam berapa, Ni? tanya ayah yang melihat Ani sedang membaca buku.


"Pulang kaya biasa yah." jawab Ani.


"Buuuun." teriak Apri.


"Apa Pri?" tanya bunda yang sudah berdiri di depan pintu dengan membawa sepiring lempeng hasil gorengan bunda.


Bunda duduk di kasur sorong lagi sambil meletakkan piring di pinggir kasur atas.


"Kaki kamu, kenapa Nay?" tanya bunda yang melihat kaki Naya di pijat ayah.


"Hehehe, pegel bun." ucap Naya.


"Ni, mao ora luh?" tanya bunda sambil melahap potongan lempeng.


Sedangkan Apri langsung mengambil sepotong lempeng dari piring.


"Auuuuh, panas bun!" seru Apri yang meletak'kan kembali lempang yang tadi sempat di pegangnya.


Ani pun meletak'kan bukunya lalu mulai mencomot sepotong lempeng, "Mao lah buun, ora bisa nolak lempeng terigu buatan bunda." ucap Ani memuji masakan bunda.


"Apri, kalo makan.. bangun Pri." omel bunda.


Apri pun langsung bangun dan duduk manis sambil membuka mulutnya menghadap bunda.


"Iiih, kolokan." ucap bunda sambil menyupi Apri dengan lempeng.


Bunda menyuapi ayah yang masih memijat kaki Naya.


...🌺🌺🌺🌺...


bersambung..


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...♥️...


...🌹...


...☕...


...🌸🌸🌸 salam manis 🌸🌸🌸...

__ADS_1


__ADS_2