Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 33


__ADS_3

Di resto Naya tengah bergelut dengan waktu menunggu jam 11 malam.


Malam hari di rumah Surya.


Surya dan Sani sedang asik duduk lesehan di lantai sambil menonton acara musik di televisi dengan di temani pisang goreng buatan Sani. Pisang hasil panen bapaknya Surya.


Tulalit... tulalit...


Nada dering handphone Surya berbunyi, tanda ada yang menelpon. Surya pun langsung melihat layar handphonenya di sana tertera nama Kamal si penelpon, lalu Surya langsung menjawab panggilan teleponnya.


"Tumben lu telpon, ada apa?" tanya Surya.


"Gwe minta tolong dong. Temenin gwe yuk." pinta Kamal dari saluran telpon.


"Tolong apa?"


"Kerumah cewe gwe." ucap Kamal to the poin.


"Kapan?" tanya Surya.


"Sekarang, mau kan lu?" tanya Kamal memastikan Surya.


Surya diam memikirkan sejenak ajakan dari Kamal.


"Gwe bete juga sih di rumah, mumpung Naya juga lagi kerja, gwe juga gak ada temen buat smsan, mending ikut aja lah, sekalian cuci mata. Ceweknya Kamal kan masih anak sekolahan, bisa kali mah ama temennya." batin Surya dengan senyum devilnya.


"Heh bocah, mau ikut gak lu nemenin gwe?" suara Kamal yang sedikit tinggi dan kesal terdengar jelas di telinga Surya.


"Bawel lu." gerutu Surya.


"Di rumah cewek lu, ada temennya gak? Masa iya lu pacaran, gwe ngelietin lu, gitu? Nyamuk dong gwe." ucap Surya lagi.


"Emang lu nyamuk, dodo* 😋"ucap Kamal .


"Baru nyadar kalo lu nyamuk? Kemana aja lu, Surya... Surya..." ledek Kamal lagi.


Mendengar ledekan dari Kamal, membuat Surya kesal dan berniat mematikan sambungan teleponnya.


"Pergi sana lu dewek." jawab Surya ketus, dan setelah mengatakan itu langsung mematikan sambungan teleponnya.


Surya menaruh kembali handphone miliknya di atas lantai dekat ia duduk.


"Ngapa lu? Abis di telpon ngamuk-ngamuk gak jelas." tanya Sani yang sedari tadi memperhatikan adik semata wayangnya.


"Kepo luh.." ucap Surya dan mengambil sepotong pisang goreng lalu memasukkan nya ke dalam mulutnya.


"Lu masihkan sama, Naya?" tanya Sani hati-hati.


"Ya masih lah."


"Naya masih kerja di resto?"


"Masih."


"Lu masih ama cewek lu yang laen?" tanya Sani lagi.


"Masih lah."


"Naya tau gak... lu masih suka berkabar ama Fitri?"


"Ya gak lah."


"Udah apa fokus ama atu cewek bae... kurang Naya apa sih? Lu masih suka genit ke cewek laen?" tanya Sani.


"Kurang modis, jadul."


"Tau jadul, napa lu gak putusin bae, dodol?" usul Sani ketus.


"Nanti bae kalo gwe udah ketemu yang srek ama hati gwe, baru gwe putusin." kata Surya.


"Dasar bocah gendeng." kata Sani.

__ADS_1


Tin... tin...


Kamal membunyikan klakson motornya saat sudah berada di depan rumah Surya.


Surya melihat dari pintu yang terbuka lebar, terlihat Kamal sedang duduk di atas motornya sambil melambaikan tangan kanannya ke dalam rumah Surya.


"Ayo langsung jalan." teriak Kamal.


Surya pun langsung bangun dari duduknya dan mengambil handphone miliknya, lalu memasukkannya ke dalam saku celana jeans biru belel yang ia kenakan.


"Gwe jalan dulu Nyoh." pamit Surya pada kakaknya Sani.


"Jangan malam-malam lu, besok gawe pagi juga." kata Sani mengingatkan.


Hanya di balas lambaian tangan dari belakang oleh Surya. Lalu Surya berjalan menghampiri Kamal yang sudah menunggunya di atas motor.


"Gitu aja ngambek lu." kata Kamal saat Surya sudah berdiri di dekatnya.


"Bacot lu." lalu Surya duduk di belakang dengan di bonceng Kamal.


Kamal melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Jalan terlihat ramai oleh pengendara, ada yang membawa kendaraannya dengan santai dan ada juga yang menyalip beberapa kendaraan lain.


"Sombong lu, udah gawe ora nongkrong lagi di rumah gwe." tanya Kamal di tengah perjalanan.


"Gwe sibuk, yang laen masih nongkrong?" tanya Surya.


"Masih dong, lu di tanyain tuh sama Muay, Rendi, Tonoy ama yang laen dah."


"Iya nanti kalo sempet, gwe nongkrong tempat lu."


Kamal menghentikan motornya di depan rumah kontrakan sederhana yang berjejer rapih dan terlihat asri, dengan pepohonan yang sengaja di tanam di dalam pot.


Surya turun dari motor dan di susul Kamal yang juga ikut turun dari motor yang tadi ia kendarai.


"Ayo, Ya." ajak Kamal pada Surya.


Kamal berjalan di depan sedangkan Surya mengekor Kamal dari belakang. Kamal dan Surya berjalan ke arah rumah kontrakan yang di depan teras sudah ada duduk 2 cewek abg yang tengah duduk sambil mengobrol.


Kamal duduk di teras dekat Rara, sang pacar.


"Iya yank, kenalin ini Surya teman aku." kata Kamal memperkenalkan Surya pada ceweknya.


"Hai ka, aku Rara ceweknya Kamal." ucap Rara sambil menggelayut manja pada lengan Kamal.


"Surya." ucap Surya lalu duduk di teras dekat dengan Kamal.


"Oh iya, ka kenalin. Itu teman aku Wini." ucap Rara memperkenalkan Wini pada Surya.


"Wini..." ucap Wini pada Surya.


"Surya." kata Surya memperkenalkan dirinya pada Wini.


Wini yang tadinya duduk agak jauh dari Surya, merapatkan duduknya dengan Surya hingga tidak ada lagi jarak di antara keduanya.


"Ka Surya, kerja apa masih sekolah ka?" tanya Wini.


"Kerja. Kamu kelas berapa, Win?" tanya Surya.


"Aku baru kelas 2 SMP ka. Aku satu kelas sama Rara."


Jadilah pendekatan antara Surya dan Wini, sedangkan Kamal asik mengobrol dengan sang pacar Rara.


Hingga obrolan mereka tidak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam, semakin larut dan semakin dingin, angin menembus kaos Wini yang saat itu memakai kaos ketat dengan celana jeans panjang.


"Ka, aku minta nomor handphone ka Surya dong." pinta Wini dengan suara di buat semanja mungkin.


"Buat apa?" tanya Surya basa basi.


"Buat aku sms kaka, kalo aku minta di jemput di sekolah. Hehehe."


"Haduuuh, belum apa-apa udah mata motoran nih bocah." batin Surya.

__ADS_1


Surya pun memberikan nomor handphonenya pada Wini. Wini menyimpan nomor handphone Surya di kontak handphonenya.


"Kamal, pulang yuk. Udah malam ini." pinta Surya pada Kamal untuk mengajaknya pulang.


Kamal cipika cipiki pada Rara, dan di lihat oleh Wini. Wini pun menarik tangan Surya, hingga Surya yang sudah berdiri jadi duduk lagi di atas lantai.


"Kenapa?" tanya Surya.


Cup


Cup


Wini juga ikut cipika cipiki pada wajah Surya.


"Buse* dah... agresif amat ini bocah." batain Surya.


Wajah Surya langsung merona mendapatkan perlakuan dari Wini.


Kamal pamit pada Rara untuk pulang, dan menaiki motornya bersama dengan Surya.


"Menang banyak nih. Mimpi apa lu semalam." ledek Kamal pada Surya.


"Apa si lu. Bawa aja tuh motor yang bener." elak Surya.


"Ahahaha." Kamal tertawa namun tetap fokus pada motor yang ia kendarai.


*****


Di tempat Naya.


Ayah Adi tengah menunggu Naya di pangkalan ojek sambil mengajak Apri ngobrol di atas motor. Tadi di rumah Apri rewel minta ikut serta untuk menjemput Naya di tempat kerja.


"Apri udah gede mau jadi apa?" tanya ayah Adi.


"Apri mau jadi dokter." jawab Apri dengan suara pelonya.


"Kenapa dokter, Pri?"


"Mau suntik kaka Ani kalo sakit." ucapnya dengan polos.


"Apri gak ngantuk?"


"Apri gak ngantuk, yah."


Dari kejauhan Naya berjalan menghampiri ayah Adi dan Apri yang tengah duduk di atas motor.


"Apri ikut?" tanya Naya saat sudah berdiri di depan ayah Adi dan mencium punggung tangan kanan ayah Adi.


"Iya dong, mau jemput Nay." kata Apri.


Apri mencium punggung tangan kanan Naya.


"Apri pindah yuk, duduk di belakang sama kaka." ajak Naya agar Apri mau duduk di belakang.


Apri pun mau pindah duduk di belakang, Apri duduk di tengah-tengah antara ayah Adi dan Naya.


bersambung....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊😊


mohon 🙏đŸģ🙏đŸģ🙏đŸģ dukung karya receh author 😊😊😊😊 dengan cara â†Šī¸


\=\=\=\=>👍 like


\=\=\=\=> âœī¸ komen


\=\=\=\=> vote


\=\=\=\=> 🎁


\=\=\=\=> â™Ĩī¸ biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊

__ADS_1


__ADS_2