Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 112


__ADS_3

"Eeet ya, orang mah kalo mao madang liet dewek noh lauk, jangan pake nanya ada apaan ya? sopan banget luh, Adiiii, Adi." omel bunda yang memilih ke luar karena merasa terganggu fokusnya saat sedang menonton televisi tapi di tanya-tanya mulu sama ayah.


"Eeet ya, bini." keluh ayah yang di tinggal pergi bunda.


Setelah di tinggal bunda, ayah langsung masuk ke dapur mengambil piring lalu cuci tangan di kamar mandi, setelah itu berjalan ke ruang depan untuk menyendok nasi dan juga lauk yang tadi pagi bunda masak.


Saat Naya masuk ke dalam rumah, "Lah bunda mana yah?" tanya Naya pada ayah yang sedang makan sambil main hape.


"Di saung kali." jawab ayah.


"Gak ada, yah... tadi Naya lewat saung tapi gak liet bunda duduk di saung." ucap Naya.


"Di rumah nenek kamu kali, Nay."


"Coba deh Naya liet di rumah nenek dulu." ucap Naya sambil menaruh kantong plastik yang di tangannya di atas meja dekat dispenser.


"Kamu emang abis dari mana, Nay?" tanya ayah yang mrlihat Naya mau pergi lagi.


"Abis beli sagu, katanya bunda mao buat cemilan." ucap Naya.


Ayah melanjutkan makannya lagi, sedangkan Naya mencari bunda di rumah nenek Fatimah.


Melihat pintu rumah nenek yang terbuka, Naya langsung memanggil nenek nya, "Neneeek, nek." panggil Naya sambil masuk untuk melihat keberadaan nenek.


"Apa, Naaaay? nenek di empang nih." suara teriakan nenek Fatimah dari belakang rumah.


Naya pun langsung berjalan ke tempat nenek berada. Terlihat nenek sedang memetik cabe rawit hijau dari pohon yang di tanamnya dekat empang yang berada di halaman belakang rumah nenek Fatimah.


"Ngapa, luh?" tanya nenek sambil tangannya sibuk memetik cabe rawit yang menurutnya sudah berukuran besar.


"Nyari bunda, nenek liet bunda gak?" tanya Naya.


"Laaaah, di rumah luh ora ada?"


"Kaga ada, adanya ayah doang." jawab Naya.


"Maen kali di rumah Holidah, kalo ora ada ya onoh di belakang, tau di rumah Rohani kali Nay." cerocos nenek Fatimah menyebutkan kemungkinan rumah yang di datangi oleh bunda.


"Coba deh, biar Naya cari dulu." ucap Naya yang langsung pergi meninggalkan nenek.


Saat Naya akan ke rumah Holidah, Naya melihat Apri yang sedang duduk di teras sambil menangis.


"Hiks hiks bunda Apri ilang." ucap Apri di sela tangisnya.


"Ngapa, Pri?" tanya Naya yang menghampiri Apri lebih dulu.


"Bunda Apri hiks hiks ilang huks hiks."


"Ya Allah, sedih amat... orang bunda lagi maen." ucap Naya menenangkan.


Apri mengusap air mata yang ada di pipinya dengan tangan kanannya sambil bertanya, "Bunda, maen mana ka?"


"Ini kaka baru mau cari, Apri jangan nangis lagi... ya!" ucap akan yang menyuruh Apri untuk menghentikan tangisannya.


"Belom ketemu Nay, bunda kamu?" tanya ayah yang sudah berdiri di depan pintu.


"Belom, kalo kata nenek mah antara di rumah ibu Holidah kalo gak di ibu Rohani." jelas Naya menceritakan pada ayah saran dari nenek Fatimah tadi.


"Ya udah gih, sana kamu cari bunda ku dulu." ucap ayah.


"Ayah mao kemana?" tanya Apri.


"Ayah mao beli kopi." ucap ayah.

__ADS_1


"Apri ikut!" ayah pun langsung menggendong tubuh gemoy Apri dan membawanya ke warung untuk membeli kopi.


"Asiiiik, Apri mao minta jajan sama ayah." batin Apri yang berdadah ria pada Naya.


"Eeet ya, cupit... paling ada yang di minta ama tuh bocah." gumam Naya sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Apri.


Naya berjalan menghampiri rumah ibu Holidah.


"Mamah Dia, liet bunda Nay gak?" tanya Naya yang melihat ibu Holidah sedang mengangkat jemuran.


"Itu Nay, tadi jalan ke belakangin." ibu Holidah memberi tahu arah yang tadi di lewati bunda.


Makasih, bu." ucap Naya yang langsung berjalan ke arah belakang rumah untuk mencari bunda.


Naya melihat ada sendal jepit yang biasa bunda kenakan di depan rumah ibu Rohani, sedangkan pintu rumahnya tertutup.


"Assalamualaikum, ibu." ucap Naya.


🌿🌿🌿


Di dalam rumah ibu Rohani.


"Anak luh noh, Im." ucap Rohani yang mendengar suara Naya di depan pintu.


"Iya biarin, nyari gua itu." ucap bunda.


"Waalaikum salam." ucap Rohani sambil membuka pintu melihat Naya yang sedang berdiri.


"Cari bunda kamu ya, Nay?" tebak Rohani.


"Iya, bu... bunda ada bu?" tanya Naya.


"Itu ada lagi duduk noh." sambil menunjuk bunda yang lagi duduk bersandar pada dinding.


"Ayo bun, pulang!" ajak Naya.


"Tar bae ah." tolak bunda.


"Apri nangis noh, bun."


"Nangisin ngapa?" bunda bangun menghampiri Naya.


"Kata Apri, bundanya Apri ilang." ujar Naya.


"Eet ya, anak luh lucu amat si Im... pake bunda gede banget di kata ilang." oceh Rohani yang mendengar perkataan Naya.


"Ya gitu, kalo ora ngeliet emaknya... di kata ilang." ukar bunda.


"Ya udah gih sono.. luh pulang dulu... tar kita lanjut lagi." ucap Rohani.


"Iya, aya pulang dulu empok." pamit bunda pada Rohani yang di ikuti Naya untuk pulang ke rumah.


"Bunda, lagi ngapa dah?" tanya Naya di saat jalan pulang."


"Ora ngapa-ngapa... kamu udah beli sagunya Nay?" tanya bunda.


"Iya, udah." jawab Naya.


Ayah yang lagi ngopi di teras rumah melihat bunda pulang dengan Naya.


"Apri, mana yah?" tanya Naya yang tidak nelihat Apri dengan ayah.


"Onoh maen lagi bawa jajanan." jawab ayah.

__ADS_1


Bunda langsung nyelonong ke dapur, langsung membuat cemilan dari sagu, alias lempeng sagu di makan siang-siang begini, enak dah.


Berapa menit kemudian, bunda keluar dan duduk di luar rumah di atas lantai yang dingin.


"Naya, ayo sini." teriak bunda memanggil Naya untuk keluar rumah.


Ayah langsung menghampiri bunda, dan mencomot sagu goreng buatan bunda.


"Widiiiih, huh huh... panas amat." ucap ayah sambil meniup niup potongan lempeng sagu yang ada di tangannya.


"Udah tau panas, maen comot bae." omel bunda.


"Sensi amat luh, Im." celetuk ayah.


"Nay, panggil nenek kamu gih... ajak ke sini." perintah bunda yang melihat Naya tengah berjalan ke luar rumah.


"Iya, kasih tau ada lempeng sagu kan bun?" tanya Naya memastikan.


"Iya, pinter." ucap bunda, Naya pun langsung berjalan ke arah rumah nenek Fatimah.


Tulalit tulalit.. tulalit tulalit


Nada dering dari hape ayah.


Ayah membaca siapa yang menghubunginya.


"Waduh, bos gua nih." ucap ayah.


Ayah langsung meraih konci motor yang ada di lantai dan memasukkan konci pada tempatnya, lalu menstarter motornya.


Bunda yang melihatnya sudah tidak heran lagi.


Baru lah ayah mengangkat panggilannya dan nempelkan hape di telinganya, "Iya, bu." ucap ayah.


"Iya, ini lagi di jalan." ucap ayah lagi yang langsung mematikan sambungan teleponnya dan juga motornya.


Ayah duduk lagi sambil menikmati kopi panas di temani lempeng sagu buatan bunda.


"Tadi ayah lagi ngapa, bun?" tanya Naya yang bengong melihat ayah.


"Lagu lama, Nay." jawab bunda.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...β˜•...


...🌹...


...β™₯️...

__ADS_1


...🌸🌸🌸 salam manis 🌸...


__ADS_2