Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 62


__ADS_3

"Tumben ayah belum jemput." ucap Naya pada dirinya sendiri.


Naya pun memilih duduk di pangkalan ojek, karena masih banyak kendaraan yang masuk menuju parkiran sektor 9.


Naya pun menelpon bunda, saat sambungan telepon tersambung, "Halo bunda, ayah udah jalan belum?" tanya Naya sambil menempelkan telpon ke telinga kanannya.


πŸ“± "Ayah kamu belum pulang kerja Nay.. kamu di jemput om Nata ya Nay.. om kamu udah lagi di jalan." ucap bunda.


"Iya bun.. ya udah Naya tunggu om." ucap Naya.


Naya mematikan sambungan telepon dan memainkan game dari ponselnya, om Nata adalah adik dari bunda, seorang duda dengan 1 anak perempuan yang kini berusia 3 tahun.


"Kamu belum di jemput Nay?" tanya Heru yang menghentikan laju motornya di depan Naya.


"Belum, om aku lagi di jalan." ucap Naya.


"Ooh kamu di jemput sama om?" tanya Heru.


"Iya, ayah aku belum pulang, jadi di jemput sama om." ujar Naya.


"Mau aku temenin nunggu apa gimana nih?" tanya Heru.


"Udah duluan aja, aku sendiri juga berani, masih rame ini." ucap Naya.


"Ya udah, aku duluan ya!" seru Heru.


"Iya." ucap Naya.


Heru pun meninggalkan Naya yang masih setia menunggu di jemput.


"Duluan Nay." seru Rion yang melewati Naya.


"Iya Rion, hati-hati." seru Naya juga pada Rion.


Ciiit..


Om Nata menghentikan laju motornya di depan Naya.


Naya pun menaiki motor om di boncengan belakang.


Di tengah melajukan motornya menuju rumah, om dan Naya mengobrol.


"Om, emang ayah belum pulang ya?" tanya Naya.


"Iya, ayah kamu belum pulang." jawab om Nata.


"Ayah kemana ya om?" tanya Naya.


"Ya kerja Nay." ujar om Nata.


"Emang ada, kerja taman malem-malem?" tanya Naya.


"Lah ya ada kali mah." ucap om Nata.


Dreeet.. dreeet.. dreet


(Getar panggilan masuk di ponsel Naya)


Naya meraih ponselnya yang di letakkan di dalam tas. Tertera nama AYAH di panggilan masuk. Naya mengangkat panggilan masuk tersebut.


πŸ“± "Halo Naya, kamu udah di jemput om kan?" tanya ayah saat sambungan telepon tersambung.


"Iya yah, ini udah sama om mau jalan pulang." jawab Naya.


πŸ“± "Ya udah, hati-hati ya Nay." ucap ayah.


"Ayah lagi dimana? ayah udah pulang?" tanya Naya.


πŸ“± "Ini baru mau jalan pulang." ucap ayah.


"Hati-hati yah." kata Naya.


πŸ“± "Iya, ayah matiin ya Nay." ucap ayah izin hendak mematikan sambungan teleponnya.


"Iya yah." jawab Naya.


Naya melihat ada pesan masuk yang belum terbaca.


βœ‰οΈ 0896222***


Hay, udah pulang kerja ya?

__ADS_1


βœ‰οΈ 0896222***


Kamu lagi dimana?


βœ‰οΈ 0896222***


Kamu pulang sama siapa?


"Ayah kamu udah pulang, Nay?" tanya om Nata yang melihat Naya sudah berhenti berbicara di telepon.


"Kata ayah mah, baru mau jalan pulang om." jawab Naya.


Naya membalas pesan dari nomor yang mengaku Roy.


βœ‰οΈ Naya


Mao tau banget luh ya? ngaku dulu kalo luh tuh Surya, pake ngaku-ngaku orang lain pula.


βœ‰οΈ 0896222***


Busrat, galak amat si Nay.


βœ‰οΈ Naya


Bodo amat


βœ‰οΈ 0896222***


Iya ini aku Surya, puas.


βœ‰οΈ Naya


Dih ngambek, ada juga aku yang ngambek. kemana bae kamu?


βœ‰οΈ 0896222***


Hape aku ilang, nunggi gajian baru bisa beli hape baru.


βœ‰οΈ Naya


Ooooh, emang gak bisa gitu ngabarin lewat kaka kamu Sani?


βœ‰οΈ 0896222***


βœ‰οΈ Naya


Terus ngapa ngaku jadi Roy?


βœ‰οΈ 0896222***


Ngetes kamu doang, setia apa gak sama aku.


βœ‰οΈ Naya


Dih, kan kamu yang bilang putus.


βœ‰οΈ 0896222***


Iya maaf, kan waktu itu aku lagi kesel.. kita baikan ya Nay? mau kan jadi pacar aku? aku masih sayang sama kamu.


βœ‰οΈ Naya


Tar kalo udah gak sayang, di putusin lagi? iya gitu?


Motor berhenti di depan rumah nenek Fatimah. Naya puy langsung turun dari motor.


"Makasih om, udah di jemput." ucap Naya.


"Iya sama-sama." ucap om Nata.


"Kamu udah pulang Nay?" tanya bunda yang keluar dari balik pintu rumah nenek Fatimah.


"Baru nyampe bun." Naya mencium punggung tangan kanan bunda.


"Ayah kamu belum pulang Nay." ucap bunda lirih.


"Ayah lagi di jalan bun." ucap Naya yang langsung duduk di pilar rumah nenek Fatimah.


"Kamu kata siapa Nay?" tanya bunda.


"Tadi ayah telpon Naya." jawab Naya.

__ADS_1


"Kok ayah kamu gak ngabarin bunda ya Nay?" lupa kali bun.


"Dikit lagi juga pulang pok." ujar Nata menghibur bunda.


"Ya udah, makasih ya Ta, udah mau jemput Naya." ucap bunda pada Nata.


"Iya pok, kaya sama siapa bae." ujar Nata.


"Ayo bun, pulang!" seru Naya mengajak bunda pulang.


"Ngapain pulang? udah disini nae nunggu laki lu pulang." ucap nenek Fatimah dengan membawa tiker pandan.


"Nenek mao kemana nek? bawa-bawa tikar gitu!" tanya Naya.


Nenek Fatimah langsung menggelar tikar di lantai sambil berucap, "Nih tikar mao gua gelar dimari, ayo sini luh pada duduk di tikar." seru nenek Fatimah, "Kaga sopan luh duduk di pilar, yang tua di ubin." gerutu nenek Fatimah.


Yah saat ini bunda, Naya dan om Nata tengah duduk di atas pilar sambil menunggu kepulangan ayah dengan harap-harap cemas.


Setelah mendengar ocehan nenek Fatimah. Bunda, Naya dan om Nata akhirnya duduk di lantai beralaskan tikar pandan yang tadi di gelar oleh nenek Fatimah.


"Emang tadi ayah gak bilang sama bunda kalo lembur?" tanya Naya.


"Kalo bilang mah, ngapain bunda panik.. nyuruh om kamu buat nyari ayah di tempat kerja." ujar bunda.


Obrolan malam pun tidak terhinari antara Naya, binda, nenek Fatimah dan om Nata, obrolan seputar kerjaan Naya di resto pun tidak luput dari pembahasan, belum lagi tentang ayah yang pulang telat sampai membuat bunda seperti kebakaran jenggot.


"Nay, jam berapa sekarang?" tanya bunda, yang mulai gelisah karena ayah belum juga tiba di rumah.


"Tengah malam bun." jawab Naya.


"Kata kamu tadi ayah udah jalan pulang Nay?" tanya bunda.


"Iya, nih coba Naya telpon lagi." ucap Naya mencoba menghubungi ayah lewat telepon.


"Gimana jawaban ayah Nay?" tanya bunda.


"Gak di angkat bun." jawab Naya.


"Lagi di jalan kali, pok!" seru Nata.


"Masa di jalan lama banget, Ta." omel bunda.


"Lah ya kali jauh." ucap Nata.


"Tuh suara motor ayah!" seru Naya melihat ke arah gang.


"Kayanya bener tuh, pok." kata Nata menimpali.


Ayah menghentikan laju motornya di depan rumah nenek Fatimah dan mematikan mesin motornya.


"Wiiih tumben belom pada tidur? lagi ada acara apaan nih?" tanya ayah dengan khasnya sambil cengengesan.


"Nungguin luh, bokir." herdik bunda yang kesal dengan tingkah ayah.


Ayah turun dari motor dan menyodorkan bungkusan mertabak ke arah bunda, "Lah gua ngapa?" tanya ayah.


"Pake nanya lagi luh, orang mah kalo lembur tuh ngomong." cerocos bunda yang mengomeli ayah.


Bunda membuka bungkusan mertabak dan menyodorkan lagi ke nenek Fatimah dan Nata, Naya pun mengambil potongan mertabak coklat dan melahap.


"Ngomelnya tar bae, cape gua baru pulang, seduhin kopi kek." ujar ayah.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


bersambung....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸ‘ like


β€’β€’β€’β€’β€’> ✍️ komen


β€’β€’β€’β€’β€’> ⭐⭐⭐⭐⭐


β€’β€’β€’β€’β€’> vote


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸŽβ˜•πŸŒΉ


β€’β€’β€’β€’β€’> β™₯️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺


__ADS_2