Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 53


__ADS_3

Beberapa hari kemudian..


Pagi hari yang cerah tidak lah secerah hati Naya yang masih setia menanti pesan masuk dari Surya. Yang di nanti, malah belum juga mengirim pesan singkat. Jadi lah Naya yang uring-uringan.


Bunda yang peka akan sikap Naya pun berinisiatif, untuk mengajak Naya serta Apri untuk berjalan santai ke kompleks cikini.


Bunda yang melihat Naya tengah rebahan di atas kasur empuknya di kamar pun angkat suara, "Kamu lagi ngapain, Nay?" tanya bunda yang sontak membuat Naya kaget.


"Astaghfirullah bundaaa, kaget tau gak." ucap Naya dengan keterkejutannya.


"Ah lebay kamu Nay, orang bunda gak ngagetin kamu kok!" seru bunda.


"Au amat, bun."


Bunda mendudukkan dirinya di pinggir kasur dekat kaki Naya.


"Kamu ikut bunda yuk Nay!" ajak bunda.


"Kemana bun?" tanya Naya.


"Jalan-jalan aja gitu ke kompleks." jawab bunda dengan santai.


"Jalan kaki bun?" tanya Naya.


"Terbang Nay." jawab bunda acuh.


"Heeet ya, bunda mah. Serius ini." kata Naya sambil mendudukkan dirinya.


"Lah ya kamu aneh, udah tau jalan.. pake ditanya lagi."


"Emang bunda mau ngapain di kompleks?" tanya Naya dengan polosnya.


"Mao olahraga lah, kita jalan sehat gitu Nay.. mumpung masih pagi, kamu juga gak ngapa-ngapain kan? bunda bosen dirumah terus." ujar bunda.


"Males ah bun." keluh Naya.


"Jangan males, perawan kok males."


"Bunda aja sama Apri. Aku di rumah." tolak Naya.


"Ga bisa Nay, nanti kalo Apri cape terus minta di gendong, gimana? kalo ada kamu, kan bunda jadi bisa gantian gendong Apri." elak bunda, mau tidak mau Naya menurut.


Naya, bunda dan Apri pun berjalan santai menuju kompleks yang tidak begitu jauh dari rumah, hanya memakan waktu 10 menit.


Jalan menuju kompleks melewati rumah dan juga warung sayur milik orang tua Dafa. Terlihat mak Ijah yang sedang melayani beberapa orang yang tengah membeli sayurannya.


"Mao kemana Imah?" sapa mak Ijah yang melihat bunda.


"Mao ke bawah, pok." jawab bunda sambil menghentikan langkahnya.


"Anak luh lagi libur kerja?" tanya mak Ijah lagi.


"Kaga, Naya masuk kerjanya entar dia mah." ujar bunda.


"Udah kaya adek ama empok luh Imah, kalo jalan ama anak luh." ujar mak Ijah.


"Iya ini, ora berasa bocah tau-tau udah gede bae." jawab bunda.


"Ayo bundaaa." rengek Apri sambil menarik ujung baju bunda.


"Iya Pri, aya duluan mpok." ujar bunda pada mak Ijah, sambil melangkah kakinya lagi.


Sampai di kompleks, Naya memilih duduk di trotoar taman sambil mengeluarkan ponselnya yang ia simpan di saku celananya.

__ADS_1


Naya membuka kotak pesan masuk. Tidak ada pesan yang masuk sama sekali ke nomor telepon.


"Si Surya kemana ya? tumben amat itu bocah. biasanya ngirim pesan mulu. Nih kaga.. sepi ponsel gak ada pesan masuk dari Surya." batin Naya.


Naya mengetik pesan untuk Surya.


πŸ’Œ Surya


Kamu lagi apa?


"Kirim gak yah? gak usah deh, orang dia yang bilang putus kok." gerutu Naya.


Naya pun mengurungkan niatnya untuk mengirimkan pesan pada Surya dan memilih menghapus pesan yang sempat Naya ketik untuk Surya.


Tanpa menimbang perasaan lagi, Naya memilih memainkan game yang ada di ponselnya dan sesekali memperhatikan Apri.


Sedangkan Apri berlari-larian di tanah yang lapang dengan rumput hijau yang tumbuh subur di atasnya.


Bunda berjalan santai memutari tanah lapang yang ada di sudut kompleks. Saat tengah asik berjalan, bunda di hampir bu Ecih yang sedang membawa sapu di tangan kanan dan pengki (serokan sampah) di tangan kirinya.


Bunda pun menghentikan jalan santainya dan menemani bu Ecih mengobrol. Bu Ecih adalah salah satu orang yang dulu pernah menjadi teman seperjuangan bunda saat menjadi penyapu jalan di bawah terik matahari.


Beberapa menit kemudian..


"Pulang yuk, bun. Udah siang nih." ajak Naya sambil berdiri meregangkan kakinya yang terasa pegal


"Apri, mau pulang sekarang?" tanya bunda.


"Maaao, tapi nasi uduk ya bun!" seru Apri.


"Kalo kamu, Nay?" tanya bunda.


"Apa bae, yang penting ngenyangin perut bun." canda Naya.


Bunda pun mengakhiri obrolannya dengan bu Ecih dan berjalan pulang dengan Naya dan juga Apri. Tapi sebelum pulang, nanti Naya, bunda dan Apri mampir dulu di warung hj.Beno untuk makan nasi uduk seperti keinginan Apri.


"Belum tau bun, liet entar aja bun." ucap Naya.


"Nay, kamu sama Surya hubungannya gimana?" tanya bunda tiba-tiba.


"Orang dianya juga lagi gak ada kabar bun. Terakhir sih dia bilang putus." tutur Naya.


"Kalo ada yang dateng terus ngelamar kamu, gimana Nay?" tanya bunda lagi.


"Emang siapa yang mao ngelamar bun?" tanya Naya.


"Ya kali gitu Nay, misalkan." ujar bunda. "Kamu terima gak Nay lamarannya?" tanya bunda yang terdengar memaksa.


"Naya belum ada pikiran ke arah itu bun, mungkin Naya tolak dulu." ujar Naya.


"Lah ngapa luh tolak Nay? kalo udah jodoh luh, pagimana Naya?" tanya bunda yang kaget dengan penuturan Naya.


"Naya masih pengen cari duit bun, Naya pengen nyenengin bunda, ayah, Ani sama Apri." jawan Naya.


"Emang siapa yang mao ngelamar, bun?" tanya Naya yang di buat penasaran.


"Ora ada.. bunda cuma tanya Naya doang. Kali bae Naya ngebet pengen kawin ama si Surya." ledek bunda.


"Apaan sih bun. Gak tau apa dari tadi orang Naya bilang lagi putus juga sama Surya." jawab Naya sambil memanyunkan bibirnya.


"Lagi juga Nay, bunda masih pengen ngerasain uang hasil kerja Naya, hasil keringet Naya." ujar bunda.


"Tapi kalo bisa, jangan sama Surya apa Nay, cari yang punya motor, biar kamu bisa di anter kerja, hehehe." ledek bunda.

__ADS_1


Saat sudah di warung nasi uduk.


Apri duduk di bangku kayu sambil mengayun ayunkan kedua kakinya.


"Nasi uduknya 2 yah, bu hj." ucap bunda.


"Makan disini apa dibungkus, Imah?" tanya bh.Beno.


"Makan disini aja bu hj." ujar bunda.


"Onoh perawan luh, ora di ajak nyarap Imah?" tanya bu hj yang melihat Naya tengah duduk di samping Apri.


"Masih mikir dia mah bu hj." ucap bunda.


"Naya ketan aja deh bun." ucap Naya.


"Ini neng, daun pisangnya.. kalo luh mau makan ketan mah ya." ucap bu hj.Beno.


Naya pun bangun dari duduknya dan mengambil daon pisang yang akan di jadikan alas untuk menaruh ketan.


"Bun, Naya ketannya berapa bun?" tanya Naya.


"Ambil bae sebanyak yang kamu mau Nay." ucap bunda sambil membawa 2 piring nasi uduk dan memakannya bersama dengan Apri.


Naya mengambil 2 ketan dan tidak lupa ia sirami sambel di atas ketannya lalu Naya memilih duduk di samping Apri lagi.


Sedang enak makan, terdengar suara yang sangat familiar di telinga Naya.


"Eeeh ada Naya, lagi nyarap neng?" tanya Dafa, dan langsung duduk di samping Naya.


"Kaga bang, lagi tidur." ucap Naya sekenanya.


"Kok tidur, itu mulut bisa ngunyah makanan neng?" tanya Dafa lagi.


"Bisa lah, makan sambil tidur."


"Eh Dafa, luh mao nyarap apa mao gangguin anak perawan orang?" tanya bu hj.Beno.


"Mao keduanya bu hj!!" seru Dafa.


"Imah, luh mao punya mantu si Dafa?" tanya bu hj.Beno.


"Eeet ora ada yang mao punya mantu Naya, bu hj.. tai ayam di injek ora gepeng." tutur bunda.


"Bu, aye nasi uduk ya!" pinta Dafa, mengalihkan perhatian bu hj.Beno.


"Beres Dafa."


bersambung....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊😊😊


mohon πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ» dukung karya receh author 😊😊😊 dengan cara ↩️


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸ‘ like


β€’β€’β€’β€’β€’> ✍️ komen


β€’β€’β€’β€’β€’> ⭐⭐⭐⭐⭐


β€’β€’β€’β€’β€’> πŸŽβ˜•πŸŒΉ


β€’β€’β€’β€’β€’β€’> vote

__ADS_1


β€’β€’β€’β€’β€’> β™₯️ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊😊


🌺🌺🌺🌺 salam manis 🌺🌺🌺🌺


__ADS_2