
Kami semua duduk di meja nomor 10, saat ini seperti biasa pak Aziz sedang melakukan briefing sebelum resto membuka orderan.
"Assalamualaikum, adik-adik sekalian. Begini, karena formasi kita semua sudah lengkap, bapak mau kalian semua yang ada disini kompak, anggap kita itu keluarga. Harus saling kerja sama. Untuk yang anak baru, bapak ucapkan selamat bergabung di dabek. Untuk yang anak lama, tolong di bantu ya anak yang baru bergabung. Biar bisa mengerti cara kerja dabek seperti apa." kata pak Aziz, panjang lebar.
"Untuk Elsa, Ara dan Ela, kalo ada yang tidak di mengerti, langsung tanya aja ya. Boleh tanya sama bu Rani, Tika, bapak sendiri, atau sama yang lain." kata pak Aziz.
"Kalo pulangnya, pak. Emmmm jam berapa ya?" tanya Elsa.
"Kita priper pulang itu minimal jam setengah sebelas. Bisa juga lewat dari jam segitu, tergantung pengunjung masih ada atau tidak." jawab pak Aziz.
"Ada lagi yang perlu di tanyakan?" tanya pak Aziz lagi.
"Gak ada, pak." kata Rion, yang memang sudah mengerti cara kerja tim Dabek.
"Untuk memulai aktivitas, kita berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Doa mulai..." ujar pak Aziz.
Semua yang ikut brifing pun menundukkan kepalanya sejenak untuk berdoa, agar kegiatan kerja berjalan dengan lancar.
"Doa selesai.." ucap pak Aziz, sambil mengangkat kembali posisi kepalanya menjadi tegak menghadap ke depan dengan tatapan mata yang tajam.
Semuanya pun selesai berdoa dan semua yang ikut brifing kembali saling membuang pandangan satu sama lain, seolah bertanya dalam hati, habis ini ngapain lagi ya ??
"Untuk pembagian tugas dan posisi, biar bapak ulangi lagi, A Awan dan Tohir bagian asap." kata pak Aziz.
"Beres, pak." yang di jawab serempak oleh A Awan dan Tohir.
"Angga, kamu bagian jus. Sudah di buat catatan untuk setiap takaran dalam pembuatan masing-masing jus." kata pak Aziz, sambil melihat ke arah Angga.
"Iya, pak." jawaban singkat Angga.
"Untuk Rion, kamu tepung ya." kata pak Aziz.
"Sekalian kalo tepung lagi gak ada orderan, kamu perhatikan cara mengasap ya, Rion?" sela bu Rani.
"Iya, bu." jawab Rion sambil menganggukan kepalanya tanda mengerti.
"Ada aura panas nih.." gerutu ka Tika, dengan suara yang pelan dan kecil. Tapi masih bisa di dengar oleh Naya. Karena posisi duduk Naya yang bersebelahan dengan ka Tika.
Naya pun menarik ujung baju ka Tika, dan sukses membuat ka Tika menoleh ke arah Naya.
Naya bertanya pada ka Tika dengan kode melirikkan matanya ke arah bu Rani.
"Nanti aja jelasinnya." kata ka Tika sambil berbisik dan memajukan kepalanya ke samping Naya.
Naya cukup dekat dengan ka Tika untuk masalah kerjaan dan kadang Naya suka banyak bertanya tentang pengalaman ka Tika yang merupakan anak perantauan. Sedangkan Naya kan tidak punya pengalaman seperti ka Tika.
"Ipul dan Danu, kalian bagian goreng bebek dan ayam." kata pak Aziz.
" Saya gak jadi bagian depan, pak ?" tanya Danu.
"Saya ingin lihat dulu, kamu bisa gak untuk bagian goreng." jawab pak Aziz.
"Iya, pak." jawab Danu.
"Untuk Fifi, Naya, Novi. Karena kalian yang paling lama di depan dari pada teman kalian yang baru masuk. Jadi kalian bisa sekalian mengajarkan teman kalian yang baru bergabung, karena ada di antara kalian yang memang sudah berteman, akan sangat memudahkan kalian untuk bisa saling adaptasi dan bekerja sama." tutur pak Aziz,
"Iya , pak." jawab Fifi, Naya dan Novi berbarengan.
__ADS_1
"Nini, Ara, Ela dan Elsa. Kalian bagian depan, jangan lupa untuk tetap mengantongi pulpen dan kertas untuk mencatatkan setiap orderan." kata pak Aziz.
"Iya, pak." jawab Nini, Ara, Ela dan Elsa yang juga berbarengan.
"Untuk pulpen... sudah di siapkan oleh pihak resto, nanti kalian bisa ambil di kasir sama Tika. Nanti setiap mau pulang, di kumpulkan kembali ke ka Tika ya!" kata pak Aziz, menjelaskan mengenai pulpen.
"Untuk cara pencatatan di kertas, nanti bisa kalian tanyakan pada yang lain, ya!" kata pak Aziz.
"Bapak harap kerjasama nya untuk kemajuan resto, dan terima kasih." kata pak Aziz, mengakhiri brifing sore ini.
Semuanya pun bubar dan kembali ke tempat masing-masing.
Ipul mengarahkan Danu untuk mengambil dan mencuci timun, kol, daun selada serta tomat untuk di cuci dan di tiriskan sebelum akhirnya akan di simpan di ciler, lemari pendingin yang ada di belakang kasir.
Angga mengambil sekantong buah jeruk dan sekantong jeruk nipis. Lalu Angga mengambil beberapa buah jeruk peras dan jeruk nipis untuk ia peras dan menaruh air perasan jeruk peras dan jeruk nipis kedalam botol yang berbeda. Setelah selesai Angga pun menyimpan botol yang berisi air perasan jeruk nipis dan jeruk peras ke dalam ciler, lemari pendingin yang ada di belakang kasir.
Sedangkan A Awan, Tohir sedang di tempat asap sambil Rion memperhatikan cara mengasap dengan benar.
Pak Aziz dan bu Rani sedang duduk di meja keramat sambil berdiskusi, entah apa yang di diskusikan yang pasti tentang resto. Terjadi perdebatan yang sengit, terlihat jelas dari raut wajah bu Rani yang tidak enak di pandang.
βΊοΈβΊοΈ kalah baju lecek, sama raut wajah bu Rani saat ini.
Fifi berdiri di paling depan sambil mengarahkan dan mengajarkan Ela serta Elsa bagaimana cara membawa nampan dan memegang piring yang benar.
Terlihat saat Fifi memperaktekan membawa nampan dengan piring di atasnya.
Ela dan Elsa memperhatikan dengan serius dan sungguh.
Naya dan Nini berdiri di depan sisi kiri mesin kasir, Naya menjelaskan bebek asap dan beberapa menu lainnya.
Ka Tika sedang berjongkok di depan ciler sambil mengelap botol minuman ringan dengan lap kering. Lalu ka Tika menyimpan botol yang sudah ia lap ke dalam ciler, lemari pendingin dengan kaca bening yang memperlihatkan dengan jelas isi di dalamnya.
Dreet... dreet... dreet... ( handphone Naya di saku bergetar)
Naya pun merogoh saku baju dan mengambil handphone miliknya dan melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
π Surya
Aku baru nyampe rumah.
Tumben ngabarin, lagi inget kalo punya pacar kali y. batin Naya.
π Naya
Iya
π Surya
Kamu lagi apa yank? Udah makan ?
π Naya
Lagi kerja. Kamu aja yang makan duluan. Nanti kalo laper juga aku makan.
π Surya
Kamu tar pulang di jemput siaa yank?
__ADS_1
π Naya
Ayah
π Surya
Besok kamu kerja gak yank?
Naya menyimpan kembali handphone miliknya ke dalam saku bajunya.
Merasa perdebatan antara pak Aziz dan bu Rani tidak ada ujungnya. Bu Rani bangun dari duduknya dan beralih berjalan ke arah kasir.
Sedangkan pak Aziz, berjalan ke arah tempat pengasapan. Bergabung dengan A Awan, Tohir dan Rion sambil berbincang.
"Tika, ini modal hari ini." ucap bu Rani, saat sudah berdiri di depan Tika.
Bu Rani menyerahkan bungkusan plastik bening yang di dalamnya terdapat uang kecil. Sengaja di siapkan untuk kembalian.
"Novi, sini sebentar." bu Rani memanggil Novi.
Lalu Novi pun berjalan dan menghampiri bu Rani yang sedang berdiri di depan mesin kasir.
"Tika, kamu hitung uang modal di belakang aja dulu ya." ucap bu Rani.
Ka Tika pun berjalan ke belakang dan duduk di belakang ciler dengan menggunakan krat minuman sebagai kursi dudukan.
"Yang di ajarin kasir, Novi doang." keluh ka Tika dengan suara yang pelan.
Bu Rani pun mengajari sekilas kegunaan beberapa tombol di mesin kasir dan cara menggunakan mesin kasir bila ada pembayaran, dan bila akan membuatkan bill.
Novi memperhatikan setiap arahan yang di berikan bu Rani dengan serius.
Malam semakin larut, hari ini jam 8 malam ada yang boking resto untuk 40 orang, benar-benar malam yang melelahkan.
Di tambah kerjasama kami yang kurang kompak. Hingga terjadi beberapa masalah, dari yang salah kasih ke customer hingga ada Novi yang menjatuhkan gelas karena lantain licin. Ulah dari anak kecil yang memainkan air keran di westafel.
bersambung.....
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author πππ
mohon ππ»ππ»ππ» dukung karya receh author ππ dengan cara β©οΈ
\=\=\=\=> π like
\=\=\=\=> βοΈ komen
\=\=\=\=> ππΉ
\=\=\=\=> vote
\=\=\=\=> βββββ
\=\=\=\=> β₯οΈ favorit biar gak ketinggalan cerita'nya ππ
"Tika, ini modal hari ini." ucap bu Rani sambil menyerahkan uang yang ada di dalam plastik putih bening.
.
__ADS_1