Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 28


__ADS_3

Siang itu matahari begitu terik, kipas angin yang menyala di kamar Naya tidak cukup untuk membuat suasana kamar menjadi sejuk. Naya pun memutuskan untuk berjalan keluar dari kamarnya, tapi sebelumnya Naya mematikan kipas angin yang tadi ia nyalakan.


Naya menghampiri Bunda yang tengah duduk di saung yang berada di depan rumah nenek dari Bundanya, siapa lagi kalo bukan nenek Fatimah. Rumah bunda dan rumah nenek Fatimah saling berdekatan, cuma butuh beberapa langkah, langsung sampe rumah nenek Fatimah.


Bunda yang melihat Naya tengah berjalan mendekat ke arah saung pun bertanya pada Naya.


Bunda duduk di belakang tubuh nenek Fatimah. Nenek Fatimah yang lagi duduk juga menghayati setiap cabutan uban di kepalanya yang di lakukan oleh Bunda.


"Mau kemana, Nay??" tanya Bunda sambil tangan kanannya sibuk mencabuti rambut putih alias uban yang tumbuh menghiasi kepala nenek Fatimah, maklum faktor umur jadi beruban.


Bagi nenek Fatimah, uban membuat kepalanya menjadi gatal, jadi Bunda mencabuti rambut putih yang menghiasi rambut panjang nenek Fatimah.


"Mau disini, sama bunda dan nenek." ucap Naya ketika sudah duduk di pinggir saung sambil mengayun ayunkan kedua kakinya.


"Kamu gak berangkat kerja, Nay?" tanya nenek Fatimah.


"Nanti, nek. Baru juga jam 1." kata ku sambil ikut mencari rambut putih di kepala nenek Fatimah.


"Apri kemana, Bun?" tanya ku lagi.


"Main mobil-mobilan di rumah Dimas." jawab Bunda.


"Teman kamu Nay, si Surya gak main-main Nay!!! Kemana Nay?" tanya nenek Fatimah yang belakangan ini tidak melihat kehadiran Surya di rumah Naya.


"Surya lagi kerja, nek." jawab ku apa adanya.


"Ubannya gak usah di cabutin apa, nek. Kan nenek makin kelihatan cantik kalo ada uban, nek." ucap ku.


"Bukan cantik, nenek udah tua gini di bilang cantik." kata nenek Fatimah.


"Emak dulu cantik kok. Almarhum baba ajah dulu ampe kelepek-kelepek sama emak." kata Bunda yang ikut menimpali.


"Coba ajah Bunda punya foto waktu nenek masih muda. Jadi penasan nih, kaya apa yah wajahnya nenek?" ucap ku menatap langit cerah sambil membayangkan wajah nenek Fatimah.


"Gak kaya sekarang ya, Nay. Foto lewat handphone juga bisa. Dulu mah foto ajah kudu sama tukang keliling yang suka lewat menaiki sepedah yang mengalungkan kamera di lehernya." kata Bunda.


Aku pun tertawa mendengarnya, "Hihihi, iya,,, ya,, Bun."


Lalu aku pun mengambil handphone yang ada di saku celana ku.


"Tapi biar kata foto lewat handphone. Handphone aku aja masih jadul nih Bun, cuma merk No*** tipe 3315." ujar ku sambil menunjukkan handphone milik ku pada Bunda.


Tangan kanan Bunda berhenti dari aktivitasnya mencabuti uban dari kepala nenek Fatimah. Bunda meraih handphone yang aku tunjukkan pada Bunda.


"Tapi ini juga Alhamdulillah Nay, handphone pertama kamu dari ayah. Ini kan handphone di beliin ayah waktu kamu masih sekolah smk kelas 2 Nay." kata Bunda sambil memperhatikan handphone yang ada di genggaman tangan kanannya.

__ADS_1


"Iya, Bun. Handphone penuh kenangan itu Bun. Inget gak bun, nama julukan charger handphone itu dari Bunda, itu apa?" tanya Naya sambil menunjukkan wajah penasaran pada Bunda.


"Kira-kira, Bunda masih inget gak yah julukan buat itu charger handphone ini?" batin Naya.


"Usus ayam berantakan, Nay." kata Bunda.


Hahaha,, Bunda dan Naya pun tertawa geli mengingat julukan untuk charger handphone milik Naya itu.


Lalu Bunda menyerahkan handphone No*** itu pada Naya. Naya pun meraihnya dan menyimpan kembali ke dalam saku celananya.


Aku pun menghentikan tawa ku, "Kira-kira kapan ya Bun, Naya bisa beli handphone yang ada kameranya?" tanya ku dengan raut wajah yang sedih.


Bunda pun menasehati Naya sambil mengelus punggung Naya pelayan, seraya memberi pengertian pada anak sulungnya, "Yang sabar ya, Nay. Orang susah kalo mau apa-apa itu yaaaa,, harus perih dulu. Gak bisa langsung ada, kecuali kamu punya uang banyak, mau apa ajah, langsung bisa kamu beli."


"Iya, Bun." kata ku sambil menunjukkan senyum termanis pada Bunda.


*******


Sore harinya di resto.


Seperti biasa, bila masuk waktu shalat ashar, ka Tika dan Bu Rani langsung berjalan menuju mushola kecil yang terdapat di macdonald.


Sedangkan Pak Aziz, A Awan dan Tohir berada di belakang tempat pengasapan.


Sedangkan Fifi lagi menyiapkan sambal di bowling stanlis besar, Novi lagi mengguntingi ujung daun yang berwarna kekuningan.


Saking fokus pada kerjaan yang sedang di lakukan, aku pun tidak menyadari jika ada seseorang yang sedang menghampiri ku.


"Permisi, Mbak. Saya mau taro lamaran kerja, bisa gak yah?" tanya seorang pumuda yang tengah berdiri di depan Naya.


Aku pun langsung berdiri, "Tunggu bentar ya. Biar langsung ngomong aja sama supervisornya." kata ku dan berlalu meninggalkan orang itu di tempat ia berdiri.


Aku pun langsung berjalan untuk menghampiri Pak Aziz yang sedang berada di belakang tempat pengasapan.


"Pak, itu ada yang dateng mau ngelamar kerja." kata ku. Sambil berdiri di dekat keran air.


Pak Aziz pun langsung bangun dari tempat ia duduk dan berjalan untuk menghampiri orang yang datang untuk melamar pekerjaan di resto.


Aku pun mengekor di belakang Pak Aziz, tapi beda jurusan. Jika Pak Aziz tujuannya adalah menghampiri orang yang datang untuk melamar pekerjaan, sedangkan aku untuk melanjutkan kegiatan yang sedang aku lakukan, tapi pindah posisi.


Pak Aziz pun mempersilahkan orang yang melamar pekerjaan untuk duduk di meja yang ada di paling belakang dekat dengan pohon beringin, meja keramat karena tempat favorit untuk Pak Pangesta dan Bu Leni saat berkunjung ke resto.


Aku pun langsung menghampiri meja


tempat tadi ku duduk, dan membawa semua buku menu yang ada di atas meja serta mangkuk sambal yang berisi minyak goreng dan kain lap yang ternyata sedari tadi terus ku bawa. Hehehe 😅

__ADS_1


Karena yang datang melamar pekerjaan adalah laki-laki dan memakai kemeja putih serta celana bahan hitam panjang, saat itu juga laki-laki itu langsung di terima untuk bekerja.


Nama laki-laki itu Danu, ia di tempatkan di depan sama seperti ku, Fifi dan juga Novi. Tombak utama resto kalo kata Pak Aziz mah ya, waitres. Hehehe.


Di hari yang sama namun cuma beda beberapa menit, datang seorang laki-laki dengan mengendarai sepedah motornya untuk melamar pekerjaan di resto.


Atas pertimbangan Pak Aziz dan Bu Rani, kali ini orang yang melamar pekerjaan itu di tempatkan di bagian dapur, ia di fokuskan untuk bisa di bagian ayam fillet tepung alias karage dan cumi tepung, tempura.


Jika lagi tidak ada orderan yang bertepung, maka ia bisa membantu Ipul di bagian lain. Nama laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rion, temannya Novi.


.


.


.


bersambung......


terima kasih sudah mampir untuk membaca 😊😊😊 karya receh author


.


.


.


mohon 🙏đŸģ🙏đŸģ🙏đŸģ🙏đŸģ🙏đŸģ dukung karya receh author 😊😊😊😊😊 dengan beri â†Šī¸


.


------> 👍 like


.


-------> âœī¸ komentar


.


-------> vote


.


--------> ⭐⭐⭐⭐⭐


.

__ADS_1


--------> jangan lupa untuk tambahan kan ke dalam list â™Ĩī¸ favorit kamu, biar gak ketinggalan cerita'nya 😊😊😊😊😊


__ADS_2