Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Perempatan Cikini


__ADS_3

"Anak lu noh, yang naro gayung depan pintu!" Seru bunda dengan suara naik 3 oktaf.


Aku nyengir kuda aja deh, hehehe maaf ya yah, gara gara Naya jadi ayah kena semprot bunda, bunda juga harus ganti celananya yang kena air.


"Gegara gayung, pagi pagi udah riweh bener dah ah." Gumam Ani.


🍀🍀🍀


Beberapa hari kemudian.


Jam 2 siang lewat 15 menit aku sudah sampai di perempatan Cikini, tumben banget jalannya macet dengan kendaraan roda 2 dan roda 4, biasanya di jam segini jalanan lancar lancar aja tapi kali ini tidak.


Aku menyebrangi jalan dengan tangan kanan yang merentang ke samping, di rasa mobil yang ada di samping kanan ku sudah berhenti, ya aku jalan dong.


Tapi mau aku sudah berhati hati pun kalo sudah jalannya ada musibah ya mau di kata apa?


Brak.


Chiiiit.


Seorang pengendara motor tau tau nyelonong dari samping mobil yang tadi sudah berhenti, mau dia ngerem pun percuma karena entah gimana caranya kepala ku serasa kaya di giling roda, dari pandangan ku ini langit seakan berputar dan tubuh ku oleng ke kiri terasa saat siku tangan ku membentur aspal dan entah gimana caranya punggung dan kepala ku bisa berciuman dengan ban depan si pemotor itu.


"Woy tolongin tolongin!" Seru bang Boim, ojek yang mengenali ku dan langsung berlari bersama dengan beberapa rekannya menghampiri ku.


Aku masih bisa melihat orang orang itu mengerubungi ku membantu ku berdiri dan berjalan ke pinggiran jalan raya.


Nasib si pemotor yang mau kabur pun langsung di cegah dan di bawa ke pinggir oleh kang ojek lainnya.


"Tanggung jawab, lu!" Kang ojek esmosi dengan memegangi satu lengan si pemotor.


Rekannya meminggirkan motor yang tadi menubruk ku, sambil ngoceh, "Mao maen kabur bae lu, tong, tong!"


"Lu gak apa, neng?" Tanya bang Boim, kang ojek yang aku kenal itu.


"Gak apa apa, bang!" Pala ku sakit, jantung ku berdebar dengan kencang, hawa dingin langsung menyerang tubuh ku apa karena hawa takut apa gimana ya? Entah lah yang jelas aku takut dengan kerumunan, berusaha berdiri sendiri namun tidak bisa.


"Jangan di paksain berdiri, lu lemes ini!" Seru bang Boim, yang seumuran dengan om Nata memegangi tangan ku biar gak oleng.

__ADS_1


"Lu kenal, bang?" Tanya kang ojek satunya yang masih muda.


"Kenal, ponakannya si Nata ini mah!"


Temannya datang dengan membawakan air mineral kemasan gelas plastik, "Nih, kasih minum dulu bang!"


"Minum dulu, neng!" Sambil gemeter aku mencoba untuk meminumnya.


"Biar langsung di anter pulang aja kali, bang!" Ujarnya.


"Itu anak kan gak apa apa, bang! Saya pulang aja!" Seru si pemotor.


"Enak bae lu kalo ngomong! Anterin ini anak pulang dulu! Apa mao lu gua laporin kantor polisi?"


"Iya iya biar gw anterin ini bocah pulang!" Seru si pemotor.


"Ayo neng biar di anter pulang!"


"Tapi Nay mao kerja, bang!" Ujar ku menatap bang Boim.


"Udah izin bae dulu, biar di rumah lu bisa di urut, sekarang mah iya ora sakit, tar malam lu yang ngerasain."


Mereka mengantar ku sampai depan rumah nenek Fatimah yang kebetulan hari itu juga ada om Nata yang lagi meliburkan diri dari kerjaan.


Nenek Fatimah yang sedang duduk dengan alas tikar menghadap halaman rumahnya langsung berseru kaget melihat beberapa motor yang memarkirkan motornya di halaman, kalo satu mah wajar paling numpang naro, ini ada 8 motor dan yang lebih membuat nenek kaget lagi ada aku di sana.


"Ta, Ta, itu si Naya ngapa di anterin ama temen lu ngojek?" Teriak nenek Fatimah yang langsung berdiri.


"Mana si, Mak?" Om Nata langsung ke luar dari kamarnya, "Lah iya itu, ngapa ya?" Om Nata langsung ke luar menghampiri ku dan teman temannya.


Nenek Fatimah langsung lari ke rumah memanggil manggil nama bunda Imah.


"Imaah, Imaaah, ke luar Iiiim...ini si Naya di anterin pulang Im ama temennya Nata." Nenek berdiri di depan pintu.


"Apaan si, Mak? Naya lagi kerja, belom lama dia berangkat." Sanggah bunda Imah yang belum tahu aku di antar pulang sama temennya om Nata.


Nenek Fatimah menarik tangan kanan bunda Imah ke rumah nya, "Onoh, anak lu si Naya di anterin ama bocah ngojek, luh liet dah rumah gua rame!" Nenek Fatimah udah heboh, kalut melihat cucuknya pulang dengan di antar banyk orang.

__ADS_1


Kang ojek yang kenal dengan bunda, langsung berseru, "Lah lu, pok ada dimari?" Tanya bang Dul.


"Lah ya itu yang kita anterin tadi pan anaknya mpok!" Seru bang Baim pada temannya.


"Iya, ini ada apaan ya?" Bunda tidak melihat beredaan ku di luar, karena aku langsung di bawa masuk ke dalam rumah nenek Fatimah dan duduk bersandar dengan bantuan bantal di punggung, ke dua kaki ku di luruskan sama Om Nata.


Manset tangan yang aku kenakan juga sudah aku lepas, di suruh om Nata dan benar saja, ada darah di siku hingga lengan kiri ku yang mengalir saat tersentuh aspal.


Celana ku? Dengkulnya robek, yang aku heran kok bisa kancing baju ikut lepas, sekencang apa tadi itu motor menggiling ku, tengkuk leher ku begitu terasa sakit kalo kata om Nata ada memar, mungkin kena roda ban motor.


"Ya Allah, Naya...ngapa lu? Biasanya juga ora gini pan lu!" Bunda duduk di sebelah kanan ku, mengecek lengan, kaki, wajah, kepala dan punggung ku dengan menyingkap baju belakang ku.


Aku menunjuk tengkuk leher ku, "Yang ini sakit, bun!" Seru ku.


Bunda langsung melihatnya, "Mak, minyak kelapa ma!" Seru bunda.


Nenek Fatimah langsung mengambilnya dan memberikannya pada bunda, bunda langsung mengoleskannya pada tengkuk leher ku.


"Kaki Naya ada yang sakit gak?" Tanya bunda khawatir.


Aku menggeleng, "Cuma perih, bun... pala Naya sakit sama ini!" Aku mengusap punggung ku.


Aku merebahkan tubuh ku di atas tikar dengan memiringkan badan ke kiri, tangan kiri juga aku rentangkan bagian yang luka sudah di kasih obat merah sama om Nata.


Bunda mengolesi punggung ku dengan minyak kelapa, perih perih adem, dengan posisi ku yang seperti ini aku dapat menatap pria yang tadi menabrak ku tengah di sidang sama om Nata dan temannya juga ikut menjelaskan kronologinya.


Kalo di liet cakep juga itu orang, bening, tapi sayangnya lu menyeruduk gw tadi bang, coba aja lu tadi gak nyeruduk gw pake motor lu, ora bakalan lu di omelin ama om gw, gw juga ora bakalan pulang lagi, pasti gw lagi priper ini di resto.


Tanpa terasa ke dua mata ku terpejam.


Bunda langsung mengabari Ega lewat telpon ku, bahwa aku gak bisa masuk kerja karena musibah ini.


Bersambung...


...💖💖💖💖💖...


Jangan lupa dukung author dengan like dan komen 😊😊

__ADS_1


Salam manis 😊


__ADS_2