
Naya duduk di teras rumah sambil selonjoran, dengan tangannya tengah asik bermain game ular dari handphone sambil menunggu bunda yang masih sibuk di dalam.
"Bunda masih lama?" suara teriakan Naya dari luar, biar bunda bisa mendengar suara Naya yang lagi duduk di teras.
"Apa sih Nay, teriakan kamu itu looh. Anak gadis ko teriak- teriak. Udah kaya di utan aja kamu nih." cerocos bunda mengomel. Dengan tangan kanan membawa sukun goreng.
"Aaaaah bunda. Udah napa ngocehnya. Kan kirain Nay, bunda masih di dalam bersemedi." ucap Naya sambil cekikikan geli melihat buda ngomel.
"Bunda, itu bawa apaan?" tanya Naya penasaran.
Lalu bunda ikut duduk berselonjor di atas teras, sambil meletakkan piring berisi sukun goreng di atasnya.
"Kamu panggil nenek Fatimah gih, Nay!!!" perintah bunda.
"Ngapain, bun?" tanya Naya.
Dengan tangan kanan Naya mengambil sukun goreng dari atas piring, dan tangan kiri memainkan handphone yang kini sudah di letakkan di atas teras dekat Naya duduk. Lalu Naya mulai memasukkan ke dalam mulut dan menikmati sukun goreng bunda.
"Astaghfirullah Naya. Udah gede masih kaya bocah. Malu sama umur, Nay." bunda mengomel sambil ikut makan sukun yang di bawahnya.
"Apa lagi sih bun?" tanya Naya dengan santainya.
"Taro dulu apa itu hp kamu, Nay." kata bunda.
"Tadi bunda... nyuruh kamu apa ya, Nay?" tanya bunda lagi.
Sejenak Naya berfikir sambil mulutnya mengunyah dan berhenti memainkan game pada handphone miliknya.
"Apa ya bun?" tanya Naya. yang memang lupa dengan perintah bunda.
Pletak... jitakan di kening Naya di daratkan bunda.
"Auuu, sakit bun. Itu tangan apa batu sih bun?" sambil mengusap keningnya yang kena jitakan maut bunda.
"Hp mulu sih dari tadi..." ucap bunda. "Udah sanah panggil nenek Fatimah." ucap bunda lagi saat inget dengan perintahnya untuk Naya.
Mau tidak mau, Naya pun menghentikan aktivitasnya dari bermain game d handphone dan meninggalkannya di tempat ia duduk tadi.
Naya bangun dari duduknya dan berjalan menuju rumah nenek Fatimah yang bersebelahan dengan rumahnya.
Tidak berapa lama Naya datang bersama dengan nenek Fatimah yang berjalan di belakang Naya.
Empat puluh menit kemudian 🌹🌹🌹🌹
Surya sampai di depan rumah Naya dan melihat pintu rumah Naya terbuka lebar.
"Assalamualaikum..." ucap Surya, lalu duduk di teras rumah Naya.
Naya yang sedang rebahan di atas kasur empuk dengan bermain game ular pun langsung menghampiri keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.
"Waalaikum salam..." ucap Naya saat sudah di dapan pintu dan melihat Surya yang sedang duduk di teras.
babang Surya cape abis jalan, langsung cengar cengir liet Naya 🙈🙈🙈
"Lah kamu, kesini?" tanya Naya.
"Iya, emang kamu maunya aku kemana?"
"Udah niet dari rumah mau kesini ya, yank?" tanya Naya sambil melihat jam yang ada di handphone miliknya.
"Tumben cepet, biasanya ampe sini satu jam. Lah ini 40 menit doang." tanya Naya dalam hati.
__ADS_1
"Ya iyalah dari rumah. Mumpung midel, emng gak kangen giti sama aku?"
"Emmm, berarti kemaren- kemaren... kamu mampir kemana dulu?" tanya Naya curiga.
"Yaaa itu, langsung kesini lah." ucap Surya dengan gugup.
"Yakin..?" selidik Naya dengan tatapan tajam.
"Iya lah. Aku aus nih... Gak di kasih minum apa?" ngeles Surya biar Naya tidak curiga.
"Tunggu bentar."
Naya meninggalkan Surya di depan rumah dan Naya masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan sebotol minuman dingin beserta cemilan sukun yang tadi bunda goreng.
"Langkah kamu kanan, nih tadi bunda abis goreng sukun."
Naya meletakkan sepiring sukun goreng dan juga sebotol air dingin dan gelas kosong.
Surya meraih gelas kosong yg tadi di bawa Naya dan menuangkan air putih dingin ke dalam gelas. Lalu menengguknya sampai habis.
"Aus amat?" tanya Naya yang melihat Surya menghabiskan segelas air putih dingin sekaligus.
"Iya aku aus banget nih, jalan aja buru-buru."
"Ngapain buru-buru?" tanya Naya sambil memperlihatkan ujung celana hitam bahan yang di kenakan Surya.
"Pengen cepat ketemu kamu lah. Emang kamu ga kangen apa sama aku?" tanya Surya sambil merogoh saku celana dan meletakkan handphonenya ke atas teras dekat ia duduk.
"Ya kangen lah. Cuma mau gimana lagi. Kan sekarang kamu kerja, aku juga kerja belum ada sif-sifa nya." keluh Naya.
Naya pun berdiri dan berniat masuk ke dalam rumah lagi.
"Kamu mau kemana, Nay?" tanya Surya saat Naya sudah di depan pintu.
"Buat apaan Nay?" tanya Surya dengan polosnya.
"Buat jait mulut kamu biar ga bohong." ucap Naya lalu pergi meninggalkan Surya lagi.
"Et bujuk dah. Sadih amat ya cewe gua." ucap Surya yang tidak di dengar Naya.
"Loh Surya, kapan datangnya?" tanya bunda saat melihat Surya.
"Baru aja, bun."
Surya berdiri dan meraih tangan kanan bunda dan mencium punggung tangan kanan bunda.
"Kamu gak berangkat kerja?"
"Entar bun. Dari sini nanti langsung jalan ke tempat kerja."
"Oooh ya udah, bunda tinggal dulu ya ke dalam." ucap bunda.
Bunda masuk ke dalam rumah dan melihat Naya yang tengah berjalan dengan membawa benang, gunting dan jarum.
"Buat apa itu, Nay?" tanya bunda saat berpapasan dengan Naya.
"Buat jait mulut Surya, bun." ucap Naya dengan entengnya.
"Astaghfirullah, Nay." bunda terkejut dengan jawaban Naya.
"Ahahaha bunda. Biasa aja ah lietnya." tawa Naya saat melihat ekspresi wajah bunda.
Naya duduk di depan Surya, sedangkan Surya masih betah menatap Naya dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Astaghfirullah, beneran nih si Naya mau ngejait mulut gue? eeet nasib gue gini amat ya..." batin Surya dengan tangan kanan menutup mulutnya sendiri.
"Kamu kenapa, yank?" tanya Naya yang melihat tingkah Surya.
"Ihihihihi pasti Surya mikirnya aku beneran mau jait mulutnya. Hahaha." dalam hati Naya.
"Aku gak akan bohong lagi, Nay." ucap Surya spontan saat melihat Naya mulai memasukkan benang ke dalam lubang jarum tangan yang di bawahnya.
"Emang kamu bohong apa, yank?" tanya Naya heran.
"Aku ---" belum selesai Surya dengan kata-katanya, Surya di buat terenyah dengan sikap Naya.
Naya meraih ujung celana bahan hitam yang sedang di kenakan Surya, dan mulai menjaitnya dengan jarum tangan yang ia pegang.
"Kenapa gak di jait di rumah sih?" tanya Naya.
"Aku gak bisa ngejait." ucap Surya.
"Ko bisa lepas gini jaitannya?" tanya Naya lagi.
"Ya ke injek kaki aku sendiri." jawab Surya.
"Tadi kamu bilang gak bohong lagi. Emang kamu bohong apa?" tanya Naya sambil matanya fokus pada ujung celana yang sedang ia jait dengan tangan.
"Kamu gak malu punya pacar cleaning servis, Nay?" tanya Surya lirih.
"Gak. Tadi Maya nyuruh aku maen ke rumah nya." ujar Naya.
"Terus.?"
"Yaaa, aku lupa jalan buat ke rumah Maya. Maya bilang kamu pernah ke rumah nya."
"Iya pernah."
"Kamu ngapain ke rumah Maya?"
"Ya maen aja."
"Kamu maen kesana, malam apa sore?" tanya Naya yang mulai curiga.
"Malam sama temen aku."
"Apel Maya, lu ya?" tebak Naya.
Tebakan Naya tepat menusuk hati Surya.
Hingga Surya bingung harus jawab apa.
"Tuh kan bener." tebak Naya lagi yang tidak mendapatkan jawaban dari Surya.
"Ituh kan dulu. Kalo sekarang ya cuma kamu, Naya seorang."
maaf ya baru update 🙏🙏🙏
mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊 dengan beri....
\=\=\=> 👍
\=\=\=\=>✍️
\=\=\=>♥️
\=\=\=\=>⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
\=\=\=>🎁