Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 127


__ADS_3

☀️☀️☀️


Matahari yang terik menyinari alam semesta.


Ani yang lagi libur sekolah pun kini ada di rumah berkumpul bersama dengan bunda, Naya dan Apri sambil menonton televisi di selingi dengan canda tawa di atas kasur.


"Oh iya, tar Naya berangkat jam setengah sebelas nih, bun!" ucap Naya.


"Dih, tumben amat Nay? biasa juga setengah dua kamu baru jalan." bunda yang heran dengan jam kerja Naya.


"Au nih kaka, emang ada apaan di resto ka? kerja di resto enak kaga ka?" tanya Ani.


"Ada enak, ada gaknya." jawab Naya.


"Enaknya ngapa, ka?" tanya Ani.


"Dapet uang tips, ketemu artis." jawab Naya.


"Kaga enaknya?" tanya Ani lagi.


Kena omelan bos, kena omelan customer." jawab Naya lagi.


"Kamu udah nyiapin baju kerja kamu, Nay?" tanya bunda yang mengingatkan Naya.


"Udah, bun." Naya meraih hape dan mengetik pesan.


"Kamu lagi apa, yank?" tanya Naya lewat pesan yang ia kirim ke nomor Surya.


Naya menaruh kembali hape di dekatnya.


"Terus, entar kamu pulang jam berapa Nay?" tanya bunda.


"Jam 7 malam, bun." jawab Naya.


"Oh, ya udah.. tar bunda suruh ayah kamu buat jemput jam 7 ya?" tanya bunda lagi memastikan jawaban Naya.


"Iya, bun." jawab Naya.


Dreet, dreet.


Naya meraih hapenya lagi. Ada tanda pesan masuk dengan nama 'yank', senyum pun tersungging di bibirnya Naya.


"Masih kerja.. entar kalo mao berangkat, jangan lupa kabarin." pesan dari Surya.


"Imaaaah." suara nenek Fatimah yang memanggil bunda.


"Iya, dulu." bunda membalas suara teriakan nenek Fatimah.


Bunda pun langsung bangun dari duduknya dan berjalan ke rumah nenek Fatimah.


Tinggal lah Naya, Ani dan Apri di kamar.


"Sekolah, gimana Ni? pelajarannya gampang apa susah?" tanya Naya.


"Ada yang gampang ada juga yang susah, ka." jawab Ani.


"Kalo temennya, gimana Ni?" tanya Naya lagi.


"Baik, beda ama temen SD ama SMP... nyebelin." ucap Ani ketus.


Ani ini paling sensitif kalo bahas temen, maklum aja sering kena bully masalah fisik, itu alasannya saat Ani tau tidak ada teman SMPnya yang masuk ke sekolah SMK negeri Purnama, Ani pilih masuk sekolah itu, makin banyak yang tidak ia kenal, itu lebih baik, pikiran Ani mah, meski harus berjalan kaki karena angkutan yang tidak sampai ke sekolah nya.


"Bunda, ngapain ya?" tanya Apri.


"Mana kaka tau, Pri." jawab Naya.


Apri turun dari kasur dan berjalan keluar.


"Apri, mao ke mana?" tanya Ani.


"Mao ama bunda." jawab Apri.


"Susul yu, Ni!" Naya mengajak Ani menyusul bunda yang ada di rumah nenek Fatimah.


"Haaaayo." jawab Ani.

__ADS_1


Ani jalan duluan ke rumah nenek Fatimah meninggalkan Naya yang sedang mematikan televisi dan kipas angin. Setelah televisi dan kipas angin mati, baru Naya menyusul Ani.


Baru sampai depan pintu, Naya balik lagi ke kamar.


Naya menyambar hape yang ada di atas kasur, "Ini dia, hampir aja lupa."


Naya menggenggang hape dan membawa serta ke rumah nenek Fatimah, tidak lupa Naya juga menutup pintu.


"Panjang umur lu Nay, sini-sini." ucap bunda yang menyuruh Naya untuk duduk.


Sudah ada Ani, nenek Fatimah, dan bunda yang lagi duduk sambil menikmati nasi berkat dari tetangga.



"Itu mah nasi box, bun." sanggah Naya.


Naya ikut duduk dan ikut makan nasi nox bersama dengan Ani dan juga bunda.


"Sini bae luh, lu makan ama nenek." pinta nenek Fatimah sambil mendekatkan nasi box nya ke depan Naya.


"Gak ah, tar nenek gak kenyang." tolak Naya.


"Ini bae udah, kesian tar bunda lu ora kenyang kalo makan bertiga." ucap nenek Fatimah sambil membujuk Naya dengan tangan kanannya menepuk lengan Naya.


Naya menatap Ani, yang mengerti pun langsung mengangkat bahunya ke atas.


Naya cemberut melihat respon Ani.


"Udah turutin aja Nay, nenek kamu gak bakal berenti ngoceh kalo belum di turutin." ucap bunda yang tau kebingungan hati Naya.


Naya pun makan dari nasi box nenek Fatimah.


"Apri, gak ikut makan bun?" tanya Naya yang malah melihat Apri anteng duduk di depan televisi yang ada di rumah nenek Fatimah.


"Apri kaga mao Nay, masih kenyang katanya mah." jawab bunda.


"Enak kan?" tanya nenek Fatimah.


"Apa juga yang dikit, pasti enak emak." jawab bunda.


"Ini yang namanya bagen dikit, jadi darah." jelas nenek Fatimah meluruskan.


"Hahaha, iya Ni ya? yang penting kenyang." jawab Naya.


Nenek Fatimah bangun dari duduknya.


"Nenek, mao kemana nek?" tanya Naya.


"Dulu, gua mao ngambil bakul nasi." jawab nenek Fatimah yang berjalan ke dapur.


"Buat siapa, emak?" tanya bunda.


"Kali bae lu makannya pada kurang, kan bisa nambah." ucap nenek Fatimah yang sudah kembali dan ikut duduk lagi dengan membawa bakul nasi.



"Enak kan, kalo makan bareng-bareng?!" ucap nenek Fatimah yang kini menyendokkan nasi ke box dirinya dan juga bunda yang makan bersama dengan Ani.


"Nenek gak bawa sekalian aer minum, nek?" tanya Ani yang kini merasa haus.


"Hus, kamu tuh.. ambil dewek gih di rumah... sekalian bawa ke sini, bunda juga mao." ucap bunda yang juga merasa tenggorokan nya minta di siram dengan air minum.


"Iiih bunda mah sama bae kaya Ani." ucap Ani.


Naya bangun dari duduknya dengan tangan kiri menggenggang hape.


Kaga mao ketinggalan tuh si Naya ama hapenya.


"Mao kemana lu, Nay? sini madang dulu." bujuk nenek Fatimah yang melihat Naya bangun dari duduknya.


"Entar dulu, Naya mao ambil minum di rumah." jawab Naya.


"Ngapain di rumah, noh ambil ketel gih di dapur." ucap nenek Fatimah yang malah menyuruh Naya untuk ambil ketel.


"Ogah ah, enakan aer yang di rumah." tolak Naya yang langsung berjalan pulang, Naya lebih suka minum air dari dalam kulkas.

__ADS_1


"Air minum emak mah ora dingin." ucap bunda yang tau alasan Naya enggan ke dapur untuk mengambil ketel.


"Eeeet dah, bocah jaman sekarang... orang dulu mah ya mao minum dingin tuh dari kendi." jelas nenek Fatimah.


"Itu mah jamannya emak, beda ama anak jaman sekarang... gaya, dari kulkas." jelas bunda.


"Apri, tong... ambilin nenek aer kek, aus ini." ucap nenek Fatimah yang tenggorokan nya merasa kering.


"Emmm, ehem emmmm, ehem." suara nenek Fatimah yang benar-benar sudah kering tenggorokan nya.


Bunda langsung bangun dan menuangkan air dari ketel ke dalam gelas.


"Ni, emak." ucap bunda sambil menyodorkan gelas berisi air teh tawar pada nenek Fatimah.


Nenek Fatimah langsung meminum air nya.


"Eeek, lega gua." ucap nenek Fatimah yang sudah bersendawa.


"Alhamdulillah, emak aya kenyang juga." ucap bunda.


"Ihihihi, nenek ada-ada bae." ucap Ani yang mendengar nenek Fatimah bersendawa.


"Lama amat lu, Nay? kelep apa tidur dulu di rumah?" tanya bunda yang merasa Naya lama untuk mengambilkan air minum dingin di botol.


Bunda langsung menyambar botol minum yang di bawa Naya dan langsung menenggaknya.


"Kan tadi sekalian ngisiin botol minum yang kosong." jawab Naya.


"Alesan bae, paling tadi bales pesan masuk dulu tuh dari si ayang embeb." ledek Ani.


"Apa bae, Ni." sanggah Naya.


Flashback


Naya di rumah saat mengambil botol minum.


Dreet... dreet..


Naya mendapat pesan dari Surya.


"Kamu lagi apa, yank?" tanya Surya.


"Lagi ngambil botol minum.. tadi lagi makan di rumah nenek." balas Naya.


"Enak ya lagi makan, makan apa yank?" tanya Surya lagi.


"Makan nasi berkat di rumah nenek." balas Naya.


"Makan yang banyak ya, biar montok...biar enak nanti malam aku peluknya 😁😁." balas Surya.


"Apa bae luh kata, guling noh lu peluk." balas Naya.


"Mao kan di peluk? enak tau, anget." balas Surya.


"Peluk bae noh belakangnya kulkas, juga anget kan?!" balas Naya.


🤣🤣🤣 Ani tau bae kalo Naya abis berbalas pesan ama si Surya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


bersambung...


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊


mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️


...like...


...komen...


...vote...


...favorit'in novel ane...


...🌹 yang di nanti...

__ADS_1


...☕ yang di tunggu...


...🌺🌺🌺salam manis🌺🌺🌺...


__ADS_2