
"Goroh bae luh, ngaku bae kalo Surya mah." pesan yang Naya kirim.
"Siapa tuh Surya? saya gak kenal Surya." balasan dari orang yang mengaku Bayu alias 085298****.
Naya tidak membalas pesan nya lagi, mengabaikan nya dan memilih matanya terpejam karena hembusan dari kipas angin yang menyala di kamarnya.
☀️☀️☀️
Siang harinya ayah pulang ke rumah untuk istirahat, ayah selalu menyempatkan diri untuk pulang dan makan di rumah jika tempat kerja ayah dekat.
Ayah mengambil kantong plastik yang mencantel di gantungan motornya lalu turun dari motor dan berjalan ke teras rumah melepas sepatu nya lalu melepas jaket yang ayah kenakan, tidak lupa menjembreng jaket di jemuran bambu.
"Assalamualaikum." ucap ayah sambil masuk ke dalam rumah, mencari bunda di kamar.
"Sepi amat, Imah mana?" tanya ayah yang tidak mendapati bunda di kamar.
Ayah melihat Naya di kamar yang lagi tiduran dengan televisi menyala, di pikir ayah.. Naya lagi nonton televisi.
"Naaay.. ayah bawa gorengan nih.. mao kaga?" tanya ayah tapi tidak mendapat jawaban dari Naya.
Ayah pun menundukkan badanya dan melihat wajah Naya, matanya terpejam rapat, "Pantesan kaga nyaut, bocahnya tidur." ayah pun langsung mematikan televisi.
Ayah menaruh kantong plastik ke atas meja dekat dispenser.
"Imah, di rumah emak kali ya?" tanya ayah pada dirinya sendiri.
Ayah membuka kulkas, lalu mengambil botol minum yang berisi air dingin, lalu ayah meminumnya.
"Ayaaaah." panggil Apri dari luar rumah.
Ayah langsung melihat ke luar rumah, "Dari mana Pri?" tanya ayah yang melihat Apri berlari ke arah rumah.
"Dari warung, ayah tadi Apri panggil-panggil gak berenti." Apri langsung duduk di lantai dengan tangan memegang jajanan.
"Apri, beli apaan itu?" ayah ikut duduk di lantai dengan Apri sambil mengusap punggung Apri dengan sayang.
"Ini yah?" ucap Apri sambil menunjukkan nya pada ayah sebungkus chiki, "ciki yah, nanti ada hadiah.. abang Sandi dapet mobil yah." celoteh Apri.
"Bunda, kemana Pri?" tanya ayah.
"Ada tuh, rumah nenek."
Bunda muncul dari samping teras rumah nenek Fatimah. Melihat ayah yang sedang duduk di teras bersama dengan Apri.
"Lah aya ora tau luh pulang, bang!" seru bunda sambil berjalan ke rumah untuk menghampiri ayah dan juga Apri.
"Gua pulang juga baru." ucap ayah, "Gua kata luh di dalem, lah kapan kaga ada." ujar ayah lagi yang tadi tidak mendapati bunda di dalam rumah.
"Abis dari rumah, emak." bunda langsung masuk ke dalam rumah melihat bungkusan plastik di atas meja.
"Apaan nih, bang?" tanya bunda sambil membuka iketan pada plastik.
"Itu, gorengan.. Im, kopi kek." pinta ayah pada bunda untuk membuatkan kopi.
"Beli dimana, bang?" tanya bunda saat melihat isi dalam plastik adalah gorengan pisang, bakwan dan tahu.
"Ora beli, di bagi ama si mpok."
"Eeet ora ada tempe apa, bang!" seru bunda sambil memakan pisang goreng yang ada di tangannya sambil berjalan ke luar dan duduk di teras rumah bersama dengan ayah dan juga Apri.
__ADS_1
"Yang di tanyain, tempe tapi pisang goreng di makan juga." batin ayah yang melihat bunda memakan pisang goreng nya.
"Apri, mao bun." ucap Apri.
"Noh, ambil dewek Pri." ucap bunda.
"Di bagi, bang? bae bener itu orang.. luh kasih apaan bang?" tanya bunda penuh selidik sambil memicingkan matanya.
"Huus, ngaco luh kalo ngomong.. gua mangkas pohon di deket warungnya, itu di bagi buat luh." sarkas ayah.
"Lah dia kenal aya, bang?" tanya bunda lagi yang makin di buat penasaran.
"Kaga, tapi kenal empok Nap." ucap ayah.
"Kok bisa?"
"Orang tetangganya mpok Nap."
"Oooooh."
"Naya ora luh bangunin?"
Bunda tidak menjawab dan langsung bangun dari duduknya.
"Mao kemana, Im?" tanya ayah yang melihat bunda bangun dari duduknya.
"Bangunin Naya, buatin kopi.. mao ngikut?" ujar bunda sambil meledek ayah.
"Dari tadi kek kopi." keluh ayah.
"Apri udah makan?" tanya ayah pada Apri.
👩👧
"Eeem." Naya mengulet.
Melihat Naya yang mengulet, bunda langsung mengambil kopi saset dari dalam lemari box.
"Naaay, udah siang.. sholat johor Nay." omel bunda dengan suara khas emak-emak ngedumel.
"Iya, Naya melek tuuh." ucap Naya sambil berusaha memaksa matanya terbuka.
"Cuci muka, terus sholat zuhur.. noh ayah bawa gorengan di meja." bunda meninggalkan Naya yang masih rebahan di kasur.
Bunda mengampil panci kecil lalu mengisi air dan memasaknya.
Menuangkan bubuk kopi saset ke dalam gelas, menunggu air mendidih untuk menyeduh kopi.
"Naaaay.. bangun luh." teriak bunda dari dapur.
"Iya bun.." jawab Naya dari dalam kamar. Naya meraih hapenya dan melihat pesan yang masuk.
"Aku lagi kerja, kemaren hape mati.. aku langsung tidur." pesan dari Surya.
"Syukurlah, kirain ngambek.." batin Naya yang merasa tenang saat membaca pesan dari Surya. Naya langsung mengetik pesan.
"**Kalo sekarang lagi ngapain?" tanya Naya lewat pesan singkatnya.
"Aku lagi ngasoh dulu, curi waktu bbuat bales pesan kamu." Surya.
__ADS_1
"Kok tadi berangkat kerja, kamu gak ngabarin aku?" tanya Naya lewat pesannya.
"Iya maaf, aku tadi pagi ke siangan, jadi buru-buru." jawab Surya lewat pesannya.
"Kamu kerjanya hati-hati ya, yank!" Naya.
"Iya, aku lanjut kerja lagi." pamit Surya sebelum memulai kerjaannya lagi.
"Iya." balas Naya**.
"Akhirnya ini hati lega juga, udah dapet kabar dari dia." gumam Naya sambil senyum- senyum sendiri.
Bunda berhenti di depan kamar Naya dengan tangan kanan membawa kopi panas yang baru saja di seduh.
"Kamu kenapa Nay?" tanya bunda yang melihat Naya senyum-senyum sendiri.
"Hehehe, kaga bun." jawab Naya dengan senyum kudanya.
Bunda melanjutkan jalannya lagi ke luar rumah.
"Nih, yah kopinya." ucap bunda sambil meletakkan segelas kopi dengan di tatakin piring kecil di atas lantai depan ayah duduk.
"Makasih ya bun." ucap ayah.
"Iya, yah."
Ayah mengaduk kopinya dengan sendok yang sengaja bunda letakkan di dalam gelas. Lalu ayah menuang kopi sedikit demi sedikit ke piring, ayah meletak'kan gelas kopi di lantai. menyeruput kopi dari piringnya.
"Sedep nyah." ujar ayah saat menikmati kopi buatan bunda.
"Naya udah bangun, bun?" tanya ayah lagi.
"Udah."
Naya mencomot tahu goreng lalu ke luar untuk duduk berkumpul bersama dengan ayah bunda dan Apri.
Naya duduk di dekat bunda.
"Kaka, makan apa?" tanya Apri yang melihat Naya memakan gorengan.
"Tahu goreng."
"Mao." ucap Apri.
"Tar kaka ambilin." ucap Naya yang langsung berdiri dan membawa plastik berisi gorengan ke teras rumah.
"Ini bocah moodnya udah bae lagi nih." batin bunda yang melihat Naya.
"Ini, Pri." sambil meletakkan plastik berisi gorengan ke depan Apri, bunda dan juga ayah.
"Ini baru enak, gorengan di temenin kopi." ucap ayah yang sudah mencomot bakwan.
"Panggil nenek gih Nay, suruh ke sini." perintah bunda.
"Iya." tanpa bantahan, Naya berjalan ke rumah nenek Fatimah yang letaknya bersebelahan.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
bersambung....
__ADS_1
terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author 😊😊
mohon 🙏🏻🙏🏻 dukung karya receh author 😊😊 dengan cara ↩️