Cinta Tak Terpisahkan

Cinta Tak Terpisahkan
Cinta Tak Terpisahkan 44


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, setelah selesai sarapan ayah dan Ani beranjak dari rumah untuk memulai rutinitas seperti biasa. Ayah berangkat kerja sambil mengantar Ani untuk bersekolah.


Sedangkan Apri kali ini tengah menonton acara kartun ben 10 di kamar Naya dan Ani, karena di kamar itu lah terdapat kipas angin yang kencang bila di bandingkan dengan kipas angin yang berada di kamar bunda.


"Kamu ngapain, Nay?" tanya bunda saat di ambang pintu kamar mandi.


"Nyuci baju, bun." ujar Naya. Sambil tangannya memasukkan baju yang ada di ember kotor ke dalam bak yang sudah di isi air.


"Sekalian ya, tolong baju yang laen juga di cuci. Bunda mau libur dulu nyucinya. Hehehe." ucap bunda.


"Beres, bun."


"Kamu udah mandi, Nay?"


"Tar ajah lah bun, kalo udah beres nyuci, jemur baju, baru deh mandi."


"Bundaaaa, mimi." suara teriakan Apri yang minta susu.


"Bayi gede bunda noh, udah bunyi." ledek Naya saat mendengar suara teriakan Apri.


"Ade kamu juga kaya gitu Nay." kata bunda.


"Ahahaha, iya juga ya. Adek aku kaya gitu juga." tawa Naya.


Bunda pun berlalu meninggalkan Naya dengan baju yang akan di cuci Naya.


Sedangkan asik mencuci terdengar beberapa kali suara pesan masuk ke hape Naya dan 2 kali panggilan masuk yang tidak terjawab.


"Nayaaaa, hape kamu bunyi terus itu." suara teriakan bunda.


"Iya bundaaaa." balas teriak Naya.


"Ganggu ajah sih nih orang, siapq lagi yang sms sama telpon. Bawel banget sih. Ganggu orang lagi nyuci baju aja." gerutu Naya, sambil berjalan ke kamarnya dengan menghentakkan kedua kakinya.


Siapa yang gak kesel coba? lagi asik nyuci pake tangan, udah gitu duduk pake bangku pendek alias jengkol, harus ninggalin cucian yang ada sebak harus di tinggal dulu buat liet siapa yang ngirim sms di tambah ada yang telpon. Ganggu aja. Begitu pikir Naya ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


"Lah kapan ada bunda, kenapa ga di angkat tadi waktu ada yang telpon, bun?" tanya Naya, saat sudah berada di depan pintu kamar melihat bunda sedang tiduran di atas kasur bersama dengan Apri.


"Kan bunda lagi ngelonin Apri ini Nay." ucap bunda.


"Ya au bun."


Aku pun mengambil hape yang tadi di letakkan di atas lemari box dekat kipas angin. Di layar terdapat dua panggilan tak terjawab dan 6 pesan masuk.


"2 Panggilan tak terjawab dari Surya, astaga ini bocah gak sabaran amat sih, mau ngapain coba? Pesan dari siapa lagi nih. Ya au." ucap Naya dalam hati.


"Siapa Nay, yang telpon?" tanya bunda yang di buat penasaran.


"Surya, bun." jawab Naya sambil duduk selonjoran di lantai kamar.


๐Ÿ’Œ Surya


pagi yank? (โ—โ€ขแด—โ€ขโ—)โค


๐Ÿ’Œ Surya


kamu lagi ngapain yank? (ใƒปoใƒป)


๐Ÿ’Œ Surya


kamu lagi apa sih? sms aku gak di balas (๏ฝกล๏นล)


๐Ÿ’Œ Surya


sayang, nanti jadi gak ke rumah Maya?


๐Ÿ’Œ Surya


Lagi sama cowok lu ya?, maaf dah ganggu.


๐Ÿ’Œ Surya


sorry ganggu waktu lu.


Kira-kira begitu isi pesan yang masuk ke hape Naya, semua yang mengirimnya adalah Surya. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ Seneng apa kesel tuh sih Naya bacanya?


"Astaga ini orang, pikirannya negatif mulu." ucap Naya.


"Kenapa Nay?" tanya bunda yang mendengar perkataan Naya.


"Oh ini bun. Emmm anu. Bocah sms." jawab Naya gugup.


Gimana gak gugup, bunda pasti tanya siapa yang ngirim. Apa lagi kalo bunda tahu siapa pengirimnya dan apa yang di pertanyakan. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

__ADS_1


"Ngirim apaan, Nay?" tanya bunda lagi.


"Gak penting, bun."


"Dari siapa, Nay?"


"Ah elah, bener bae bunda nanya siapa yang ngirim." ucap Naya dalam hati sambil menepuk jidatnya dengan tangan kirinya.


"Dari Surya ya, Nay?" celetuk bunda.


"Iya."


"Oooooh, bilang kamu lagi nyuci baju. Ribet amat gitu doang juga."


"Iya, bun."


Naya pun mengetikkan balasan pedan ke Surya.


๐Ÿ’Œ Naya


aku tuh lagi nyuci baju. jangan mikir yang aneh-aneh kalo gak tau.


๐Ÿ’Œ Surya


Bilang kek sebelumnya. Kan aku jadi gak salah paham gini.


๐Ÿ’Œ Naya


Lah ya kamu aja gak mikir, masih pagi mikirnya udah jelek bae ke orang.


๐Ÿ’Œ Surya


Iya, maaf ya aku mikirnya jelek ke kamu.


๐Ÿ’Œ Naya


Au ah gelap. aku mau lanjut nyuci lagi. belum beres.


๐Ÿ’Œ Surya


Iya, hati-hati ya sayang.


๐Ÿ’Œ Naya


Iya


๐Ÿ’Œ Surya


"Au amat, lebay luh." batin Naya.


Naya tidak membalas pesan yang terakhir Surya, dan memilih meletakkan kembali hapenya ke tempat semula, di atas lemari box dekat kipas angin.


"Kamu mau kemana, Nay?" tanya bunda.


"Nyuci lagi, bun."


"Belom kelar?"


"Belum." ucap Naya, dan berlalu meninggalkan bunda. Baru dua langkah bunda sudah memanggil lagi.


"Naaay." panggil bunda.


"Apa lagi, bun?" tanya Naya sambil menengok ke arah bunda.


Bunda menyodorkan botol susu yang sudah tandas tak tersisa ke arah Naya.


"Sekalian cuciin ya."


"Iya bos." Naya mengambil botol susu yang di sodorkan ke arahnya.


"Anak buah yang nurut. Besok naek gaji, ya?"


"Naek gaji dari mana sih bun, gaji pertama aja belum nerima... masa udah naek gaji?" Naya melanjutkan langkahnya ke kamar mandi untuk melanjutkan mencuci baju yang sempat tertunda dan di tambah lagi sekarang harus mencuci botol susu Apri.


Saat sampai di kamar mandi, Naya mencuci botol susu Apri lebih dulu. Lalu setelah bersih Naya meletakkannya di dalam toples yang menggantung di kamar mandi yang di gunakan untuk menaruh sikat gigi, pasta gigi, botol sampo tanpa menggunakan tutup toplesnya.


Naya pun berjongkok lagi untuk meneruskan cuciannya, untungnya semua sudah selesai di cuci dan hanya perlu di bilas dengan air bersih. Setelah selesai Naya memerasnya dan meletakkan baju yang sudah di peras ke dalam.ember yang kosong.


"Akhirnya selesai juga." ucap Naya. Sambil berdiri dan melemaskan otot-otot tangannya.


Naya membawa ember yang berisi baju yang akan ia jemur ke depan rumah.


"Biar bunda yang jemur, Nay?" tawar bunda sambil berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Tanggung, bun. Biar Naya aja udah."


"Aduuuuh anak perawan rajin banget da'ah jam segini udah rapih nyuci." puji Dafa, sambil terus berjalan sambil mengagkat tangannya secara bergantian.


"Lari pagi lagi Dafa?" tanya bunda, saat sudah duduk di teras rumah.


"Gak Pok, cuma jalan santai."


"Emang gak kerja?"


"Tar siang, Pok." Dafa pun memilih untuk bergabung dengan bunda yang lagi duduk di teras rumah.


Sedangkan Naya tengah sibuk dengan setumpuk baju basah yang minta segera di jemur.


"Naya kerja dimana, Pok?" tanya Dafa saat sudah duduk di samping bunda dengan berjarak.


"Sektor 9."


"Udah lama, Pok?"


"Dikit lagi mau sebulan."


"Tempat apaan, Pok?"


"Resto. Lu masih kerja di tempat lama Dafa?"


"Masih dong, Pok."


"Udah rapih, Nay?" tanya bunda saat melihat Naya membawa ember hendak masuk ke dalam rumah.


"Udah, bun." tanpa mendengar perkataan bunda, Naya langsung nyelonong masuk ke dalam rumah.


"Naya jutek amat, Pok?"


"Kaga juga, lagi cape kali dianya."


"Gitu ya, Pok?"


"Iya lah. Dafa, ceweknya anak mana nih?"


"Heeet cewek ya? Ora ada yang mao Pok, ama saya."


"Lah emang ngapa? Orang ganteng kaya lu, masa kaga ada yang mao? Lu kali yang banyak pilih?"


"Kalo di bandingin ama Surya, Dafa jauh lebih baik kemana-mana. Dari pendidikan, kerjaan, keluarganya dan agamanya juga aye tau. Tapi kalo Surya, sholatnya aja kayanya mah belom rajin onoh bocah, kerjaan juga, yah mudah-mudahan Naya ama Surya cuma pacaran doang ora ampe serius." batin bunda.


"Saya mah kapan jelek Pok, cakep dari mana coba? Naya juga ogah noh ama saya."


"Lah kapan, yang pok denger mah. Emak luh, nyari mantu yang bisa masak."


"Ah Pok, kata sapa emang?"


"Laaah, ya ada bae yang ngomong mah. Naya mah orangnya kelemar kelemer. Tai ayam di injek ama dia gak, ora gepeng Dafa." ujar bunda merendah.


"Lah ya jangan gitu Pok. Kata sapa tai ayam di injek ora gepeng ama Naya? Ada-ada bae si Empo."


"Naya mah ora bisa masak, pagimana tuh?"


"Ya kali bae, Pok. Lah kapan itu mah bisa di pelajarin kalo masak mah."


"Mending lu tanya anaknya bae ya, Dafa." ujar bunda.


"Beres Pok. Saya lanjut jalan santai dulu dah ya." kata Dafa sambil berdiri dan mulai berjalan di tempat.


"Oke deh." jawab bunda.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


bersambung.....


terima kasih sudah mampir untuk membaca karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


mohon ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป dukung karya receh author ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š dengan cara โ†ฉ๏ธ


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> ๐Ÿ‘ like


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> โœ๏ธ komen


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> โญโญโญโญโญ


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> vote


โ€ขโ€ขโ€ขโ€ขโ€ข> ๐ŸŽ๐ŸŒน biar semangt updat ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2