
"Cukup Dion! Aku tidak pernah hamil pada Pria manapun Kecuali kamu. Dan aku minta Kamu segera nikahi aku, Dan Ceraikan istrimu itu!" Ucap Kinan
"Tidak segampang itu Kinan. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Istriku. Hanya karena Wanita licik seperti kamu!"
Perdebatan di antara Kinan dan Dion pun semakin Keras. sehingga membuat Heru Keluar dari dalam Kamarnya. Heru pun mendengarkan semua Perdebatan di antara menantunya dan juga wanita itu. Ia merasa sangat kecewa pada Dion yang selama ini sudah ia percayai Bisa Menjadi Imam dan suami yang baik kepada Putrinya. Akan tetapi Dion melakukan kesalahan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
"Apa semua ini Benar nak Dion? Apa kamu benar-benar Sudah Membuatnya hamil?" Menatap Menantunya dengan Tatapan yang sangat Kecewa.
"Ayah. Jangan percaya sama Omongan Wanita ini ayah. Dia hanya ingin membuat aku Terjebak dalam permainannya!" Jawab Dion Menatap ayah mertuanya dengan Serius.
"Dia bohong Paman. Aku memang sedang Mengandung anaknya. Dan dialah yang sudah menghamili saya!" Timpal Kinan.
"Cukup Kinan! Berhenti Mempengaruhi ayah mertuaku. Dan pergi kamu dari sini!" Bentak Dion
"Tapi ini memang kenyataan kan? Kamu meniduri saya. Dan sekarang kamu Berpura-pura Tidak tahu tentang semua ini?" Ucap kinan Sambil berlinang air mata buayanya di depan Heru.
"Paman. Aku tahu paman Sangat Menyayangi Anak paman. Tapi apa paman Masih mau Percaya sama Laki-laki yang sudah Membuat anak paman Menderita?
"paman, Sebaiknya paman bawah pergi sejauh mungkin anakmu Agar Terjauh dari lelaki seperti Dion ini!" Berusaha menghasut pikiran Heru.
"Apa yang kamu bicarakan itu Kinan! Apa kamu sudah mau membuat keluarga ini hancur!" Bentak Dion.
"Cukup nak Dion. Ayah tahu kamu menikahi Caca bukan karena cinta, Tapi bukan berarti kamu bisa Melakukan ini Padanya. apa kamu tidak pernah perduli dengan keberadaan anakku sekarang? Sehingga kamu lebih memilih wanita Lain. Ketimbang Kamu pergi mencari keberadaan Anakku, Saya benar-benar Kecewa sama kamu Nak." Ucap Heru lalu ia segera masuk ke dalam dan mencari cucunya yang sedang tidur Didalam kamarnya.
"Kasihan ibumu nak, Hingga saat ini Kakek masih belum mendapatkan kabar tentang ibumu." Ucap Heru terus menatap Cucunya yang sedang tertidur nyenyak.
"Besok pagi kakek akan Membawah kamu pergi dari rumah ini. Kamu tidak pantas tinggal dengan orang-orang yang tidak pernah memikirkan Ibumu lagi. mereka hanya mementingkan Urusan mereka saja," Keluh Heru Berbicara Sendiri. lalu ia segera Merebahkan Tubuhnya di samping sang Cucu dan mereka Tertidur bersama-sama.
\*\*\*\*
Suara kicauan burung bernyanyi di pepohonan Terdengar Sangat merdu. Membuat Caca Terbangun dari tidurnya dan Pergi membukakan Kain Gorden yang ada di Jendela kamarnya. Suasana di luar sana terlihat sangat Indah Angin Berhembus Kencang Dan Dedaunan kering dari atas pohon mulai Berhamburan satu demi satu ke bawah tanah.
Caca Masih merenung memikirkan apa yang telah terjadi pada Rumah tangganya. Ia Bahkan tidak mengerti harus berbuat apa untuk bisa lari dari kenyataan hidup yang sangat Sulit untuk ia artikan. baginya Dion Adalah laki-laki Yang bisa membuatnya Tersenyum dan bisa melindunginya. Namun kini Lelaki yang sangat ia cintai sekaligus ayah dari anaknya telah Menduakan cintanya. Caca benar-benar Kecewa Kepada Dion yang sudah melupakan Janji mereka saat menikah dulu.
"Tega kamu mas, selama ini aku selalu berusaha untuk Menjaga pernikahan kita agar selalu baik-baik Saja, Tapi kamu Mala Melakukan ini sama aku dan Dede," Gumam Caca.
__ADS_1
Tok Tok Tok!
Ketukan pintu di depan kamarnya.
Dengan cepat Caca Mengusap air matanya dan Pergi membukakan pintu kamarnya.
Ceklek!
Pintu di Buka olehnya.
"Morning. Ca," Sapa Stefan Dengan segelas Susu Panas untuk di bawahkan ke kamar Caca.
"Pagi juga Tuan." Balas Caca penuh Kebingungan Saat melihat Stefan Masuk dengan Secangkir Susu panas dan Roti yang sudah ia Taburi Slai kacang Kesukaannya Caca.
"Ayo Duduk di sini. Dan segera nikmati Susu buatan Aku ini," Ucap Stefan. Sembari tersenyum Pada Caca.
"Kenapa tuan Mala Repot-repot Membuatkan ini sama aku, Kan aku nggak sakit tuan," Keluh Caca.
"Iya. aku tahu kamu memang tidak sakit, Tapi ini Aku buatkan kusus untuk kamu. Biar kamu Segera Tersenyum kembali seperti Sedia kala, Capek aku Melihat kamu Selalu Sedih seperti ini."
Dan Caca Pun Tertunduk malu di depan Stefan.
"Sudahlah. Jangan terlalu di pikirkan, Sebaikanya kamu Cepat minum dan makan roti ini. setelah itu kamu Mandi biar terlihat Segar," Tersenyum Menatap Gadis itu.
Dan Caca Kembali Mengangguk. Lalu segera meminum susu yang sudah di buatkan oleh Stefan.
"Aku Ke depan Dulu ya, Jangan Lupa habiskan Susunya." Ucap Stefan lalu ia segera Keluar dari kamar Caca.
"Makasih tuan. Kamu sangat peduli sama aku," Gumam Caca saat pemuda itu sudah keluar dari kamarnya.
Pagi itu Heru sudah mengemasi semua Pakaiannya dan juga Anaknya Caca. Ia akan segera pergi dari rumah Yudianto dan akan membawah cucunya pergi bersama dengannya.
"Pak Heru. kamu mau kemana? Kenapa barang-barangMu sudah di dalam koper semua? Tanya Fatma ketika melihat Heru bersama cucunya keluar dari kamarnya.
"Bu Fatma. Tolong sampaikan permohonan maaf Saya kepada Pak Yudianto dan Istrinya. Saya harus pergi dari rumah ini bersama Cucuku. Karena saya sudah tak pantas lagi tinggal di sini." Jawab Heru lalu segera melangkah keluar dari dalam rumah itu.
__ADS_1
"Pak Heru. tunggu pak!" Teriak Fatma. sambil berlari Ke luar mengejar Heru dan cucunya.
"Ada apa Bu Fatma?" Tanya Kembali Heru.
"Bapa sama Den kecil mau Pergi kemana? Apa kalian mau kembali ke rumah Yang Di Cibubur lagi pak?" Tanya Kembali Fatma.
"Iya Bu. Di sanalah rumah kami," Sahut kembali Heru.
"Ini Ada sedikit uang untuk perjalanan kalian berdua, Semoga bisa membantu." Ucap Fatma Sambil Memberikan Gulungan uang Berwarna merah kepada Heru dan cucunya.
"Apa ini tidak merepotkanmu? lagi pula kami masih punya sedikit uang untuk perjalanan kami ke sana." Balas Heru.
"Tidak apa-apa Pak. anggap saja ini Bantuan dari saya, kepada kalian berdua. Saya sangat mengerti dengan perasaan bapak saat ini. semoga Den kecil selalu sehat di sana." Ucap Fatma.
"Terimakasih banyak Bu. Kami Permisi dulu," Lalu Heru dan cucunya kembali Berjalan dan Meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang Kecewa.
Fatma hanya Menggelengkan kepalanya menatap kepergian Heru bersama anaknya Caca dan Dion yang masih kecil itu.
"Kasihan mereka, Tapi saya sendiri tidak bisa menghentikan kepergian mereka dari rumah ini. Semoga mereka tiba dengan selamat hingga ke tempat tujuan, Amin."
Lalu Wanita itu segera masuk ke dalam rumah untuk menyelesaikan pekerjaannya di dalam sana.
Setelah semua pekerjaan Rumah selesai. Fatma pergi Mengangkat sampah di halaman Belakang rumah. Melihat Suasana rumah yang masih sepi Kinan Merasa Kebingungan Dan ia terus memanggil-manggil Fatma. untuk membuatkan Susu hangat untuknya.
"Bi. Bibi! Kamu di mana si!" teriak Kinan Dari dapur.
"Ada apa Denganmu Kinan? Kenapa masih pagi Sudah Teriak-teriak. Memangnya ini Rumah Kamu!! Ujar Siska Merasa Terganggu dengan suara Kinan di pagi hari.
"Tante, Aku lagi mencari Bi Fatma. Kemana dia? kenapa pagi-pagi gini Udah keluyuran Saja!" jawab Kinan Sambil Duduk di samping meja makan
"Memangnya ada kepentingan apa kamu mencari Bi Fatma Apa menurut kamu Bi Fatma itu adalah ibumu? Atau Pembantu di rumah kamu, Yang bisa kamu Perintahkan begitu saja!" Cetus Siska menatap Sinis pada Wanita itu.
"Aku mau Di buatkan Susu hangat sama dia! Memangnya Tidak boleh ya?
"Ya kamu buat sendiri saja! Lagi pula kamu Punya tangan Untuk membuatnya kan, kenapa harus Menyuruh Pembantu di rumah saya!" singgung Siska. lalu segera pergi meninggalkan Wanita itu di meja makan.
__ADS_1
"Dasar Wanita Galak! Kalau bukan karena anaknya aku Juga tidak sudih punya mertua seperti dia itu!" Ucap Kinan menatap tajam Pada Siska yang sudah berjalan memasuki kamarnya.