
Setelah menjalin kerjasama dengan keluarga Dion. Caca merasa Tidak mampu lagi untuk Bertemu dengan Suaminya di tempat kerja.
Namun ia akan Tetap Berusaha dan profesional dalam Pekerjaannya. kini Sepasang Suami-istri itu hanya saling bertatapan tanpa Berkata apapun saat mereka sedang Bekerja. Yang Caca Pikirkan saat ini hanyalah Mendapatkan Uang untuk bisa Membiayai kehidupan Ayahnya dan juga putra semata wayangnya.
Dion Mencoba menyapa Istrinya Namun Caca Selalu menghindarinya. Sehingga membuat Dion Tidak bisa Berkata apa-apa lagi selain ia Hanya diam sambil memantau istrinya dari arah yang tidak terlalu jauh darinya.
"Entah aku harus pergi dari kehidupan mu, Atau aku harus tetap bersama denganmu, rasanya ini sangat Sulit untuk mendapatkan kesempatan dari kamu lagi." Gumam Dion dalam hatinya.
Caca yang ia kenal dulu Sangat baik dan pencari masalah. sekarang menjadi pendiam dan tidak banyak bicara. Dion menjadi kesulitan untuk kembali Mendekati Istrinya itu.
Hari itu cuaca sedang hujan deras. Caca dan Dion Hanya saling berdiam diri. Caca berusaha untuk tetap berpegang pada prinsipnya agar tidak Menyapa Suaminya itu. hari sudah mulai gelap namun Dion dan Istrinya masih terjebak hujan di sebuah cafe. Dion merasa Kasihan melihat Caca yang Sudah Kedinginan di Luar sana. Namun ia juga tidak bisa Mendekati Istrinya itu. Karena melihat tubuh Caca Sudah semakin dingin. Dion Pun Memberanikan dirinya untuk Mendekati Caca Yang Sejak tadi berdiri di luar sana.
"Bu Caca, Apa Sebaikanya kita Batalkan saja rencana kita ke Bogor, Karena Mengingat cuaca Sangat buruk Sehingga kita tidak bisa melanjutkan Perjalanan kita ke sana." Ujar Dion
Namun Caca dengan cepat Menggelengkan Kepalanya.
"Tidak bisa. Kita tidak boleh Membatalkan Pekerjaan ini, Karena saya sangat butuh pekerjaan Ini!" menatap Dion dengan Tajam.
"Baiklah. Kalau Begitu kita berangkat sekarang, agar kita bisa segera sampai di sana." Ucap Dion Kembali Lalu ia segera berlari ke arah mobil. sedangkan Caca hanya menatap punggung suaminya yang sedang Berlari di tengah derasnya hujan. Lalu Dion Kembali sambil membawakan Sebuah payung untuk Caca.
"Ini Bu, Pakai saja payung ini agar kamu tidak basah dengan air hujan."
Caca hanya bisa menatap. rasanya ia ingin Mengungkapkan isi hatinya pada suaminya itu. namun ia masih tidak bisa karena Ia tidak ingin mengacaukan Pekerjaannya dengan perasaannya.
"Terimakasih. pak Dion," Lalu Caca Segera meraih payung yang ada pada Dion dan ia pun berjalan tanpa mempedulikan Suaminya yang sudah Basah dengan air hujan. Dion Menatap Caca Sambil Mengusap wajahnya. Lalu ia Segera Berlari menuju mobil Dan mereka pun segera pergi. Dion menyetir dengan Pakaiannya yang sudah basah kuyup. Sehingga membuat dia merasa Kedinginan saat menyetir. Namun ia berusaha untuk tidak terlihat oleh istrinya agar Caca tidak merasa cemas pada Dirinya.
Akan tetapi Caca sudah memperhatikan Kondisi Dion yang sejak Tadi sudah Kedinginan dan wajah Dion Juga nampak Pucat. Melihat kondisi Suaminya Yang sudah sangat pucat Dan lesu. Caca merasa Cemas Dan khawatir.
"Kita berhenti di sini saja!" pinta Caca
Lalu dengan cepat Dion Memberhentikan Mobilnya di depan Sebuah apotik.
__ADS_1
"Apa kamu sedang sakit?" Tanya Dion
Namun Caca tidak juga menjawabnya. Membuat Dion Kembali terdiam.
Lalu Caca segera Pergi Tanpa Membawah Payung.
Dari dalam mobil Dion melihat Caca Sedang membeli Obat-obatan. Namun Dion juga tidak tahu Itu Obat untuk siapa. Karena Caca sama Sekali tidak Mempedulikan setiap perkataannya.
Tidak lama kemudian Caca kembali Sambil Membawahkan Sebotol air mineral dan juga beberapa obat-obatan untuk Dion
"Ini minumlah. sebelum kamu benar-benar Sakit!" Ucap Caca Sambil Melepaskan Obat dan Sebotol air mineral di samping Dion.
"Kenapa kamu Masih peduli sama aku, Sementara kamu kan Sudah tidak mau Berbicara denganku lagi," Menatap Caca.
"Karena aku tidak mau Rencana Pekerjaan ini batal Hanya karena kamu Sakit-sakitan!" Jawab Caca. Berusaha membuang Perasaannya dari Dion.
"Oh. Ternyata hanya seperti itu, Kamu hanya mementingkan Pekerjaanmu ketimbang dengan perasaan Orang lain."
"Baiklah. Aku akan segera meminumnya, makasih Karena kamu sudah Membelikan saya Obat ini. Nanti saya Ganti uang kamu yang terpakai untuk Membelikan Obat Untuk saya." Ujar Dion lalu ia segera meminum obat yang sudah Caca belikan untuknya itu.
Setelah usai meminum obat itu. Kini Dion Kembali menyetir dengan kecepatan yang tinggi. agar mereka bisa segera sampai Sebelum Tengah malam nanti.
Setelah melewati beberapa Jam Perjalanan Akhirnya Mereka tiba di Sebuah apartemen yang sengaja Dion sewa untuk mereka tempati sementara. Caca segera Keluar dari Mobil tanpa menunggu Dion Terlebih dahulu.
Dion Segera masuk ke Dalam Kamar yang ada di lantai atas. sementara Caca juga sudah berada di dalam kamar lantai bawah. Caca mengunci pintunya rapat-rapat karena ia tidak ingin Dion Masuk tanpa sepengetahuan olehnya.
Kini mereka hanya saling berdiam diri di kamar mereka masing-masing.
Setelah usai Membersikan dirinya di dalam kamar mandi. Dion Segera Keluar dari kamar dan ia pergi ke dapur untuk membuat Makanan untuk mereka.
Dion terus menatap ke arah pintu kamarnya Caca. namun pintu kamar itu sama sekali tidak di buka oleh Caca sejak mereka tiba di apartemen itu.
__ADS_1
Tok Tok Tok! Dion Mencoba Mengetuk Pintu kamarnya Caca. untuk memanggilnya makan bersama.
Namun dari dalam sana Caca hanya duduk di tempat tidurnya. karena ia merasa Pusing dan demam Namun ia tidak bisa meminta Obat yang ia Belikan untuk Dion tadi.
"Bu Caca, Apa kamu sudah tidur? Aku sudah membuatkan Makanan untuk kita berdua," Ucap Dion Dari Luar sana
"Makan saja. Aku masih kenyang!" timpal Caca dari dalam sana.
"Kenapa suaranya serak kayak gitu ya? apa dia Sedang Masuk angin?" gumam Dion dalam hatinya.
"Tapi Bu, aku sudah capek-capek Buatkan Makan malam untuk kita berdua. kenapa Bu Caca tidak mau Menghargai kerja keras dari saya Bu?" ujar Kembali Dion.
"Pokoknya aku masih kenyang. Kamu makan saja Dulu, nanti aku bangun jika Udah Laper," Balas Kembali Caca.
Dion semakin yakin kalau Istrinya sedang masuk Angin. Namun Caca tidak ingin Membebaninya lagi. sehingga ia tidak ingin keluar dari dalam kamarnya.
"Baiklah Bu. Jika memang tidak mau makan, aku juga tidak ingin makan." ucap Dion Lalu ia segera Berjalan ke ruangan sebelah dan Menonton siaran Televisi di sana.
Rencana Dion dan Caca datang ke Bogor karena ingin melihat lokasi yang ingin mereka belih untuk Membangun sebuah Bisnis di sana. Dan semua itu adalah ide dari Stefan agar Caca dan Suaminya bisa Bersama-sama di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul Setengah satu Tengah malam. Dion Mendengar suara Tangisan dari arah kamar Caca. Ia pun segera bergegas Menuju Kamar istrinya untuk melihat Keadaan Caca di dalam sana. Namun pada Saat ia Ingin Masuk Pintu kamar itu masih terkunci Dari dalam sana. sehingga membuat Dion Kesusahan untuk masuk. Ia pun kembali ke kamarnya untuk mengambil kunci cadangan Yang ada di kamarnya. Lalu ia segera membuka pintu kamar Istrinya dan Menemukan Caca Sedang Tertidur dalam Kondisi yang lagi Demam.
"Astaga! ternyata badan kamu sangat panas Ca," Ucap Dion lalu ia segera kembali ke dapur untuk mengambil Air kompresan untuk istrinya.
"Mas, Jangan tinggalkan aku mas. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Caca dalam Tidurnya. karena mungkin panasnya sangat tinggi sehingga membuat Caca menjadi Gelisah sehingga Sering bicara yang aneh-aneh.
Dion pun Menggenggam Tangan Istrinya dengan Erat. agar Caca bisa merasa tenang.
"Mas Dion. Jangan tinggalkan aku, Mas. aku mohon." Ulang kembali Caca. membuat Dion Tersenyum lega. Walaupun selama ini sikap Caca Padanya sangat berubah namun di dalam hatinya Caca masih mencintainya.
"Iya. Sayang, aku ada Disni aku akan selalu menjaga kamu, Dan juga anak kita," Balas Dion Lalu ia menciumi Dahi kening istrinya berulang-ulang kali.
__ADS_1