
Setelah usai Membersihkan Dirinya dan berganti pakaian. Caca langsung keluar untuk menemui Stefan dan Mahendra. Wanita itu terlihat sangat cantik di pagi itu. sehingga membuat Stefan tak berkedip Sedikit pun saat Caca Memasuki Kamar Mahendra.
"Selamat pagi Tuan, pak Mahendra," Sapa Caca dengan lembut.
Membuat Mahendra berdeham kuat ketika melihat Putranya Menatap Caca tanpa berkedip.
hmmmm.
"Pagi juga Nak," Balas Mahendra Tersenyum Menatap Gadis itu.
"Kamu cantik Sekali ca," Ucap Stefan tanpa sadar. membuat ayahnya tercengang Ketika Mendengar Ucapan anaknya itu.
"M'mm. Maksudku kamu terlihat lebih berbeda pagi ini, Memangnya kamu mau kemana?" Ucap Stefan dengan sedikit malu.
"Aku mau ke Cibubur Tuan. Mau Melihat keadaan rumah," Jawab Caca.
"Minta Stefan Untuk Mengantarkan kamu kesana Nak, Jangan kamu pergi sendirian ke sana." Sambung Mahendra.
"Tidak apa-apa Pak. aku Bisa sendiri kok, lagian Aku mau menginap semalam di rumah itu."
"Apa kamu yakin mau Menginap di sana malam ini, Memangnya kamu tidak Takut tidur sendirian di sana?" Tanya Stefan Penuh kekeliruan
Dan Wanita itu Menggelengkan Kepalanya sambil tertawa kecil Menatap Stefan
"Biar aku antar saja. Takutnya kamu Mala Nyasar lagi!" ucap Kembali Stefan.
Namun Caca terus Menolaknya karena ia tidak ingin merepotkan Stefan dan pak Mahendra.
"Nggak usah tuan. Lebih baik tuan di sini saja, Untuk Menjaga Pak Mahendra. Kasihan nanti jika di tinggal sama Bi Nita Sendirian,"
"Baiklah. Jika itu mau Kamu, Tapi kamu hati-hati di jalan. dan Jangan lupa untuk mengabari aku, jika udah sampai rumah." Menatap Caca.
"Iya tuan." singkat Caca. lalu ia segera berpamitan Pada Mahendra dan Stefan.
Caca melangkah keluar dari kamar sambil di ikuti oleh Stefan.
"Ca!" Panggil Stefan saat Caca sudah berada di luar pintu kamarnya Mahendra.
Caca pun menoleh Pelan ke arah Stefan.
"Iya tuan," Menatap Stefan.
Lalu pemuda itu Tanpa Basa-basi Langsung Memeluk Caca Seperti Memeluk kekasihnya sendiri.
__ADS_1
"Cepat kembali. Dan Jaga diri kamu di sana," Ucap Stefan Dalam Keadaan Memeluk Tubuh Caca.
Dari dalam kamar Mahendra Melihat Putranya sedang Memeluk gadis itu. Mahendra Menjadi cemas dengan keadaan Stefan yang Mulai menyukai Caca.
"Iya tuan. Aku pasti akan Segera Kembali," Ucap Caca kembali Dan melepaskan Pelukan Pemuda itu darinya.
"Kamu harus Janji sama aku, Jika sudah sampai di sana cepat kabari aku apa pun itu Harus segera kabari aku ya,"
Caca Mengangguk Lalu ia pun pergi. Kini Stefan hanya menatap kepergian gadis itu dari dalam rumah Saja.
Entah kenapa ia merasa Berat untuk melepaskan Caca pergi. namun ia juga tidak bisa melarang Caca untuk tidak Pergi kerumahnya.
"Stefan!" suara ayahnya Memanggilnya dari dalam kamar.
Pemuda itu pun segera Masuk ke dalam kamar.
"Ada apa ayah." Menatap ayahnya
"Apakah kamu Menyukainya?" tiba-tiba pertanyaan itu membuat Stefan Tidak bisa berkata apapun pada ayahnya. Karena Ia memang Menyukai Wanita itu.
"Tidak ayah. Mana mungkin aku Menyukai wanita yang sudah memiliki suami." Balas Stefan Mengalihkan pandangannya.
"Tapi ayah bisa melihatnya dari cara kamu Memperlakukan Dia. Stefan, Saran Ayah Sebelum terlambat Kamu harus Bisa Melupakan dia, Jangan pernah kamu Merusak Hubungan mereka." Menatap putranya.
"Iya ayah. Aku mengerti," Singkat pemuda itu lalu ia segera keluar dari kamar ayahnya.
Dalam perjalanan Caca berusaha untuk tegar Menghadapi apa yang terjadi saat ini kepadanya. Lalu ia mengambil ponselnya dan Mencari Akun Sosial media milik Dion. ia terus mencari tahu keberadaan Suaminya itu melalui Akun Sosial media milik suaminya.
"Kenapa ada Vidio yang terkunci Di akun Mas Dion?" Gumam Caca. Menatap salah satu unggahan Vidio Yang berada di akun sosial media Milik Dion.
Lalu Ia mencoba untuk Membuka Unggahan Vidio tersebut dan Menontonnya. Ketika ia Membuka Video tersebut Hatinya Bertambah sakit Karena itu adalah Vidio Saat Dion Bersama dengan Gadis itu.
"Kamu benar-benar Jahat mas. Aku tidak menyangka kalau kamu Bisa Setega ini sama aku," Ucap Caca tersedu-sedu Dalam Mobil.
"Pak, Aku turun di sini saja." Pinta Caca pada Sang sopir. Dan Kemudian Mobil itu berhenti tepat di Depan jalan masuk ke arah Rumahnya.
"Kenapa Pintu Rumah terbuka ya, Apa ayah Sedang ada di rumah?" Tanya Caca dalam Hatinya. Lalu ia mencoba mempercepat Langkahnya Dan setibanya di rumah itu ia mendapatkan Ayahnya sedang menyuapi makanan pada Dede.
"Ayah!" Ucap Caca Di dari depan pintu.
Membuat Heru Menatap Ke arah pintu itu. Heru pun langsung berdiri dan memeluk anaknya dengan Erat. Karena sudah hampir sebulan Caca tidak Di temukan kini ia kembali Dalam keadaan yang selamat.
"Anakku. Kamu dari mana saja nak, Kenapa kamu baru kembali?" Tanya Ayahnya.
__ADS_1
"Ceritanya panjang ayah. Tapi sekarang aku sudah kembali, Terpenting sekarang Bagi aku Ayah dan Dede. Dalam Keadaan yang baik saja," Ucap Caca.
Namun Heru kembali Terdiam karena ia tidak bisa menceritakan apa yang sudah terjadi di rumah mertuanya itu.
"Ada apa ayah? Kenapa ayah Nampak sedih Seperti itu?" tanya kembali Caca.
"Suamimu Nak, Dion Sudah memiliki PenggantiMu." Balas Heru
"Tidak apa-apa ayah. Mungkin itu memang sudah menjadi Keinginan Dia, Tidak usah perdulikan dia lagi ayah." Potong Caca.
"Memangnya kamu sudah tahu juga nak?"
Menatap Putrinya.
Dan di anggukan oleh Caca
"Sekarang aku akan Mengurus semuanya dengan baik ayah. Demi Dede aku akan berusaha sekuat Tenagaku agar kita bertiga tetap bisa bertahan hidup tanpa bergantung pada mereka lagi. Dan mungkin secepatnya aku Akan mengurus perceraian kami ayah." Ucap Caca Dengan serius Menatap ayahnya.
Heru Hanya bisa mengikuti apa kemauan putrinya. Karena baginya kebahagiaan Anaknya itu lebih penting.
"Hanya Hanya Bisa mendukungmu nak, Dan jika memang itu yang terbaik untukmu ayah Akan Tetap mengikuti kemauan Kamu," Ujar Heru.
"Iya ayah." Singkat Caca.
Lalu ia pun segera menghubungi Stefan sesuai janjinya tadi.
"Halo. tuan," Sapa Caca di Balik ponselnya.
("Iya ca, Bagaimana apa kamu sudah sampai? kamu Baik-baik saja kan, Tidak terjadi apa-apa kan Sama Kamu?") Balas Stefan dari sebrang sana.
"Tidak tuan. aku baik kok, Dan di sini ada ayahku Dan juga anakku. Mungkin untuk beberapa Hari ini aku masih belum bisa kembali Kesana tuan, Karena aku harus mencari pekerjaan untuk mencukupi Kebutuhan kami bertiga." Ucap Caca.
("Kenapa kamu tidak Kembali ke rumah ini saja, Agar kita bisa bersama-sama menjaga Anakmu di sini. Dan ajak juga ayahMu kesini!" Timpal Kembali Stefan.
"Nggak usah tuan. Takutnya aku Mala merepotkan tuan, dan juga pak Mahendra." Balas Caca.
("Siapa bilang kamu di sini merepotkan aku sama Ayah, Kami Mala senang jika kamu kembali ke sini lagi. Pokoknya aku akan pergi untuk menjemput kamu di sana,") Protes Stefan.
"Tapi tuan."
Belum Selesai Bicara Sambungan Panggilan itu sudah di akhiri oleh Stefan.
Membuat Caca merasa Khawatir jika Stefan harus datang menjemputnya Kembali.
__ADS_1