
"Sialan! Kenapa Wanita itu selalu membuat Masala di rumah ini! siapa dia? Kenapa Tuan Stefan terus Membelanya!"
"Aku harus bisa menyingkirkan Kembali wanita itu dari rumah ini. Agar rencanaku berjalan dengan baik!" ujar Nita Tersenyum tipis Menatap Caca yang sedang Duduk di ruang tamu.
Sementara Caca merasa curiga dengan Tatapan Wanita itu kepadanya. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke arah luar. agar wanita itu tidak lagi menatapnya Seperti itu.
"Ada apa dengan Bi Nita, Kenapa dia menatapku seperti itu. Apa dia marah karena kejadian tadi ya?" gumam Caca yang sedang duduk di teras rumah sambil Menunggu Stefan.
wanita muda itu Merasa sangat Bahagia karena Hari ini Ia bisa kembali bertemu dengan anak dan suaminya. Namun Di Sisi lain ia masih penasaran dengan wanita yang sedang bekerja dirumahnya Stefan itu.
"Aku harus bisa mengatakan sama tuan Stefan, tentang ayahnya. agar dia juga tahu apa yang selama ini Bi Nita lakukan selama dia tidak dirumah, Kasihan pak Mahendra. selalu di kasih makan Seperti itu," Gumam Caca.
"Gimana ca, apa kamu sudah siap?" tanya seorang pemuda yang baru saja keluar dari dalam sana.
Caca pun mengangguk perlahan sambil menatap Pemuda itu.
"Yuk kita berangkat," Ajak Stefan Dan mereka Segera masuk ke mobil. dan Pergi Meninggalkan Rumah itu.
Wajah Caca Terlihat lebih ceria hari itu. Bakan ia selalu tersenyum saat Menatap sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Sepertinya kamu sangat senang ca. Sampai senyum-Senyum sendirian seperti itu," ucap Stefan melirik ke arah Caca.
"Iya tuan. Aku Sangat Bahagia karena bisa segera bertemu dengan Anakku, Aku pikir aku tidak bisa lagi bertemu dengan mereka." Jawabnya Kembali Tersenyum Menatap pemuda itu.
"Hem. Jadi itu yang membuatmu Selalu Tersenyum ya, Aku pikir kamu Tersenyum Karena aku," Ucap Stefan tertawa kecil.
"Oya Tuan, Apa selama ini tuan Tahu apa yang sering Ayah tuan makan di rumah?" menatap Stefan.
"Memangnya kenapa ca, Kok kamu Bertanya Seperti itu! Memangnya ada apa dengan ayahku?" Merasa bingung.
"M'mm. Nggak apa-apa si. Hanya mau tau saja," Jawab Caca.
"Setahuku Ayah selalu di kasih makan sayuran dan Ikan, serta buahan-buahan yang masih segar. Karena ayah memang harus makan yang bergizi Setiap hari." Tutur Stefan. Dan Caca hanya Mengangguk Sambil Mengerutkan Sebelah keningnya.
"Begitu ya." Singkat caca.
"Memangnya ada apa? apa menurut kamu Ayah tidak boleh Makan yang seperti itu ya?" menatap Wanita itu.
"Nggak juga. Aku pikir kamu tahu apa yang Ayah kamu makan Selama ini."
"Aku kan Selalu sibuk Jadi nggak punya waktu untuk ayah." Ujar pemuda itu.
Pagi itu Dion Merasa lelah dan ngantuk Karena Semalam ia Tidur larut malam. sehingga ia sangat Ngantuk Dan tidak bisa bangun Di pagi hari. Siska Mencoba membangunkan Dion karena ada hal yang penting harus di Bicarakan oleh mereka.
"Dion. Apa kamu masih tidur nak? Ayahmu sedang menunggu kamu di Ruang tamu." Ucap Siska dari luar sana.
Dari dalam kamar pemuda itu Merasa Malas untuk bangun. Ia kembali menarik selimutnya dan Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut besar itu.
"Bagaimana Bu, apa Dion sudah bangun?" Tanya Yudianto.
__ADS_1
"Sepertinya dia masih tidur pak, Mungkin dia Lelah." Jawab Siska. lalu Duduk di samping Suaminya.
"Harusnya dia Lebih dewasa. Bukannya seperti anak-anak, Ini Sangat penting demi perusahaan kita. Tapi dia malah bermalas-malasan seperti itu." Ujar Yudianto.
"Sabarlah pak, Kan dia Lagi Banyak pikiran Makanya dia jadi seperti itu. Kita harus bisa mengerti Perasaannya pak, Biar bagaimanapun Menantu kita belum juga Di temukan." Menatap Suaminya.
"Aku mengerti dengan apa yang terjadi pada Dion, Akan tetapi Jika dia terus seperti itu. Apa itu akan membuat Istrinya kembali, Seharusnya dia harus Lebih bersemangat untuk bisa menemukan keberadaan Istrinya yang saat ini belum juga di temukan. Bukannya dia mengurung Dirinya seperti itu,"
"Selamat pagi, Pak." Ucap seseorang dari depan sana.
Yudianto dan Siska Menatap Ke arah sumber suara itu secara bersamaan.
"Pagi. juga Bim," Sahut Yudianto dengan ramah.
"Maaf Pak. apa Bos Dion Ada di rumah?" Tanya Bimo.
"Dia masih di Dalam kamarnya. Memangnya ada apa Bim. Apa ada Berita soal Istrinya?" menatap Serius pada Bimo.
Namun Bimo Menggelengkan kepalanya.
"Hingga saat ini Saya masih belum Mendapatkan Kabar Tentang Istrinya bos Dion, pak." Jawab Bimo Kembali.
"Lalu ada kepentingan apa kamu ingin menemuinya?"
"Saya ingin memberitahukan Tentang Bu Mila, pak. Sudah berapa hari ini Bu Mila Selalu datang ke kantor sambil Membawah anak buahnya Untuk Mencari bos dion. pak," Tutur Bimo.
"Apa wanita itu sudah Tidak Waras lagi! Kenapa dia tidak pernah berhenti untuk Mengganggu Kehidupan Dion." Ucap Siska Dengan Kesal.
"Berani sekali dia mengancam kalian seperti itu. Memangnya Dia siapa, Sebaikanya kamu Segera Laporkan ke pihak yang berwajib jika dia berani macam-macam Di kantorku!" pinta Yudianto
"Baik pak." Jawab Bimo.
"Sebaiknya kamu perketat pengamanan Di kantor. Agar mereka tidak bisa masuk ke sana lagi."
"Siap. pak!" singkat Bimo. Lalu Ia segera berpamitan Dari Rumah itu.
"Kenapa Keluarga kita ini Selalu tertimpa Musibah seperti ini, Apa kesalahan kita Sehingga kita selalu seperti ini. Sejak Dion Menikah Selalu ada Masala yang datang." Ujar Siska.
"Ini adalah cobaan. Dan kita harus bisa Melewati semua ini dengan hati yang dingin," Menatap istrinya.
Dalam Perjalanan Caca Merasa mual. Karena mungkin ia mabuk Dalam Perjalanan Yang sangat Jauh itu. Mereka pun Segera Berhenti di suatu tempat yang Tidak Terlalu ramai pengunjungnya.
"Kamu kenapa Lagi ca, Apa kamu Masih merasa Pusing?" Tanya Stefan dengan cemas.
"Iya tuan. Aku Tidak terbiasa Jalan dengan jarak jauh seperti ini. Makanya aku sering Mual," Jawab Caca. dengan lemas.
"Kamu tunggu di sini dulu. aku mau Cari Minyak angin, siapa tau di warung itu ada." ujar Stefan lalu ia segera berlari menuju Ke Warung di pinggir jalanan itu.
Sedangkan Caca masih Duduk sambil mengelus Bagian perutnya yang terasa sakit dan kepalanya yang Sedikit pusing. Wanita itu terlihat sangat Pucat karena ia Tidak terlalu terbiasa dalam perjalanan Jauh Seperti itu. Tidak lama kemudian Stefan datang Sambil Membawakan Minyak angin untuk Caca. Ia pun segera Menggosokkan Minyak angin di Punggung Gadis itu.
__ADS_1
"Ini ca, kamu Hirup-hirup saja. Biar Kamu Sedikit lebih baik," Ucap Stefan.
"Makasih Tuan," Singkat Caca. lalu ia Segera Mengambil Minyak angin itu dan Menciumnya.
"Bagaimana apa kamu sudah sudah sedikit membaik?" Lirik Stefan pada wanita yang sedang Duduk di bawah Pohon.
"Iya Tuan." sahut Caca. sambil mengangguk pelan.
"Masuklah kembali ke mobil. agar kita segera Melanjutkan perjalanan kita."
Wanita muda itu pun menuruti perintah Stefan. walaupun ia masih sedikit pusing akan tetapi ia berusaha kuat. agar bisa segera Bertemu dengan Suami dan anaknya.
Setelah melihat Beberapa gedung yang sangat tinggi Di kota itu. Caca merasa tenang karena ia sangat mengenal gedung di kota itu dengan baik. Walaupun ia tidak pernah kesana akan tetapi ia selalu melihat gedung-gedung itu saat berjalan bersama suaminya.
"Apa kamu Masih pusing?" tanya kembali Stefan.
"Aku sudah merasa Baikan tuan," Jawab Caca
"Baguslah. Lalu apa kamu tau kemana kita harus pergi?" Menatap Caca
Dan wanita itu membalas menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Setelah melewati beberapa jalan akhirnya Caca Menunjukkan rumah suaminya kepada pemuda itu. Stefan segera memarkirkan mobilnya dan menatap ke arah rumah yang di tunjukkan Caca kepadanya itu. Ia merasa Terkejut ketika melihat rumah Besar dan mewah itu.
"Jadi dia tinggal di rumah ini?" Gumam Stefan dalam hatinya. Sambil menatap sekeliling Halaman Rumah dari dalam mobilnya.
"Ada apa Tuan, apa tuan Mengenal keluarga ini?" Kembali bertanya.
"Aku tidak kenal ca. Bagaimana bisa aku kenal sama mereka," Jawab Stefan.
"Oh. kirain Tuan Kenal sama keluarga suamiku. Karena mereka sangat terkenal di Kota ini."
Pemuda itu hanya tersenyum Tipis.
"Ya sudah. sekarang kamu masuk saja, Kan Kamu sudah sampai di rumah Suamimu." Ujar Stefan.
"Apa tuan tidak mau ikut bersama ku ke dalam rumah itu?"
"Nanti kapan-kapan Saja Aku mampir ke sini. Aku harus segera balik ke rumah, Pasti ayah akan Mencemaskan Ku." ucap Stefan.
"Kamu hati-hati di jalan Tuan, dan Jaga ayahmu dengan Baik." ucap Caca. Lalu ia segera keluar dari dalam mobil itu.
"Aku pergi dulu ya, Salam buat Suami dan Anakmu ca,"
"Iya tuan. Makasih banyak karena tuan sudah mengantarkan aku ke sini." Ujar Caca Sambil melambaikan tangannya kepada Pemuda itu.
Dan dengan cepat Stefan melajukan mobilnya Meninggalkan Caca di jalan depan rumah suaminya
"Semoga mereka ada di rumah." Lirih Caca Menatap ke dalam Rumah itu.
__ADS_1
Lalu ia pun menekan tombol bel yang ada di sampingnya.