
"Kamu? mau ke sini! Sebaiknya kamu pergi dari Rumahku. Kalau tidak saya akan Memenjarakan kamu! Atas semua Perbuatan kamu terhadap istriku." Bentak Dion. Dengan sangat marah.
Kirana menjadi ketakutan ketika melihat keluarga itu sangat membencinya. Bakan mereka tidak mengijinkannya Untuk berbicara.
"Kamu benar Dion! Wanita seperti dia ini Tidak pantas untuk di Biarkan Berkeliaran di sekitar kita. Sebaiknya kita segera laporkan dia ke Pihak Yang berwajib agar dia segera Di Penjara!" sambung Siska. melotot pada Kirana.
"Sabar Mas, Ma. Kasih kesempatan untuk Mba Kirana Bicara," Ucap Caca. dengan sangat lembut.
"Caca! Kamu nggak usah bela-belain dia. Ingat nak, Dia sudah hampir membuat kamu kehilangan Nyawamu. Lalu untuk apa kamu masih mau memberikan kesempatan untuk wanita seperti dia ini!!
"Aku tahu ma. Tapi sekarang aku kan masih ada Di depan kalian semua, Itu berarti Tuhan masih memberikan kesempatan untuk aku tetap hidup. Dan aku Percaya kalau kedatangan Mba Kirana Kesini bukan untuk mencari masalah ma."
"Sayang, Kenapa kamu Bisa baik sama Wanita yang sudah mencelakai kamu? Apa kamu tidak Merasa Marah sama dia?" tanya Dion.
"Buat apa marah mas, Sebagai manusia Kita juga memiliki kekurangan yang berbeda-beda. Dan Aku tidak ingin Menyimpan amarah dan kebencian di hati aku. Tuhan saja bisa memaafkan kita, Kenapa kita Mala Tidak bisa memaafkan orang lain?" Ujar Caca. kembali Menatap Suaminya.
Fatma sangat terharu dengan perkataan Caca. yang sama sekali tidak menyimpan dendam pada orang yang sudah hampir membuatnya kehilangan Nyawa.
"Ternyata kamu sangat berhati malaikat non, andai saja Istri Sandro Sepertimu. mungkin saat ini Saya tidak gelandang Seperti ini." ungkapan batin Fatma.
"Makasih. Caca, kedatangan aku kesini hanya untuk meminta maaf atas semua kesalahanku sama kamu dan mas Dion. aku sadar setelah apa yang aku lakukan Ternyata tidak menghasilkan kebaikan untuk aku, melainkan aku di kejar-kejar oleh dosa. Maafkan aku, Caca." Kirana Berjongkok Memohon Maaf kepada Caca Dan Dion.
Wanita muda itu segera meraih tangan Kirana. dan Membantunya untuk berdiri.
"Mba, Saya sudah Memaafkan kamu kok. Saya Harap mba bisa berubah menjadi orang yang baik dan berguna untuk Semua orang." ucap Caca. Sambil Memegangi tangan Kirana.
Dito Merasa senang karena Caca bisa memaafkan Kirana.
"Kamu sangat baik Mba Caca, Andai aku bisa bicara seperti kalian. mungkin aku bisa memuji kebaikan kamu." ucap Dito dalam hatinya.
Akan tetapi Siska masih merasa marah dan Kesal melihat wajah kirana. yang berpura-pura Baik di depan semua orang.
"Kenapa saya tidak yakin ya, kalau kamu itu benar-benar sudah berubah? atau jangan-jangan Kamu mempunyai siasat yang lain lagi untuk Bisa mencelakai Menantu saya!" Menatap kirana Dengan tajam Seakan ia siap menerkam lawannya.
"Ma. Tolong Maafkan mba Kirana ma, Lagian Aku yakin mba Kirana, sudah benar-benar berubah. Bakan ia sudah datang ke rumah kita untuk meminta maaf," berusaha meyakinkan Siska untuk bisa memaafkan Kirana.
Namun Siska Tidak pernah bisa memaafkan Perbuatan wanita itu. Ia Bakan masih Menatap Kirana Dengan sinis.
__ADS_1
"Mas?" Menatap Suaminya agar bisa memaafkan Kirana.
akhirnya pemuda itu pun memaafkan Kirana.
"Baiklah. Jika memang Ini adalah kemauan kamu sayang, Terpaksa aku maafin dia. Tapi bukan berarti aku sudah benar-benar memaafkan kamu Kirana! Semua ini hanya kemauan istriku saja. Bukan karena aku mau memaafkan kamu." ujar Dion.
"Mas! Kenapa harus mengikuti kemauan aku, Itu namanya mas nggak pernah ikhlas untuk memaafkan mba Kirana, mas."
"Nggak apa-apa Caca. Terpenting bagi aku, kamu Sudah memaafkan aku kok," Ucap Kirana. Memeluk Caca.
Siska Menatap sinis pada Kirana yang sedang Berpelukan dengan Menantunya.
Sedangkan Yudianto hanya Mengerutkan dahinya ketika melihat perubahan pada diri Wanita itu.
"Caca, Makasih banyak. karena kamu sudah mau memaafkan aku, Dan aku janji Tidak akan mengulangi perbuatan yang sama Seperti dulu." Ucap Kirana. Sambil meletakkan tangan kanannya di atas kepala Caca.
Dion tercengang ketika melihat Kirana bersumpah Di depan istrinya.
"Apa dia sedang bersandiwara atau memang dia sudah benar-benar berubah ya?" Gumam Dion. sesaat melirik Kirana.
"Mas Dion, aku tahu kamu belum mempercayaiku. tapi aku akan tetap minta maaf sama kamu," ucap kembali Kirana. mendekati Dion.
Suasana rumah itu menjadi hening. saat Kirana datang ke rumah itu. Dion hanya duduk di sofa sambil menjaga anaknya. sementara Yudianto bersama istrinya hanya berdiam diri tanpa berkata apapun lagi.
Caca Dan Kirana kini Sudah Berada di dapur bersama Fatma. Caca sengaja menahan Kirana dan Dito. untuk tidak pulang karena ia ingin Mengajak Kirana makan malam bersama Dengan mereka. Kirana Terlihat sangat bersemangat mengerjakan pekerjaan di dapur bersama Fatma dan istrinya Dion.
Caca hanya tersenyum Hangat melihat perubahan pada Diri Kirana.
"Aku senang Bu, Melihat Kirana bisa berubah baik seperti itu." Ucap Caca. Menatap Kirana yang sedang Mencuci Piring kotor.
"Iya. Non, Bibi juga Terharu dengan perubahan Dia. Dan semoga Mba Kirana bisa menemukan jodoh yang baik Juga ya," Sembari Tersenyum Menatap Caca.
"Iya Bu." Singkat Caca.
Usai memasak ketiga wanita itu langsung Membawah semua masakan mereka ke atas meja. Kirana Sudah menyediakan beberapa piring dan mangkuk di meja itu.
Dion yang masih penasaran dengan Sosok Pemuda yang sedang duduk Memandangi Kirana. Langsung Mendekati Pemuda itu
__ADS_1
"Apa kamu Pacarnya?" lirik Dion.
Dengan cepat pemuda itu Menggelengkan Kepalanya di depan Dion.
"Lalu? Kenapa kalian Terlihat Sangat dekat, Kalau memang kalian tidak punya hubungan apa-apa." ujar Dion Kembali Menatap Diko.
Membuat Diko merasa Kebingungan harus Berbuat apa. karena ia memang tidak bisa Berbicara Langsung dengan Dion.
Yang hanya ia bisa lakukan adalah Menggelengkan Kepalanya terus menerus.
Dion merasa Canggung pada pemuda itu. karena sejak tadi pemuda itu tidak menjawab setiap pertanyaannya.
"Apa kamu tidak bisa berbicara. Sehingga Sejak tadi kamu hanya menggelengkan kepala Kamu." Ucap Dion merasa kesal pada Diko.
"Dia memang Tidak bisa menjawab langsung setiap perkataan kamu Dion, karena diko memang Bisu sejak ia lahir." Tutur Kirana. menghampiri Diko dan Dion yang sedang duduk bersama di ruang tamu.
Dion pun termenung karena ternyata ia sudah salah menilai pada pemuda itu.
"Maafkan aku Diko, Aku pikir kamu Sama seperti yang lainnya." ucap Dion. sambil mengulurkan tangannya.
Diko Pun membalasnya dengan Senyuman Menatap pemuda itu.
Malam itu Kirana dan Diko makan malam bersama Dengan keluarga Yudianto. walaupun Siska tidak menyukai kehadiran Kirana di rumah itu. Namun Caca Memperlakukan mereka dengan sangat baik.
Setelah usai makan malam bersama kini Kirana dan Diko berpamitan pada Keluarga Yudianto
Karena waktu sudah menunjukkan pukul Sepuluh Hampir Tengah malam.
Caca Menyuruh Verry untuk mengantarkan Mereka hingga ke rumah. karena Hari sudah semakin larut malam. takutnya mereka tidak mendapatkan kendaraan untuk pulang ke kampung mereka.
Caca membungkus sisa makanan dari mereka makan tadi. Untuk di berikan kepada Kirana dan Diko.
"Mba Kirana. Ini ada Bawah saja untuk paman dan bibi dirumah." ucap Caca. Sambil memberikan bungkusan Besar yang berisi makanan.
"Apa ini tidak berlebihan Ca, lagian kami Sudah makan malam bersama kalian disini." ucap Kirana.
"Nggak apa-apa. Ini untuk paman dan bibi saja, Kasihani mereka pasti sudah menghawatirkan kalian." ujar Caca. tersenyum hangat pada wanita muda itu.
__ADS_1
"Makasih banyak Caca. Kami pamit dulu," Kirana kembali memeluk Caca. dengan perasaan yang sangat bersalah.
Kini Mobil Verry sudah meninggalkan halaman rumah Yudianto. Dion hanya bisa meratapi keadaan Kirana yang kini sudah jauh berbeda dari sebelumnya.