Derita Istri Kontrak

Derita Istri Kontrak
Ep 37: Lelaki Suruhan kirana


__ADS_3

Karena rencana Mereka Sudah batal pergi ke pantai. Dion Memutuskan untuk Berangkat ke Kantor. Karena Ada hal Yang sangat penting Yang Harus ia Kerjakan di Sana.


"Aku ke kantor dulu sayang, Dan Kamu harus Janji sama aku, kalau kamu Tidak akan Mengulangi Perbuatan kamu Yang Seperti pagi tadi." Ujar Dion, Menatap Istrinya dengan Serius


"Iya mas. Aku Janji," Singkat Caca. Tersenyum


"Ya udah. Aku pergi dulu, Kamu Istirahat di kamar saja. Dan jangan kemana-mana Lagi." Pinta Dion. Sambil menciumi Dahi kening Sang istri. Dan hanya Di angguki Oleh Caca.


Setelah melihat Suaminya sudah pergi. Dengan cepat Wanita muda itu Berjalan Ke arah dapur. Untuk Menemui Bu Fatma. Namun Setibanya di Dapur ternyata bu Fatma Belum Juga kembali dari Pasar.


"Jadi aku Tinggal sendirian Di rumah sebesar ini?" gumam Gadis itu. Termenung menatap Seluruh ruangan Di rumah itu.


"Sebaiknya aku Pergi ke rumah Pemuda itu deh. Aku harus minta maaf sama dia, Karena aku Sudah mencuri mangga Miliknya," Ucap Caca. Berbicara Sendiri.


Lalu ia keluar dari Dalam Rumah itu. Dan pergi ke Rumah Pemuda itu.


Walaupun Perutnya Sudah Terlihat Sangat jelas. Namun tidak membuat gadis itu Merasa Malu dengan Perubahan pada Perutnya yang Semakin Membesar.


"Halo. Apa ada orang di dalam Sana?" panggil Caca. Sambil Mengetuk Jeruji Besi yang ada di Halaman Rumah Itu.


Tidak lama kemudian Erlangga datang membukakan Pagar halamannya. Dan ia Menatap Caca Dengan sangat Gugup.


Bakan Ia Tidak Kuat saat berada di Depan Gadis itu.


"Maaf mas. Aku ke sini Hanya untuk minta Maaf Soal Tadi." Ujar Caca, Dengan sedikit ragu Melihat Mata pemuda itu.


"Mas! Kamu Kenapa Melihatku Seperti itu? Apa kamu Benar-benar marah sama aku ya?" Gumam Caca. Dengan Gugup juga.


Erlangga Yang Masih Menatap Wajah Caca Merasa Terkejut ketika Tangan gadis itu Menyentuh Kepalanya.


"Maafkan aku Tania." ujar Erlangga. Dan membuat Caca tercengang Dengan Ungkapan pemuda itu.


"Tania?" Nama Saya bukan Tania mas. Tapi Caca." ucap Caca, penuh rasa Heran.

__ADS_1


"Oh. Iya, Aku salah Maksud aku Tania itu adalah Sebutan Untuk Setiap wanita di Kota kami. Jadi kalau kami belum tahu Nama Gadis itu, maka kami Selalu memanggil mereka dengan sebutan Tania." ujar Erlangga, berbelit-belit Agar Tidak di curigai oleh Wanita itu.


"Wah. Namanya sangat Indah juga ya mas,"


"I--iyaa. Memang begitu."


lalu keduanya Saling Tertawa-tawa. Erlangga Merasa Nyaman Ketika Bersama Caca. Wanita yang Sangat mirip dengan Tunangannya Yang Sudah Lama Meninggal.


Sesaat Erlangga Pun Terdiam Sambil Menatap Caca.


"Apa Kamu Sudah lama Tinggal Di rumah Itu? Tanya Erlangga,


"Iya mas. Dulu aku Cuma seorang pembantu Di rumah Suamiku. Namun karena Ayahku Dan ayahnya Mas Dion, Temenan sejak Muda. Jadi Kami Di jodohkan oleh ayah kami." Tutur Caca.


"Hebat juga ya. perjalanan Cinta kamu."


"Lalu bagaimana Dengan Mas Erlan? Apa Sudah punya Pasangan juga?" Kembali Bertanya.


Dengan Keadaan terpaksa Erlangga Harus berbohong pada Caca.


"Iya. Aku sudah tunangan, Dan Sekarang tunanganku Lagi Berada di Rumah Kediaman Orang Tuanya." Jawab Erlangga. dengan Penuh Keseriusan di depan Caca.


"Mudah-mudahan Mas Erlangga Sama Tunangannya. cepat nikah Dan bisa Segera nyusul kayak Aku Ini." Ucap Caca. Sembari tersenyum hangat pada Erlangga.


Membuat hati Erlangga semakin Tidak nyaman Saat melihat Senyuman Dari Gadis itu.


"Aku mau Pamit dulu ya mas, Udah lapar." Ucap Caca, Berpamitan pada Pemuda itu.


Dan Erlangga hanya Mengangguk Pelan.


Melihat senyuman Terukir di wajah Cantik gadis Itu. Erlangga Kembali Mengingat Tania yang Memiliki Senyuman yang Manis seperti Senyuman Gadis itu.


"Kenapa Aku harus bertemu Dengan wanita yang sangat mirip denganmu Tania? Apa ini Semua ada kaitannya dengan kamu?" gumam Erlangga.

__ADS_1


Erlangga Merasa Sangat Bingung karena wajah Caca Begitu mirip dengan Tania. Ia sempat berpikir Kalau Itu Adalah Kembaran Tania.


"Tapi kalau wanita itu adalah kembaran Tania, Itu sangat tidak mungkin. Karena mengingat Usia mereka Sangat jauh berbeda. Caca Baru Berusia Dua puluh dua Tahun, Sementara Tania Berusia Dua puluh delapan tahun."


Erlangga Melihat Foto Tania Yang masih Tersimpan Di ponselnya.


"Makasih sayang, Walaupun Hanya Kemiripan Dari Orang lain. Tapi Kamu Sudah membuktikan Bahwa kamu benar-benar Kembali." Ujar Erlangga Menatap Sedih pada Layar ponselnya.


\*\*\*\*\*


Di Dalam rumah kediaman Yudianto. Caca Sudah Duduk di Ruang tamu. Menunggu Bu Fatma Kembali dari Pasar. Wajah Gadis Itu Terlihat Sangat Kusut Karena Ia Merasa Kelelahan Usai Dari Mengepel Lantai. Ia Sengaja Mengepel lantai Agar pekerjaan Bu Fatma segera Terselesaikan.


Karena melihat jam Dinding sudah menunjukkan Pukul Dua belas siang. Caca Merasa Ngatuk Dan Ia pun Tertidur Di Sofa ruang tamu. Gadis cantik itu Terlihat Sangat Nyenyak hingga Ia Lupa mengunci Pintu depan.


Saat Caca Tengah Tertidur di sofa ruang tamu. Dua orang Pria datang Ke rumah Yudianto. Kedua pria itu berpakaian serba hitam Dan wajah Tertutup dengan Topeng. Mereka menyusup masuk Dari Belakang Rumah itu. Atas perintah dari Orang yang sudah Memerintahkan Mereka.


Salah satu dari Dari Dua pria itu adalah Leon. Pemuda yang Di Perintahkan oleh Kirana Untuk Menculik Caca.


Setelah sampai di dalam Rumah tersebut. Kedua pria itu langsung Fokus pada Tujuan mereka. Dengan Cepat Leon Memasuki Seluruh Kamar yang Berada di dalam Rumah itu. Untuk mencari Keberadaan Istrinya Dion. Seketika Tatapan Leon Tertanam pada Gadis yang sedang Tertidur di Sofa Ruang tamu. Leon menatap Wajah Gadis itu Dengan Sangat Prihatin. Ia merasa kasihan Ketika melihat Caca Sedang Tertidur. Namun di sisi lain Ia juga mengingat Ancaman Kirana Terhadap Dirinya.


"Bos! apa itu wanita yang Ingin kita Culik?" Tanya Temannya Yang sudah berada di sampingnya.


Namun Leon Hanya Bisa Diam. Karena ia sendiri tidak Tega harus menjauhkan Gadis itu dari Suaminya. Apa lagi Dalam keadaan Caca Yang saat ini Sedang mengandung.


"Bos!" Kamu Kenapa jadi Melamun seperti ini? Apa kamu Tidak tega Melihat wanita itu?"


"Iya Bro. Aku Merasa Paling berdosa jika harus melakukan hal Ini pada Gadis itu." Ungkap Leon.


Sahabatnya itu pun mengerti dengan apa yang sedang Leon Pikirkan itu. Karena Mereka Berdua sama-sama Tidak bisa Melakukan Hal yang Di perintahkan oleh Kirana Terhadap mereka.


"Lalu bagaimana dengan nasip Kedua orang tuamu. jika kita tidak melakukan hal ini, Aku khawatir Kirana akan Melakukan hal Yang lebih kejam lagi kepada kedua orang tuamu bro." Ujar Iwan Sahabatnya Leon Itu.


Kini mereka Sama-sama Kebingungan Dengan apa yang harus mereka Lakukan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2