
Beberapa hari kemudian Caca bersama Dion Dan Juga Putra Kecilnya. Meminta ijin pada Yudianto dan juga Siska. Untuk Tinggal Di rumah Yanto, Selama beberapa Hari saja. Karena Mereka tidak ingin Kehadiran buah Hati kecil mereka Sampai ke telinga Kirana. Mendengar Hal itu Yudianto tidak Melarang keinginan Dion dan Menantunya itu. Karena menurut Yudianto, Itu Sangat Baik demi keselamatan cucu kecilnya.
Namun di sisi lain Caca Sangat berharap bisa bertemu dengan ayahnya. karena hingga saat ini Heru Belum Mengetahui Bahwa Cucunya sudah lahir. Caca merasa Bingung Harus Berbuat apa Agar bisa bertemu ayahnya.
"Wajah kamu kok, Di tekuk Kayak Gitu sayang?" apa Kamu tidak Suka kita kembali ke rumah paman Yanto?" Tanya Dion. Sambil melirik Istrinya.
"Bukan mas. Aku merasa Bingung Bagaimana cara agar bisa Mengabari ayah. Tentang Cucunya yang sudah Lahir." Ucap Caca. Sambil menatap Anaknya.
Pemuda itu merasa Kasihan kepada istrinya.
"Nanti biar aku Saja, yang Pergi ke rumah ayah. Biar sekalian aku ajak ayah. untuk Bertemu dengan Dede bayinya." Ucap Dion. Tersenyum menatap Istrinya.
"Apa itu benar mas? Mas, mau Ajak ayah. Untuk menemui anak Kita?" Menatap Dion.
Dan Pemuda itu Mengangguk dengan pelan.
"Iya. Sayang, Kan Ayah Juga harus tahu kalau Dede bayinya udah Lahir."
"Makasih. mas, Aku Kangen banget sama Ayah."
"Iya sayang. Aku paham Kok," lalu Dion. Kembali Melajukan Mobil mereka. Karena hari sudah mulai Sore.
Namun Kelahiran Putra Dion dan Caca. Sudah tersebar Di mana-mana. Hingga Ke telinga Kirana. Mendengar kabar itu Kirana merasa Kesal Dan ingin Sekali mencari bayi Tersebut.
"Kenapa Dia bisa lahir ke dunia ini! Kenapa tidak Mati saja, Sekaligus bersama wanita Kampung itu!" Geram Kirana. yang Sudah merasa gagal untuk Membuat Dion dan Caca kehilangan Bayi mereka.
Kemudian Gadis itu mengambil Ponselnya dan Menghubungi Salah satu orang kepercayaannya Yang sudah Ia Tugaskan untuk Mencari tau Keberadaan Dion bersama istrinya itu.
"Halo. Kamu di mana? Segera temui aku Di Rumahku!" ucap kirana. pada Seseorang di balik ponselnya itu.
{"Sekarang. Ya?"} Tanya pemuda itu. dari Seberang sana.
"Tahun depan!! Udah tau sekarang! Masih saja Nanya!" Bentak Kirana.
{"Iya-iya. Aku segera kesana."} Balas pemuda itu.
Lalu Kirana. langsung mematikan sambungan Panggilan Teleponnya. Dan ia menunggu kedatangan pemuda yang baru saja ia Hubungi di Ruang tamu.
"Aku Harus bisa menemukan Bayi Dion Itu! Aku bersumpah. Akan Membuat bayi itu pergi dari Dunia Ini!! Menatap tajam pada Layar ponselnya.
Dan beberapa menit kemudian. Seorang pemuda sudah datang ke rumah Kirana. dan pemuda itu terlihat sangat Tergesa-gesa Saat Memasuki Rumah Kirana.
"Ada apa kamu Memanggilku Ke sini! Memangnya kamu Perlu apa Dengan saya?" Melirik Gadis yang sedang duduk di Sofa.
"Ada hal yang penting harus kamu selidiki.
Dan ingat! Jangan sampai ada yang Curiga sama Kamu!" menatap Viko dengan Serius.
__ADS_1
"Langsung ke pokoknya saja. Tidak Usa berbelit-belit. Aku juga tahu Soal Begituan." Ujar Viko. Sambil memainkan kunci Motor miliknya.
"Cari tau keberadaan Dion dan Istrinya tinggal! Setelah itu kamu kabari aku, Jika sudah menemukan Tempat tinggal mereka." Ucap Kirana.
"Ok, Nanti saya Hubungi kamu Jika Sudah Menemukan alamat tempat tinggal mereka."
Kirana Langsung Tersenyum Menatap Pemuda itu.
"Saya janji jika Kamu segera menemukan tempat tinggal mereka. Maka Saya akan Berikan berapa pun Uang Yang akan Kamu minta." Menatap pemuda itu.
"Ok, Baiklah. Saya akan segera temukan Mereka!
Ucap pemuda itu Lalu ia langsung keluar Menuju Motornya yang Sedang Terparkir di Halaman Rumah Kirana.
"Kita lihat Saja Dion! siapa yang akan lebih Menderita!" Ucap Kirana. sambil melebarkan senyumnya.
****
Setibanya di Rumah kediaman Pak Yanto dan Verry. Dion Segera Memarkirkan Mobilnya dan keluar.
Untuk membukakan Pintu mobil untuk Istrinya dan Juga Anaknya.
Dengan bantuan Verry dan Juga Yanto. Dion Segera Membawah masuk semua keperluan mereka ke dalam Rumah.
Sementara Caca dan Putra Kecilnya. Sudah duduk Di Dalam Sambil Menunggu Dion Yang masih mengangkut Barang-barang Milik mereka.
"Kita sudah sampai di rumah Kakek, Sekarang Anak mama. harus tinggal di sini bersama kakek dan juga paman verry, Ya nak," ucap Caca. Mencumbui putranya.
Lalu ia langsung melepaskan Putranya di pangkuan Yanto. membuat Yanto merasa khawatir dengan kondisi badannya yang tidak terlalu bersih.
"Nak Caca, Apa ini den kecilnya Tidak apa-apa jika harus di Gendong sama Saya?" Ucap Yanto. yang merasa khawatir.
"Memangnya kenapa paman? kan Paman, juga kakeknya. jadi paman harus menggendong dia juga. Biar Dia tahu Kalau paman itu Adalah kakeknya." Ucap Caca. Sembari tersenyum menatap pria tua itu.
Lelaki tua itu Merasa Sangat bahagia karena bisa menggendong Cucunya. Walaupun itu bukanlah anak Verry. Namun Lelaki itu terlihat sangat bahagia. Ketika Bersama Anak Dion dan Caca.
"Maafkan Kakek, Ya Nak. Karena Kakek tidak bisa memberikan rumah yang Baik. untuk Cucu Kakek yang Tampan ini." Ucap Yanto. Tersenyum menatap Putra Dion.
"Nggak apa-apa kakek, Kan Kakek sudah memberikan yang terbaik untuk Dede bayinya." Sambung Caca. Yang baru kembali dari dapur.
Setelah Semua barang sudah di angkat dari mobil hingga ke dalam rumah. Dion dan verry Kembali berpamitan pada Caca Dan pak Yanto. Untuk mencari kebutuhan mereka
Pemuda itu terlihat lebih dewasa dari Sebelumnya. Sekarang ia Sangat Sibuk Demi Anaknya dan juga Istrinya.
"Bos. Kita mau kemana?" Tanya Verry. Yang Terus menyetir.
"Kita ke Supermarket dulu. Mau cari Keperluan Dapur dan juga lain-lainnya." Jawab Dion.
__ADS_1
"Siap. Bos!" singkat Verry. lalu segera Melajukan kendaraan mereka dengan kecepatan yang Tinggi.
Tiba-tiba di tengah perjalanan.
Dion melihat sebuah Motor berwarna Hitam. yang sedang mengikuti Mereka dari Arah Belakang. Pemuda itu terus memperhatikan kendaraan Roda dua itu dari Balik kaca Spionnya.
"Apa kamu Mengenali Motor yang sedang ada di belakang kita Ver?" tanya Dion.
Membuat Verry Harus menoleh kebelakang.
"Aku tidak Mengenalinya bos. Mungkin itu Motor yang mau lewat saja." Ucap Verry. Namun Dion merasa curiga dengan kendaraan roda dua itu.
"Sebaiknya kamu putar ke kiri Mobilnya. jangan Sampai ia curiga dengan kita. agar aku bisa memastikan kalau orang itu Sedang mengikuti kita, Atau tidak."
"Siap Bos!" Verry pun Mengikuti Jalan yang sudah di beritahukan oleh Dion kepadanya. kini mobil itu tidak menuju ke supermarket. namun menuju ke Sebuah Hotel bintang lima milik Fatma. pembantu dirumahnya Dion.
Dan ternyata Dugaan Dion Memang benar. pemuda yang mengendarai motor hitam itu. Memang sedang mengikuti mereka.
"Kita turun di sini. Kamu ikuti aku dari belakang sambil terus awasi pergerakan Pemuda itu." Pinta Dion. dengan santai Mereka berjalan memasuki Dalam hotel itu.
Verry Terus mengawasi Dion Dari arah belakang Sambil Menatap pemuda yang baru saja Memasuki di Hotel itu.
"Bos. Kelihatannya Dia memang sedang mengikuti kita bos, Apa sebaiknya kita Berpencar saja?" usul Verry. agar bisa mengetahui Pemuda tersebut.
"Baiklah, Kamu Tunggu saya di parkiran saja. Kita Bertemu di parkiran. Saya mau Ke dalam Untuk Membuat Pemuda itu Terus mengikuti saya hingga ke dalam sana." Ucap Dion. Lalu mereka langsung berpencar.
Verry mengikuti jalan Pintas menuju parkiran. sementara Dion Mengalihkan Pemuda itu hingga masuk ke dalam Hotel milik Fatma.
"Kemana meraka! Bukannya tadi mereka Masuk kedalam sini ya? Atau mungkin mereka Menemui Seseorang di Dalam Sini?" Gumam Viko. terus menatap sekelilingnya.
lalu dengan Langkah Cepat pemuda Itu Masuk untuk mencari Dion dan sopir pribadinya Didalam sana.
Akan tetapi Dion sudah berhasil mengelabui pemuda itu hingga masuk ke dalam jebakannya. Dengan cepat Dion keluar dan mencari Verry di Parkiran.
"Cepat masuk bos!" Ucap verry. yang sudah menunggu Dion di dalam mobil.
Setelah Dion telah masuk ke mobilnya. Verry Langsung Melajukan Mobil itu dengan sangat cepat.
"Sebaiknya kita Amankan dulu mobil ini. Kita tukarkan mobil ini Dengan yang baru, Agar tidak ada yang mengenali mobilku lagi." Ucap Dion. lalu mereka pergi Ke Salah Villa milik ayahnya. untuk mengambil mobil yang belum pernah di ketahui oleh Kirana.
Kini Mobil Sport Berwarna merah sudah melaju mulus di sepanjang perjalanan. Dion dan Verry Masih Mencari tahu Pemuda itu.
Mereka Bakan tidak pernah bertemu dengan sosok pemuda yang telah mengikuti mereka tadi.
"apa itu suruhannya Mba kirana, Ya bos?" Ucap Verry. mencurigai Kirana.
"Mungkin saja! Karena hanya dia yang selalu mencari tahu keberadaan ku Dan Caca."
__ADS_1
jawab Dion.