
Dalam Perjalanan Caca Hanya Menatap Sekeliling Jalan Yang Mereka lewati. Sementara Dion Hanya Fokus Menyetir. Mereka Berdua Saling Diam tanpa Ada Yang bersuara.
"Apa masih jauh Kampung halaman Kamu? Suara Dion Tiba-tiba Mengejutkan Caca.
Gadis itu hanya mengangguk Pelan. tanpa Bicara
"Apa kamu Yakin Kalau ayahmu Akan Menyetujui Pernikahan Kita?" Kembali Bertanya Sambil Menyetir
Caca Hanya menggelengkan Kepalanya. Karena ia Sendiri juga tidak tau apa ayahnya Akan Menyetujui Pernikahan Mereka. Belum lagi jika Farhan mengetahui Jika Caca akan Di lamar oleh Pemuda lain Pasti Urusan akan Bertambah besar Karena Kepergian Caca Ke kota hanya untuk Bekerja Agar bisa melunasi hutang-Hutang Mereka sama Keluarga Farhan. Jika tidak maka Farhan akan memaksanya untuk Menikah dengannya Sebagai Pelunas Uang Yang Sudah Keluarga Caca pinjam.
"Kamu Ini kenapa Si, Sejak Tadi aku tanya hanya Ngangguk Dan Eleng-Eleng. Memangnya Mulut Kamu Lagi sakit ya?" Dion Merasa Kesal Melihat Caca Yang Tidak Mau Bicara dengannya.
"Kan Tadi Tuan yang Nyuruh aku Untuk Tidak Banyak Bicara jika Sudah Di mobil." Jawab Caca
"Kamu ini Memang Gadis aneh Juga ya, Lantas kenapa kamu Mau Semobil denganku."
"Itu karena Bu Siska dan Bapa yang suruh aku."
Dion Menghembuskan Napas kasar. Lalu Menggelengkan kepalanya pelan.
"Terserah kamu Sajalah." Singkat Dion
Caca hanya Menatap Wajah pemuda itu Lalu Memonyongkan Bibirnya
"Tu Kampung aku." Ujar Caca
Lalu Dion Menghentikan Mobilnya. Dan Menatap Sekeliling kampung itu.
"Lalu yang mana Rumah Kamu," Menatap Caca
"Kita jalan lurus kesana Setelah itu Baru Belok Kanan. Di situ rumah aku." Jawab Caca Dengan Santai
Dion Mengikuti Jalan Yang Sudah Caca Arakan itu lalu Mobil mereka Berhenti tepat di depan Rumah Pak Heru.
"Itu Rumahku." Tunjuk Caca Ke arah Rumah Papang Yang kecil
Dion hanya tersenyum Menatap Keadaan Rumah Gadis itu.
"Jadi ini rumah kamu? Pantesan saja kamu Mau Nikah sama aku. karena kamu ingin Mengubah NasipMu kan?? Singgung Dion
"Tuan. Walaupun Rumah kami Seperti Itu. Namun Aku tidak pernah Berpikir untuk Mengubah Rumahku Menjadi Istana Dengan Cara menikah Denganmu. Jika memang Tuan Tidak Mau Menikah Denganku, Aku akan mengatakannya Sama Ayah Agar ayah tidak menerima Pernikahan Ini." Tegas Caca lalu ia Segera Keluar dari dalam Mobil Tersebut.
"Ca. Gitu aja udah Marah si, Caca tungguin aku." Dion Langsung keluar dari Mobilnya dan Pergi menyusul Caca Yang Sudah Berjalan ke arah rumahnya.
Tidak lama kemudian Mobil milik Yudianto dan Siska juga sudah terparkir Di depan Rumah Caca. Yudianto Dan Istrinya Segera Keluar dan Menemui Caca Yang masih Menunggu Mereka di Depan Rumah.
"Maaf Bu. Rumah kami Tidak Semewah dengan Rumah Ibu Sama bapa Di kota." Ucap Caca Dengan Sedikit Malu
"Tidak apa-apa Ca, Ini juga Sangat bagus kok. Udaranya juga Adem sangat berbeda Di kota. Iyakan Pa,"
"Iya Bu. Suasana di sini lebih Sejuk Dan Masih Udara Segar," Sambung Yudianto dengan Lembut
Caca Hanya tersenyum Bahagia karena Kedua Orang tua itu sama Sekali tidak Mempedulikan Keadaan Rumahnya yang Sangat Kumu.
Lalu Caca Berjalan ke arah Pintu Dan Memanggil ayahnya
Tok Tok Tok!
Berulang kali Caca Terus Mengetuk Pintu Rumahnya Dengan Kuat. Namu Belum juga ada Sahutan dari dalam Sana.
"Ayah. Ini Caca Ayah," Panggil Caca Yang masih Mengetuk Pintu itu
Tidak lama kemudian Pintu itu Terbuka Dan Seorang Lelaki Dewasa Berusia Lima puluh tahun Lebih Yang keluar dari dalam rumah itu.
"Caca?" Sapa Heru Dan Langsung Memeluk Putrinya dengan Erat Karena sudah Hampir Sebulan Caca Meninggalkannya Sendirian.
__ADS_1
"Ayah. Aku kangen Sama Ayah, Apa ayah Baik-baik Saja saat aku Tidak di rumah?" Membalas Pelukan ayahnya dengan penuh Kerinduan
"Iya Nak," Lalu lelaki Dewasa itu melepaskan Pelukannya Dan menatap ke arah dua orang Yang sedang berdiri Di Depan mereka.
"Mereka ini Siapa nak?" Tanya Heru Penuh Kebingungan Karena melihat Seorang Pemuda Tampan Bersama Wanita dewasa
"Oh, Ini Bu Siska dan anaknya pak. Mereka yang Sudah Menerima aku kerja di Rumah mereka," Jawab Caca Dengan Lembut
"Dion. kemana Papamu?" Tanya Siska saat melihat Suaminya tidak Berada Di Sampingnya.
"Papa lagi balik Ke mobil ma. Mungkin Mengambil Sesuatu yang lagi ketinggalan di dalam Mobil." Jawab Dion
"Silakan masuk Dulu Bu. Maaf Keadaan Rumah Kami Tidak senyaman Rumah Ibu." Ujar Pak Heru Mempersilahkan Tamunya untuk masuk Ke Dalam Rumah.
"Tidak apa-apa Pak," Ucap Siska Sambil Duduk Di Kursi Yang Terbuat Dari Bambu.
Sementara Dion hanya mengikuti Isyarat Dari ibunya Agar tidak terlalu Memperhatikan Keadaan Rumah Caca.
Tidak lama kemudian Yudianto Ikut Menyusul Ke dalam Rumah Itu. Setibanya Di depan Pintu Yudianto Merasa Terkejut Ketika melihat Wajah Heru. Karena Wajah Tersebut Tidaklah asing Lagi Di Pandangannya.
"Heru?" Ucap Yudianto Sedikit ragu
"Yudi."
Kedua Sahabat Lama Itu Langsung Berpelukan Dengan Erat. Karena ternyata pak Heru dan Ayahnya Dion Adalah Sahabat lama Yang Sudah Tidak pernah Bertemu lagi. Dan ini Adalah Pertemuan pertama mereka Saat Berpisah Masih Duduk Di bangku SMA dulu.
"Ma. Pak Heru Ini Adalah Sahabat Papa yang dulu Pernah papa Ceritakan Itu Lo." Ujar Yudianto
"Benarkah pa, Syukurlah kalu gitu Ini adalah Pertanda baik Untuk Keluarga kita." Jawab Siska
Dion Merasa lebih aneh Ketika Mengetahui Bahwa Ayahnya dan ayah Gadis itu adalah Teman Baik Sejak Dulu.
"Ini lebih gawat lagi Kalau kayak Gini. Pasti Papa Akan lebih memaksaku untuk Segera menikahi Anak Sahabat lamanya itu." Gumam Dion Menatap Ke arah Caca yang sedang duduk Sambil Memandangi Ponselnya.
"Terimakasih banyak Pak. Karena sudah Merestui Hubungan Mereka, Semoga Kedepannya Keluarga kita lebih bahagia." Ujar Siska Sembari Tersenyum Menatap Heru dan Putrinya.
"Iya Bu. Saya Juga turut bahagia Karena Putriku Bisa Menikah Dengan Putra sahabatku. Semoga Mereka Bahagia selamanya Dan bisa segera Memberikan Cucu untuk kita." Sambung Pa Heru
Hingga membuat Dion Sulit Menelan Salivanya.
Caca Melotot pada ayahnya Yang sudah terlalu Jauh Mengucapkan Sesuatu yang belum Pernah Caca Inginkan.
"Pa, Jangan ngomong gitu. kan Nikah Aja belum, Masa sudah Mau Nimang Cucu?" Sambung caca Sambil Tertawa lucu
"Tidak apa-apa. Kan Tidak lama Lagi kalian Akan Menikah, Sudah seharusnya Kami Mengharapkan Seorang Cucu dari kalian Iya kan Pa," Ujar Siska Kembali Tersenyum
Namun Caca dan Dion Hanya saling Bertatapan Dengan Penuh Kebencian.
Gadis itu segera pergi ke dapur untuk Membuatkan Teh Hangat untuk Tamunya. Melihat Caca Pergi ke dapur Dion Juga Segera Berdiri Dan Mengikuti Caca
"Ngapain tuan Ikut ke sini?" Tanya Caca Menatap Dion
"Aku hanya ingin Memastikan Kalau kamu Tidak akan Mencampurkan Hal yang Aneh-aneh Pada Minumanku. Agar Aku bisa Jatuh cinta sama Kamu." Ucap Dion Sambil terus memantau Gerak-gerik Gadis itu.
"Siapa juga yang mau Mencampuri Minuman Kamu Tuan?" Balas Caca Tersenyum sinis pada Dion
"Siapa tau saja Kamu Memang nekat."
"Dasar Pikiran Tuan Memang Kotor ya." Jawab Caca Lalu Segera keluar Dari pintu Belakang untuk Mencari Teh Di warung sebelah.
Dion hanya menatap Punggung Gadis itu Dengan perasaan yang sangat Lucu.
"Mau kemana dia?" Gumam Dion Lalu segera mengikuti Caca Secara diam-diam
"Ternyata dia ke Warung." Menatap Caca Yang Berdiri di Depan Warung tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba Farhan Datang bersama Anak Buahnya. Pemuda Jahat itu Melihat Caca sedang berdiri Di depan warung.
"Caca!" Panggil Farhan Dari Sebrang jalan
Membuat Caca Harus Cepat-cepat Pergi dari Tempat Itu. Namun dengan cepat Farhan Mengejar Caca yang hendak mau Kabur darinya
"Mau kemana kamu Manis?" Lupa sama Hutang-hutang Kamu dan Ayahmu!! Bentak Farhan Yang Sudah Berdiri di depan Caca
"Kami Akan tetap membayar kok, Jadi jangan Halangi Saya untuk Pergi dari sini." Ujar Caca
Namun Lelaki Itu tidak Ingin Caca Pergi begitu saja
"Kamu pikir Kamu bisa membayar Semua Hutang-hutang Ayahmu!!" Bentak Farhan
Dion Hanya Menatap Sikap Lelaki itu yang Sejak Tadi Membentak Caca. Karena merasa penasaran Dion pun Segera Mendekati mereka Yang Sedang Ribut itu
"Ada apa ini. Kenapa Calon Istriku Di bentak-bentak." Ujar Dion Sambil menggandeng Lengan Tangan Caca.
"Apa kamu tidak Apa-apa Sayang?" Tanya Dion Dengan Berpura-pura Baik Di depan Caca
Caca Hanya menatap Wajah Dion yang sok Baik itu. ingin rasanya ia Mencabik-cabik Wajah Pemuda Itu. Namun saat ini ia Juga Butuh bantuan Dari Dion Agar bisa lepas dari Lelaki Jahat itu.
"Apa Yang kamu bilang apa tadi? Calon Istri?" Tanya Dion dengan raut wajahnya yang Tidak percaya
"I--iya. ini Calon Istriku, Dan kami akan segera Menikah Iya kan sayang?" Rayu Dion Di depan Farhan
"Apa-apaan Ini. Caca Tidak boleh Menikah Dengan Siapa Pun termaksud Kamu. Karena Caca Harus menikah Dengan Saya Untuk Melunasi Hutang-hutang Keluarganya." Bentak Farhan Dengan Sangat Kasar
"Oya? Lantas gimana dong, Saya kan sudah melamar dia tadi. Dan ayahnya juga Sudah Menyetujuinya." menatap Farhan
"Sialan! Kamu pikir Kamu Siapa? Bisa Merebut Caca Dariku. Pokoknya Caca harus Menikah sama Aku Agar hutangnya Bisa Lunas." Melotot pada Dion
Namun Dion juga tidak mau kalah Dari Lelaki Jahat itu. Ia terus Membuat Farhan Semakin Sakit hati Di Depannya.
"Memangnya Berapa Hutang Keluarga Caca sama Kamu,"
"Pokoknya banyak. Kamu Tidak akan pernah Sanggup untuk Melunasi nya."
"Berapapun Itu Saya akan membayarnya." Tegas Dion Menatap tajam pada Farhan
"Lima puluh Jutah. Apa kamu yakin Bisa membayarnya?? Tertawa mengejek Dion
Tidak lama Kemudian Dion Segera Mengeluarkan Ponselnya yang Berada di Dalam Saku Celana.
"Mana Nomor Rekening kamu. Biar saya Langsung transfer Uangnya sama kamu." Menatap Farhan Dengan Marah.
Sementara Caca Hanya bisa diam Dengan perlakuan Farhan yang Sudah di luar batas itu
"Farhan. Hutang aku sama ayahmu bukan lima puluh juta. Kenapa kamu Bohong si?? Teriak Caca Hingga membuat Heru dan Yudianto Datang Untuk Melihat Keributan tersebut.
"Itu sudah Dengan Denda dan bunganya!" Ucap Farhan
"Dion?" Ada apa. Kenapa mereka Ini Marah-marah Sama Kalian?" tanya Yudianto
"Ini pa. ada Pengemis yang lagi Menagih Hutang di tengah jalan pa." Jawab Dion Sambil Menatap Farhan
"Manangih hutang?" Yudianto merasa kebingungan
Lalu Heru menceritakan hal yang sebenarnya pada Yudianto Dan Yudianto segera melunasi Semua pinjaman Keluarga Heru kepada Bowo Dan anaknya.
"Sekarang Saya tidak mau tau lagi. jika keluarga kamu Masih Mengganggu Keluarga Caca. maka Saya tidak akan segan-segan Melaporkan Hal Ini pada Pihak Yang berwajib." Ancam Yudianto Pada Bowo dan Putranya.
"I--iya pak. Saya akan berjanji tidak akan menggangu Keluarga Pak Heru dan Putrinya. Dan Saya juga akan Melarang anak saya." Ucap Bowo Dengan Gugup
Setelah melunasi semua Pinjaman Keluarga Heru. Yudianto segera mengajak Pak Heru kembali ke Rumahnya. sementara Farhan Merasa Marah karena Mereka sudah Mempermalukannya di depan Para warga.
__ADS_1