
Dito Sangat Mencemaskan Keadaan Kirana. Yang Kini masih dalam penanganan dokter. Ia tidak mengerti Harus Melakukan apa untuk menolong Wanita yang sangat ia Cintai itu.
Tidak lama kemudian Verry bersama Yudianto dan juga Siska. Segera tiba di rumah sakit. Mereka langsung menemui Dito yang Sedang Duduk Di ruang tunggu
"Dito, bagaimana keadaan Kirana?" Tanya Siska Menghampiri Dito.
Pemuda itu Hanya Menggelengkan kepalanya dan Ia menunjuk ke arah Ruangan di rumah sakit itu dimana Kirana sedang di periksa.
"Kamu yang sabar ya nak, Tante yakin Kirana itu wanita yang kuat dan Baik. Ia pasti bisa melewati masa kritisnya dengan baik." Ucap Siska Menguatkan hati Dito.
Dan Dito hanya bisa mengangguk Pelan.
Semenjak Berhasil menabrak Kirana. Wanita itu merasa Lega dan Tersenyum sendirian. Walaupun ia salah sasaran Akan Tetapi ia merasa puas karena bisa menghancurkan Kekasih dari pemuda bisu tersebut.
"Makanya. Jangan sok Jadi pahlawan!" Ujar Mila Tertawa Terbahak-bahak Di dalam kamarnya. Ia sama sekali tidak merasa takut ataupun khawatir terhadap dirinya. jika nanti ada yang mengetahui Pelakunya.
"Kamu ini Kenapa Mila! suara kamu Sangat mengganggu hingga ke kamar sebelah. Apa kamu tidak tahu kalau Ini sudah Larut malam!" Ucap Arista. Melemparkan Sebuah Mangkuk plastik ke Arah wanita yang sedang Duduk di Ranjang Tempat Tidurnya
"Oh. Maafkan Aku Mi, Soalnya hari Ini aku sangat Senang," Jawab Mila Sembari Tersenyum Tipis menatap ibunya
"Terserah kamu saja! Mau senang atau apa! Yang Jelas jangan sampai Ribut lagi." Ucap Arista menatap penuh amarah pada putrinya itu.
Melihat Ibunya sudah pergi Dari depan pintu kamarnya. Wanita muda itu kembali Tertawa Pelan Sambil merebahkan tubuhnya di Kasur.
"Pasti saat ini Si bisu itu sangat Sedih. Karena kekasihnya sudah tiada, atau mungkin Cacat!" Gumam Mila Tersenyum Tipis
****
"Kenapa Aku tidak bisa tidur ya, apa mba Kirana Baik-baik Saja mas?" Tanya Caca yang sejak tadi tidak bisa tidur.
"Tidurlah sayang, Kirana pasti akan baik-baik Saja." Jawab Dion Tersenyum Menatap wajah Istrinya.
Namun gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. ia sangat menghawatirkan Kirana. walaupun Dulu Kirana Pernah Melakukan hal yang sama Terhadapnya. Namun Caca Sama sekali tidak mengingat semua itu. Baginya Kirana sudah di anggap Sebagai kakak kandungnya sendiri.
"Mas. Aku boleh ke rumah sakit Nggak mas, Aku mau jenguk Mba kirana," Ucap Caca.
__ADS_1
Membujuk Suaminya.
"Tapi sayang. Ini udah pukul Sepuluh Hampir Tengah malam Loh, Lalu bagaimana Kamu bisa Kesana?" Balas Dion. Menatap istrinya dengan Kebingungan.
"Aku bisa naik Taksi ke sana mas, Aku mohon mas. Ijinkan aku untuk melihat mba kirana." Bujuk kembali Caca. sambil bergelimang air matanya. Membuat Dion Tidak tega melihat Kesedihan Istrinya itu.
"Baiklah sayang. Kita pergi bersama-sama ke Rumah sakit ya," Jawab Dion
Dan di anggukan oleh istrinya.
"Lalu bagaimana dengan Dede, mas. Apa Dede Sama ayah saja?" Menatap Suaminya.
"Memangnya Dede nggak Rewel kalau harus di tinggalkan dengan ayah?" kembali bertanya.
Dan Caca hanya Mengangguk Pelan.
"Ya sudah. Kalau Dede, Memang nggak Rewel Kita titip saja sama ayah, Kasihan ini juga udah Larut. Ntar Dedenya Bisa masuk angin jika di ajak." Ucap Dion.
"Iya mas," Singkat Caca. Lalu ia pergi Membangunkan Ayahnya di kamar.
Setelah Ayahnya Sudah bangun Caca dan Dion Segera berpamitan untuk pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk Kirana.
Karena ia juga tidak ingin mengecewakan Istrinya.
Suasana Rumah sakit sudah sangat sepi. Dito dan Verry, Bersama Yudianto dan Siska. Masih setia Menunggu hasil pemeriksaan Kirana yang sejak tadi belum juga Ada Yang keluar untuk menemui mereka.
Beberapa menit kemudian Seorang Lelaki berpakaian Putih dan bawahannya Celana hitam Polos. keluar dari dalam Ruangan itu.
Lelaki muda itu berjalan mendekati Yudianto dan Siska yang sedang duduk.
"Bagaimana dok, Apa keponakan kami. Tidak apa-apa?" Tanya Yudianto. dengan penuh harap
"Apa bapa Ini Keluarga dekatnya?" Tanya kembali dokter muda itu.
"Iya Dok. Saya adalah Keluarganya." Jawab Yudianto dengan Cukup serius.
__ADS_1
"Mari ikut ke ruangan saya Pak, kita bicarakan di sana saja." Ungkap Lelaki muda itu.
Dito menatap Dokter itu Dengan sangat Kebingungan.
"Apa yang terjadi sama Kirana. Kenapa dokter itu tidak bisa bicara di sini saja." Ungkap Dito dalam Hatinya. sambil menatap punggung Yudianto dan Dokter muda itu dengan sangat Sedih.
Lalu sebuah tangan Menyentuh pundak Dito dengan Pelan. Dito pun menatap ke arah belakangnya. Setelah melihat Itu adalah Dion Dan Istrinya. Pemuda itu langsung Memeluk Dion Dengan penuh permodalan agar Dion dan Istrinya bisa. Membantu Kirana untuk bisa kembali Pulih.
"Yang sabar Dito, Aku yakin Kirana bisa melewati semua ini." Ucap Dion
Dito Mengangguk Pelan Dan kembali menatap Caca. dan Ia Tersenyum
"Iya mas Dito, Kita Bersama-sama Mendoakan Mba Kirana, Biar dia bisa kembali pulih seperti sediakala." Ucap Caca Tersenyum Menatap Dito.
Dan Pemuda itu hanya bisa mengangguk-angguk kepalanya dengan pelan.
Sementara didalam Ruangan dokter muda yang Tadi. Yudianto merasa Sangat Bingung untuk Mengatakan apa yang sudah terjadi pada Kirana. Pada Semua Orang yang sedang berada di luar sana. Termasuk kepada Dito yang selama ini Selalu Setia menemani Kirana.
"Dokter, apa Tidak ada jalan yang lain Untuk memulihkan Gadis itu?" Tanya Kembali Yudianto dengan harapan bisa Mengembalikan Kirana Seperti sedia kala.
Namun dokter itu hanya menggelengkan Kepalanya.
"Sebaiknya Kalian Menunggu Saja. sampai ia benar-benar bisa mengingat Siapa diri kalian dan Bisa Mengenali Dirinya Sendiri," Jawab Dokter itu.
Yudianto merasa cemas dengan Dito Yang kini Tidak bisa berbicara apapun. dan kini Kirana mengalami Lupa ingatan Akibat benturan yang terlalu kuat sehingga membuatnya Kehilangan ingatannya.
Lelaki dewasa itu keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang lesu dan Sedikit berkeringat.
"Apa yang terjadi pa, apa yang di katakan oleh dokter, tentang Kirana?" tanya Siska. ketika melihat suaminya sudah keluar Dari ruangan Dokter itu. Namun Yudianto hanya menatap Datar pada dito. Ia sama sekali tidak tega mengatakan hal itu pada mereka. namun ia juga merasa Bingung harus berbuat apa untuk membuat mereka tidak menanyakan Hasil Pemeriksaan Dari Kirana.
Kini tatapan semua orang Teralihkan kepada Yudianto yang baru saja keluar Dari ruangan dokter yang sudah menangani Kirana tadi.
"Pa. Apa yang terjadi sama mba kirana, Pa. Apa dia baik-baik Saja?" tanya Kembali Caca.
"Dia Kehilangan ingatannya. Sehingga ia tidak bisa Mengingat siapa dirinya dan Orang-orang di dekatnya." Jawab Yudianto dengan sangat Pelan. Membuat Dito Langsung tersungkur ke lantai. Sementara Caca Menjadi sangat Sedih.
__ADS_1
Kini suasana berubah menjadi canggung Dito hanya bisa Menatap Wajah Kirana yang masih Di pasang Oleh Beberapa alat di bagian tubuhnya.
Selama ini Dito selalu Setia menemani Kirana kemana pun ia pergi. namun ia sama sekali Tidak pernah bisa mengutarakan isi hatinya sendiri pada Wanita yang sudah membuat Hatinya Merasa nyaman saat berada di sampingnya. Dito sangat menyesal karena harus Berhenti Ketika mereka sedang berjalan. sehingga Kirana harus kecelakaan seperti ini.