Derita Istri Kontrak

Derita Istri Kontrak
Ep 86: Merasa Kesal


__ADS_3

Kini Dion dan anaknya Hanya bisa menatap Foto Caca di layar ponselnya. Pemuda itu terlihat sangat sedih karena harus kehilangan Caca Kembali. baru saja ia di pertemukan dengan istri dan anaknya seminggu yang lalu. namun kini Mereka kembali terpisahkan. Para Petugas Sudah mencari Caca kemana-mana namun tidak berhasil menemukannya. Membuat Dion dan keluarganya semakin Bertambah Sedih. terutama Heru Ayahnya Caca. ia sangat menghawatirkan Putri semata wayangnya yang hingga kini belum juga di temukan. Heru sangat berharap anaknya dalam keadaan yang Baik-baik saja.


"Dimana kamu nak, Kenapa hingga saat ini kamu belum juga mengabari ayah. Apa kamu mengalaminya kesulitan saat Pulang Ke rumah kita nak," lirih Heru tersedu-sedu di dalam kamarnya.


Ketika Fatma melihat kesedihan Heru ia pun masuk ke dalam kamar itu dan berusaha menenangkan Lelaki dewasa itu.


"Kamu harus tetap sabar, Kita pasti bisa menemukan Anakmu kembali," Ucap Fatma.


"Iya. Mungkin aku terlalu Memikirkannya hingga aku Terbawah dalam kesedihan." ujar Heru.


Ulang tahun Geral tidak akan lama lagi. Namun Caca Tidak ada di samping putranya.


"Dua Minggu lagi adalah ulang tahun Kamu sayang, Tapi mama tidak ada di samping kamu. Maafkan mama, Dede." gumam Caca Dengan sangat sedih.


"Hei!"


suara Seseorang memanggilnya dari arah belakang membuat Caca Terkejut.


dan Ia pun membalikkan Tubuhnya ke Arah sumber suara Tadi.


Dengan cepat wanita muda itu menghapus air matanya ketika melihat Seorang Lelaki Muda yang sedang berdiri Di depannya.


"Kamu Siapa? kenapa bisa ada di sini?" tanya Pemuda itu dengan tatapan yang Aneh.


"A--aku. Aku, Anaknya Pak Ramli dan Bu Rosa, Kamu Siapa. kenapa kamu juga ada di sini!" Jawab Caca. dengan suaranya yang sedikit serak


"Anaknya pak Ramli dan Bu Rosa? Tapi setahuku Mereka tidak punya anak, Apa kamu maling ya. Yang sengaja mengaku sebagai anaknya Pak Ramli dan Bu Rosa!" tegas Pemuda itu.


"Aku bukan Maling! Mungkin kamu yang Maling!" Balas Caca.


"Aku juga bukan Maling. Aku sering datang ke sini Tapi aku tidak pernah melihat kamu di sini," Cetus kembali Pemuda itu. Sambil berjalan mendekati ke Arah Caca.


"Jangan Mendekati aku! Tetap di situ dan Jangan Banyak Bergerak!" Ujar Caca Dengan sedikit Ketakutan.


"Kamu ini Kenapa si! Aku cuma mau Memastikan Kalau kamu itu memang orang baik atau maling. Itu saja!" tegas Pemuda itu.


"Pokoknya kamu tetap di situ! Aku tidak mau kamu mendekat ke sini!"


"Kamu ini memang aneh ya, apa kamu pikir aku Mau Menyentuh tubuh kamu? Perlu kamu ketahui ya, aku tuh nggak pernah tertarik sama Gadis Aneh seperti kamu itu." Ucap Stefan dengan Kasar.


"Aku juga tidak pernah berpikiran seperti yang kamu pikirkan itu. Hanya saja Kamu tidak usah ke sini karena Saya Bukan maling!" tegas Caca Menatap tajam pada Pemuda itu.


Stefandro Ariyanto adalah anak dari Majikan Rosa dan Ramli yang datang untuk mengambil Hasil tangkapan Pak Ramli. Pemuda itu merasa kesal dan marah ketika harus bertemu dengan wanita aneh yang belum pernah ia Jumpai di rumah itu.


"Kalau kamu memang bukan Maling. Lalu kamu siapa, Kenapa kamu Tinggal di rumah Pak Ramli dan juga Bu Rosa, Apa kamu ini adalah buronan yang Sengaja Bersembunyi di Rumah mereka!"


Wajah Caca berubah menjadi Sangat Kesal Ketika Mendengar Ucapan pemuda itu. Tanpa Rasa Takut ia pun Mendekati pemuda itu dengan tatapan matanya yang sangat tajam ketika menatap Stefan.


"Hei. Mau apa kamu! Jangan Menatapku seperti itu!" Ucap pemuda itu

__ADS_1


Namun Caca terus mendekati pemuda Sombong itu sambil terus menatapnya.


"Berhenti di situ Kataku! Jika kamu masih mau mendekati aku, maka aku akan Melakukan hal yang lebih kasar sama kamu!" tegas Stefandro dengan Sangat Marah.


Caca pun menghentikan langkahnya dan Segera masuk ke dalam Rumah.


Sementara Stefandro bertambah Bingung ketika melihat Wanita itu masuk kedalam rumah Begitu saja.


"Siapa dia. Kenapa dia bisa masuk sembarang ke dalam rumah orang seperti itu?" gumam Pemuda Itu.


Beberapa menit kemudian pak Ramli datang dengan Membawah hasil tangkapannya dari laut. Lelaki dewasa itu sangat senang ketika melihat Stefan sudah berada di rumahnya.


"Tuan Muda?" apa sudah dari tadi tuan tiba di sini?" Ucap Ramli.


"Baru saja kok Paman. Tapi Siapa wanita Aneh yang ada di rumah paman itu, Kenapa dia Bisa ada di sini paman?" menatap Ramli.


"Oh. Itu Nak Caca, Semalam Paman menemukan dia tergeletak di pinggir pantai di dekat sana tak sadarkan diri." Jawab Ramli dengan pelan.


"Lalu Paman Langsung percaya begitu saja sama Dia? Tanpa mencari tahu latar belakangnya terlebih dahulu?"


"Dia anak yang baik Tuan, paman juga Merasa Senang bisa Mengenalnya."


"Tapi paman. Gimana kalau dia itu adalah seorang buronan atau seorang penipu yang berusaha ingin menipu paman dan Bibi. Dan dia ingin bersembunyi di rumah paman,"


"Itu tidak Mungkin Tuan, Karena kami sudah tahu Siapa Dia. dan paman Juga tidak Merasa di tipu olehnya." tersenyum menatap Pemuda itu.


"Iya tuan. Tidak apa-apa, Lalu bagaimana kabar Ayahmu, apa dia sudah membaik?"


"Ayah masih sakit paman. Bakan Dia juga belum bisa Menggerakkan bagian tubuhnya."


"Kasihan ayahmu. Dia terlalu lelah sehingga membuat dia harus mengalami penyakit seperti itu,"


"Iya paman. Dan mungkin Minggu depan kami akan membawa Ayah ke Australia untuk menjalani pengobatan di sana."


"Berapa lama kalian tinggal di sana? jika kalian lama Maka Ikan-ikan ini tidak ada yang membelinya lagi." ungkap Ramli dengan Perasaan sedih.


"Tenang saja paman, Kami akan tetap membeli ikan milik paman. Nanti biar Aldy yang datang mengambilnya."


"Benarkah? terimakasih tuan, Semoga ayahmu cepat pulih."


"Amin. Paman,"


"Nak Caca. Tolong ke sini dulu nak," Ucap Ramli dari luar sana.


"Iya pak, Sebentar." Balas Caca


Lalu ia pun Segera Keluar dan Menemui Pak Ramli yang sedang duduk bersama Pemuda sombong itu.


"Ada apa pak?" singkat Caca. menatap Sinis pada Stefan.

__ADS_1


"Tolong kamu Buatkan Teh hangat untuk tuan Muda, dan juga bapa ya nak," Pinta Ramli.


dan di anggukan oleh Caca.


"Jangan manis-manis ya. Saya tidak suka yang manis!" ucap Stefan.


Lalu wanita muda itu menatapnya dengan sangat Kesal


"Iya Tuan besar!!" singkat Caca Lalu ia segera pergi membuatkannya teh hangat untuk Pak Ramli dan pemuda Sombong itu.


"Sekarang Kamu nikmati saja teh tanpa gula." ucap Caca. Sembari tersenyum sinis Lalu ia pun Membawah teh hangat yang sudah ia buat itu.


"Ini pak Teh hangatnya," Ucap Caca.


"Terimakasih. Nak Caca,"


"Sama-sama Pak." Singkat Caca Lalu ia segera pergi dari tempat itu.


Sementara Stefan Merasa haus dan ia pun Langsung meminum Teh yang sudah di buatkan oleh Caca itu. Tiba-tiba ia merasa aneh pada teh yang sedang ia minum itu. namun ia tidak bisa Membuang dari mulutnya Begitu saja di depan Pak Ramli.


"Ada apa tuan, Kenapa wajah tuan di tekuk seperti itu. Apa tehnya tidak enak?" tanya Ramli dengan cemas.


namun Pemuda itu menggelengkan kepalanya dengan santai. Sehingga membuat Caca tercengang dari dalam sana.


"Tidak kok paman. Tehnya sangat pas. dan aku sangat menyukai teh Buatan Caca!" ucap Stefan dengan santai. Namun dalam hatinya sangat Kesal kepada wanita itu.


"Aku bersumpah akan membalas apa yang kamu Perbuat sama aku Hari ini wanita gila!" gumam Stefan dalam hatinya. Sembari tersenyum ke arah pak Ramli.


"Syukurlah. tuan menyukai teh Buatan Nak Caca, Paman pikir tuan Tidak suka,"


"Nggak kok paman. aku sangat menyukai teh ini."


"Kenapa Dia tidak merasakan apapun pada minumannya itu ya, apa dia memang suka dengan teh Tanpa gula?" ucap Caca dalam hatinya.


Lalu ia pun kembali Mengerjakan pekerjaannya di dapur.


Sedangkan Pak Ramli masih berbincang dengan lelaki muda itu.


"Kemana Bibi Paman, Kenapa sejak tadi aku tidak melihat bibi?" tanya pemuda itu.


"Mungkin dia ke pasar, Karena tadi pagi Dia sempat bilang sama paman. Kalau ia akan pergi ke pasar." Jawab Ramli.


"Kenapa tidak Menyuruh wanita itu saja paman, kan Dia masih muda dan kuat berjalan." Ucap Pemuda itu


"Dia kan masih belum tahu banyak tentang Daerah kita ini. Takutnya dia akan nyasar Tuan."


"Aku heran deh sama paman dan bibi, Kok bisa Percaya sama Gadis aneh itu." ucap Stefan Kembali.


Namun Pak Ramli hanya tertawa kecil ketika melihat Kekesalan Di Wajah Pemuda itu. Walaupun Stefan Tidak berusaha jujur kepadanya. namun ia sudah tahu kalau teh itu tidak memiliki campuran gula Sehingga Wajah Stefan Terlihat Kesal saat meminum teh itu.

__ADS_1


__ADS_2