
Pagi hari ini mentari bersinar hangat dan bersahabat. Sesuai Janji Semalam Caca Mengajak Suaminya untuk segera pulang Dari Rumah sakit. Karena ia sangat merindukan Putra Tercintanya.
"Mas. Kita pulang yuk," Ajak Caca. Menatap Suaminya dengan Penuh permohonan.
Akan tetapi Dion masih Ragu untuk membawanya pulang. karena Caca harus Diperiksa Sebelum mereka Pulang.
"Sayang, Boleh nggak Kita pulang Setelah dokter Memeriksa keadaan kamu dulu," Bujuk Dion.
Dan wajah gadis itu menjadi cemberut Tak Beralasan. Karena ia merasa sudah baikan
"Jangan Di tekuk Seperti itu wajahnya. Nanti Nggak keliatan cantiknya lagi," Rayu Dion. ketika melihat wajah istrinya yang sudah tidak terlalu Bersemangat
"Aku mau pulang mas, Aku sudah sehat kok," Rengek Caca. Terus memaksa Suaminya untuk segera pulang.
Dan tidak lama kemudian Seorang dokter telah masuk ke ruangan Caca.
"Selamat pagi. Pak, Bu." sapa Dokter itu. Sembari tersenyum hangat kepada pasiennya.
"Pagi juga Dok," Balas Dion.
Sedangkan Caca. tidak menghiraukan kehadiran Dokter itu di dalam ruangan tempat ia dirawat.
"Bagaimanapun kondisi ibu. Apa sudah lebih baikan?" tanya dokter itu dengan ramah. Namun hanya di angguki Oleh Wanita muda itu.
Ia sama sekali tidak menatap wajah Seorang dokter yang sedang berdiri di depannya itu.
"Permisi ya Bu, Saya mau Periksa dulu." ucap dokter.
Dan Kembali di angguki oleh Caca.
"Dokter. Saya mau pulang!" tegas Caca. Mengejutkan Dion dan dokter itu.
Dion dan Seorang dokter yang sedang berdiri di samping Caca. Saling bertatapan Ketika Caca meminta untuk di pulangkan.
"Tapi Bu, Ibu harus menjalani pemeriksaan untuk memastikan keadaan ibu, apa Sudah membaik atau belum. setelah itu baru ibu bisa pulang." Ucap Dokter itu.
"Tapi aku Sudah merasa baikan dok, lalu apa lagi yang harus di periksa?" Menatap Dokter dengan penuh permohonan.
"Sayang, Kamu harus menjalani pemeriksaan Yang ke dua. untuk memastikan benturan yang yang ada di kepala kamu, Sayang?" Bujuk Dion.
Akan tetapi Caca terus membantah Karena ia tidak mau menjalani pemeriksaan itu lagi.
"Aku nggak mau mas! Aku mau pulang!" Menatap Suaminya dengan Sangat Marah.
__ADS_1
"Baiklah. Jika memang ibu, Memaksakan diri untuk pulang. Saya sebagai dokter tidak bisa Menahan ibu lagi. Tapi saya sarankan dalam Waktu tiga hari ibu harus datang ke sini." Ucap Dokter itu dengan ramah.
Caca pun mengangguk Dengan antusias.
"Iya Dok. Saya janji akan Ke sini lagi, Saya sangat merindukan anak saya Dok," ucap Caca. Dan dokter itu hanya mengangguk Pelan Menatap Wajah Istrinya Dion itu.
Dan setelah mereka mengambil resep obat untuk Caca. Dion Langsung Mengajak Caca untuk pulang ke rumah. Walaupun Dion masih merasa Cemas dengan keadaan istrinya. namun ia juga tidak bisa melarang kemauan sang istri yang ingin bertemu dengan anaknya.
****
Seminggu sudah berlalu. Setelah kecelakaan yang menimpa Caca. Dion masih merasa Khawatir dengan keadaan Caca yang hingga kini tidak ingin kembali ke Rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan Lanjut. Dion merasa cemas Jika Hal yang Tidak ia inginkan terjadi kembali pada Istrinya. ia pun segera mengambil ponsel miliknya yang berada di atas Nakas.
Dengan cepat ia mengacak-acak Layar ponselnya itu Hingga ia menemukan nomornya Allan.
"Hallo. Allan!" sapa Dion. di balik layar ponselnya itu.
{"Iya. Dion, Ada apa?"} tanya Allan. dari sebrang telepon itu.
"Apa Sudah ada kabar tentang Kirana? saya mau Wanita jahat itu harus segera di tangkap." Ujar Dion. kembali.
{"Mereka masih Mencari Keberadaan Kirana. Kamu Jangan khawatir Dion, Lebih baik Kamu Jaga istri dan anakmu dengan baik. Biar semua itu menjadi Urusanku."} Balas Allan.
"Ok. Baikl, Tapi saya minta kamu harus segera menangkap dia, Allan."
"Makasih. Bro, Saya Janji akan Membayar semua kebaikanmu pada keluarga kami."
{"Santai saja. Kita kan teman, Sudah sepantasnya Kita Saling membantu."} Ucap Allan. Tertawa kecil dari sebrang ponsel itu.
Lalu Dion segera Mematikan Sambungan Panggilan itu. dan ia kembali Bermain bersama putra kecilnya di Dalam kamar.
Sedangkan Caca. Masih sibuk Menjemur pakaian di luar sana.
Saat ia Mau Kembali ke dalam rumah Caca merasa Pusing dan Kedua Matanya menjadi kabur. Wanita muda itu langsung Terjatuh hingga ke bawah tanah. Ia Bakan Tidak mengerti kenapa bisa mengalami hal Seperti itu.
Verry yang melihat Caca Sedang duduk di bawah tanah. langsung berlari dan Mendekati istri Majikannya itu.
"Non Caca?" kamu kenapa non, apa non Sedang sakit?" tanya pemuda itu dengan Cemas. lalu ia membantu mengangkat Caca. Dan menenteng Wanita itu hingga ke dalam Kamar di Mana Suami dan anaknya Berada.
Melihat Istrinya dalam keadaan yang lemah. Pemuda itu langsung Membaringkan Anaknya di tempat tidur. dan ia langsung membantu Verry untuk membaringkan Caca.
"Apa yang terjadi sayang?" Tanya dion. dengan cemas
"Aku juga nggak tahu mas. Tiba-tiba Kepala aku sudah pusing dan mata aku Tiba-tiba buram mas," Tutur Caca. Yang sudah terbaring di tempat tidur.
__ADS_1
Dion Langsung menatap Verry dengan penuh kegelisahan. Karena selama ini Caca tidak ingin ke Rumah sakit.
"Sayang, Kita ke Rumah sakit ya?" bujuk Dion agar Caca bisa mendapatkan pemeriksaan lagi.
Namun gadis itu Menggelengkan Kepalanya. Karena ia tidak ingin Meninggalkannya putranya lagi.
"Tapi sayang, selama ini kamu tidak pernah mau Untuk Menjalani pemeriksaan yang ke dua."
"Nggak usa mas. Lagian aku hanya kecapean biasa saja, Jika istirahat yang cukup pasti akan Segera hilang." Ucap Kembali Caca.
Namun Dion masih mencemaskan apa yang sedang terjadi kepada istrinya itu.
Di luar sana Suara mobil Terparkir di depan rumah Yanto. Yudianto bersama istrinya sengaja mampir ke sana untuk mencari tahu keadaan cucu dan Menantunya.
"Pa. Ma," Sapa dion. ketika melihat kedua orangtuanya yang baru saja datang ke rumah itu.
"Apa kabar Kamu Dion? dan bagaimana keadaan Istri dan Cucu papa." menatap Dion
Pemuda itu hanya menundukkan kepalanya sesaat Karena saat ini Caca, sedang Sakit.
"Apa yang terjadi Dion? dimana istri dan anakmu!" kembali menatap Dion dengan serius
"Mereka di kamar pa. Caca sedang meniduri Geral pa," jawab Dion, yang tidak berani berkata jujur kepada kedua orangtuanya. Ia tidak bisa terus membebankan Kedua orang tuanya. Dalam setiap urusan rumah tangganya.
Yudianto hanya mengangguk pelan lalu mereka segera duduk.
"Kedatangan Papa sama mama, Ke sini. Untuk mengajak kalian kembali ke rumah lagi. karena Mamamu selalu menghawatirkan Keadaan Istrimu." ucap Yudianto. menatap putranya.
Namun Dion hanya menatap Verry yang sedang duduk di samping mereka. karena ia merasa Cemas jika keadaan Caca saat ini akan segera di ketahui oleh orang tuanya.
"Nanti saya akan Bicarakan hal ini dengan Caca Dulu pa, Karena Caca masih takut untuk keluar rumah." ucap Dion. kembali berbohong pada Orang Tuanya.
"Memangnya kenapa? Apa yang istrimu takuti Dion?" apa Kirana belum ada kabarnya!" menatap Dion
Dan Dion hanya menggelengkan kepalanya.
"Kemana wanita Jahat itu! Kenapa hingga saat ini belum di temukan." ujar Siska.
"Allan Bersama Para petugas sedang menyelidiki Tempat tinggalnya ma. Semoga saja Mereka segera menangkap Kirana." Ucap kembali Dion.
"Sebaiknya kalian kembali dulu ke rumah. Biar nanti Kita bicarakan di rumah saja, dan ajaklah Verry dan ayahnya Kesana. agar bisa membantu Menjaga Caca dan anakmu ketika kami berdua tidak di rumah." Ucap Yudianto.
Dengan terpaksa Dion mengikuti kemauan kedua orangtuanya itu. karena ia tidak bisa terus menerus Tinggal di rumah Yanto dan Verry. Walaupun bagaimana. Caca dan Anaknya harus mendapatkan Perlindungan dari Kedua Orang Tuanya.
__ADS_1