Derita Istri Kontrak

Derita Istri Kontrak
Ep 26: Kesalapahaman


__ADS_3

Setelah Dion Keluar dari dalam Kamar Mandi. Ia langsung memeluk Istrinya dari belakang. Ia sama sekali tidak tahu Kalau Caca Sudah Menerima Sebuah pesan dari Kirana untuk Dirinya.


"Sayang, Aku ganti pakaian dulu Setelah itu Kita Pergi sarapan bareng ya," Ucap Dion Yang belum menyadari perasaan Caca Saat ini.


"Iya mas," Singkat Caca.


Pemuda itu langsung pergi mencari pakaian di Lemari. Setelah usai berganti pakaian. ia pun Mengajak Caca pergi ke dapur untuk sarapan bersama Kedua Orang Tuanya.


Namun Caca sudah terlihat murung Sejak Keluar dari kamar. Membuat Siska dan Yudianto Saling bertatapan Ketika melihat Wajah Menantu mereka Yang Terlihat kurang bersemangat itu.


"Apa yang terjadi dengan Mu Caca?" Tanya Yudianto.


Gadis itu pun terkejut ketika Melihat Yudianto dan Siska Sedang memperhatikannya.


"Tidak apa-apa Papa. Mungkin aku hanya Kurang Tidur Saja." Jawab Caca.


Yudianto bersama istrinya pun saling tersenyum Menatap ke arah Caca dan Dion. Sedangkan Dion merasa bingung dengan Caca. Karena yang Ia tahu Semalam Caca Tidur dengan Sangat Nyenyak.


"Makan yang banyak Ca, Biar Kamu Tetap Segar." Sambung Siska Sembari Tersenyum Melirik Caca.


Caca hanya bisa mengangguk Pelan. Karena ia Sendiri Masih Bingung dengan Hati Suaminya yang kadang sangat baik di depannya. Namun Menusuk Dari Belakang.


"Kenapa kamu Setega ini mas, Apa memang Kamu terpaksa Mencintai aku?" Batin Caca. Merasa tidak tenang.


Ia terus menatap Wajah Dion. Bakan Ia Tidak Menyadari Kalau ia Sedang di Perhatikan oleh Yudianto dan Istrinya.


"Makanlah dulu ca, Baru kalian Masuk Ke kamar." Ucap Yudianto, Tertawa kecil


Caca pun Menjadi Salting karena sejak tadi Yudianto dan Siska. Selalu Memperhatikan Dirinya.


"I--iya. Pa," Singkat Caca. Lalu ia segera Mengambil Makanannya.


Bi Fatma Hanya Tersenyum Melihat Caca Dan Dion Yang saling Curi pandang di Meja makan.


Kini Mereka Sudah selesai sarapan bersama. Dion kembali Mengajak Caca Ke dalam kamar. Karena Hari ini Dion berencana untuk Mengajak Istrinya jalan-jalan.


"Sayang, Kita Jalan-jalan Ke pantai ya." Ajak Dion.


Namun dengan cepat Gadis itu menolak Ajakan Suaminya itu.


"Aku tidak mau mas." Singkat Caca.


"Kenapa tidak mau? kan Hari ini aku Libur Jadi Aku mau Kita jalan-jalan Ke pantai atau kemana Saja," Ujar Dion.


"Maafkan aku mas, Tapi hari ini kamu ada janji Kan?" melirik suaminya


"Janji? janji Dengan siapa? Perasaan Hari ini Aku Nggak punya janji dengan siapapun deh."


"Ada mas. Mungkin mas saja yang Sudah lupa." Ungkap Caca.


Membuat Dion Semakin Bingung dengan apa yang Membuat istrinya Terlihat dingin di depannya.


"Maksud kamu Apa si sayang? aku benar-benar Tidak Mengerti dengan apa yang kamu Katakan ini."


Lalu Caca mengambil Ponsel milik Dion Dan membuka Pesan Yang di kirimkan oleh Kirana tadi.


"Ini mas. Bacah saja Sendiri." Memberikan Ponsel itu pada Dion.


Pemuda itu pun Kembali Menatap Wajah Istrinya.

__ADS_1


"Jadi karena pesan ini Membuat kamu Jadi Murung-murung di meja makan tadi?"


"Sayang. Dengarkan penjelasan aku, Kirana Sengaja mengirimkan pesan ini Sama Aku. Karena dia Tahu Kamu sedang bersamaku." Dion Berusaha untuk Menjelaskan semuanya pada Caca. Namun Caca Sama Sekali tidak ingin Mendengarkan Penjelasan Dari Suaminya lagi.


"Cukup mas. Aku tahu Selama ini mba Kirana Memang selalu membuat hubungan kita Berantakan. Tapi kenapa mas, masih menyimpan Kontak Mba Kirana. Dan namanya Juga sangat Spesial di ponsel mas Dion?"


"Sayang, Tolong percaya sama aku. Kali ini aku akan Hapus kontak dia dari ponsel aku. Dan aku janji tidak akan ada Hubungan apa-apa lagi sama Dia ok."


Dion Pun Langsung menghapus Kontak milik Kirana. Dan ia menunjukkannya Pada Caca.


"Ini sayang. Coba kamu lihat Aku sudah Hapus kontaknya."


Caca Hanya Tersenyum Melihat Suaminya. Namun batinya Masih Terasa sakit.


"Sekarang kamu percaya kan, Kalau aku Sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi Sama Dia?"


Caca Mengangguk Pelan. Lalu Dion Segera Memeluk Istrinya dan Mencium Dahi kening Sang Istri.


Tok Tok! Suara ketukan pintu di depan kamar Mereka.


Dion pun Pergi membukakan Pintu itu


Ceklek! Pintu di buka oleh Dion.


"Dion. Hari ini papa ada meeting Dengan Klien. Akan tetapi papa Tidak bisa Datang, Karena Kepala papa terasa sakit. Apa kamu bisa mewakili papa untuk menemui Klien kita?" Tanya Yudianto. yang Masih Berdiri di depan Pintu kamar


"Iya. Pa," Singkat Dion.


Lalu Yudianto pun Segera pergi meninggalkan Dion yang masih berdiri di depan Pintu kamarnya Itu.


"Sayang. Hari ini Aku Mau menggantikan papa. Untuk bertemu klien, Apa Kamu mau Ikut?"


"Apa kamu Yakin tidak mau ikut Dengan aku Sayang?" kembali mengulangi pertanyaannya.


Dan Gadis itu mengangguk dengan Antusias.


"Iya mas. Aku percaya kok sama Kamu,"


"Baiklah sayang. Kalau begitu aku Siap-siap Dulu."


Caca Hanya bisa menatap Dion Yang Sedang Berganti pakaian.


"Sayang, Aku Pamit dulu ya. Kamu Baik-baik Di rumah dan jangan Berpikir apa-apa Lagi." Ucap Dion, Kembali Menciumi Bibir Seksi Yang Sudah menjadi Favoritnya itu.


"Iya mas." Singkat Caca.


Setelah berpamitan pada Istrinya. Pemuda itu langsung pergi Ke mobil. Sementara Caca Hanya Berdiri sambil menatap Kepergian suaminya di Depan Pintu.


"Caca, Apa kamu Lagi Tidak enak badan?" Tanya Siska yang tiba-tiba Berasa di Belakang Caca.


"Eh, mama. Tidak kok Ma, Aku Hanya Merasa Kasihan sama Mas Dion. Ma," Ucap Caca


"Memangnya kenapa dengan Dion, Ca?"


"Tidak apa-apa ma. Mungkin hanya perasaan aku Saja," Ungkap Caca Tersenyum pada Siska.


"Dion Memang seperti itu. Kadang ia baik, kadang Ia juga Aneh. tapi Mama Berharap Kamu Bisa Membantu Dion Untuk Melewati masa-masa Sulitnya."


Caca Kembali mengangguk Dengan Pelan.

__ADS_1


"Iya ma."


"Ya sudah. Mama Kembali ke kamar dulu. Mau Istirahat,"


"Iya ma." Singkat Caca.


"Bibi. mau kemana?" tanya Caca Ketika melihat Bi Fatma sedang berjalan Keluar halaman.


"Eh, Non Caca. Ini Non Bibi mau Ke warung mau Cari Garam." Jawab Bi Fatma.


"Memangnya garamnya habis Ya Bi?" tanya Caca Kembali.


"Iya non." Singkat Bi Fatma.


"Ya udah deh Bi, Gimana kalau kita Belanja saja Di Supermarket. Sekalian mau cari Keperluan lainnya." Ujar Caca


"Baiklah Non. Kalau begitu bibi Ganti Baju dulu,"


"Iya Bi."


Sementara Menunggu Bi Fatma yang Masih bersiap-siap Di kamarnya. Gadis itu Pergi Ke kamar juga untuk mengambil Uang Untuk Belanja mereka.


"Semoga ini Cukup untuk keperluan Di dapur." Gumam Caca Menatap Ke arah Uang Yang Sedang ia Pegang itu.


Namun sebelum Mereka pergi. Caca Meminta Ijin Terlebih dahulu pada Mertuanya. Agar mereka tidak merasa Cemas.


Tok tok! Caca Mengetuk pintu kamar Yudianto dan Siska.


Ceklek! Pintu terbuka.


"Ada Apa nak Caca?" tanya Siska


"Ma. Aku minta ijin Ke luar sebentar Sama Bi Fatma. Mau Belanja keperluan dapur dulu ma." Ucap Caca. Sembari tersenyum


"Baiklah. Tunggu sebentar mama mau ambil uangnya dulu."


"Tidak Usa ma. Ini udah ada kok,"


"Itu mana cukup. Siapa tahu kamu Mau Belih Kepentingan Yang lainnya."


Caca hanya menunduk karena ia Merasa malu harus menerima uang dari Ibu mertuanya itu.


"Ini ambilah, Kamu bisa Belanja Sesukamu." Ujar Siska Memberikan sebuah amplop Tebal yang berisi Uang Yang sangat banyak.


Membuat Caca Terkejut ketika melihat jumlah uang itu.


"Ini kebanyakan ma. lagian aku Cuma mau belih keperluan dapur saja kok ma."


"Udah ambil saja Mama sangat bahagia jika Kamu bisa Menerima pemberian dari mama."


Caca pun Termenung menatap uang itu. Bakan Selama ini Ia Tidak pernah menerima uang sebanyak itu.


"Makasih ma," Ucap Caca.


"Iya sama-sama. Sekarang kamu pergilah dengan Bi Fatma, Tapi ingat Jangan Sampai bertemu dengan Kirana lagi. Bisa-bisa Dia lebih Brutal Sama kamu." Pesan Siska.


"Iya ma." Singkat Caca.


lalu Ia dan Bi Fatma segera pergi

__ADS_1


__ADS_2