
Setelah melihat Istrinya sudah Tertidur Dion Langsung Membaringkan Istrinya di kasur dan Ia Pun Menutupi Tubuh Istrinya dengan Selimut.
Waktu sudah menunjukkan Pukul Sepuluh Malam. Dion Masih Belum bisa Memejamkan Kedua Matanya. Mengingat Kejadian Tadi Siang Di kantor.
"Aku Khawatir Kirana akan Melakukan Sesuatu hal Yang buruk Pada Caca." Gumam Dion, Sambil Menatap Wajah Istrinya yang Sudah Tertidur Nyenyak.
Ia pun Berbaring di samping Istrinya dan Mencoba untuk Memejamkan Matanya. Dan akhirnya Ia pun Tertidur pulas Di Samping Caca.
Keesokan paginya. Mentari Masih malu-malu untuk Menampakkan Sinarnya. Udara pagi Masih juga terasa dingin. Membuat pasangan Suami-istri itu Masih Keenakan Tidur Sambil Saling berpelukan.
Dring Dring!
Suara alarm di Ponsel Caca Berbunyi nyaring.
Gadis itu pun membuka kedua matanya sambil menatap kesamping. Ia pun tersenyum bahagia ketika melihat Dion Yang masih tertidur nyenyak di Sampingnya.
"Kamu sangat tampan Mas. Aku Bahagia bisa Menjadi Istrimu." gumam Caca, Dalam Hatinya Sambil Mengelus pipi Lembut sang Suami.
Perlahan Gadis itu Bangun dan Menutupi selimut Pada Suaminya. Lalu ia segera pergi ke kamar mandi untuk Membersihkan Dirinya.
Setelah beberapa menit kemudian. Caca Pun keluar dari dalam kamar Mandi ia langsung Berganti pakaian dan keluar dari kamar.
Ternyata di luar sana. Siska Sedang Berbicara dengan seorang wanita Dewasa Yang sengaja Siska panggil ke rumahnya untuk bekerja.
Caca pergi menemui mertuanya yang sedang bersama wanita dewasa itu. ia pun duduk di Samping Siska sambil Tersenyum melihat tamu dari Ibu mertuanya itu.
"Selamat pagi. Ca," Sapa siska Dengan Lembut kepada Menantunya itu.
"Pagi juga ma." Sahut Caca. Sembari tersenyum
"Apa Dion Masih tidur?" Oya. Mulai hari ini Bi Fatma akan Bekerja di rumah kita. biar kamu Bisa Istirahat." Ungkap Siska
Caca merasa malu pada Ibu mertuanya itu. Karena sebagai Menantu ia Tidak bisa bekerja dengan Baik.
"Iya Ma." Singkat Caca.
"Ya sudah. Sebaiknya Kamu Ajak Bi Fatma ke Dapur, Biar Bibi bisa Segera Membantu kita." Pinta Siska. Pada Menantunya
Caca pun mengangguk Lalu ia Mengajak Bi Fatma ke dapur. Wanita dewasa itu terlihat sangat baik Dan Lembut.
"Bibi. Apa Bibi Sudah makan?" Tanya Caca Dengan Lembut pada Wanita dewasa itu.
"Iya Nak. Kamu sendiri Gimana? Apa Sudah Sarapan juga?" kembali bertanya
Gadis muda itu hanya menggelengkan kepalanya Sambil Tersenyum.
"Belum Bi. Kami Baru saja bangun Dan Belum Buat Sarapan." Tutur Caca Sambil Tertawa Kecil.
"Kalau begitu biar Bibi Buatin Nasi dulu biar Non, Bisa Makan." Ucap Bi Fatma Dengan Lembut
"Bi. Namaku Caca, Bibi bisa panggil aku Caca Saja, Soalnya aku tidak terbiasa dengan Panggilan Non," Lirik Caca Sembari Tersenyum
__ADS_1
"Memang kenapa Non?" Kan memang Non Di Sini Sebagai Menantu Bu Siska kan. Jadi Sudah sepantasnya Non itu di Hormati."
"Tidak Bi. Aku lebih suka di panggil dengan Namaku saja Bi,"
Fatma pun Tertawa Kecil pada Gadis itu.
Setelah Sarapan sudah masak. Bi fatma Langsung Menyiapkan Sarapan di meja makan. Sementara Caca Juga ikut membantu pekerjaan Wanita dewasa itu.
Caca Sangat menghormati Bi fatma. Karena wanita itu Juga sangat baik Terhadapnya.
Setelah semua sudah tersaji di meja makan. Caca Pergi Ke kamar untuk membangunkan Suaminya yang Masih tidur.
"Mas. Bangun Mas!" Udah Pagi tu." Panggil Caca Sambil Menggoyangkan Lengan tangan Dion.
"Mas Bangun."
Pemuda itu pun Terkejut Melihat Istrinya yang Sudah Berdandan Cantik sedang duduk di sampingnya.
"Sayang, Kamu sudah bangun ya?"
"Kok, wajahnya Di tekuk Seperti itu si?" Tanya Dion.
"Mas. Apa menurut mas Dion, Aku nggak boleh Kerja di dapur ya?" tanya Caca Cemberut.
"Kok, pertanyaan Kamu Aneh Seperti itu Si sayang? aku jadi penasaran deh."
"Tadi Mama udah Cari Pembantu Baru untuk Kerja di rumah ini mas, Pada hal kan Masih ada Aku di sini." Keluh Caca.
"Jadi itu yang membuat Istri aku cemberut?"
Sayang, Mungkin mama memanggil Pembantu ke Sini. Agar kamu bisa Beristirahat dan Bisa segera memberikan mama dan papa, Seorang Cucu yang lucu-lucu."
"Ihh....
"Apaan si mas Dion, Orang lagi Bicara serius Mala di Tertawain. bikin Jengkel saja deh."
"Hmm. Lalu aku harus gimana dong, Kan itu Sudah maunya mama Sama papa. Aku juga Tidak bisa Berbuat apa-apa lagi sayang,"
"Tapi Bi Fatma Sangat baik Sama aku mas, Aku juga Merasa Kasihan sama Dia." Menatap Dion
"Baguslah Kalau Kamu Juga cocok sama Bi Fatma. Menurut aku, Kamu bisa kok membantu Bi Fatma di dapur." ucap Dion Sembari Tersenyum
"Iya mas. Yuk kita sarapan bersama." ajak Caca
"Dikit lagi. aku masih Pengen Berduaan dengan Istriku yang Cantik ini." Rayu Dion Sambil Mencubit Pipi Istrinya.
"Dasar Mesum!" pagi-pagi Udah Nakal." Cetus Caca. Lalu ia langsung berdiri dan Menarik Tangan Suaminya.
"Kok mesum Si Sayang?" aku kan Suami kamu. Pantas dong aku mau bermesraan dengan Istri aku?"
"Udah-udah. Gombalannya nggak mempan buat aku. Yang aku Mau Sekarang Mas Dion, Cepat Mandi dan Kita pergi ke dapur Untuk Sarapan Bareng papa sama Mama. dan juga Bi Fatma."
__ADS_1
"Kejam amat Istriku ini. Tapi biarpun dia Kejam Sudah membuat Hati Seorang pangeran Lulu Di Hadapanku."
"Dasar genit. Sana Mandi Udah bau ketiak tu."
Dion Pun Menarik Tubuh Istrinya kembali dalam Pelukannya. Membuat Caca Tidak bisa Bergerak Lagi.
"Mulai sekarang aku akan selalu melindungi Kamu dari gemuruh dan Petir, Tapi aku nggak Akan Pernah bisa melindungi kamu Dari Gemuruh ku jika dia Sudah marah." Bisik Dion di telinga istrinya.
Membuat Caca Melotot pada Dion.
"Hahaha.
"Kenapa menatap aku seperti itu si sayang? Memangnya Kamu Takut sama Gemuruh Milik aku?" goda Dion
"Dasar otak mesum!" Sana mandi. Aku sudah lapar tau?" Berusaha Untuk lepas dari Pelukan Suaminya.
Akan tetapi Dion Terus menakuti Istrinya. Hingga membuat Caca Harus Benar-benar Kabur dari Hadapan Suaminya.
Saat mereka tengah Asik Berpelukan. Ponsel milik Dion Bergetar di Atas Nakas. Membuat Pemuda itu merasa Kesal Dengan Bunyi Ponselnya itu.
"Itu ponsel kamu Bunyi mas." Ucap Caca, Dengan sangat senang karena Ia bisa Lari dari Dion.
"Siapa si!! Gangguin Orang yang lagi bermesraan." Cetus Dion. dengan Kesal
Lalu ia Merai ponselnya itu.
"Halo. Ini Dengan Siapa? Jawab Dion Dengan Tegas.
("Sayang, Aku kangen kamu. Bisa Nggak Kita ketemu di Cafe Tempat kita Dulu.") Balas Seorang Gadis dari Sebrang sana.
Dion pun Terkejut dengan Suara Itu. Karena ia sangat mengenal Suara Kirana.
"Siapa mas?" Kok Kamu Jadi Gugup Begitu?" Lirik Caca, Yang masih Berdiri di samping Suaminya.
Namun Dion tidak bisa memberitahu Istrinya. Siapa yang sedang Menghubunginya Itu.
("Jadi Istri kamu Sedang bersama Kamu ya?") Balas Kembali Kirana.
"Maaf. Saya Tidak bisa bertemu dengan Kamu lagi Paham!! Bentak Dion. Lalu segera mematikan Sambungan Panggilan itu.
Namun Kirana Merasa tidak pernah puas. Sehingga ia Mengirim Sebuah pesan Untuk Dion. Karena kirana tahu Caca Sedang Bersama Dion. Dan itu adalah kesempatan Yang Paling Baik Untuknya.
"Dion Sayang, Aku tau Kamu Nggak berani Bicara Lebih Saat di telepon Tadi. Karena Wanita Kampung itu sedang ada di samping kamu kan? Sayang. Aku harap kita bisa Bertemu Di cafe Tempat kita biasa Ketemuan."
Salam rindu dari Ku. Kirana.
itulah isi pesan Dari wanita Jahat itu.
Karena melihat Ponsel Dion Bergetar. Caca pun Mengambil dan Membuka isi pesan itu.
Sesaat ia pun Menjadi Layu dan Tidak bisa Berkata apa pun. Karena isi pesan itu sangat Jelas kalau selama ini Dion masih berhubungan dengan Wanita itu. Buktinya saja Dion masih menyimpan Kontak Kirana. Bakan nama dari kontak itu adalah Sayang. Batin Caca pun Kembali Tidak tenang. Seakan ia Tidak mampu untuk Menahan Semua Itu di dalam Hatinya.
__ADS_1