
"Kenapa?" Apa kamu takut akan cacat seperti Tuan Mahendra?" Tanya Caca. Membuat wajah wanita itu semakin Pucat.
Sementara Stefan masih menatap Caca Dengan penuh Kebingungan.
"Ayo Cepat di makan! Kenapa kamu Hanya diam saja Si!"
"Cukup! Kalian ini kenapa si? Apa kalian tidak bisa Akur dalam sehari saja," Ucap Stefan Yang Merasa Kebingungan Dengan Kedua wanita itu.
"Tapi tuan, Wanita itu memang sudah mencampurkan Sesuatu pada makanan Tuan Mahendra. Kenapa tuan tidak mau percaya sama aku si?" ucap Caca.
"Sudahlah. saya masih sangat sibuk pagi ini Sebaikanya kamu buang saja Makanan itu. Dan ganti sama Yang baru ya," Pinta Stefan Menatap Caca.
Wanita itu pun Merasa Lega Karena Stefan tidak mempedulikan Perkataan Caca. Ia hanya tersenyum Puas menatap pada Caca. membuat Caca Merasa Marah sehingga meninggalkan Stefan dan wanita itu di dapur.
"Syukurlah. karena tuan Stefan tidak mempercayai Perkataan Wanita Aneh itu. Begini kan aku bisa Celaka jika Harus memakan makanan ini." gumam Nita dalam hatinya. Sambil mengambil makanan itu dan Membuangnya ke tempat sampah yang berada di luar sana.
Caca yang merasa Kesal pasa Nita dan juga Stefan. segera Pergi ke kamarnya dan mengurung dirinya di dalam sana.
Setelah Nita kembali Dari luar membuang makanan yang sudah ia campurkan Ramuan itu. Stefan Keluar Sambil Membawah kunci mobil di tangannya. Ia menoleh ke arah Tempat sampah yang berada di halaman rumahnya. dan saat itu ia juga merasa keliru dengan sikap Nita yang tiba-tiba Membuang makanan itu.
"Kenapa ia membuangnya ya, Apa Benar yang di katakan oleh Caca itu?" Gumam Stefan. Lalu ia Mendekat ke arah Tempat sampah itu dan mengambil Makanan yang sudah berada Di Kantong plastik. Dan membawahnya ke mobil.
"Sebaiknya aku Bawah Makanan ini. Di jalan Sana Kan banyak kucing. Aku bisa memberikan makanan ini Pada kucing di sana," Gumam Stefan. lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan Segera pergi.
Di dalam kamarnya Mahendra Memanggil Caca Karena ia ingin Meminta teh hangat kepada Caca. akan tetapi Caca tidak mendengar Panggilan Lelaki itu.
"Bi Nita!" Suara Mahendra memanggil Nita.
"Kenapa Si tua Bangka itu memanggilku!" Geram Nita Lalu segera pergi untuk Menemui Mahendra di dalam kamarnya.
"Ada apa Tuan!" Sahut Nita dengan sedikit Kesal.
"Dimana Caca. Kenapa dia tidak Mendengarkan Suaraku saat aku Memanggilnya," Ucap Mahendra Menatap Wanita itu.
"Mana aku tahu dia kemana, Lagi pula Dia kan Bukan siapa-siapanya Tuan. Ngapain terus mencari dia?" Ucap Kembali Nita Menatap Mahendra.
"Sejak kapan kamu berani Berkata Seperti itu sama saya, Nita! Apa kamu Sudah Mau Menjadi Penguasa di rumah ini!" Tegas Mahendra
"Tuan, Mahendra Ariyanto kusuma. Saya di sini Bisa menjadi siapapun! termasuk bisa Membuat anda Mati!"
__ADS_1
"Siapa kamu Sebenarnya Nita! Kenapa kamu bisa masuk ke dalam rumah ini dan apa Tujuanmu!" menatap Nita Dengan sangat Marah.
"Anda tidak perlu tahu siapa Saya. Yang penting saat ini saya bisa membuat Anda Merasakan apa yang di rasakan oleh Seseorang yang pernah kamu Sakiti Mahendra!" Menatap tajam pada Mahendra.
"Apa maksudmu! siapa yang sudah aku Sakiti! Selama ini aku tidak pernah menyakiti siapapun."
Dari luar sana Stefan yang baru saja kembali Mendengar keributan di dalam sana. sehingga ia Berlari dengan cepat ke dalam rumah. Namun wanita licik itu juga sudah mengetahui Kedatangan Stefan Ke rumah itu. sehingga ia Kembali berpura-pura Baik di depan Mahendra.
"Tuan. Maafkan saya, Mungkin saya sedikit kasar karena belakangan ini saya Sangat Banyak masalah di kampung ku, Maafkan saya ya Tuan," Ucap Nita dengan penuh kelicikannya.
Sementara Mahendra Sudah mengetahui Sikap busuk dari Wanita itu. Sehingga ia Hanya Berdiam diri tanpa menghiraukan perkataan Nita.
"Ada apa Ini? Kenapa ada suara keributan dari dalam sini." Menatap Mahendra dan Nita.
"Tadi saya Hampir menuangkan Minuman ini ke tempat tidurnya tuan Mahendra. Dan Tuan Jadi marah besar Sama saya," Jawab Nita dengan Kebohongannya.
Mahendra hanya menatap Wanita itu Sambil Menggelengkan kepalanya.
"Apa itu benar Ayah?" Melirik ayahnya.
Namun Mahendra sama sekali tidak menjawab pertanyaan Anaknya. Ia kembali Berbaring dan menarik selimutnya.
Dan dengan Tipu dayanya ia segera mengangguk dan meninggalkan Stefan bersama ayahnya di dalam kamar.
"Ayah. Bisakah Ayah Ceritakan apa yang sudah terjadi sama ayah?" Bujuk Stefan. berusaha untuk mengetahui apa yang sudah membuat ayahnya marah seperti itu.
Akan tetapi Mahendra hanya terdiam ia masih Bingung dengan Sikap Wanita itu terhadapnya.
"Baiklah. jika Ayah Memang tidak ingin Cerita sama aku, Tidak apa-apa. Tapi setidaknya aku akan Mencari tahu tentang Bi Nita dengan caraku sendiri," Ucap Stefan. Lalu ia segera Keluar dari kamar itu dan melihat kucing yang berada di dalam mobilnya. Stefan Sengaja Membawah kucing itu untuk mencari tahu apa yang ada di dalam makanan itu.
Dan setelah ia tiba di Dalam mobilnya. ia menemukan Kucing itu Sudah Mati Bakan Dari mulutnya mengeluarkan Busa putih seperti Busa Sabun yang keluar dari Mulutnya. Sehingga membuat Pemuda itu merasa ketakutan ketika melihat kucing itu.
"Jadi apa yang di katakan oleh Caca Ternyata memang benar. wanita itu Ingin mencelakai ayahku, Tapi apa tujuannya sehingga ia ingin mencelakai ayah?" gumamnya sambil terus menatap Ke arah kucing itu.
"Caca!" Iya aku harus mencari Caca dan Menunjukkan hal ini sama dia!" ucap Kembali Pemuda itu lalu ia segera berlari menuju ke dalam rumah dan mencari Caca di Dalam kamarnya.
"Bisakah Kamu ikut denganku sebentar?" tanya Pemuda itu dari depan pintu.
Caca menoleh Perlahan ke Arah Pemuda itu.
__ADS_1
"Mau kemana tuan?" Kembali bertanya.
Lalu pemuda itu segera masuk dan menarik tangan Caca dan Mereka keluar dari kamar itu. Dari balik dapur Nita melihat Stefan Menarik tangan Caca dengan sangat terburu-buru. Ia nampak Senang karena melihat caca sudah mau di usir oleh pemuda itu.
"Semoga saja tuan Stefan segera menyingkirkan kamu jauh-jauh dari sini!" Gumam Nita Tersenyum Menatap Punggung Kedua Orang itu Ia sama sekali tidak menyadari kalau Stefan sudah mengetahui Niat jahatnya di dalam rumah Itu.
"Kita mau kemana Tuan?" ulang Caca kembali bertanya.
"Lihat itu ca, Aku sengaja mengambil makanan yang bi Nita buang tadi. dan aku Kasih sama Kucing ini, Tapi Kucingnya Mala Jadi Seperti ini. Ternyata memang benar Apa yang kamu katakan itu," Menatap Caca
"Memangnya ada masalah apa Keluarga tuan dengan Bi Nita, Kenapa dia ingin mencelakai Ayah tuan?"
"Setahuku ayah tidak pernah memiliki Masalah apapun dengan Nita, atau dengan orang lain." Jawab Stefan Dengan serius Menatap Caca.
"Lalu apa rencana tuan, sekarang. Apa tuan akan melaporkan dia ke polisi?"
"Belum. Aku harus mencari tahu Terlebih dahulu Siapa Nita sebenarnya, dan siapa orang yang ada di belakangnya. karena aku merasa kalau Nita tidak sendirian,"
Lalu Caca Mengambil Ponselnya. dan Menunjukkan Hasil rekaman yang ia ambil saat Wanita itu sedang melakukan Kejahatannya.
Ia juga menunjukkan Sebuah gambar yang ia ambil di kamar Wanita itu.
"Ini kan Tio? Kenapa bisa ada foto Tio di ponsel kamu Ca?"
"Ini Aku ambil dari kamarnya Bi Nita. Karena aku merasa penasaran dengan Mereka berdua."
"Jadi menurut kamu, Nita dan Tio. Bekerja sama untuk mencelakai ayahku?"
Caca pun hanya menggelengkan kepalanya. karena ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam keluarga itu.
"Baiklah. Kita akan Jalani semua ini dengan Santai, dan kita juga akan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. agar wanita itu tidak merasa curiga dengan Rencana kita berdua,"
"Baiklah tuan. Saya paham," ucap Caca Lalu ia segera keluar dari mobil dan kembali ke dalam Sana.
Setelah melihat Caca Kembali. Wanita Jahat itu Merasa bingung Karena barusan ia melihat Stefan sedang menarik paksa tangan Wanita itu. Tapi sekarang ia malah kembali seakan tidak terjadi apa-apa padanya.
"Hei. Bukannya tadi kamu sudah di usir sama Tuan Stefan, Kenapa sekarang Kamu Kembali lagi!"
"Ia tadinya Memang saya di usir sama Dia. Tapi Aku meminta maaf atas semua kesalahanku yang sudah menuduh kamu Macam-macam.
__ADS_1
Bi nita, tolong maafkan atas sikap aku tadi ya, aku janji tidak akan mencampuri Setiap pekerjaan bi Nita di rumah ini lagi." Ungkap Caca Dengan sangat Ramah agar wanita itu bisa mempercayainya.