
Keesokan paginya di rumah kediaman Yudianto Pranata. sebuah mobil mewah Datang kerumah Yudianto. Verry Segera membukakan Pintu Pagar yang terbuat dari besi yang cukup tinggi. dan Kini mobil Yang di kendarai oleh Bimo kembali memasuki halaman kediaman Yudianto.
Setelah memarkirkan mobilnya. Bimo Langsung Keluar dari dalam mobil dan pergi menemui Pemilik Rumah yang sedang berada di dalam sana.
"Selamat pagi. Pak," Sapa Bimo. Yang baru saja masuk ke dalam Rumah itu.
"Pagi Juga Bim, Ada Keperluan apa kamu Datang pagi-pagi Begini Ke rumahku?" Tanya Yudianto. yang sedang duduk di sofa
"Saya ada urusan penting dengan Pak Dion, Apa Pak Dion nya. Sedang ada di rumah pak?" Jawab Pemuda Itu dengan Ramah.
"Dion Masih tidur. Memangnya ada urusan dengan Dion?" ulang kembali Yudianto.
"Ini soal Pak Bima Dan Istrinya, Pak." Jawab Bimo pelan.
"Duduklah. dulu, biar kita bicarakan hal ini dengan Baik." Ucap Yudianto.
Lalu pemuda itu segera duduk Di Samping Yudianto.
"Kami Menemukan Informasi tentang Keluarga Bima Pratama, saat mereka tiba Di Jakarta pak. Dan ternyata mereka sudah lama tinggal di Jakarta, Karena Perusahaan Milik Keluarga pak Bima Sudah bangkrut semua jadi mereka kembali ke Jakarta." Tutur Bimo Dengan sangat pelan.
"Jadi selama ini mereka hanya Menipu Semua orang? Lantas di mana mereka tinggal Bim?"
"Saat ini mereka menyewa Sebuah rumah di Bogor pak, Karena apartemen milik Pak Bima Sudah mereka jual. Jadi mereka tinggal di sebuah rumah Kecil di Bogor."
"Apa kamu tahu alamat rumah mereka?" Tanya Kembali Yudianto.
"Iya pak." Singkat Bimo.
"Baiklah. Nanti Siang Kita kesana, Dan Jangan lupa ajak Noldy pergi bersama kita." Ucap Yudianto.
Dan segera di anggukkan oleh Bimo.
"Kalau begitu saya pamit dulu Pak, Soalnya Masih ada urusan yang harus saya kerjakan Di Rumah." Ujar Bimo berpamitan pada Yudianto.
"Baiklah. terimakasih karena kamu Sudah Memberikan kabar tentang keluarga itu."
"Sama-sama Pak," Singkat Bimo. lalu ia segera Berpamitan pada Yudianto.
Setelah kepergian Bimo. Yudianto Masih duduk sambil menikmati secangkir kopi yang sudah hangat.
"Apa Rencana Bima Setelah ini?" Gumam Yudianto. sambil meneguk kopinya.
"Ada apa pa? Kelihatannya mukamu sangat serius seperti itu?" Tanya Siska. Penasaran
"Tadi Bimo kesini. Dia memberi kabar tentang Bima dan Istrinya," Jawab Yudianto Menatap Istrinya.
__ADS_1
"Memangnya ada apa lagi Dengan Bima dan Arista, Pa? apa mereka membuat Masala lagi?!
"Bukan itu, ternyata kepulangan mereka ke Jakarta karena perusahaan milik Bima sudah bangkrut semua,"
"Benarkah pa? Berarti selama ini mereka menipu kita, karena ingin menguasai sebagian saham milik kita!"
Yudianto Hanya mengerutkan Dahi keningnya.
"Benar-benar licik keluarga itu! bisa-bisanya mereka menipu semua orang, Hanya Untuk Mendapatkan apa yang mereka inginkan."
"Sudahlah Ma, Terpenting kita juga sudah tahu Akal-akalan mereka. Sekarang kita bisa lebih berhati-hati pada mereka itu,"
"Iya pa," Singkat Siska.
"Apa Dion belum bangun?" Tanya Yudianto Kembali.
dan Siska hanya menggelengkan Kepalanya.
"Mungkin dia Capek pa, Biarkan saja dia Tidur. Lagian Dia baru saja Bertemu dengan istrinya," sambung Siska. Sembari tersenyum
"Selamat pagi Pa, ma," Sapa Caca Dan anaknya. Yang baru saja Kembali dari Jalan Pagi.
Yudianto dan Siska saling bertatapan penuh Kebingungan. Karena mereka sama sekali tidak mengetahui kalau ternyata Caca dan anaknya sudah bangun.
"Pagi juga Ca, Cucu opa dan oma, Tersayang. Kalian Dari mana Saja, Ini kan Masih pagi," Jawab Siska. Menatap Menantu dan cucu mereka.
"Dion kemana? apa dia Tidak ikut bareng kalian?" Lirik Siska.
"Mas Dion Masih Tidur ma. Mungkin dia kecapean, Aku masuk dulu ma, mau Bikin Susu untuk Dede," Ucap Caca. lalu ia Segera Pergi ke dapur.
"Ada apa dengan Menantu kita ya pa? Belakangan ini Mama Perhatikan Caca sangat berbeda, Dia tidak terlihat Bahagia ketika kembali ke rumah Kita ini. Apa dia masih Marah sama Dion, ya pa?" ucap Siska.
"Papa Juga tidak tahu ma, Itu kan urusannya mereka. Kita tidak boleh mencampurinya." Menatap istrinya.
Pagi itu setelah Usai memandikan Anaknya. Caca Langsung Bersiap-siap ke tempat kerjanya. Karena Walaupun ia sudah kembali dengan Dion. namun ia masih punya Pekerjaan yang harus ia Kerjakan bersama Stefan.
Ketika melihat Istrinya dan anaknya sudah terlihat rapih. Dion segera bangun dari tempat tidurnya. dan menatap ke arah Caca Dan Anaknya
Ia merasa Bingung dengan Sikap Caca, yang kini Tidak Pernah menunjukkan rasa kepeduliannya lagi terhadap dirinya.
Sebelum ia melakukan kesalahan pada istrinya. Dion selalu Mendapatkan Perhatian yang khusus dari istrinya. Namun kini Caca tidak pernah Membangunkannya walaupun Jam Sudah Hampir menunjukkan pukul Delapan pagi.
"Sayang, Kalian kok Tidak membangunkan aku, Si?" Ucap Dion
"Aku Sengaja tidak membangunkan Mu. Mas, Karena yang aku lihat Kamu Sangat Nyenyak," jawab Caca. tanpa menoleh ke arah Suaminya.
__ADS_1
Dion pun hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Ketika mendengar jawaban dari istrinya itu.
"Kalian mau kemana? Kenapa tidak mengajak aku?" Ulang kembali Dion. menanyai istri dan anaknya.
"Aku mau Kerja mas, Lagi pula aku masih terikat kerja Dengan Tuan Stefan." jawab Caca. Tanpa menoleh sedikitpun pada Dion.
"Tapi sayang, Kan kamu Udah tinggal Bersama aku lagi. Dan Semua urusan pekerjaan biar nanti aku, yang Selesaikan." Ujar Dion
"Tidak apa-apa mas, Sebelum aku kembali ke sini. Aku sudah Bekerja di sana, Dan sudah menjadi tanggung jawab Aku untuk menyelesaikan semua urusan pekerjaanku."
Dion merasa Sangat Terpuruk dengan apa yang Terjadi pada Istrinya saat ini. Entah kenapa Caca Lebih memilih Menentang semua perkataannya Ketimbang mendengarkannya. Ia pun segera Berjalan Mendekati Istrinya yang masih Memakai Pakaian Anaknya. Tanpa Ragu-ragu Dion segera memeluk Istrinya dari arah belakang.
"Kamu Kenapa si sayang? Aku merasa kamu sangat jauh dari aku, Apa kamu masih Marah Sama aku ya?" Ucap Dion.
"Aku tidak marah mas, Aku hanya ingin menjadi Istri yang Mandiri yang tidak bergantung pada Keluarga dan Suami, Itu saja mas," Ujar Caca.
"Tapi sayang, Jika kamu Membawah Dede Kesana. Bagaimana bisa kamu Bekerja?"
"Aku mau Titip Dede, sama Ayah Mas. Lagi pula Hari ini ayah Belum bisa kembali ke sini, Jadi aku Berencana Nitip Dede sama ayah Di sana." Ujar Caca. Melepaskan Tangan Suaminya yang Melingkar di Bawah perutnya.
"Maaf mas, Kami pergi dulu. Ini udah mau Jam Sembilan Nanti aku bisa telat lagi!" ucap Caca. Sambil Menggendong anaknya.
Namun Dion tidak mengijinkan mereka keluar dari kamar itu. Dion pun segera Berdiri di depan pintu untuk Menahan istri dan anaknya.
"Mas! Kamu kenapa gitu? aku Udah mau telat mas," Ucap Caca. menatap Suaminya.
"Biarkan saja. Aku tidak perduli kamu mau Telat apa Tidak, Yang aku mau Kamu tetap di sini Bareng aku, Kenapa kamu sangat berubah Setelah Mengenal Stefan. Apa kamu memang Sudah menyukainya?" Ujar Dion. Menatap serius pada Istrinya.
"Kenapa pikiranmu bisa Sekotor itu mas? Stefan Itu Sudah menganggap aku Sebagai saudaranya, Bahkan Dia juga sudah membantu aku hingga menjadi Seperti ini. Apa salahnya jika aku bekerja Dengan dia mas!" Jawab Caca Dengan Sedikit tegas.
"Lalu aku gimana Ca! Apa menurut kamu aku tidak berhak Melarang kamu untuk tidak bekerja? Ca! Aku ini Suamimu. Aku tidak ingin kamu bekerja demi kebutuhan anak kita, Karena Aku masih mampu Menafkahi Kalian berdua." Ujar Dion.
"Apa salahnya Jika Aku juga bekerja mas? Memangnya aku tidak boleh membantu kamu Untuk Meringankan urusan kita? Mas. Aku masih punya Seorang ayah. Yang harus aku Nafkahi, Jadi Sudah sepantasnya aku bekerja demi ayah Dan anak kita, Aku tidak pernah Meremehkan kemampuan kamu mas. Tapi yang aku inginkan Kita sama-sama Membangun impian kita Mas!"
"Biar aku yang banting tulang untuk Mencari Uang demi ayah dan Keluarga kecil kita, Pokoknya aku Tidak mau kamu kembali bekerja di Sana! Titik dan nggak punya Koma!"
"Nggak mas. Aku tetap akan pergi! karena aku sudah Berjanji untuk bekerja dengan baik!" Menatap kembali pada Suaminya.
"Baiklah. Jika kamu masih memaksa pergi, Tapi aku Mau Ikut bareng Kalian Berdua!" Ujar Dion Dengan sangat serius.
"Tapi Kamu Belum mandi dan Juga Sarapan Mas, Sebaikanya kamu makan Dulu." Ucap kembali Caca.
"Aku tidak mau makan. Dan tidak ingin Mandi!" Tegas Dion. Membuat Caca Merasa Kesal dengan Ulah suaminya yang tiba-tiba Aneh.
"Ya udah. Aku Tidak Jadi pergi!" Ucap Caca. Dan Dion langsung menoleh pada Istrinya. Lalu ia segera Menciumi Dahi kening sang istri Dan Ia juga Mencium Pipi anaknya. Berulang-ulang kali.
__ADS_1
"Makasih. Karena Kalian Mau mendengarkan aku," Ucap Dion Dengan sangat Senang. Dan Caca Hanya tersenyum menatap Wajah Suaminya yang sudah mulai Cemburuan padanya.