
Karena merasa Khawatir dengan Kondisi Kirana. Dion Pun Mengajak Kirana untuk segera ke dokter. Akan Tetapi gadis Jahat itu Mala Menolaknya Dan Meminta Dion Mengantarkannya ke rumah saja. Caca Terus Memantau kepergian Dion Dan Kirana Dari Balik Tembok. Ia merasa Sangat Kecewa pada Dion Karena sudah Membohonginya lagi.
Setelah Melihat Dion Menggandeng Kirana ke mobil. Gadis itu langsung keluar dari persembunyiannya Dan Menghampiri Suaminya Yang Sedang bersama Gadis lain.
"Mas!" Panggil Caca. dengan nada Suaranya Yang pelan.
Membuat Dion merasa Terkejut dengan Suara itu. karena Baginya Suara itu tidak asing lagi. Pemuda itu pun berbalik Ke arah Sumber Suara Yang sedang memanggilnya.
"Caca?" Ucap dion. Menatap Caca Penuh Kekhawatiran. karena ia tahu Pasti Caca Sangat Kecewa padanya.
"Sayang, Jangan Salah paham Dulu. Tadi aku Memang Meeting Di cafe ini Dan Kirana Juga Berada di Sini." Tutur Dion Berusaha Menjelaskan Kesalah pahaman di antara mereka.
Namun Kirana Terus Menghasut Caca Agar semakin bertambah Sakit Hati.
"Sayang, Cepetan antar aku dulu. Da tidak Tahan Lagi." Ucap Kirana
Namun Dion Masih Menatap Wajah Istrinya yang Sudah Terlihat Sangat Sedih.
"Sayang, ok. aku minta maaf. Dan mungkin Ini memang Kesalahan aku yang Tidak pernah bisa Membuat kamu bahagia, Tapi semua ini Bukan Seperti yang kamu lihat."
"Cukup mas. Sekarang aku benar-benar Udah bisa Percaya Dengan apa Yang aku Khawatirkan Selama ini. Dan ternyata Memang benar Kamu Tidak pernah bisa Melupakan Dia." Ujar caca. lalu ia Segera Meninggalkan Dion bersama Dengan Wanita itu.
"Sayang!'' Dengarkan aku dulu."
Dion hanya Bisa Menatap kepergian Istrinya yang Sudah terlanjur kecewa padanya.
"Apa ini Adalah Bagian dari Rencana kamu Kirana?? Jawab!" Dion Menatap tajam Pada Gadis itu.
Akan tetapi Kirana Mengelak Karena Ia tidak ingin Dion pergi mengejar Istrinya.
"Mana aku tahu, Lagian aku juga Tidak tahu kalau Ada Istrimu di cafe ini. Atau jangan-jangan Istrimu yang Lagi janjian dengan Seseorang di Cafe ini." Menghasut Dion Agar memarahi Istrinya.
Dion pun Terdiam karena yang ia tahu Hari ini Caca Tidak ingin kemana-mana. Bakan Saat Di ajaknya keluar bersamanya Caca Juga menolak.
"Apa mungkin yang Di katakan Oleh Kirana Ada benarnya Juga ya, Apa Caca Bertemu dengan Rehan di cafe ini?" Dion mulai mencurigai Istrinya.
"Dion. Ayo cepat antarkan aku pulang, Aku Udah sakit dan tidak bisa Menunggu lama Lagi disini." Cetus Kirana Yang sudah merasa Senang karena bisa Mengelabui Sepasang Suami-istri itu.
"Sekarang kamu Keluar dari mobilku. Dan Silakan cari Mobil lain untuk mengantarkan kamu Ke rumah. Karena saya harus Mencari istriku." Ujar dion. Menarik Kirana keluar dari dalam Mobilnya.
__ADS_1
"Tapi Dion, Kamu Sudah Janji akan Membawah aku Ke dokter. lalu sekarang kamu Menyuruhku untuk mencari Tumpangan lain?"
"Itu tadi. sekarang aku mau Mencari Caca dan ingin memperbaiki Semua ini." Jawab Dion. Lalu ia segera Melajukan Mobilnya tanpa menghiraukan Kirana lagi.
"Selamat Bersenang-senang Dion, Akhirnya aku berhasil Membalaskan Sakit hatiku Selama Ini. Mungkin saat ini Istrimu tidak akan Percaya dengan Semua perkataanmu lagi Dion," Ujar Kirana Tersenyum Puas Dengan Permainan yang sudah ia Jalankan sejak Tadi.
Walaupun Hatinya sudah sangat Kecewa. Namun Gadis itu berusaha kuat dan Tetap mencari segala keperluan yang hendak ia Bawah ke rumah. Karena ia tidak ingin Bi Fatma mengetahui apa yang sudah terjadi padanya.
Usai Berbelanja Gadis itu Kembali Ke mobil Dan Berusaha Tetap ceria di depan Bi Fatma.
"Gimana Non, apa belanjaannya sudah Pas?" tanya Bi Fatma Sembari Tersenyum pada Caca.
Caca Mengangguk Pelan. Sambil Tersenyum
"Iya Bu. Pak, antarkan kami ke jalan Cempaka ya." Ujar Caca. pada Sopir taksi itu
"Siap Bu." Singkat sang Sopir.
"Apa Kaki Ibu Masih sakit?" Tanya Caca
"Tidak lagi non, Mungkin karena Bibi Terlalu Senang hari ini. Kaki bibi Kesemutan." Jawab Bi Fatma Tertawa Kecil.
Di sisi lain Fatma mulai memperhatikan Wajah Gadis itu. Sejak tadi Caca Hanya Murung Dan Berusaha Menutupi Sesuatu darinya.
"Iya Bu. Aku baik-baik Saja kok," Jawab Caca Berusaha Menutupi semuanya dari Fatma.
"Kamu jangan Berbohong Non, Bibi tahu ada Sesuatu yang sudah membuat non Seperti ini." Pangkas Wanita dewasa itu.
Rasanya Caca Tidak bisa Menahan air matanya lagi. Namun ia tetap Tersenyum dan menguatkan Hatinya agar tidak Terlihat Sedih di Depan Wanita dewasa itu.
"Nggak kok Bu. Mungkin aku Juga Terlalu Capek Habis Keliling tadi." Jawab Caca.
Fatma pun Hanya bisa Menatap Kesedihan Yang Ada Di wajah Gadis itu. Ia Sangat Tahu kalau saat ini Caca Sedang mendapatkan Masalah. Namun Fatma Berusaha untuk Memahami Perasaan Gadis itu. Karena mungkin Belum saatnya Caca Menceritakan Semuanya Kepadanya.
Di tempat Lain. Dion Masih Menyusuri sepanjang Jalan Di Dekat Cafe dan Supermarket itu. untuk bisa menemukan Istrinya.
Namun Sudah Hampir Sejam Dion berkeliling Di sepanjang jalan Itu. Ia belum menemukan Caca di sekitar Jalan Tersebut.
"Apa mungkin dia Sudah Kembali ke rumah, atau mungkin dia Sudah pergi bersama Dengan Rehan?"
__ADS_1
Sebaiknya aku Cepat ke rumah Agar bisa Memastikan Kalau Caca Sudah pulang atau Belum." Gumamnya Lalu segera melajukan Mobilnya Dengan sangat cepat agar bisa Segera Sampai ke rumah.
Setelah Ia tiba di rumah pemuda itu dengan cepat masuk Ke dalam rumahnya dan Mencari Istrinya di dalam sana.
"Sayang, Kamu di mana Sayang?" Memanggil Istrinya. namun Caca Dan Bi Fatma belum Sampai di rumah. di karenakan Jalanan lagi macet hingga membuat Mereka Lama.
"Dion. Kamu Sudah pulang? Tanya Siska Yang Baru saja Keluar Dari Kamarnya.
"Iya Ma. Caca Kemana ma? kenapa dia Tidak ada Di kamar dan Di dapur."
"Oh. Tadi istrimu Ijin Ke supermarket Untuk mencari Keperluan Dapur bersama Bi Fatma. Mungkin saat ini Mereka Masih Dalam Perjalanan Pulang, Memangnya kenapa Dion. Kamu kok terlihat Gelisah Seperti itu?"
"Nggak kok ma. Aku khawatir saja kalau Caca Pergi Dan Bertemu dengan Kirana." Ungkap Dion.
"Tadi Mama Juga sudah berpesan sama Dia, agar Lebih berhati-hati Dengan Wanita itu."
"Iyaa. Ma," Singkat Dion Yang Sudah Merasa bersalah mencurigai Istrinya.
Dion pun segera masuk ke dalam Kamar dan Berganti pakaian. Sementara Siska pergi ke ruang kerjanya.
Di dalam Kamar Dion Masih merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi Hari ini. Ia sangat Menghawatirkan Perasaan Istrinya.
"Mungkin dia tidak akan Percaya dengan apa yang akan aku Jelaskan sama Dia lagi. Semua ini Salahku, Kenapa aku Bisa Terpengaruh dengan Wanita itu lagi." Keluh Dion Di dalam Hatinya.
Tidak lama Kemudian Terdengar suara kendaraan Memasuki halaman rumah keluarga Yudianto. Dengan cepat dion pergi Ke luar untuk Menemui Istrinya.
Dengan penuh perasaan bersalah Dion. Mendekati Sang istri dan Memeluknya di Depan Sopir taksi dan Bi Fatma. Pemuda itu sama sekali tidak mempedulikan Orang yang Sedang berada di Samping mereka.
"Kamu ini Kenapa si mas? Datang-datang Langsung main Peluk Di depan Orang lagi." Cetus Caca Berusaha Menyembunyikan Kekesalannya Dari Bi fatma.
"Mungkin Suaminya Sudah kangen Berat sama Ibu." Sambung Sopir itu Sambil tertawa Kecil.
"Hmm. Tuan, Ini Di depan umum Tidak baik Saling berpelukan." Ujar Bi Fatma Sembari Tersenyum Menatap Sepasang Suami-istri itu.
"Tu. Dengerin mas, Jangan main peluk Di depan orang Bisa kena aib." Ucapan Caca Tiba-tiba Membuat hati Dion Terasa Sesak. Karena apa yang di ucapkan Oleh istrinya itu sangat Tidak bisa ia Terima. perlahan Ia melepaskan pelukannya dari Caca.
"Aku masuk dulu Mas Dion," Ucap Caca Dengan Pandangan Yang sangat berbeda.
Bi Fatma sama sekali Tidak Mengetahui apa Yang sudah terjadi pada Kedua Suami-istri itu. Yang ia tahu saat ini Dion Sedang Bermanja-manja Di depan Istrinya.
__ADS_1
"Ya sudah. bibi masuk ke dalam dulu Den,"
Pemuda itu hanya mengangguk Dan Tersenyum Menatap Wanita dewasa itu.